Gadis Imut Kesayangan Playboy

Gadis Imut Kesayangan Playboy
Eps. 94. Kepergok


__ADS_3

"Lepasin dia, Nis! Jangan Gila!" Sentak seorang pria, yang tiba-tiba muncul di balik pintu.


"A_Andre?!" Reflek saja, pisau yang di pegang Anis jadi terlepas dari tangannya, dan sedikit mengoresi lengan Reya.


"Ka_kamu ...."


"Lepas dia, Nis!"


"Enggak! Jangan mendekat!" Anis sedikit menunduk dan mengambil pisau di lantai, dan berjalan mundur perlahan.


"Anis, jangan kayak gini! Sadar Nis, ini enggak baik!" ucap Andre masih dengan nada tinggi.


"Apa? Dia sudah rebut Reno dari, aku! Dia harus merasakan akibatnya, dia harus mati!"


"Nis_Nis, jangan Anis! Plis, aku mohon. Jangan ngelakuin hal bodoh ini, Anis!"


"Jangan mendekat aku bilang, Andre! Dia akan mati, kalau kamu bergerak walau satu langkah dari tempatmu!"


"Jangan lakuin itu, Mbak!" ucap pak Doni, yang baru tiba di rumah.


"Kalian semua, diam!" teriak Anis, semua orang menggelengkan kepala melihat kelakuan gila, dari Anis.


Ara sendiri, matanya semakin ingin tertutup. Dia sedikit mencengkram lengan Anis yang memegang pisau. "Lepas, Mbak," lirih Ara.


"Enggak. Sampai kamu mati, baru aku lepaskan!"


"Gila kamu, Nis! Lepas gak! Jangan sampai aku laporin ini ke om !" ancam Andre, Anis cuma tersenyum miring, seraya semakin merapatkan pisau ke leher Ara.


"Laporin aja, yang penting perempuan ini harus, mati!"


"Aku mohon, Nis. Jangan jadi, begini!" pinta Andre, masih dengan gelengan tak percaya.


Tiba-tiba ....


Tangan Anis di jauhkannya dari leher Ara, dan tubuhnya di dorong. Hampir saja kepalanya terbentur, tembok. Kalau tidak dengan cepat, Andre menghalanginya.


"Siapa l__,Ren _Reno " ucap terbata-bata Anis.


Ya dia Reno, yang masuk dari pintu belakang rumah. Mengendap-endap masuk, di sertai kedua bodyguardnya, yaitu Marvel dan pak Gino.


Jangan tanya kenapa mereka bisa ada di sini, padahal tidak ada satupun yang bergerak menelpon mereka. Hmm, yang menelpo adalah pak Doni. Tadi saat baru tiba, dia mendengar ribut-ribut di dalam, lalu sedikit mengintip. Betapa terkejutnya dia, saat melihat si majikan. Tanpa pikir panjang, pak Doni langsung menghubungi Reno.


Lalu pak Gino dan Marvel kenapa bisa ada, karena memang mereka berdua sedang bersantai di kantor pak Revano. Saat mendengar kabar itu, mereka langsung pergi dari kantor, dan menuju rumah.


Back to dialogue.


Reno langsung memeluk Ara , menghiraukan semua pasang mata yang melihat ke arah mereka. Yang penting sekarang, Ara tidak apa-apa.


"Lepasin aku, Andre!" pekik Anis, tapi Andre tidak mengidahkan pekikan Anis. Dia tetap mengunci pergerakan Anis, bahkan Marvel 'pun sudah ikutan menahan tubuh Anis agar tidak bergerak.


"Lo gila, Nis! Karna ambisi lo itu, lo mau bunuh Ara ! Lo mau bunuh adek, gue!" sentak Marvel menatap tajam Anis, disertai cengkraman kuat di lengan Anis.


"Dia udah rebut Reno dari, aku!"


"Enggak ada yang rebut-rebut, lo yang pergi ninggalin dia! Lo enggak tau, betapa terpuruknya Reno saat lo hilang gitu aja ... tanpa kabar! Lo enggak tau, Nis! Dan di saat dia sudah bangkit, sudah mencoba melupakan lo, kenapa lo harus datang ke kehidupannya lagi, kenapa?!" bentak pak Gino juga.


"Bahkan lo mau bunuh, Ara ! Cih, ini bukan cinta namanya. Yang menghalalkan segala cara, agar bisa mendapatkan kembali, ini ambisius Nis! Ini ambisi, bukan cinta!" tambah Marvel , dengan nafas yang memburu.


"Tapi ak__."


"Enggak ada tapi-apian, Nis. Kalau lo emang cinta, harusnya lo ikhlasin Reno bahagia dengan orang lain! ... lo lihatkan, Reno begitu khawatir dengan Ara ?! Bahkan dengan tidak sadarnya, Reno ngedorong lo, dan hampir ... bruk, terbentur. Kalau tidak cepat __."


"Andre," potong Andre.


"Ya, kalau tidak cepat Andre, nolongin lo!" sambung pak Gino.


Anis terdiam tanpa berkutik, pandangannya lurus ke arah Reno dan Ara. Ya, bisa di lihat jelas bahwa Reno begitu khawatir dengan ke adaan Ara .


"Kamu tidak apa-apa kan? Apa yang sakit?"


"Pusing," ucap lirih Ara , dengan memegang kepalanya.


"Ya udah, kita ke kamar ya." Ara cuma mengangguk, Reno menggendong Ara menaiki tangga, tanpa melirik sama sekali ke arah Anis. Dia tidak mau, dikuasai emosi saat melihat Anis.


Sesampai di kamar, Reno perlahan membaringkan tubuh Ara dengan hati-hati. "Kamu tidur dulu, ya. Mas mah urus orang, di bawah."


"Takut," lirih Ara . Reno tau, pasti Ara sangat shock dengan kejadian ini. Reno memeluk Ara, dengan sesekali menciumi kening atau pipi Ara.


Kesempatan dalam kesempitan ...:v


"Ya sudah, Mas temani kamu sampai tidur," bisik Reno, Ara tak menjawab apa-apa. Di karenakan kepalanya yang sungguh, pusing..


Tidak lama, sudah tidak ada pergerakan dari Ara . Reno melepas pelukannya, dan sedikit merendahkan suhu ac. Dengan menetralkan dirinya agar tidak emosi, Reno perlahan menuruni tangga.


Di lihatnya orang-orang masih berdiri di tempat yang sama, tanpa ada yang pindah duduk atau tempat.


"Jadi urusannya, gimana?" tanya Marvel, saat melihat pak Reno mendekat.


Reno tidak menjawab, hanya memandang Anis dan Andre secara bergantian. "Kamu ... siapa?"


"Andre," jawab Andre.


"Maksud dia, lo siapanya Anis?" protes Marvel. Andre tersenyum kikuk, "saya__."


"Tunangan, aku," ucap Anis.


Marvel serta pak Gino terbelalak, kecuali Reno. Dia cuma memasang tampang datarnya. "Tunangan?!" pekik pak Gino dan Marvel bersamaan.


"Berisik!" sentak Reno dan Andre, bersamaan juga.

__ADS_1


"Bener, tunangan? Terus kenapa ...." Pak Gino menggantung ucapannya, saat Andre menghampiri Reno.


"Bisa bicara, berdua?"


"Hemm," dehem Reno, dan berjalan ke belakang rumah. Sedangkan Andre mengekor, di belakangnya.


Di ruang kerja Reno


"Silahkan duduk," ucap Reno.


"Thanks."


"Khem, sebenarnya saya tunangannya Anis. Sejak setahun, yang lalu. Selama itu perjalanan hubungan kita baik-baik saja, tidak ada masalah. Sampai sebulan yang lalu, Anis cerita tentang masa lalunya. Tentang ... Anda."


"Langsung ke intinya," ucap Reno datar, seperti biasa.


Andre tersenyum kecil. "Dia bilang, katanya dia ingin ke Indo, untuk menemui kamu dan meminta maaf. Ya awalnya saya tidak mengizinkan, tapi lama-lama ... saya izinkan. Karena tidak tahan melihat dia terus-terus mengucapakan, 'aku selalu merasa bersalah, tidurku enggak nyenyak.' Dan sampai, seminggu yang lalu saya izinkan untuk pulang ke Indonesia. Setelah kepergiannya selama empat hari, belum ada kabar. Tidak pernah mengabari saya, dan saya putuskan untuk menyusulnya ke sini.


Setelah sampai ke sini, saya mencari tempat dimana Anis tinggal dan, apa yang selama empat hari ini yang dia lakukan. Tanpa ada kabar ke saya, dan ternyata apa yang dia lakukan di sini ... cukup membuat saya sakit hati, ternyata dia ke sini bukan untuk minta maaf. Melainka untuk mendapatkan, kamu kembali," jelas Andre panjang lebar, dengan senyuman kecut.


"Dan kenapa saya bisa ada di rumah ini, karena ... dari pagi Anis saya mata-matai ... kemana dia pergi, dan mau apa. Ya sampai ke jadian ... ini," sambung Andre lagi.


"Saya serahkan dengan keluarga ini, Anis mau kalian apakan. Tapi kalau berkenang, saya mohon jangan penjarakan Anis. Anis akan saya bawa kembali ke Australia, dan saya janji ... Anis tidak akan mengganggu kalian lagi," ucap Andre.


"Akan saya diskusikan dengan yang lain," ucap Reno, dan berjalan kembali ke dalam rumah. Andre juga sama, ikut masuk.


"Bagaimana?" tanya Marvel lagi, Reno memandang Anis kemudian ke arah Mar


"Kamu sendiri?" tanya balik Reno.


"Hmm, gue udah dengar semua cerita detailnya dari Anis. Dan gue harap, apa yang dia bilang ... sesuai dengan apa yang akan dia lakukan," jelas Marvel dengan helaan nafas berat.


"Gue harap, mulai sekarang ... lo enggak lagi mengganggu, keluarga kita!" sambungnya.


"Kapan kalian akan, balik?"


"Sekarang atau besok, dan maaf karena telah membuat kekacauwan," ucap Andre, Anis sendiri cuma terdiam membisu.


"Reno , terima kasih. Saya janji, Anis tidak akan berulah lagi!"


***


"Kenapa di biarin pergi gitu, aja Den? Kan kita enggak tau, apa yang akan dia lakukan kembali," protes mbok Mina, ke pada ke tiga laki-laki di hadapannya.


"Maksud mereka begini, Mbok. Tidak ada gunanya menahan Anis di penjara, malah itu semakin membuat dia dendam sama kita. Anis tipikal orang yang sangat emosional, kalau kita baik ... dia akan baik juga, walau tidak terlalu baik. Dan begitu juga sebaliknya, jika kita jahatin dia ... dia akan dendam," ujar pak Gino.


"Dan yang penting, Ara sudah tidak apa-apa. Saya mohon, jangan beritahu yang lain. Bunda, ayah, nenek ataupun abang Hendra. Ya mbok?" pinta Marvel


Mbok Mina mengangguk walau keberatan, harusnya masalah ini di beritahu ke keluarga besar. Tapi sudahlah, itu sudah menjadi keputusan ketiganya. Yang penting, Anis sudah tidak akan berulah lagi, dan Ara tidak apa-apa.


"Ngomong-ngomong, Ara sakit Ren ?" tanya Marvel, Reno mengangguk kecil.


"Pusing, dari malam dia mengigau juga keringatan."


"Ya udah, gue mau lihat Ara dulu."


"Gue ikut."


"Boleh, kan Ren ?" tanya Marvel dan pak Gino.


"Hmm," dehem Reno, dan berjalan lebih dulu.


"Dih, di tinggalin!"


Di Dalam Kamar Ara


Ara yang kebetulan sudah bangun sekitar semenit yang lalu, mengalihkan pandangannya ke arah pintu yang terbuka. Memperlihatkan tiga orang laki-laki tampan.


Berutung kali Ara , baru bangun sudah di suguhi pemandangan indah.


"Sudah bangun? Mau makan, apa?" tanya Reno, di balas gelengan oleh Ara .


"Kamu sakit, Dek? Kenapa enggak nelpon, Abang. Kan bisa jengukin kamu, dari pagi," ucap Marvel menggenggam tangan adiknya, yang memang agak panas.


Marvel memegang dahi Ara , dan beralih memeriksa lehernya. Seketika mata Marvel terbelalak, di ikuti jitakan yang dia layangkan ke kepala Reno.


"Gila! Pantesan adek gue sakit, ternyata udah di gigit semut besar," ucap Marvel heboh. Reno menendang kaki Marvel hingga Marvell terjatuh. Pak Gino sendiri, sudah ketawa ngakak di tempat. Antara menertawakan nasib Marvel , juga menertawakan tingkah salting temannya.


"Jahat lo, Ren ah! Jangan-jangan lo udah, apa-apain adek gue lagi!"


"Eh eh, mau dia apa-apain. Itu bukan urusan lo begeng! Terserah mereka mau lakuin apa-apa. Udah halal, juga," ucap pak Gino memukul lengan Marvel.


"Makanya jangan asal marah, kan gue mau lanjutin. Gini ... bagus lah kalau mereka udah ngelakuin apa-apa, biar kita cepat dapat ponak__."


"Sinting kalian, berdua!" potong Reno ngeggas, dengan menatap nyalang kedua temannya.


"Wish, santai Pak! Ra, Abang pergi dulu. Entar Abang ke sini lagi," ucap Marvel.


"Gue juga pamit," tambah pak Gino.


"Beliin pizza, ya Bang."


"Oke."


Selepas kepergian Marvel dan pak Gino, suasana kembali hening. Reno sedang memasang perban, di lengan Ara , bekas luka goresan pisau Anis tadi. Ara sendiri, tinggal memperhatikan wajah tampan suaminya.


"Mas enggak balik, ke kantor?"


"Ck. Mana tenang Mas kerja, setelah kejadian ini," kata Reno mengelus lembut kepala Ara.

__ADS_1


"Ara enggak, apa-apa."


"Enggak apa-apa?! Andaikan Anis langsung__."


"Iya, Ara tau. Enggak usah ceramah gitu, istrinya lagi sakit malah mau di ceramahi!" ketus Ara memiringkan badannya, membelakangi Reno.


Reno tersenyum, "Ngambek, ceritanya?" Reno membalik 'kan badan Ara, dan seketika itu juga terjadi ....


Pahamlah kalian.


"Astaghfirullah!" Suara Istighfar dari seseorang, membuat keduanya terperanjat kaget. Reflek, Ara langsung mendorong Reno menjauh dari atas tubuhnya.


Mereka berdua menoleh ke arah pintu, di mana ke empat orang tua paruh baya, sedang menatap mereka berdua tanpa berkedip.


"Nenek!"


"Mama!"


Mereka berdua menyeru bersamaan, dengan saling pandang. "Kalau mau ngapa-ngapain, pintunya di kunci dulu," ledek abang Hendra, itu semakin membuat mereka berdua salting tingkat akut.


"Proses, bentar lagi dapat cucu," ucap papa Nando juga, dengan menepuk pundak istrinya.


"Astaga, untung belum ngelakuin yang lebih," tambah nenek.


"Kita ganggu, ya?" tanya mama Dewi kutan, menggoda.


Cukup sudah, mereka malu. Malu bukan kepalang, apa lagi terus-terusan di goda dan di ejek.


"Kamu sakit, Nak? Kenapa enggak bilang? Untung abangmu, nelpon. Kalau eggak, kita enggak bakal tau kalau kamu sakit," cerocos neneknya.


"Kamu juga Ren, sudah tau istri sakit. Enggak ngasih tau, malam enak-enakan nyium-nyium," ucap mama Dewi brutal.


Sedangkan Reno yang di ceramahi juga di ejek, tinggal diam dan menelan ludah. Dengan di apit kedua laki-laki paruh baya itu.


"Sabar aja Ren , emang perempuan gitu. Suka banyak nyerocos," ucap abang Hendra.


"Papa setuju, emang perempuan selalu begitu. Setiap berkumpul, pasti tidak jauh dari banyak bicara," tambah papa Nando. Reno sendiri cuma menggeleng kepala, dengan tingkah kedua orang di dekatnya.


" Ara pasti seringkan, ngomel-ngomel?" tanya Abang Hendra, Reno cuma tersenyum dengan membayangkan omelan Ara , yang berapa hari ini jarang dia keluarkan. Karena masalah Anis, itu.


"Sudah abang tebak, itu ketularan bundamu. Banyak ngomel, biarpun kita cuma ngelakuin kesalahan kecil," ucap Abang Hendra lagi, Reno terkekeh kecil.


"Terus aja gosipin, kita! Nanti kita juga bakal gosipin, kalian," ujar neneknya menyelutuk.


"Betul nek , kita juga akan ngegosipin kejelekan kalian!" tambah mama Dewi.


"Reno enggak ikutan loh," sela Reno.


"Bilang aja kalau mau ikutan ngatain, kalau Ara itu ... cerewet!" ucap Ara dengan pandangan sengit, ke arah pak Reno.


"Siapa bilang? Kamu enggak cerewet," ucap Reno, berdiri dan menghampiri Ara.


"Alasan."


"Emang enggak cerewet, tapi cuma banyak 'ngomong'," ucap Reno dengan kedipan mata, menyebalkannya.


"Ish, tuhkan. Ngeselin mulu!" ucap Ara cemberut.


"Jangan cemberut, dong. Entar tambah__."


"Jelek?!" Reno mengangguk, tanpa bersalahnya. Ara semakin menceberutkan wajahnya, dengan bibir bawah yang yang di majukan.


"Mau saya, cium?" Ara terbelalak, "Nyebelin!" Ara mengangkat tangannya, dan memukul si pelaku. Tepat sasaran, belum lagi Reno menghindar, tangan Ara sudah jatuh ke perutnya. Tapi bukannya kesakitan, malah dia cuma terkekeh.


"Sepertinya kita di anggap, nyamuk!" celetuk abang Hendra. Ara dan Reno menatap ke empatnya, dengan senyuman malu.


"Eh, tunggu. Itu tangannya kenapa di, perban?" tanya neneknya , dengan memegang lengan Ara.


"I_ini, cuma kena gores pisau, ke_marin saat mau masak," ucap Ara berbohong. Dengan memandang ke arah Reno, yang sedang menatapnya juga. "Lain kali hati-hati," ucap neneknya, tanpa curiga sedikitpun.


Siang Harinya


Mereka menghabiskan siang hingga sore di rumah ini, dengan Ara yang selalu nempel di neneknya atau di abang Hendra juga Reno. Sekitar jam empat sore, Marvel Datang serta pak Gino. Ya seperti kata Marvel tadi, dan sekarang dia membawa pesanan Reya.


"Nih, pizza pesanan lo Dek."


"Thanks, Bang.


"Masih pusing?"


"Hmm, sedikit."


"Ada yang mau gue, omongin," bisik Marvel ke Reno. "Mas keluar bentar ya," ucap Reno, Ara cuma mengangguk.


Di luar


Pak Gino, Marvel dan Reno sekarang tengah duduk di teras rumah. "Mau bicara, apa?"


"Sedikit-sedikit, gue masih nyimpan curiga dengan Anis. Hmm, gue minta ... lo masih mesti hati-hati."


"Maksudnya, saat lo lagi jalan-jalan atau apa ... kalau Anis datang, lo mesti hati-hati. Bukannya gue mau su udzon, atau memprovokasi tapi __."


"Gue ngerti ke khawatiran lo, tenang aja," potong Reno.


"Tumben pake 'gue-lo?', biasa saya-kamu," ledek pak Gino.


"Oke, itu pesan gue," ucap Marvel, Reno mengangguk.


Sorry for typo. 🙏

__ADS_1


__ADS_2