
Siapa sangkah semua ini terjadi? Mendengar penjelasan dari pak Rektor tadi, sekaligus orang tua pak Reno, sunggu membuat mereka tercengang. Dan sedih tentunya. Bahkan ada yang membaut hastag tentang 'ditinggal nikah dosen ganteng' atau 'hari patah hati nasional.' Mengunggahnya di instagram. Jadinya, orang di luaran sana yang belum tau, pastinya jika melihatnya akan mengetahuinya.
Soal perkara Nirma dan Mira, mereka cuma di skors. Karena tidak mungkin jika di D.O, karena masalah ini. Walaupun mama Dewi Sangat greget, ingin mereka di D.O, tapi jangan sampai beredar gosip yang tidak-tidak, tentang suaminya. Seperti ... pak Rektor menyalah gunakan kekuasaan.
Di ruangan pak Reno, Arasudah kembali ceriah. Ya, yang namanya hormon kehamilan, suasana hati tidak menentu. Baju Ara sudah digantinya, tadi pak Reno menyuruh supir mamanya untuk pulang, mengambil 'kan baju Ara. Pastinya yang mengambil, mbok Mina dan di serahkan ke supir, dan supirnya membawakan ke pak Reno.
"Benar 'kan, enggak ada yang sakit? Mereka enggak ngapa-ngapain kamu, kan?" tanya pak Reno.
Ara menyodorkan sepuluh jarinya ke depan muka pak Revano. "Udah sepuluh kali Mas nanya, udah sepuluh kali juga Ara jawab," ucap Ara kesal, Reno sendiri cuma terkekeh.
"Kenapa bisa sampai gini, sih?"
"Enggak tau, tiba-tiba aja gitu datang sambil bilang Ara perempuan murahan sama ... jal*ang," ujar Ara cemberut, memajukan bibirnya bawahnya, lima senti.
"Mereka bilang, gitu?"
"Iya."
"Mas," panggil Ara, Reno mengangkat alisnya, bertanya.
"Ara masih lapar, tauk!" ujar Ara semakin mencemberutkan wajahnya. Reno tertawa, dia pikir kenapa. Ternyata, cuma masih lapar.
"Ya sudah, mau makan apa?"
"Makanan Ara di kantin tadi, bakso bakar. Emm, batagor deh."
"Enggak mau yang, lain?"
"Emamg enggak boleh?" tanya balik Ara, pak Reno menggeleng cepat.
"Boleh, ya udah Mas peseanin dulu," ucap pak Reno, sambil mengambil hpnya yang terletak di atas mejanya.
"Enggak mau! Ara mau makannya di kantin!" ucap Ara agak, ngegas.
"Di sini aja, ya? Enggak usah ke kantin."
"Ara , maunya di kantin!"
"Suasananya masih belum tenang, Sayang. Nanti mereka ngata-ngatain kamu atau apalah. Enggak usah ke kantin, ya?" bujuk pak Reno, tapi Ara tetap kekeh dengan pendiriannya.
"Mas enggak mau nurutin? Dulu kata Mas, enggak akan ada yang berani kalau Mas ada di dekat Ara ," ucap Ara , menatap sedih suaminya. Masa makan di kantin enggak boleh?
"Ya udah, oke. Kita ke kantin," putus pak Reno. Tapi bukannya senang, Ara malah menangis.
"Lho, kenapa lagi?"
"Mas, enggak ikhlas? Mas, marah?" tanya Ara dengan air mata yang berjatuhan, seperti daun keguguran.
Ya Allah. Apa, dia salah bicara lagi?
Pak Reno mengusap wajahnya kasar, mencoba bersabar dengan kondisi Ara saat ini.
"Mas enggak marah, Sayang. Beneran, Mas enggak marah. Jangan nangis yah, kita ke kantin," ucap pak Reno lembut selembut lembutnya disertai senyuman manisnya, mengahapus air mata Ara.
"Benar, enggak marah?"
"Iya, Mas enggak marah. Ayo ke kantin." Pak Reno menarik tangan Ara untuk, berdiri. Menciumi kening Ara sesaat, dan memeluknya.
"Mas cuma takut kalau mereka ngejelek-jelekin, kamu. Mas takut kalau sampai kamu ... seperti tadi. Itu enggak baik buat, kesehatan kamu sama baby," ucap pak Reno.
"Maaf, tapi Ara memang kepingin makan di kantin. Maafin Ara ," ucap Ara dengan suara seraknya, seperti ingin menangis.
Pak Reno melepas pelukannya, benar saja, mata Ara sudah berkaca-kaca kembali.
"Jangan nangis, hey. Mas ngerti, itu kemauan calon anak Mas calon anak kita. Udah, jangan nangis lagi ya."
"Kita kapan perginya? Ara beneran udah lapar," ucap Ara kembali dengan wajah awal. Pak Reno menggeleng-gelengkan kepala, memang suasana hati Ara sangat sulit di prediksi.
Mereka berjalan keluar ruangan, dengan Ara yang masih dengan wajah sembabnya, dan pak Reno masih dengan tampang keren dan dinginnya.
Yah seperti yang kalian tebak, sudah dipastikan banyak mata yang memandang mereka bagai makanan lezat. Masih terdengar bisik-bisik yang entah, berisi apa. Ara cuma bodo amat, yang penting sekarang adalah perutnya agar sang anak di dalam sana tidak ikutan lapar. Sedangakn pak Reno, menajamkan telinganya, agar mendengar bisikan para setan julid.
Canda Setan.
Mereka berhenti saat berpapasangan dengan, satu rombongan yang berisi papa Nando, mama Dewi pak Gino, Risa, dan terakhir Tania.
__ADS_1
"Kalian mau kemana?" tanya mama Dewi sambil menghampiri menantunya.
"Mau pergi makan ke kantin, menantu Mama sampai nangis karena enggak Reno turuββ, aauh." Pak Reno meringis, saat Ara dengan tanpa perasaannya mencubit pinggangnya.
"Oh jadi itu, sampai-sampai muka menantu Mama jadi sembab gini? Tega kamu biarin menantu Mama sampai, nangis gitu!" Pak Reno melongo, salah lagikah dia? Heran, di mata kedua perempuan itu, dia selalu salah.
"Loh-loh, bukan gitu maksudnya Ma. Astaga," ucap pak Reno, mengusap wajahnya. Pak Gino menahan tawanya, sunggu sangat sengsara nasib temannya yang satu ini.
"Gino deluan Pa, Ma. Mau lanjut ngajar," pamit pak Gino, diangguki keduanya.
"Papa juga deluan, sudah di tunggu sama pak Sutanto," pamit papa Nando juga.
"Kalau gitu, kita berdua juga deluan Ma, Pak. Deluan ya, Ra" lanjut Risa dan Tania.
Tersisa Mana Dewi, Ara dan pak Reno. Pak Reno memandang mamanya dengan pandangan, bertanya.
"Kenapa enggak ikut sama, papa?" tanya pak Reno.
"Mau nemenin menantu Mamalah, kalau sama kamu takutnya buat Ara nangis lagi," ucap mama Dewi agak sewot, dan mengajak Ara berjalan bersamanya, meninggalkan pak Reno.
"Mau makan apa, Sayang?" tanya mama Dewi
"Mau makan batagor sama sosis bakar," ucap Ara.
"Lha, katanya tadi cuma batagor doang," celetuk pak Reno, yang sudah mensejajarkan langkahnya dengan mereka.
Ara berhenti, di ikuti yang lainnya. Wra menatap pak Reno sambil mendengus. "Emang enggak, boleh?" tanya Ara seperti sebelumnya ... ingin menangis.
Tabahkan hati pak Reno, ya Allah.
Pak Reno menelan ludahnya, mulutnya tidak bisa di kontrol sumpah. Apa lagi sekarang, mama Dewi Menatapnya galak segalak galaknya.
"B--boleh, a--ayo jalan lagi," ucap gugup pak Reno.
Perjalanan mereka bertiga menuju kantin, mengundang banyak pasang mata. Apa lagi mereka melihat, Ara dan istri pak Rektor atau mertuanya juga, sangat lengket. Bahkan menghiraukan sang suami, yang menatap keduanya kesal.
Kesal karena dicueki.
Andaikan tidak jaga image, pasti dia sudah menjak-menjak atau menekuk wajahnya, dengan tujuan mengalihkan perhatian Ara.
Sesampainya di kantin, mereka langsung menduduki kursi yang kosong. Lagi-lagi mereka menjadi sorotan, objek pertama semuanya.
"Jangan, jangan Mama yang pergi," cegah Ara. .
"Lalu siapa? Enggak mungkin kamu yang pergi, Mama enggak bolehin!"
"Bukan, bukan Ara. Tapi ...." Ara menggantung ucapannya, sambil melirik Reno yang sibuk dengan gawai di tangannya.
"Kenapa?" tanya Reno yang bingung, karena ditatap sedemikian rupa oleh keduanya.
"Beliin batagor sama sosis bakar," ucap Ara dengan mata yang dikedip-kedipkan.
Reno menunjuk dirinya sendiri, dengan mengucap 'kan kata 'mas' tanpa suara.
"Iya, masa Mama yang pergi," ucap Ara.
"Enggak mungkin Ara juga 'kan, yang pergi?" lanjut mama Dewi
Reno mengangguk pasrah, dia akan kalah jika berurusan dengan kedua wanita itu. Kemudian dia berdiri, dan mulai berjalan pergi memesan makanan untuk sang istri, tentunya untuk dirinya dan mamanya.
"Harusnya gue yang duduk di sana," ucap salah seorang mahasiswi, di kantin itu.
"Heem, gue masih belum percaya sama ikhlas dengan kenyataan ini," ucap yang lainnya, dramatis.
"Lo denger gak, tadi? Ara , nyuruh pak Reno buat beliin dia makanan?"
"Denger, terus pak Reno nurutin. Huft, harusnya gue yang begitu."
"Terus keknya ibunya pak Reno sayang banget, sama Ara ."
"Dan kalian dengar 'kan tadi, kata pak Rektor. Pak Reno sama Ara udah tiga bulan, nikahnya. Terus waktu kita datang ke rumah Ara jengukin dia, dan pak Reno ada di sana. Bukan kebetulan, tapi emang pak Reno beneran ada di sana."
"Ara udah hamil belum, ya?" celetuk salah satunya, lagi.
"Otak lo kok, mesum? Tapi iya juga sih, masa tiga bulan nikah belum hamil. Kecuali mereka belum gituan. Kan Ara masih kuliah."
__ADS_1
"Atau pak Reno yang enggak mau nyentuh?"
"Atau Ara yang enggak mau disentuh?"
"Bodo-bodo, kenapa malah ngurusin rumah tangga orang sih. Lebih baik ngurusin perut."
"Iya, dan mikirin itu malah, buat hati gue makin sakit!"
"Dan hari ini adalah, hari patah hati Nasional dan Internasional pokoknya!"
Itu separuh pembicaraan mereka, kalau semua pembicaraannya di ambil, enggak bakal selesai sampai tahun depan.
Canda tahun.
Selesai memesan, pak Reno kembali dengan dua piring di tangannya yang berisi, pesanan Ara. Sedangkan makanannya dan mama Dewi, di bawakan pelayan pemilik kantin.
"Ini makanannya."
"Mas, kenapa lama?"
"Oh, tadi anββ"
"Jangan-jangan suamimu lagi godain pelayannya lagi," potong mama Dewi. Pak Reno melototkan matanya, ya Tuhan, apa mamanya sengaja membuatnya berada dalam zona kesengsaraan?
"Beneran lagi godain, pelayan?" tanya Ara.
"Enggak, jangan percaya. Mas enggak goda-godain, tadi antriannya banyak. Enggak mungkin kalau Mas langsung, trobos saja," ucap pak Reno, sambil mengelus rambut Ara.
"Mas godain 'pun enggak, apa-apa," balas Ara. sambil mengunyah sosisnya.
Pak Reno menatap mata Ara, mencari-cari dari sudut mana yang mengeluarkan air mata. Tapi ... tidak ada.
"Lho kok gitu? Harusnya kamu marah," kompor mama Dewi. Pak Reno menatap mamanya, tak percaya. Oh ayolah, sekarang di tempat umum. Kalua Ara ngambek atau marah, entah cara apa yang akan dia lakukan untuk menenangkannya.
"Buat apa marah, Ara ngerti. Ara udah enggak cantik, gendutan, jadi enggak apa-apa kalau dia mau nyari yang lain," ucap Ara tanpa menoleh sedikit 'pun ke pak Reno.
Ya salam. Benar-benar ini mah.
Ara marah.
Fiks, emang Ara lagi ngambek sekarang.
"Lho-lho, siapa bilang kamu udah enggak cantik? Mentu Mama cantik, kok. Reno yang bilang kamu enggak, cantik sama gendutan?"
Ya Tuhan, tolong pak Reno sekarang.
Sebesar apakah dosanya, sampai harus menghadapi masalah ini?
Seperti inikah rasanya ... didzolimi?
"Ma-Ma, please jangan kompor-komporin. Mama taukan, kalau Ars lagi sensitif? Jangan buat Vano sengsaralah," ucap pak Reno agak ... memelas.
"Ra, beneran Mas enggak ngegodain pelayan apalagi buk kantin. Jangan marah, ya?"
"Mas kenapa cerewet banget, sih? Makan aja sih, enggak usah cerewet kayak gitu," ucap Ara sambil mendorong sedikit kepala Reno, yang berada dekat di depan wajahnya, untuk menjauh.
"Tapi jangan marah," kata Reno.
"Enggak marah!" bantah Ara
"Tapi kenapa judes, gitu? Jangan marah-marah dong, Bumil," goda pak Reno, sambil mengelus perut Ara, tapi cuma sebentar, karena Ara yang memukul tangannya menyuruhnya berhenti.
Walaupun tidak akan ada yang lihat, tapikan tetap ... malu. Apalagi ada mertuanya di samping, yang sudah terdiam, cuma mendengarkan saja dengan memakan makanannya.
"Mama balik deluan, ya. Papa udah sms, katanya urusannya udah selesai."
"Hati-hati, Ma," ucap Ara. .
"Iya. Dan kamu! Awas kalau buat menantu Mama nangis, lagi!" Pak Reno mengangguk, sebenarnya anak kandungnya siapa coba? Kenapa dirinya sangat di dzolimi di sini?
"Mama deluan ya, pukul atau cubit saja suamimu kalau buat macam-macam," ucap mama Dewi, tanpa menjaga perasaan sang anak kandung.
Hancur sudah.
Hancur imagenya, sebagai dosen devil, killer, dan dingin.
__ADS_1
Apalagi, mungkin ada yang mendengarnya, terbukti dari suara sang mama yang tidak dikecilkan. Apa lagi, sedari tadi orang-orang tak hentinya, memperhatikan mereka.
Sorry for typo. π