
"Ya terserah Mas lah. Eh, tadi mama bisikin apa sama Mas?"
"Mau tau?"
"Iya."
"Enggak bakal nyesel?"
"Enggak."
"Mau nurutin nggak, permintaan bunda?"
"Emang apa sih?!"
"Mama minta ...."
"Apa? Jangan ngegantungin dong, ih!"
"Minta cucu!"
Mata yang tadinya sayu, langsung melotot dengan mulut menganga ....
"Mau?" goda Reno dengan smirknya.
Ara sontak menggeleng, dan menutupi dirinya dari Reno . "Enggak mau?" tanya Reno dengan nada sedih, pura-pura sedih tepatnya.
Sedangkan di balik selimut, Ara berkeringat dingin. Antara kepanasan juga takut atau merasa bersalah. Reno tersenyum kemenangan, berhasil mengerjai istrinya.
"Hey, saya lagi minta persetujuan!" Reno mendatar 'kan suaranya, dan menarik selimut yang di pakai Ara .
"Bagaimana?" Reno masih melanjutkan aksi menjahili istrinya.
Ara tidak bergerak atau menjawab, hanya menatap ke satu arah. "Huft, baiklah. Kalau ... memang tidak mau, tidak apa-apa," dramanya lagi.
"Saya mau mandi dulu," ucap Reno dengan wajah di buat sendu.
"Tunggu." Ara menahan tangan suaminya, dapat di rasakan kalau tangan Ara sedang berkeringat. Sedangkan Reno tersenyum kemenangan, dengan mengubah mimik wajahnya menjadi tanpa senyum lagi, dia berbalik menatap Ara.
"Kenapa?"
"M -Mas beneran m -mau, maks -maksudnya ngelakuin i -itu?" cicit Ara bertanya. "Kalau kamu tidak mau, saya tidak memaksa," ucap Reno .
Ara menarik nafasnya dalam-dalam, "Saya si -siapa." Reno mengulam senyumnya, menahan tawa. Dengan perlahan mendekatkan wajahnya keAra , lagi-lagi senyum kemenangan muncul di bibirnya, saat Ara menutup matanya.
"Saya cuma bercanda." Tiga kata keluar dari mulut Reno , dan langsung meninggalkan Ara ke kamar mandi dengan cekikikan. Ara mengerjapkan matanya, menyadari dirinya telah di jahili oleh sang suami, seketika langsung murka juga meradang di tempat.
"Kalau bukan suami, udah gue cekik sampai mampus!"
"Eh, jangan sampai mampus deh. Berabe urusannya kalau sampai anak orang mampus."
🐰🐰🐰🐰🐰
Hari-hari berlalu, tidak terasa pernikahan mereka sudah memasuki satu setengah bulan.
Sedikit masalah di alami mereka, walau cuma masalah kecil. Sepeti sifat posesifnya Reno yang kadang, membuat Ara kesal.
Soal Aldi, dia sudah di jatuhkan hukuman penjara selama 'tiga tahun' lamanya.
Terlalu banyak ngoceh aku ....
"Arabell Sofyani , bisa jelaskan pengertian struktur itu apa?" Ara yang tadinya sedang berbalas pesan entah dengan siapa, sontak saja langsung menelan ludahnya kasar. Sebab tidak mendengar dan mencerna apa 'pun yang di jelaskan sang dosen.
"Sa -saya Pak?"
"Ya!"
"Ma -maaf Pak, s saya ti —."
"Tidak tahu?! Terus yang kamu tau cuma apa?!" Aura dingin menyelimuti ruangan kelas itu. Tania san Risa meringis, entah apa yang akan terjadi dengan temannya itu.
"Nirma, bisa jelaskan?" Pak Revano beralih, bertanya pada Nirma.
"Bisa Pak .... Pengertian struktur (dalam konteks ekonomi industri) : sifat permintaan dan penawaran barang dan jasa yg dipengaruhi oleh jenis barang yg dihasilkan, jumlah dan ukuran distribusi penjual (perusahaan) dalam industri, jumlah dan ukuran distribusi pembeli, diferensiasi produk serta mudah tidaknya (persyaratan) masuk ke dalam industri.
Struktur industri merupakan cerminan struktur pasar suatu industri. Pasar dalam arti sempit merupakan tempat bertemunya pembeli dan penjual. Dalam arti luas, pasar adalah wujud abstrak suatu mekanisme ketika pihak pembeli dan penjual bertemu untuk mengadakan transaksi yg melibatkan harga dan kuantitas," jelas Nirma.
"Sebutkan jenis struktur pasar, dan unsur-unsur struktur pasar. Silahkan."
"Jenis struktur pasar :
Satu —Monopoli : produsen tunggal, produk tanpa barang substitusi yg dekat.
Dua —Persaingan sempurna : produsen banyak, produk identik
Tiga —Persaingan tidak sempurna ;
Empat—Oligopoli : produsen sedikit, sedikit perbedaan dlm produk.
Lima —Persaingan monopolistik : produsen banyak, produk terdiferensiasi.
•Unsur-unsur struktrur pasar :
Satu —Jumlah dan Ukuran Distribusi Penjual
Dua —Jumlah dan Ukuran Distribusi Pembeli
Tiga —Diferensiasi Produk
Empat —Persyaratan masuk."
"Bagus," ucap pak Revano sambil mengacungkan jempol ke arah Nirma. Nirma sendiri yang di ajungi jempol, lantas tersenyum lebar, juga menatap mengejek ke arah Ara.
Ara berengut masam, dengan mood yang anjlok. Menatap nyalang ke dosennya yang kembali menjelaskan materi.
"Saya akhiri kelas hari ini, terima kasih. Dan ya, tolong lain kali kalau saat saya mengajar, di usahankan ponselnya di matikan. Agar tidak mengganggu ketenangan belajar dan mengajar!" sindir pak Revano.
Ara yang jelas merasa di sindir, menatap tajam ke arah pak Revano. Dengan telunjuk di goyang-goyangkan di dekat leher.
"Turunin bego, entar di liatin anak-anak," tegur Tania dengan menepis tangan Ara , agar di turunkan.
"Biarin aja, abis kesal tau sama dia!" gertak Ara dengan suara kecil.
***
"Menang banyak si Nirma tadi guys, di puji sama pak Revano," ucap seorang mahasiswi di kantin itu.
"Ck, apaan. Cuma di bilang 'bagus' doang," sewot Galih.
"Tapi jarang-jarang lho, bisa di bilang enggak pernah lah di puji begitu sama pak Revano," tambahnya tak mau kalah.
"Udahlah guys, enggak usah muji gue gitu lha. Kan kasihan, si ekhem. Yang harusnya dia yang dapat pujian, eh tapi gue yang dapat. Gara-gara dia, cuma maen hp doang!" ledek Nirma dengan gaya sombongnya.
"Ah iya ya, kasihan juga sih dia," tambah si antek-antek Nirma.
Brak!
__ADS_1
"Maksud lo apa, ha?!" Tania menggebrak meja, tempat Nirma makan.
"Eh, santai dong! Kan gue cuma ngomong kebenaran!"
"Itu maksudnya meledek Ara kan?!"
"Eh, gue enggak bilang kalau itu temen lo ya!"
"Udah Tan, jangan bikin rusuh ih!" ucap Risa menarik tangan Tania untuk kembali duduk.
"Ra , jadi orang jangan kalem-kalem amat napa! Biar di bicarain tetap diam!" kesal Tania.
"Ngapain juga ngeladenin, selagi masih main mulut? Bikin habis tenaga aja," balas Ara sambil menyantap makanannya dengan santai.
"Bikin bibis tinigi iji! Dasar!" rengut Tania.
"Udah ah, makan nih. Aaaa."
"Masih punya tangan gue Risa!"
"Ya udah makan, kasihan makanannya lo cuekin," ucap Risa. Tania mencebik, dan kembali makan.
"Eh, guys...."
Byur ....
Bersamaan dengan Ara berbicara, sesuatu menyirami kepalanya. Membuat bajunya ikutan basah. Untungnya, dia menggunakan hoodie, jadi tidak tembus pandang.
Back to dialogue ....
"Ups, sorry. Gue enggak sengaja, kesandung tadi hihi," ucapnya dengan tanpa nada bersalah.
"Eh Mbak kunti! Maksud lo apa ha! Enggak sengaja-nggak sengaja!" Tania mulai emosi kembali. Orang-orang di kantin, menatap mereka dengan semangatnya, tanpa ada rasa ingin melerai.
"Gue bilang, gue emang enggak sengaja! Gue kesandung!" balas Nirma dengan suara sedikit teriak.
"Jelas-jelas lo sengaja, mau ngelak? Gue lihat kali lo sengaja numpahin minuman lo, di kepala Reya. Iyakan?!" Dina angkat bicara, dengan wajah yang di datarkan.
"Haha, lucu ya kalian. Lo juga, kenapa diam? Cuma ngandalin kedua teman lo ini?"
"Lawan enggak ya?" Ara erlihat berpikir dengan tampang di buat bodohnya.
"Enggak usah deh, entar kalau gue lawan. Bonyok lagi anak orang, yakan Ris , Tan?" tanya Ara dengan di sertai ledekannya.
Risa dan Tania menahan tawanya, susah payah. Entah apa pulak yang lucu. "Ah, bayarin gue dulu ya. Gue mau pergi ke wc, mau mandi," bisik Ara kepada kedua temannya.
"Gila! Mau mandi? Beneran?" tanya mereka berdua serempak.
"Kagaklah, cuma mau nyiram-nyiram sedikit. Dari pada bau jus," ucap Ara dengan kembali menatap tanpa marah, ke arah Nirma..
"Nyiramnya udah selesai gak? Soalnya gue udah mau pergi bersihin."
Nirma terbelalak, perempuan apa yang ada di hadapannya ini? Di mana-mana, setiap orang kalau di siram tanpa tau kesalahannya, pasti akan marah. Tapi Ara ...?
"Udah selesai gak?!" Ara mendatarkan ucapannya.
Nirma berengut, lantas melangkahkan kakinya menjauh dari Ara . Tapi sebelum itu ....
"Akhh." Nirma meringis, saat tubuhnya terjatuh. Itu kerjaan dari Tania, yang sengaja menyenggol kaki Nirma.
"Lo!"
"Kenapa? Ya ampun, kesandungya?!" Tania sengaja mengeraskan suaranya, agar orang-orang mendengarnya juga. Ya alhasil, ucapannya mengundang gelak tawa orang-orang.
"Tunggu pembalasan gue!" tekan Nirma, dan langsung berdiri dan berlari dari kantin, menghindari rasa malunya.
"Dah, gue deluan ke wc," pamit Ara , dengan berjalan meninggalkan kantin.
"Bareng aja!" teriak Tania.
"Kalian bayar dulu, gue deluan!" teriak balik Ara .
Serasa dunia milik berdua ya, pake teriak-teriak enggak tau tempat ....
"Hish, untuk gue udah masang extra kesabaran. Bukan sih, emang udah kenyang makan sabar. Gaar-gara serumah dengan laki-laki yang ngeselin nya tingkat kuadrat," curhat Ara ke dirinya sendiri.
"Salah apa gue, juga mimpi apa gue semalam. Sampai-sampai harus ngehadapin masalah se kampr*t ini."
"Huh, berilah kesabaran pada hamba."
"Kenapa ..., Ais, sial banget gue!" umpat Ara , saat tubuhnya terjatuh karna menabrak sesuatu.
"He! Kalau jalan lihat-lihat dong!" ucap Ara galak, tanpa melihat siapa yang di tabraknya. Karena sibuk membersihkan pantatnya.
"Lo abis mandi Ra ?!"
Ara yang tadinya sibuk membersihkan celananya, sontak langsung menoleh ke pemilik suara itu. Di lihatnya Reno , juga Gino yang sedang menutup mulutnya rapat, karena caranya bertanya tidak masuk dalam kamus dosennya.
"Mandi pe ang! Orang habis di kena siram," gumam Ara.
"Saya permisi ya Pak, maaf tadi saya buru-buru. Enggak lihat," ucap Ara dan melangkahkan kakinya. Tapi apa yang terjadi pada diri Ara ?
Sakit ... bukan sakit yang tak terlihat, kek sakit hati misalnya. Tapi ini sakit, di kepala juga tangannya. Bagaimana tidak, dengan tidak punya perasaannya. Kedua pak dosen yang di tabraknya, menarik rambut juga tangan Reya. Alhasil, Ara memekik kesakitan.
"Eh maaf Ara , saya tidak sengaja," ucap pak Gino dengan memandang takut ke arah Reno
Mata Ara berkaca-kaca, itu membuat pak Gino semakin takut. Bukan taku apa, takut kena bogem sama orang di sampingnya. Padahal, bukan cuma dia yang menarik Ara , tapi Reno juga ikutan.
"Ara ." Pak Gino hendak menyentuh pundak Ara , tapi langsung di tepis kasar oleh Ara , apa lagi Reno.
"Saya deluan," pamit Ara dingin, tanpa membalas ucapan pak Gino.
Sedangkan kedua dosen itu berdiri bak patung, dengan pandangan ke arah Ara , yang perlahan mengilang di balik lorong-lorong.
'Mampus dah gua, Ren jangan marah ya. Lo juga ikutan narik. Huh, Marvel tolongin gue!' hanya menjerit dalam hati, hanya itu yang bisa di lakukan pak Gino sekarang.
Reno sendiri tak beralih menatap apa 'pun, hanya menatap ke arah jalan yang di lewati Reya tadi.
"Ren , sorry gue enggak maksud gitu," ucap pak Gino dengan menatap Reno gugup.
"Samperin deh Ren , ayo." Pak Gino sedikit mendorong tubuh Reno untuk berjalan. Tapi apa daya, tubuh temannya seperti batu batu yang tertanam di tanah, yang tak bisa bergerak.
"Ck. Ren , lo mau kalau nanti dia ngambek berhari-hari?" Segalam macam rayuan yang di lontarkan pak Gino, namun tak di respon apapun.
"Ah bodo lah, gue deluan. Selamat berjuang," ucapnya dan langsung berjalan ke ruangannya. Meninggalkan Ren yang masih stay berdiri.
"Pak, Pak Reno ?"
"Bapak?"
"Huuuh, Bapak kenapa tinggal berdiri di sini?!" Dengan satu tarikan nafas, Tania mampu membuyarkan lamunan Reno.
Sedangkan di sampingnya, berdiri Risa yang sibuk mengumpati Tania. Sebab, sudah berani-beraninya dia mengagetkan sang devil kampus.
"Saya?" tanya Reno bagai orang ling-lung,
__ADS_1
"Iya Pak, Bapak ngapain berdiri melamun di sini? Banyak yang merhatiin lho Pak," ucap Tania dengan melirik wajah-wajah mahasiswa/i yang melihat ke arah mereka.
Reno berdecak kecil, lantas menatap para jiwa-jiwa kepo itu tajam. "Apa yang kalian lihat?!" tanyanya dingin. Seketika para jiwa-jiwa kepo itu, langsung menghilang, di gantikan jiwa ketakutan mereka. Mereka lantas berjalan menjauh, bahkan yang baru datang juga ikutan pergi atau langsung berlari ke tempat tujuan. Persetan lah, kalau tidak sopan.
"Ekhem, jadi ada yang bisa kita bantu Pak?" tanya Tania, yang memang sedikit menangkap guratan 'keresahan' di wajah sang dosen juga suami sahabatnya.
"Emm ... bisa tolong jelaskan, kenapa Ara bisa basah begitu?"
"Emm, itu Pak. Tadi Reya kena siram sama ... sama —."
"Sama siapa?!"
"Nirma Pak," jawab Risa.
"Nirma?"
"Iya Pak, mahasiswi sekelas kita. Yang tadi Bapak puji, juga gara-gara pujian Bapak itu, membuat dia jadi besar kepala. Alhasil, dia ngeledik Ara dengan kata-kata yang ... membuat emosi lha Pak. Tapi jangan salah paham, bukan Ara yang emosi sebenarnya, tapi saya. Mungkin karena merasa marah, makanya dia numpahin jusnya di Ara " jelas Tania panjang lebar, sedikit menyindir di awal kalimat.
"Suruh Ara datang ke ruangan saya, setelah keluar dari toilet," ucap Reno , dan kemudian berjalan meninggalkan mereka berdua.
"Mereka kenapa lagi?" tanya Tania sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Bentar, gue nafas dulu ...."
"Lha, bukannya dari tadi lo nafas?" tanya Tania dengan polosnya.
"Tadi nafas gue kesendat-sendat, huft. Gila coba, seram gue lihat mukanya pak Reno. Bisa betah ya Ara ?"
"Yang namanya orangkan, kita enggak tau sifat aslinya. Bisa jadi, sifa pak Reno enggak sedingin kalau cuma berdua dengan Ara ," ucap Tania, yang tumben-tumbennya jadi bijak.
"Tumben bijak," ledek Risa.
"Ho ho, gue udah bijak dari orok kalek. Lo aja yang enggak nyadar," ucap Tania lalu berjalan deluan.
"Tungguin gue napa."
" Ara lo di dalam gak?" tanya Tania sedikit teriak.
"Hmm," dehem Ara sebagai jawaban. Setelah menunggu sepuluh detik, Ara keluar dengan rambut basah, juga baju yang lain. Sepertinya Ara mengganti baju.
"Abis mandi beneran?" beo Risa.
"Ya enggak lah, cuma basahin rambut terus ganti baju," ucap Ara mengibaskan rambutnya.
"Ck. Basah begok!" umpat keduanya.
"Hehe, jangan marah 'sayang-sayang kyuh."
"Bodo! lo di suruh ke ruangan pak suami noh," ucap Risa.
"Gue?" Seketika wajah Ara berubah menjadi singa, eh datar.
"Iya, siapa lagi. Emang kenapa sih?" tanya Risa lagi.
"Enggak."
"Kalau ada masalah, selesaiin baik-baik," ucap Tania kembali ke mode bijaknya.
"Dih, sok tau!"
"Elleh. Kentara kali dari muka lo, kalau kalian sedang mempermasalahkan sesuatu. Benerkan?"
"Dih, sejak kapan lo jadi ahli psikologi?"
"Nih anak di bilangin, udah ih sana. Di tunggu noh," desak Risa menarik tangan Ara.
"Gue bisa jalan kali Risa ! Enggak usah narik," ucap Ara melepas cekalan tangan Risa.
"Makanya buruan!" ucap Risa dan Tania bersamaa.
"Asyiap kapten!"
***
Tok ... tok ... tok.
"Masuk!"
"Ada apa Pak?" tanya Ara dengan masih berdiri di dekat pintu.
"Bisa masuk dulu?"
"Baik."
"Ehm, ada apa?" tanya Ara lagi.
"Itu, itu tadi ...."
"Kenapa Pak?"
"Itu, sakit?" tanya Reno , dengan menunjuk kepalanya sendiri.
"Menurut Bapak bagaimana? Ah maaf Pak, maksud saya ..., bukan apa-apa, lupakan saja," ucap Ara dengan mambuang muka ke tempat sampah.
"Saya bertanya serius Ara "
"Saya juga serius! Lupakan saja, bukan masalah juga."
"Araaa —."
"Enggak apa-apa, emang enggak sakit kok Pak. Jadi lupa kan saja."
"Ra , tolong —."
"Tolong, kita lagi di kampus Pak! Bukan di rumah, jadi status Bapak saat ini adalah dosen saya! Bukan suami saya!"
"Ara ! Salah? Emang salah kalau saya khawatir? Ini bukan soal status atau apa, tapi ini soal perasaan Ara ! Saya takut, saya khawatir Ara !"
Brak ....
Sorry for typo. 🙏
Gubrak! Mereka berantem lagi tuh. Cuma karna masalah sepelah, eh. Emang rambut yang di tarik tanpa perasaan, masalah sepeleh ya?
Ah, bodo ....
'Brak!
Apatuh? Benda jatuh, kucing jatuh, ato apa?
👋🙋Haii readers
Ternyata Reno selain kerja di kantor papa nya jadi dosennya Ara juga readers, ngawasin istrinya.
Tinggalkan jejak like dan komwelnya.
__ADS_1
🙏💕 Terimakasih