
6 bulan Kemudian
Gadis ini sangatlah cantik,wajahnya yang di poles dengan bedak senada dengan warna kulitnya, yang kuning Langsat tersebut. Bibirnya yang tipis diolesi dengan lipstik merah muda.
Gaun putih yang ia pakai bergerai indah sampai dilantai.
Hari pernikahan, ya ... hari ini gadis itu akan menikah. siapa lagi kalo bukan Tania.
Tok! Tok!
"Nona muda, apakah anda sudah siap? calon pengantin pria segera tiba," ujar seorang pembantu diluar pintu kamar.
"Iya! Iya! sebentar lagi !" ketus gadis itu, yang tak lain calon pengantin wanitanya.
"Jangan lama-lama ya nona," saran pembantu
"Iya!"
Tanpa merasa curiga, pembantu itu lekas pergi meninggalkan kamar gadis tersebut. Sekarang ia menemui nyonya besar.
"Dimana Tania ?" tanya Ny.besar pada Oda a.k.a pembantu di rumahnya.
"Nona muda sebentar lagi akan turun Nyonya, mungkin dia masih membenahi makeup," ujar Oda
"O,begitu rupanya. Yasudah, bibi lihatlah kedepan apakah calon besanku sudah datang ?!"Suruh Nyonya besar
"Baiklah Ny, akan saya lihat" balas Oda si pembantu rumahnya.
***
Tania bernapas lega, karena ia berhasil menuruni anak tangga dengan selamat. Buru-buru Tania memindahkan tangga lipat itu kesemak-semak, lalu menyingkap gaun pengantinnya.
"Akhirnya, aku bisa kabur juga ! " Antusias Tania
Tania berjalan mengendap-endap ke samping rumah. Dan mencari jalan keluar untuk ia bisa kabur.
***
"Selamat datang! "
"Silahkan masuk,"
Calon besan sudah datang, namun anaknya belum karena mereka tidak satu mobil.
Acara akad memang masih satu jam lagi.
"Dimana nak Gino?" tanya mami Tania.
"O,dia menyusul kemari ko, dimana Tania?" jawab dan tanya calon besan.
"Masih dikamar, he-he. Mungkin gugup,"
"Ha-ha mungkin saja ya,"
Dua wanita calon besan itu mengobrol banyak.
***
"Stop! " Tania menghadang sebuah mobil sedan ditengah jalan.
"Buka pintunya, tolong aku, aku mohon kepadamu," lirih Tania.
Si pengemudi lantas menurunkan kaca mobilnya.
__ADS_1
"tolongin aku ya, aku mau dinikahi sama pria tua, aku tidak mau menikah pak, selamatkan aku ya ?! Aku mohon,"lirih Tania.
Si pengemudi mengangguk dan Tania gembira lalu masuk kedalam mobil.
Tania tersenyum sekarang dan merasa tenang karena ia akan pergi jauh dari rumah.
"Kenapa kamu kabur di hari pernikahanmu?" tanya pria disampingnya Tania.
"Ceritanya panjang, pada intinya aku tidak mau dengan pria yang sudah umur dua puluh enam tahun, udah tua kan ? sedangkan aku, aku baru umur delapan tahun. Ditambah aku masih kuliah ! tapi udah mau di nikahin aja, " cerocos Tania tanpa melihat kesampingnya.
"Umur segitu belum tua kok, itu namnya sudah dewasa, dan ... siapa tau orangnya tampan, dan juga mapan," balas pria itu membayangkan calon suami Tania.
"Tidak! aku sangat yakin, kalau pria itu sudah tua, jelek dan makanya dia mau menikahi aku, karena pasti diluar sana banyak cewek yang ilfeel ngeliat dia, jadi tu dia nyari anak kecil buat dijadiin istri," tegas Tania.
Selagi asiknya bicara, sampai Tania lupa kalau mereka berhenti disebuah rumah yang tidak asing bagi Tania.
"Ayo turun," suruh pria itu.
"Ini kaya rumah aku ?" lirih Tania sambil menggigit bibir bawahnya.
Pria tersebut turun lebih dulu, dan membuka mobil untuk Tania . "Apa mau saya gendong kedalam ? calon istriku," ucap pria itu sembari melepas kacamata hitam gayanya.
"Hah!" Tania membelakkan mata dan juga mulutnya membulat besar.
"Pria yang kamu umpat sejak tadi adalah saya, ayo kita masuk," kata pak Gino.
Tania membelakangi pak Gino dan menepuk jidatnya. "Astaga, aku ceroboh sekali, kenapa bisa begini, rencana ku gagal total. Ya Tuhan, bagaimana ini ?"gumam Tania pelan.
Pak Gino menepuk bahu Tania perlahan. "Kamu tidak bisa kabur, dan ayo kita kedalam, mereka semua sedang menunggu kita." jelas pak Gino
"Tolonglah, aku minta maaf deh soal tadi yang ngomongin kamu, tapi beneran ... aku ini masih kecil, masih kuliah dan aku rasa juga kamu tidak pantas mendapatkan istri sepertiku, kamu tampan dan pasti banyak yang suka sama kamu, jadi batalkan saja ya pernikahan ini ?" Pinta Tania.
Pak Gino mengukir senyuman dan menggenggam pergelangan tangan Tania kemudian mereka masuk kerumah. Semua orang melihat mereka dengan tatapan heran.
"Tania !"
"Kenapa kalian bisa berdua bersama? kalian dari mana ?" tanya Mami Tania
"Papi kamu sampai gedor-gedor pintu kamar kamu, kamu kemana aja?" tanya Mami Tania lagi.
Tania terdiam sulit baginya untuk mengakui hal yang sebenarnya terjadi.
"O, tadi Tania mengambil sesuatu dijalan, terus ketemu Gino jadi sekalian anterin dia kesini, " dusta pak Gino untuk menyelamatkan Tania.
"Sudahlah itu tidak penting, sekarang waktunya sudah tiba." Lerai papi Tania.
Tania hanya bisa pasrah ternyata ia memang ditakdirkan untuk menikah. Ya walaupun Gino memang tampan, tetapi Tania tidak ingin menikah di usia muda seperti ini.
***
"Saya terima nikahnya, Tania Gevilya binti Husen dengan seperangkat alat sholat beserta berlian 50gram dibayar tunai !" lantang pak Gino dengan melapalkan ijab kobulnya.
"Bagaimana para saksi?" tanya penghulu pada para saksi yang telah hadir.
"Sah!"
"Sah!"
"Alhamdulillahhirobbilallamin," penghulu pun memimpin doa. Setelah semua urusan selesai, dan mereka sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Mereka pun disuruh untuk sungkem pada orang tua masing-masing, ini waktu yang sangat mengharukan bagi para pasangan yang baru menikah
***
Terlihat semua undangan yang datang begitu gembiranya menikmati malam resepsi pernikahan antara Gino dengan Tania
__ADS_1
Dibalik itu semua, Tania sangat mengeluh kan semua itu. Ingin rasanya cepat-cepat selesai dan Tania ingin tidur di kamarnya. Sangat melelahkan bagi Tania berdiri dan menyambut para tamu yang tidak ada habisnya.
"Gino boleh juga istrimu itu ... Walaupun bodynya tidak terlalu montok tapi boleh juga," bisik Marvel yang dapat di dengar oleh Tania.
"Hais! apaan kamu ini," bentak Gino sambil melotot.
"Ha-ha, sukses bro, malam pertama nanti jangan kasih kendor !" saran unfaedah Marvel.
Begitu juga dengan Ara dan Reno yang menghadiri pernikahan sahabat nya Tania-Gino.
"Selamat ya Tan, cepet kasih temen buat anakku hehehe" ucap Ara sambil mengedipkan mata pada Tania. Dan Reno yang berpelukan dengan Gino mengucapkan selamat pada Gino
"Sana pulang !" usir Gino pada Marvel yang dari tadi meledeknya.
"Tega amat," ketus Marvel.
Mendengar percakapan mereka membuat Tania merinding sendiri, ia berkutat dengan khayalan liarnya. Malam pertama? tidak ! itu tidak boleh terjadi, Tania akan menolaknya nanti.
"Tania " panggil Gino
"I-iya, a-apa ?" tiba-tiba Tania gugup
"Ada apa dengan kamu?" tanya Gino.
"Tidak apa-apa, cuma capek aja ... tamu nya banyak banget, kenapa si orang bahagia melihat aku menderita kaya gini," omel Tania.
Bagaimana tidak ia harus berdiri karena para tamu gonta-ganti bersalaman dengannya, ditambah juga ia memakai gaun pengantin yang lumayan berat dan juga panjang, sepanjang jalan kenangan bersama mantan
Ea ...(bercanda guys :v)
riasan kepalah bentuk mahkota terbuat dari berlian juga terasa berat...!
"Udah boleh ganti gak, Mi?"tanya Gino pada Mami Tania.
"Oh, sudah kok, bahkan udah mau selsai . Kalian boleh ke kamar, kasihan anak Mami itu," ucap Mami Tania.
Tania menyingkap gaunnya agar saat berjalan maka gaun nya tidak terinjak, kasian'kan gaun yang gak punya salah apa-apa di injak.
***
"Kyaaa!" teriak Tania saat melihat suaminya- Gino itu melonggrkan dasi dan juga melepas toxedonya. Gino yang merasa tidak membuat kesalahan tidak menggubris teriakan Tania, ia terus membuka kemejanya.
"Kamu ngapain hah?" lirih Tania sambil menutup mata dengan dua jari.
Gino mendekati Tania langkah kaki Gino terlihat pelan dan pasti. Dekat, semakin dekat.
"J-jangan s-sekarang !" pekik Tania sambil mengangkat kelima jarinya.
****
"Ternyata menantu kita gercep (gerak cepat) juga ya Mi," bisik Papi
"Iya Pi, kalau begini bisa cepat punya cucu kita," sambung Mami
"Yaudah kita tinggalkan mereka, mau malam pertama," ajak Papi lalu Istrinya mengangguk.
Mereka pun pergi menjauh dari pintu kamar Gino dengan Tania .
"Kamu kenapa?" tanya Gino
"Aku tau, aku emang istri kamu sekarang, cuma ... aku belum siap untuk itu, jangan lakukan itu," mohon Tania
Kedua alis Gino terangkat, dan ia tersenyum jenaka ia mengerti apa yang sedang di fikirkan oleh Tania "Oh, ya ... tapi aku sudah tidak tahan, bagaimana dong ? Ayolah sayang ... Hn," goda Gino.
__ADS_1
Dugh!
Bersambung