
"Mas berangkat dulu," pamit Reno dengan memasang jam tangannya.
"Hati-hati, salam sama mama kalau mampir," ucap Ar sambil menyalimi tangan suaminya.
"Hemm, enggak mau ikut sekalian?"
"Enggak ah, entar cuma jadi patung di kantor Mas," ucap Ara
"Kan sekalian kenalin kamu, dengan orang-orang kantor Ra " bujuk pak Revano.
"Enggak usah lah, nanti aja. Lagian udah banyak juga yang kenal orang kantor Mas sama papa," kata Ara lagi.
"Cuma yang jabatannya tinggi kan, cuma yang datang saat pernikahan kita. Masih banyak yang enggak tau, kalau Mas udah nikah lho Ra ."
"Emang kenapa?"
"Emang enggak takut, kalau suamimu di goda sama karyawan perempuan Mas?" goda Reno.
"Itu kalau Mas mau ikutan tergoda! Kalau enggak, ya apa yang perlu di takutin," balas Ara menggoda, dengan memegang kedua pipi Reno.
"Mas berangkat dulu," ucap Reno cepat, tanpa membalas godaan Ara Satu kecupan yang kurang lebih empat detik, di kening Ara.
"Hati-hati," balas Ara dengan menahan tawanya, melihat wajah salting suaminya.
🐇🐇🐇🐇🐇🐇
"Mau makan apa kalian?" tanya Risa ya sekarang mereka ada di restorant. Sekedar jalan-jalan di hari libur kuliah, agar tidak terlalu jenuh di rumah.
Ya ... jadwal kuliah mereka memang cuma, 'empat' kali dalam seminggu.
"Samain aja kek lo tadi," ucap Tania di ikuti Ara.
"Sea food tiga Mas, sama jus Mangga juga tiga," ucap Dina dengan senyuman manisnya, membuat si pelayan pria itu salting.
"Di gunggu pesanannya cantik," ucap si pelayan.
"Deh, jiwa-jiwa fackgirl nya kambuh!" ledek Ara
"Emang harus ramah kan sama orang? Coba kalau lo mesannya pake ada galak-galak, pasti bakal lari ngibrit tu pelayan," ucap Risa di sertai kekehannya.
"Hmm, ya sih. Tapi entar kalau lo gitu, ada yang bakal cembokur nanti," ucap Tania.
"Siapa juga yang bakal cemburu? Pacar aja enggak punya," kata Risa.
"Dih, sok-sok'an gak tau. Padahal udah dipikirin tuh, pasti dalam hati," tambah Ara.
"Apaan sih!" Risa menggeleng malu-malu.
"Permisi, ini pesanannya."
"Thanks Mas," ucap mereka bertiga.
"Your welcome, Mbak. Selamat menikmati," ucap si pelayan, dan kembali ke pekerjaannya.
"Manis juga tuh mas-mas, boleh kali gue gebet," celetuk Tania.
"Cih, gaya lo tadi ngata-ngatain gue! Ujung-ujungnya kemakan omongan sendiri kan," ucap Risa .
Mereka tertawa kecil, dan mulai memakan makanannya. Dengan di temani suara bising-bising pengunjung di restorant itu.
Selesai makan, mereka memesan ice cream sebagai pencuci mulut atau makanan penutup. Di sela-sela makan mereka, ponsel Ara berbunyi. Menandakan ada panggilan masuk.
"Gue angkat telepon dulu," ucap Ara , diangguki keduanya.
"Halo?"
"Kamu di mana?"
"Lha, tadi kan udah bilang kalau mau keluar."
"Iya, keluarnya di mana?" tanya si penelpon, tak lain dan tak bukan adalah Reno.
"Enggak kemana-mana, tapi sekarang ada di resto," kata Ara sedikit-sedikit memakan ice creamnya.
"Lagi ngapain?"
"Ngedance, ya makan lah. Ngapain ke resto, kalau enggak makan," balas sewot Ara . Reno terkekeh kecil. Semenit, dua menit, tiga menit, tak ada yang berbicara. Ara kembali menyantap makanannya, sedangkan pak Reno ... entah apa yang dia lakukan, cuma terdengar suara keyboard laptop di sana.
"Sibuk?" tanya Reya. "Sedikit," balas Reno .
"Terus ngapain nelpon?"
"Kangen aja," ucap Reno dengan gombalannya, Ara yang mendengarnya mendadak wajahnya memerah. Walau cuma gombalan receh, yang akhir-akhir ini memang sering dia dengar dari mulut suaminya.
"Ceh," decak Ara dengan senyum malu-malu, itu juga tak luput dari perhatian kedua mahkluk hidup di dekatnya. "Mas matiin dulu, ada meeting," ucap Reno .
"Meeting sama siapa? Sama perempuan yang waktu di rumah itu? Atau yang di resto waktu itu juga?" tuding Ara dengan berbagai pertanyaan.
Terdengar suara indah Reno di sebrang sana, yang sangat jarang di dengar oleh siapapun, termasuk Ara sendiri. "Ck. Ara nanya kali, kenapa malah ketawa!" ketus Ara dengan menekuk wajahnya, walau itu cuma bisa di lihat oleh Risa dan Tania.
"Kenapa emang kalau Mas meetingnya sama mereka? Cemburu?" tanya Reno , disertai kekehannya.
"Bukan! Takut aja gitu, kalau sampai mata Mas jelatan lihat yang —."
Perkataannya terpotong, saat tawa Reno terdengar kembali. Ara berpikir 'waktu sarapan, suaminya enggak makan yang aneh-aneh kan?'.
Membiarkan suaminya tertawa, entah apa yang di tertawakan. Ara juga menikmati itu, jangan lupakan kalau itu sudah ia rekam lebih dulu. Sebagai mengabadikan momen, langkah seperti ini.
"Aneh, mana mau mata Mas jelatan. Padahal, jelas-jelas ada istri Mas yang jauh lebih cantik dari siapapun. Mas matiin, udah mau pergi. Dah, jangan genit sama pelayan di situ!" Baru saja Ara mau membalasnya, tapi telepon sudah di matikan sepihak.
"Siapa juga yang genit!" gerutu Ara , dengan senyuman setelah itu.
"Accie-cie, piu-piu. Ada yang lagi kasmaran nih," goda Tania di ikuti Risa, tanpa menghiraukan wajah memerah dan salting Ara.
__ADS_1
"Diem gak! Udah ah, gue mau balik!" ketus Ara sambil berdiri. "Tungguin, woy! Jangan ngambek lah," ucap Risa .
Mereka berjalan keluar, dengan terus mengejar Ara yang masih dalam mode ngambek di buat-buatnya. "Rara , tungguin napa Beb! Jangan ngambek, elah."
"Udah stop, gue capek lari ngejar lo," ucap Tania dengan menormalkan nafasnya, juga tangan kanannya yang sudah memegang erat lengan Ara, agar tak kabur.
"Yang lari siapa? Yang nyuruh kalian ngejar gue siapa?" tanya Ara tanpa rasa bersalahnya.
"Kamp*et, dasar lo Ra !" umpat Risa dengan menjitak kepala Ara.
"Kamp*et, jangan main jitak-jitak aja kali!" bala Ara dengan jitakan juga.
"Lo juga sama dodol! Maen jitak-jitak, juga!" ucap Risa , kembali menoyor kepala Ar , di balas toyoran juga dari Ara.
"Gitu aja terus, gue di lupain!" ucap Tania dengan gaya sebelnya, juga mulut di monyongin.
"Ceh elah, si adek ikutan ngambek," ledek Ara.
"Utu-utu, jangan ngambek Adek gue yang manis kek garam!"
"Dasar enggak waras, klen berdua!"
"Jangan ngehina, kita juga sama," ucap Ara dan mereka kembali tertawa bersama.
Emang sih, kalau bukan di lihat dari tampilan mereka yang keren, badan bagus, wajah yang cantik. Mereka pasti udah di katain orang gila, dengan candaan yang kurang masuk dalam otak, dan ketawa tanpa sebab.
"Lanjut kemana lagi, kita?"
"Pulang aja deh, entar di emolin lagi kalau enggak pulang cepat," ucap Ara dengan cemberut.
"Eh lupa, kalau temen kita yang satu ini udah punya laki. Enggak bebas lagi," ucap Tania sedikit meledek.
"Ledekin aja gue terus, entar juga ngerasain gimana jadi gue!"
"Gue? Kalau gue masih lama kali, gue mau nyelesain in s2 gue dulu. Baru kepikiran buat nikah," ucap Tania.
"Jodoh mana ada yang tau Tan," celetuk Risa "Nah benar, gue aja enggak nyangka bakal nikah di usia gue yang bisa di bilang masih balita," ucap Ara alay, sontak mendapat jitakan mentah dari Tania dan Risa.
"Balita, pala lo pe ang!" seru keduanya, Ara cuma cengengesan. Dan mereka kembali berjalan ke arah parkiran, seperti perkataan Ara tadi. Mereka langsung pulang saja, tidak lagi ke mana-mana.
"Tugas dari laki lo, udah selesai gak Ra?"
"Belum, masih lama juga di kumpulinnya. Lebih baik, ngerjain tugas yang bakal di kumpulin besok," ucap Ara.
"Kalau gue jadi lo nih ya, gue bakal minta batuan sama pak Reno . Buat bantu ngerjain, tugas kampus kita," ucap Risa dengan haluannya. "Ck. Jangankan minta bantuan ngerjain tugas kampus, minta bantu bersihin kandang 'ceil' aja enggak mau," ucap Ara.
"Ya iyalah enggak mau, enggak ada untungnya juga bagi pak Reno bersihin kandang ceil!" ketus Tania, lagi-lagi mereka cekikikan dengan pembicaraan bodohnya. Hingga tak sadar, kalau ada orang di depan jalan mereka, yang baru keluar dari mobil dan berjalan ke arah restorant. sampai-sampai mereka menabrak orang itu.
"Ups, maaf," ucap mereka bertiga serempak. Walau cuma Ara yang memang, paling kentara menabrak orang di hadapan mereka.
"Ck. Makanya kalau jalan lihat jalannya, jangan ketawa-ketawa saja!" tegur orang yang mereka tabrak, tapi tunggu ... suaranya seperti sangat familiar di telinga ketiganya.
Sedikit mendongak, untuk melihat siapa. Bayangkan saja, tinggi orang di depannya mungkin sekitar 179 cm, mendekati 180 cm. Sedangkan tinggi mereka cuma, sekitar 168 cm.
"Ma -maaf Pak, kita enggak lihat," ucap gugup Risa juga Tania.
"Hemm." Cuma dengan deheman Reno menjawab, dan beralih menatap Ara yang masih menggosok-gosok jidatnya. Sedikit mengangkat dagu Ara, dengan satu sudut bibir terangkat naik. Membentuk seperti senyum sinis atau senyum meledek.
"Enggak usah ledekin, yang saya tabrak orang atau patung berjalan sih. Keras banget," ucap Ara dan menyingkirkan tangan Reno dari, dagunya.
Reno mengangkat satu alisnya. "Oranglah, kamu pikir ada patung berjalan," ucap Reno .
"Sudah mau pulang?"
"Iya, Mas sendiri ngapain kesini? Bukannya mau meeting?"
"Meetingnya di sini, sekalian makan siang," jelas Reno , Ara cuma mangut-mangut.
"Ya udah Ra , kita balik deluan aja ya," pamit Risa, karena merasa di kacangin sepasang suami-istri itu.
"Eh, bareng aja. Gue pulang sama siapa, kalau kalian pulang deluan?"
"Ye pe ang! Kan lo bawa mobil bego! Ups, maaf," sesal Tania, karena berbicara sedikit kasar di depan dosennya.
"Eh iya ya." Ara menggaruk kepalanya, malu. "Belum tua udah pikun!" ledek Tania dan Risa bersamaan.
"Kemp*et, lo pada!"
"Yang nyuruh bicara kasar, siapa?!" tanya Reno dengan dingin, disertai satu tangannya di atas kepala Ara.
Ara sendiri cuma menyengir, Risa dan Tania pamit pulang deluan. Dan Reno menyuruh Ara menunggunya sampai selesai meeting, dengan amat sangat terpaksa ... Ara menuruti. Gila juga, meeting mungkin selama sejam atau dua jaman, bagaimana tidak, Ara dengan secara terpaksa menerimanya.
"Ish, enakan tinggal di rumah rebahan!" gerutu Ara dengan membolak-balik 'kan handphone di tangannya.
"Betah banget mereka ngobrol, udah hampir dua jam. Belum kelar-kelar juga." Ara masih terus menggerutu, dengan sesekali menguap. Untungnya dia memesan sedikit ice cream lagi, sebagai teman boringnya.
Samar-samar Ara mendengar teman bisnis Reno bertanya soal dirinya, makanya telinga sangat tajam.
"Itu siapanya Pak? Dari tadi saya lihat, Bapak sering melihat ke arah dia?"
'Dih, kepo banget anda!' ketus Ara dalam hatinya.
"Dia istri saya, Pak," jawab Reno sejujurnya.
'Kirain, enggak bakal di akuin,' batin Ara lagi.
"Wah, selamat ya Pak. Saya pikir Bapak belum menikah, semoga 'samawa'."
'Emang kenapa kalau dia belum nikah? Pengen bapak jadikan gebetannya anak bapak?!' batin Ara lagi, dengan julidnya.
"Terima kasih Pak," balas Reno Perlahan Ara bangkit dari duduknya, ingin ke toilet untuk pipis. Mungkin kebanyakan makan ice cream, jadi gitu.
Ara sedikit mendekat ke arah tempat duduk Reno , dan berbisik. "Saya mau ke toilet bentar," bisik Ara , tanpa menunggu persetujuan. Ara sudah berjalan ke arah toilet.
__ADS_1
Sedikit berlari, karena sudah kebelet. Tapi itu membuatnya menabrak orang lagi, "Aduh, maaf Mbak saya buru-buru."
"Enggak apa-apa, lain kali hati-hati," ujar perempuan itu dengan senyuman. Cantik, kata itu yang langsung ada di benak Ar.
"Ah iya, maaf sekali lagi. Saya deluan ya Mbak," ucap Ara , dan langsung ngacir ke toilet.
Sekitar tiga menit, Ara sudah keluar. Dan mulai berjalan ke arah tempat duduk Reno. Tapi apa yang di lihatnya, sungguh membuatnya bingung. Di lihatnya wajah Reno yang terlihat emosi, dengan perempuan yang di hadapannya.
Tunggu, perempuan itu seperti yang dia tabrak tadi. Dengan di kuasai rasa penasaran yang hebat, perlahan Ara melangkah ke sana. Semakin dekat, semakin jelas pula wajah yang penuh amarah dari suaminya.
"Mas," panggil Ara dengan kecil. Sontak saja, Reno dan perempuan itu berbalik menatap Ara . Dan ya, memang perempuan itu yang dia tabrak tadi.
"Kita pulang!" ucap Reno dingin campur datar capur tegas, aneh. Menarik tangan Ara , ingin melangkahkan kaki. Tapi tangan perempuan itu mencekal langkah mereka dengan menarik tangan Reno , tapi dengan sekejap tangan itu sudah di tepis olehnya.
Alis Ara berkerut, bingung dengan kondisi di dekatnya sekarang. Siapa perempuan itu? Apa Reno mengenalnya? Ada hubungan apa mereka? Banyak sekali pertanyaan yang berkecamuk dalam benaknya.
"Aku mau bicara,Ren! Plis, dan siapa perempuan ini?" tanya si perempuan, yang belum sama sekali Ara ketahui.
"Saya sudah bilang kan, kalau saya tidak ada waktu meladeni Anda! Dan juga, Anda tidak perlu tau siapa dia!" ucap Reno dengan dinginnya.
"Tapi aku cuma mau bicara sebentar, Ren !"
"Kita pulang!"
"Bentar-bentar, ini ada apa sebenarnya. Dan siapa, perempuan ini?" tunjuk Ara ke arah perempuan itu.
"Say —."
"Bukan siapa-siapa, kita pulang sekarang ya," ucap Reno sedikit melemahkan suaranya. Ara tidak menjawab apa-apa, tidak pula mengangguk. Hanya berjalan mengikuti suaminya, sesekali melirik ke arah perempuan itu, yang sedang melihat ke arah mereka dengan pandangan seperti ... sedih? Maybe, Ara bukan ahli psikologi yang bisa menafsirkan sesuatu.
"Lho, mobil aku kemana?" tanya Ara , saat melihat mobilnya sudah tidak ada di parkiran lagi.
"Ikut mobil saya."
"Tapi mobil saya di mana?"
"Sudah di bawa pulang, sama pak Doni tadi. Saya yang suruh, sudah kamu naik cepat."
Dalam perjalanan, mereka sama-sama diam. Walau sejujurnya sangat banyak pertanyaan yang berkecamuk dalam pikirannya.
'Oke, tenang Ara.Cuma nanya, bukan berarti kepo. Tapi sebenarnya emang kepo, sih. Ahh, menyusahkan ni pikiran,' batin Ara meringis.
"Khem, hemm." Ara berdehem layaknya orang yang, tenggorokannya sedang bermasalah.
"Saya mau nanya, perempuan itu siapa? Mas kenal?" tanya Ara langsung dengan memerhatikan mimik wajah suaminya, yang sedikit menegang juga rahang yang mengeras.
Ara jadi merinding sendiri, terakhir dia lihat suaminya seperti itu saat kejadian 'Aldi' waktu itu. Dengan segala pikiran parnoan nya, Ara mengurungkan bertanya kembali. Walau pertanyaannya tidak dijawab, dengan diamnya Reno . Ara sudah yakin kalau jawabannya pasti 'mereka sudah mengenal, dan mempunyai masalah.' Tapi masalah apa? Ara tidak tau, dia tidak mau menyimpulkan sesuatu yang berlebihan atau mungkin sangat negatif.
***
Sesampainya di rumah, dengan ke adaan yang masih sama. Reno tetap diam, tapi diamnya kali ini semakin membuat Ara heran. Bagaiman tidak heran, dari tadi suaminya selalu mengintili kemana saja Ara pergi. Bahkan ke 'ceil'pun Reno ikut, yang kemarin-kemarinnya sangat ogah mendekat pada ceil. kecuali ke dalam wc.
Ya kali ....
"Mas kenapa sih?" Cuma gelengan yang di dapat, Ara menghembuskan nafas pasrah. Sedari tadi saat bertanya, cuma gelengan yang dia dapat.
"Cerita! Kenapa? Dan siapa perempuan tadi?" desak Ara yang sudah kepo tingkat celcius.
Sama seperti tadi, cuma gelengan yang dia dapat. Sumpah demi apa, Ara sudah gregetan sendiri dengan sikap Reno yang seperti anak kecil yang lagi ngambek dengan emaknya.
"Ya udah, jangan ngintilin Ara mulu kenapa sih! Mas udah kayak anak ayam, tau gak!" kesal Ara dan kembali berjalan ke arah kandang kucing, untuk mengajak si kucing untuk bermain bersamanya. Untung, kali ini Reno tidak mendekat. Mungkin kesal dengan kata-kata Ara yang mengatakannya, sudah seperti 'anak ayam'.
Tapi bomat lah, Ara juga memang sudah sangat kesal dengan sikap Reno Dengan membuka pintu rumah si kucing, Ara mengambilnya dan menggendongnya. Berjalan masuk ke ruang keluarga rumah, dia pikir suaminya sudah tidak mengikutinya lagi. Tapi tidak, Reno tetap mengikutinya ke arah ruang keluarga.
"Mas kenapa sebenarnya? Ya Allah." Reno lagi-lagi tidak mengidahkan pertanyaan Ara,dia cuma mengusap-usap kucingnya. Dengan kepala yang di sandarkan di bahu Ara.
"Kepalanya di sanaiin, ih. Ara ngambek!" cetus Ara mendorong kepala Reno. Tapi bukannya menjauh, Reno malah melingkarkan tangannya dari samping ke pinggang Ara.
"Mas sakit?" tanya Ara sedikit khawatir, siapa tau kan suaminya sakit, jadi seperti itu.
"Tidak," ucap Reno . Walau cuma balasan singkat, Ara cukup senang. Karena sempat berpikir, kalau suaminya sedang bermasalah dengan tenggorokannya atau suaranya.
"Capek?" Reno sedikit mengangguk, Ara mengembuskan nafas. Mungkin suaminya memang sedang banyak pikiran, jadi seperti ini. Nanti dia akan menghubungi mertuanya, untuk menanyakan kebiasaan sang suami kalau lagi ada masalah. Walau sudah menikah, dan tinggal serumah selama satu bulan ini. Belum banyak yang bisa Ara, tangkap dari diri Reno.
Terlalu banyak bacot, akuh ....
Selepas mengembalikan si kucing ke kandangnya, Ara ditarik atau menarik, entah lah. Yang jelas, Reno memaksa Ara untuk menemaninya tidur. Dan dari awal, memang Ara berinisiatif untuk menyuruh Reno tidur.
Enggak jelas ya? ....
"Maaf, nanti saya cerita," ucap Reno di tengah-tengah kesadaran tidurnya, Ara cuma membalas dengan mengusap kepala Reno. Karena tidak tahan dengan kantuknya, Ara juga ikut terlelap. Dan mereka tidur dengan saling peluk.
Berpelukan ... yuhu .....
Tbc ....
Sorry for typo. 🙏
Lagu ciptaan baru aku nih, mau dengar gak? Oke kalau mau dengar, nih ....
Matahari bersinar terang, menyinari dunia ....
Bulan yang bersinar, menerangi malam ....
Bintang yang berkerlap-kerlip, menghiasi langit malam ....
Awan yang putih dan hitam, memberi keindahan ....
Langit yang biru, penuh dengan ke indahan ....
La ... la ... la ....
Selesai, terima kasih sudah mau mendengar.
__ADS_1
Jan di buli gengss, hiks ....🤧