
Insiden dari diam-diaman di mobil tadi, hingga ke penjual somay. Mereka sudah kembali lagi ke mobil. Benar kata Reno tadi, Ara tidak bisa menghabiskannya. Jadinya mereka membungkusnya, membawa pulang.
Sesampainya di rumah, Ara langsung melangkah kedapur menyimpan somaynya. Lalu naik tangga menyusul Reno ke kamar.
"Enggak mau mandi, Ra?"
"Malas," jawab Ara singkat.
"Ya udah, Mas mandi deluan," ucap Reno, di balas deheman oleh Ara.
Ara membaringkan tubuhnya di ranjang, berbalik ke sana-kesini, mencari posisi nyaman.
"Mandi dulu atau tidur?" gumam Ara lalu Melirik ke arah pintu, belum ada tanda-tanda akan keluarnya Reno. Akhirnya Ara mengambil keputusan, lebih baik tidur saja dulu.
Ara terbangun, entah sudah jam berapa sekarang. Ara membangunkan tubuhnya, beberapa detik kemudian, dia tersadar ada yang aneh.
Ara memperhatikan pakaiannya, masih rapih. Tapi ... seingat Reya tadi dia memakai baju kemeja kotak-kotak, dan celana jeans. Tapi sekarang ... pakainnya sudah terganti dengan baju kaos berwarna peach, dan celana kain di atas lututnya.
Astaga, sepertinya Ara kecolongan.
"Sudah bangun?" tanya Reno, yang muncul di balik pintu.
"Mas yang ganti?" tanya Ara balik.
"Ganti? Apa?"
"Baju sama celana Ara ." Reno cuma menyengir, dan melangkah mendekat ke arah Ara.
"Abisnya Mas jadi gerah sendiri lihat penampilan kamu. Mau Mas bangunin, enggak tega. Jadi ya udah, Mas gantiin," ucap Reno.
"Dalaman Ara Mas ganti juga?" tanya Ara, di angguki Reno.
Ara seketika menganga, benar-benar dia kecolongan.
"Santai aja reaksinya, Mas enggak khilaf beneran. Cuma ya... hampir," ucap Reno lagi, dengan masih dengan cengirannya.
"Masa? Bisa nahan emang?"
"Bisa, buktinya Mas enggak ngapa-ngapain kamu."
"Mas," panggil Ara.
"Kenapa?"
"Mau makan kue."
"Kue apa?"
"Emm, brownis sama kue bolu enak kali ya."
"Mau itu?"
"Martabak telur, deh."
"Martabak?"
"Iya."
"Emang ada yang jual kalau siang, gini?"
"Enggak ada."
"Terus? Belinya di mana?"
"Siapa bilang kita, beli."
"Yah terus kalau enggak beli, dapat di mana?"
"Ikut Ara " Ara menarik Reno untuk berdiri, membawanya keluar kamar, menuruni tangga, sampai ke dapur.
"Mau ngapain ke sini?"
"Masak, masa mau dangdutan. Mas buat martabaknya sekarang!"
"Ha?! Mas yang ... b--buat?"
"Iya," jawab Ara singkat.
"Serius? Mas engg--"
"Enggak mau? Ini yang minta bebynya lho, Mas. Masa enggak mau nurutin," ucap Ara, disertai dengan drama mata berkaca-kacanya.
"B--bukan, cuma Mas enggak tau buatnya Ra," ucap Reno memelas.
"Minta resep sama mbok Mina. Cuma minta resep, bukan di bantuin!"
"Tapi—"
"Enggak ada tapi-tapian, oke? Katanya apa 'pun yang Ara minta, bakal ditrurutin."
"Oke, Mas yang buat," pasrah Reno, Ara menepuk-nepuk pipi suaminya, disertai senyuman tanpa bersalahnya.
"Semangat, demi bebynya loh."
"Hmm."
"Senyum."
"Udah sana, kamu pergi duduk."
"Senyum dulu," paksa Ara. Reno tersenyum sekilas, dan memanggil mbok Mina untuk membantu emm, meminta resep.
"Ini di gimanain, Mbok?"
"Kalau ini?"
"Bentuk 'kinnya gimana, Mbok?"
"Apinya di besarin lagi atau di kecilin?"
"Udah matang kalau gini, Mbok?"
"Topingnya bagusnya pake apa, Re?"
"Kejunya segini, aja?"
Masih banyak lagi ocehan, tepatnya pertanyaan yang meluncur indah dari mulut Reno. Mbok Mina selalu setia menjawabnya. Sedangkan Ara tinggal duduk, sesekali memprotes saat Reno memakai api yang kelewatan kecil atau terlalu besar, dan mengasih topingnya asal-asalan.
"Kejunya jangan di berantakin, jelek jadinya nanti!" omel Ara. .
"Gini cukup kan? Mas udah capek," ucap Reno, melepas celemek yang dipakainya, dan membawa martabaknya ke meja makan, tempat Ara sedari tadi duduk memerintahnya.
"Silahkan di nikmati Nyonya Istri."
"Enak gak?"
"Coba aja dulu, tapi Mas jamin, pasti enak. Kan di buat dengan penuh kasih sayang," ucapReno.
"Bukan penuh paksaan sama pasraan, kan?"
"Su'udzon mulu sama suami Ra. Pasti lah dengan ke ikhlasan dan kasih sayang," katanya, sambil meneguk air minum. Berkutak dengan alat-alat dapur pembuat kua, sunggu membuatnya haus.
Ara memotong martabak ala chef Reno, atau chef dadakan itu. Memotongnya dengan potongan agak kecil, dan memasuk 'kannya ke dalam mulut.
"Enak?"
"Emm, lumayan."
"Cuma lumayan? Enggak bisa lebih?"
"Ya udah jadi ... 'enak. Di atas lumayan, kan?"
"Ya terserah kamu. Tapi makannya pelan-pelan aja Sayang, Mas enggak bakal rebut."
"Assalamualaikum, penghuni rumah!" salam orang dari luar, sambil teriak.
"Mas pergi buka dulu, kamu makan aja," ucap Reno, tak di respon Ara , karena sibuk dengan martabaknya.
Reno melangkah keluar, menuju pintu.
"Assalamualaikum, penghuni rumah!"
__ADS_1
"Waalaikumsalam, enggak usah teriak. Suara Anda sangat fals!" sembur Reno, membukan pintu. Terpampanglah di sana wajah Marvel yang mendelik menatapnya.
"Suara gue merdu membahana gini, lo bilang fals. Telinga Anda bermasalah, kah?"Marvel langsung melangkah masuk, tanpa persetujuan tuan rumah. Saat ingin kembali menutup pintu, pak Gino, Tania, dan Risa muncul entah dari mana.
"Masih ada tamu, saya kira cuma si enggak tau tata krama," ucap Reno, menyindir Marvel.
"Masuk."
"Adek gue di mana, Ren ? Enggak lo umpetin, kan?"
"Kalau ngomong bisa di saring dulu, gak? Anda pikir Ara barang di umpetin," ucap Reno, melenggang masuk kembali ke Ara Di ikuti yang lainnya.
"Wihh, martabak. Abang minta juga, dong?" Marvel bersiap mengambilnya, tapi Ara langsung menepis tangan Marvel.
"Enggak boleh, kalau mau buat sendiri!" ucap Ara ketus.
"Pelit banget sama abang sendiri, Dek."
"Bodo!"
"Ngomong-ngomong siapa yang, buat? Perasaan nggak ada yang jual martabak di siang bolong gini," tanya pak Gino.
"Gue tebak, pasti mbok Mina, kan? Enggak mungkin kalau Reno yang buat," terka Marvell, sok tahu.
"Kalau saya yang buat, kenapa?" tanya Reno, dihadiahi wajah cengo semuanya.
"Serius? Enak nggak, Ra?" Ingin sekali Reno melemparkan sendok ke muka Marvel dia sangat meremehkan kemampuannya.
"Kalau nggak enak, nggak mungkin Ara makannya selahap itu, Bambang!" Sela pak Gino, menoyor kepala Marvel.
"Ah masa? Sini dikit coba, Dek. Abang mau nyoba," ucap Marvel.
"Modus!" sembur semuanya, kecuali Ara.
"Ahaha, tau aja," kata Marvel menyengir.
"Masa' kamu mau sama orang kayak Marvel, Ris ?" ejek pak Gino, di angguki Reno.
"Sialan, temen enggak ada perasaan!"
"Enggak nyadar, Bro?!" ketus Pak Gino dan Reno bersamaan.
"Kalian mau juga?" tanya Reno.
"Mau lah!" seru Marvel
"Bukan Anda, maaf. Tapi mereka," ucap pak Reno kemudian pergi mengambil martabak yang kebetulan masih ada. Di masuk 'kannya ke kulkas tadi.
"Jahat banget lo Ren, sama kakak ipar sendiri juga!" ucap Marvel sedikit teriak.
"Lo betah gak Ris , sama abang gue? Di luar aja kalem, tapi aslinya gitu ...." Ara meledek, setelah menyelesaikan makannya.
"Ya ampun Ara , adek Abang yang cantik. Kamu kenapa ikut-ikutan sama suami lo coba?" tanya Marvell greget, sumpah.
"Satu spesialis, satu rumah, dan sepasang suami istri. Wajar kalau dia ikutan," balas Reno, setelah kembali dengan dua piring martabak.
"Serah lah serah, gue selalu terkucil kan kalau ngumpul bareng kalian!" kata Marvel dan langsung mengambil satu potong martabak kemudian memasuk 'kannya ke dalam mulut.
"Dih, yang ngebolehin lo makan siapa, Bang?"
Seketika martabak yang sudah sampai di tenggorokan Marvel, hampir kembali keluar lagi karena, ucapan Ara. Adek enggak ada akhlak, emang.
"Canda Bang, makan aja nih makan. Jangan marah," ucap Ara cengengesan.
"Untung kagak jadi keluar, Dek."
"Jorok kali kau, Vel" ujar pak Gino.
Selesai memakan martabak, kembali mereka berkumpul di taman, tepatnya di dekat kandang hewan-hewan peliharaan Ara.
"Hamster lo imut banget sih, bulu-bulunya panjang," ucap Tania. Sedangkan Reno menatap nyalang ke hamster itu, apanya yang imut coba? Bentukan tikus gitu.
"Kucing lo juga, bulunya panjang banget," ucap Risajuga.
"Tapi kucingnya galak," ucap Ara
"Seperti yang punya," celetuk pak Gino. Ara dan Reno saling pandang. Bingung, yang di maksud siapa? Ara atau Reno?
"Yang punya," ucapnya.
"Yang punya siapa, emang?" tanya Marvell.
"Mereka berdua," ucap Tania.
"Berarti kalian berdua yang di katain, galak," ucap Marvell, dibarengi suara ketawa dari pak Gino.
"Punya teman kurang didikan, gini jadinya," cibir Revno, sekaligus menghentikan tawa pak Gino.
"Enak aja, kalau gue kurang didikan. Enggak bakal sampai jadi dosen, pe'ang!"
"Dih, ngegas Gin?" Gantian Marvell yang tertawa, di susul Tania dan Ara.
Tak lama mereka tertawa, kembali terhenti saat panggilan masuk dari ponsel Tania.
"Siapa?" tanya Risa.
"Thiar," ucap Tania.
"Speaker Tan," ucap Marvel, dengan menatap jail pak Gino.
"Abang pikir apaan, pake di speaker segala."
"Halo?"
"Iya. Lo di mana Tan? Tante Tiara bilang kalau, lo lagi keluar ya?"
"Emm, iya."
Ya, biarpun Tania mes-peakernya, tapi volumenya cuma sedikit. Mungkin cuma Ars dan Risayang berada di sampinya, mendengarnya. Kecuali yang lain ikut diam dan menguping.
"Di mana? Gue jemput, soalnya gue mau ngajak lo keluar," ucap Thiar di sebrang telepon.
"Sekarang?"
"Ya, kalau bisa. Tapi kalau enggak ... nanti aja."
"Bisa, sekalian gue mau ngomong sesuatu," ucap Tania.
"Oke, lo di mana? Biar gue jemput."
"Entar gue sherlock, tapi tunggu di depan pagar rumah. Enggak usah masuk ke dalam."
"Oke."
"Gue matiin."
Panggilan berakhir, Tania menghembuskan nafas kasar. Mudah-mudahan, keputusannya ini tidak salah. Mereka bertiga membalik 'kan kepalanya, hampir saja memekik kaget.
Kepala ketiga laki-laki di situ, sudah sangat dekat dengan mereka.
"Mas buat kaget tau, gak?!" pekik Ara di dekat telinga Reno, membuat sang empu reflek menutup telinganya.
"Maaf Ra," ucap Reno, menyengir.
"Ya udah, gue ke depan nunggu Thiar. Permisi Pak, Kak."
Beberapa detik perginya Tania, semuanya masih terdiam. Sebenarnya mulut Risa sangat gatal ingin bertanya, ke pak Gino. Tapi selalu urung, saat melihat eksperi yang sangat ... sulit di jelaskan dari wajah sang dosen.
"Woy pada diem, ngomong ei ngomong!" celetuk Marvel, mendapat tendangan maut dari Reno. Hampir saja jantungnya copot, karena terkejut dengan ucapan Marvel yang tiba-tiba.
"Kebiasaan buat orang, kaget!"
"Cuma lo doang yang kaget, mereka kaga--"
"Kita juga kaget!" sembur Ara dan Risa.
"Hehe, tapi dia kagak," tunjuk Marvel ke pak Gino.
"Tania udah pergi katanya," ucap Risa, yang mendapat pesan dari Tania.
"Beneran Beb?"
__ADS_1
"Idih alay banget, Bang," ejek Ara.
"Yang penting ada yang di panggil gitu, dari pada ... noh. Diem, pasrah, enggak mau berjuang," sindir Marvel, ke pak Gino.
"Kan Sayang?" Risa cuma menggeleng 'kan kepala, memang benat kata Ara. Marvel cuma kelihatannya aja kalem, tapi aslinya ... sengklek.
"Ngapain cuma diem, cinta itu harus di perjuangin. Kalau cuma tinggal diam, ngelihat dia dengan orang lain. Emang lo sanggup? Kalau gue sih enggak," ucap Marvel, yang tak habis pikir dengan temannya. Yang cuma pasrah dengan keadaan.
"Doa'in gue," ucap pak Gino, langsung berdiri dan berlari pergi meninggalkan semuanya yang terbengong.
"Temen lo kenapa, Ren ?"
"Dapat pencerahan mungkin."
"Mungkin," balas Marvel sambil mengangguk kecil, terus menatap kepergian pak Gino.
Di tempat Tania
Di sisi lain, di sebuah restorant. Tempat Tania dan Thiar berada sekarang, setelah makan yang mereka pesan datang. Mereka tidak langsung makan, tapi berbincang.
"Lo ngajak ketemu karena ... mau tau jawaban gue?"
"Seperti itu, tapi bukan maksud gue buat maksa. Tapi gue rasa ... waktunya udah cukup buat lo bisa nentuin jawaban," jawab Thiar.
"Lo enggak bakal kecewa seandainya jawaban gue, enggak seperti yang lo harap?"
"Kecewa sudah pasti ada, apa lagi jawaban yang enggak kita harap. Tapi seperti yang pernah gue bilang ... gue bakal nerima apa 'pun itu," balas Thiar.
"Makan aja dulu, entar di lanjutin. Biar lo punya tenaga buat ngasih jawaban," ucap Thiar, sedikit candaan.
Mereka mulai makan, dengan diam. Selesai makan mereka kembali mengatur posisi yang nyaman.
"Santai aja, jangan gugup gitu. Harusnya gue yang gugup, nantiin jawabannya," canda Thiar.
"Thiar, emang gue ... pernah punya perasaan sama lo. Tapi ... sekarang, sedikit-sedikit menghilang."
"Gue ..., sorry kalau jawaban gue enggak seperti yang lo mau. Gue ... enggak bisa," ucap Tania sambil memejamkan mata. Thiar sendiri menunduk, sambil mengangguk-angguk 'kan kepala
"Thiar, lo ...."
"Bentar dulu Tan." Thiar menepuk-nepuk dadanya, dan terkekeh kecil.
"Dada gue sesak," ucap Thiar, kemudian menarik nafasnya dalam, dan menghebuskannya.
"Gue udah tau jawabannya dari awal. Yah ... gue telat," ucap Thiar sambil terkekeh.
"Lo enggak marah, kan?"
"Haha, enggak lah. Itu hak lo yang mutusin. Ya udah gue pergi bayar dulu."
"Biar gue yang bayar, anggap aja sebagai permintaan maaf. Ya biar ini enggak seberapa," ucap Tania sambil menggaruk kepalanya.
"Oke, gue anggap sebagai permintaan maaf. Bagaimana 'pun lo emang salah, udah gantungin anak orang. Terus ujung-ujungnya di tolak," ucap Thiar bercanda.
Tapi walau bercanda, tak dapat di pungkiri jika Tania semakin merasa bersalah. Selesai membayar, mereka melangkah keluar resto.
"Kita masih bisa berteman, kan?" tanya Thiar.
"Harusnya gue yang bertanya kayak gitu," ucap Tania.
"Kita berteman, masih berteman sampai kapan 'pun," lanjutnya, Thiar tersenyum.
"Ya udah, mau pulang sama siapa?"
"Gue naik taxi aja lah, enggak usah lo anter. Makin merasa bersalah gue," kata Tania.
"Yeh ge'er, siapa juga yang mau nganterin lo pulang."
"Maksudnya?"
"Nih, lo lihat ke sana ...." Thiar menunjuk ke arah samping mereka, sekitar lima langkah dari tempat mereka berdiri. Di sana berdiri seorang laki-laki yang memandang mereka berdua, tepatnya laki-laki itu ... pak Gino.
"Dah gue balik, good luck!" ucap Thiar menepuk pundak Tanua sekilas, dan mulai berjalan ke arah pak Gino, atau ke motornya.
Thiar sampai ke depan pak Gino, lalu menjulurkan tangannya.
"Good luck, Pak. Tenang saja, saya enggak bakal ngeganggu. Saya dan Tania, cuma akan menjadi teman," ucap Thiar.
"Saya deluan, Pak," pamit Thiar, di balas anggukan pak Gino.
Pak Gino berjalan ke arah Tania, sedikit tersenyum kikuk. Sedangkan Tania cuma diam, bagai mana pak Gino tau kalau dia ada di sini? Apa pak Gino mengikuti mereka? Entahlah.
"Ekhem, masih ada waktu, kan? Saya mau ajak jalan-jalan sebentar." Tania cuma mengangguk, sebagai jawaban.
***
"Bapak, tau dari mana kalau saya suka ke tempat ini?"
Yah, sekarang mereka sedang berada di tempat ekskul musik. Salah satu tempat favorit Tania, jika sedang suntuk. Dia akan menghabiskan waktunya dengan bermain alat musik yang di kuasainya.
"Tidak penting saya tau dari mana, yang jelas saya tau salah satu tempat favorit kamu," balas pak Gino, dengan mengambil gitar.
"Bapak suka main, gitar?"
"Hmm, bukan cuma saya. Marvel sama Reno juga, suka. Kami pernah mempunyai grup band, tapi udah lama bubar."
"Wih keren," seru Tania.
"Kamu sendiri suka main, apa?"
"Enggak banyak, tapi yang paling saya kuasi ... cuma piano. Gitar enggak terlalu," ucap Tania.
"Saya mau lihat kamu main piano, mau?"
"Boleh, jangan di ketawain tapi kalau salah." Pak Gino mengangguk, sambil mengulum senyumnya.
"Sambil nyanyi," ucap pak Gino.
"Suara saya pas-pasan, Pak."
"Biar saya."
"Emang bisa?"
"Kan tadi saya bilang, pernah punya grup band."
"Oke, mulai. Tapi lagu apa?"
"Afgan, judulnya ... jodoh pasti bertemu. Bisa, kan?" Tania mengangguk, dan mulai memainkan pianonya. Dan pak Gino mulai bernyanyi.
Bayangin aja, ya ....
Lagu yang di populerkan oleh penyanyi yang bernama Afgan, memilik lesung pipi yang menambah ketampanannya, eak. Terdengar merdu keluar, dari mulut pak Gino.
Lirik ....
Ada yang kau tau
Betapa kumencinta
Selalu menjadikan mu
Isi dalam doaku
Kutau tak mudah
Menjadi yang kau minta
Kupasrahkan hatiku
Takdirkan menjawabnya
Jika aku bukan jalanmu
Kuberhenti mengharapkanmu
Jika aku, memang tercipta untukmu
Ku kan memilikimu
Jodoh pasti bertemu.
__ADS_1
Sorry for typo. 🙏