Gadis Imut Kesayangan Playboy

Gadis Imut Kesayangan Playboy
Eps. 129.Melahirkan


__ADS_3

Selepas acara lamaran yang dibumbui sedikit drama itu, selesai. Orang tua Tania dan pak Gino pamit pulang, tinggallah ke enam orang di rumah itu, emm delapan orang tepatnya. Karena ditambah mbok Mina dan pak Doni.


"Jadi ...?"


"Apa?" Orang-orang langsung menyahuti perkataan Marvel , yang ngegantung.


"Hubungan kalian berdua sekarang, statusnya?" tanya Marvel menunjuk Tania dan pak Gino.


"Dosen ...."


"Sama mahasiswi," lanjut Tania, kemudian mereka tersenyum polos.


"Bukan itu maksud gue Juneidi! Jubaida!" sentak Marvel ketus, sambil melempar bantal sofa ke arah pak Gino, dan untungnya ditangkap pak Gino.


"Lo udah tau, ngapa nanya lagi!" balas pak Gino, tak kalah ketusnya.


"Ahhkh, sakit!" pekik Ara sontak mengalihkan fokus orang-orang dan langsung melihat ke arahnya.


"Kamu kenapa? Apanya yang sakit? Perut kamu? Mereka nendang lagi?" tanya pak Reno berurutan, karena faktor suara Ara yang membuatnya begitu. Biasanya saat dedeknya nendang, Ara tidak teriak seperti itu.


"Perut aku sakit. Tapi sakitnya sekarang beda," ucap Ara, dengan menahan sakit. Tangannya mencengkram erat, lengan pak Reno.


"Aduh gawat, Pak. Kayaknya Ara udah mau lahiran deh, itu lagi kontraksi, atau apalah istilahnya. Bawa ke rumah sakit cepat, Pak!" seru Risa heboh, bahkan melupakan dirinya yang sedang hamil.


"Astaga! Bener, Din?! Bawa-bawa cepetan ke rumah sakit, Pak!" Tania ikutan heboh, bahkan sudah lompat tidak jelas di lantai.


"Ha? Ma-mau melahirkan? Kata dokter kemungkinannya —"


"Kata dokter, bukan kata Tuhan!" sela pak Gino.


"Akh, sakit!"


"Bawa cepatan, Pak! Atau biar saya yang bawa! Kalian lambat banget, sih!" Risa kembali heboh, bahkan benar-benar berdiri ingin mengangkat Ara, tapi langsung ditahan oleh Marvel.


"Jangan panik, ingat pesan dokter? Jangan panik secara berlebihan! Kamu lagi hamil, Risa !"


"Maaf lupa, tapi itu Ara !"


"Iya sabar, Vano lagi ambil kunci mobil."


Mbok Mina yang sedang santai di dapur, langsung berlari keluar saat mendengar kehebohan yang diciptakan orang-orang itu.


"Ya ampun, non Ara kenapa?" tanyanya.


"Sudah mau lahiran, Mbok!" seru Tania.


"Ya Allah, cepat bawa ke rumah sakit!" Bahkan mbok Mina juga ikutan heboh.


"Pak Revan—"


"Saya datang. Ara mau dibawa ke mana?" tanya pak Reno, bagai orang pikun.


Tuk.


Marvel maupun pak Gino langsung, menoyor kepala pak Reno kesal, gemas, dan greget.


"Bawa ke mobil lah, Bambang! Astaghfirullah, ada ya orang kayak lo?!" cetus Marvel.


"S-sakit!" ringis Ara lagi. Pak Gino yang sudah greget, langsung maju.


"Biar gue yang angkat, lo lama!" Tapi saat itu juga, pak Reno langsung menyingkirkannya, dan langsung mengangkat tubuh Ara dengan sekuat tenaga.


Bayangin aja gimana beratnya. Orang hamil, bahkan sudah mau melahirkan, otomatis beratnya 'Astaghfirullah,' Di tambah Reya mengandung 'dua baby' sekarang. Beratnya jadi 'Naudzubillah.'


"Mbok, telepon orang tua Vano atau orang tua saya. Suruh ke rumah sakit di depan sana, Amelia. Kita pergi dulu," ucap Marvel , mbok Mina cuma mengangguk.


"Kita pergi Mbok, Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam."


Pak Gino serta Tania langsung berlari keluar, saat terdengar teriak pak Reno yang menyuruh membuka pintu mobil. Sedangkan Marvel dan Risa, berjalan santai atas permintaan Marvel.


"Lama kalian! Cepat buka, pintu jok belakang!"


"Ya-ya sabar. Tan, kamu juga di belakang temenin Ara," pinta pak Gino, diangguki Tania.


Setelah Ara dinaikkan, Tania juga ikut menyusul naik. Dan saat pak Reno ingin memasuki pintu kemudi, pak Gino langsung mencegahnya.


"Biar gue yang nyetir, bisa-bisa kecelakaan kalau lo yang nyetir," ucap pak Gino, tanpa banyak bicara, pak Reno langsung membuka pintu di jok samping kemudi.


Tapi ....


"Duduk di jok belakang! Biar bisa bantuin Tania. Cepetan!" Pak Reno cuma bisa berdecak pasrah, berdebat cuma akan memakan waktu.


Setelah pak Reno masuk, pak Gino langsung menancap gas menuju rumah sakit. Sedangkan mobil Marvel mengikuti dari belakang.


"Tania sa-kit! Lo enggak ada niatan mau ngambil sedikit aja, rasa sakit gue?!"


"Gimana caranya, ogeb? Jangan ngelantur," ucap Tania gemas.

__ADS_1


"Au ah, pokoknya ini sakit! Mas juga enggak mau bantuin?!"


"Andaikan bisa, ya Mas bantuin. Aawh," ucap pak Reno, dan meringis saat Ara tanpa aba-aba, langsung mencengkram kuat lengannya.


"Ya kasi bisa, sst. Pak Gino cepetan kenapa, sih! Nyetirnya kayak siput, lelet!"


"Ini udah cepet, Ara. Kalau lebih cepat dari ini, bisa-bisa langsung menghadap Ilahi kita," ujar pak Gino, yang juga ikutan gemas dan greget tapi, kasihan.


"Udah, tenang Sayang. Ben—"


"Gimana bisa, tenang?! Ini sakit banget loh, Mas. Ya Allah," potong Ara terus mencengkram lengan suaminya. Tak memperdulikan, ringisan pak Reno karena ulahnya.


"Sudah sampai," ucap pak Gino lalu bergegas turun, diikuti pak Reno yang membuka pintu mobil, lalu mengangkat Ara turun. Disusul Tania yang juga turun.


Sampai di dekat pintu, perawat datang dengan brangkar. Ara dibaringkan di situ, lalu didorong. Untungnya ruang bersalin cuma berada di lantai satu, jadi tidak susah-susah harus menaiki lift.


"Dokternya siapa?" tanya salah satu suster.


"Dokter Tifani, Sus," jawab pak Reno cepat.


"Owya, dokter Tifani barusan tiba. Saya panggilkan dulu," pamitnya, diangguki semuanya.


Ara sudah dimasukkan ke dalam ruangan bersalin, disusul pak Reno, Tania, dan pak Gino masuk juga. Sedangkan Marvel dan Risa masih berada di parkiran, sedang menunggu abang-abangnya Ara maupun orang tua pak Reno.


Tidak butuh waktu lama, dokter Tifani sudah sampai di ruangan Ara , dengan tergesa-gesa.


"Bagaimana?" tanyanya.


"Sepertinya masih kontraksi, Dok," jawab sang suster.


"Baiklah, kalian keluar dulu. Saya akan memeriksa lebih lanjutnya," ucap dokter Tifani, kembali mereka cuma mengangguk lalu keluar.


"Gimana? Keadaan Ara gimana?" Baru mereka keluar, tapi sudah disambut pertanyaan dari neneknya Ara juga mama Dewi.


"Belum tau, kata susternya masih kontraksi."


"Saya angkat telepon, dulu," pamit pak Reno, saat ponselnya bergetar.


"Kenapa, Ndra?"


"Bisa ke kantor sekarang, Bos?" tanya Indra di sebrang telepon sana.


"Ada apa?"


"Meeting, Bos. Mendadak pak Wijaya nelepon, katanya meeting ini penting sepenting pentingnya!"


"Baik, saya ke sana sekarang. Siapin baju saya, soalnya saya lagi bukan di rumah."


Tuttt.


Mungkin sudah tidak ada yang ingat, pak Wijaya itu siapa? Yaps, dia adalah orang tuanya Aldi.


Setelah sambungan diputuskan, pak Reno kembali menghampiri orang-orang. Bersamaan itu pula, dokter Tifani diikuti dua orang suster di belakangnya, keluar.


"Bagaimana, Dok?"


"Saya sarankan, lebih baik melakukan operasi sesar. Kalau melakukan lahiran secara normal, situasinya sangat tidak mendukung. Kedua bayi saling menghambat jalan lahir. Sangat beresiko jika harus melahirkan normal," jelas dokter Tifani.


Bertambah kepusingan pak Reno, dia tau betul kemauan Ara yang sangat ingin melahirkan normal, tanpa sesar. Mama Dewi yang menangkap guratan khawatir dan pusing dari sang anak, langsung menanyainya.


"Kenapa?"


"Ada meeting mendadak, Ma. Enggak bisa ditinggalkan. Dan lagi ini, Ara itu mau sekali melahirkan secara normal. Entah gimana caranya, ngasih pengertian sama dia nanti," ucap pak Reno, menggaruk kepalanya.


"Ya sudah, kamu pergi, dan cepat selesaiin meetingnya. Biar kita semua yang coba ngasih Ara pengertian," ucap mama Reina.


"Ya sudah, Reno masuk temuin Ara dulu."


Kemudian pak Reno langsung melangkah masuk, Ara masih sama seperti tadi. Masih memegang perutnya yang terasa sangat sakit. Bahkan bertambah sakit.


"Makin sakit?" Ara cuma mengangguk.


Pak Reno menghembuskan nafas, lalu menggenggam tangan Ara lembut.


"Ada, apa?" tanya Ara yang mungkin bisa melihat kegelisahan suaminya.


"Mas ada meeting, tidak bisa ditunda."


"Terus kenapa masih di sini? Nanti tel— aksst." Ara kembali meringis.


"Masalahnya, kamu enggak ada yang nemenin Sayang."


"Kan banyak orang di luar, Mas. Udah sana pergi, Ara baik-baik aja kok."


"Iya, tapi Mas enggak tenang Ra . Bisa-bisa Mas cuma ngacauin, enggak konsentrasi," ucapnya.


"Beli terasi aja, biar tetap konsentrasi," ujar Ara terkekeh, tapi kembali meringis sakit lagi.


"Mas serius, Ara. Mas benar-benar enggak tenang."

__ADS_1


"Ara enggak apa-apa, Mas. Ya memang Ara sedih, karena enggak bisa melahirkan normal. Ara enggak bisa ngerasain perjuangan seorang ibu saat melahirkan. Ara enggak bis—"


"Mau melahirkan normal maupun sesar, semua itu sama saja Ara Seorang ibu, tetap akan menjadi seorang ibu, bagaimanapun masalahnya. Jadi stop berkecil hati. Mas pergi dulu, doain Mas supaya meetingnya selesai cepat. Biar Mas bisa nemenin kamu saat melahirkan nanti," ucap pak Reno, menciumi kening Ara lalu keluar ruangan.


"Operasinya kapan dilakukan?" tanya pak Reno.


"Jika air ketubannya sudah pecah, kata dokter Tifani," jawab Marvel.


"Ya sudah, saya pergi dulu. Assalamualaikum," pamitnya, dan menyalimi mama Dewi dan nenek nya Ara,abang Hendra maupun papa Nando belum tiba dikarenakan juga sedang ada pekerjaan yang tak bisa ditunda.


Orang sibuk mah susah ya.


***


Meeting yang berupa Presentase perusahaan berjalan baik, walau sangat jelas terlihat kegelisahan di wajah pak Reno saat mempresentasekan pembangunan proyek yang dimana, perusahaannya akan bekerja sama dengan perusahaan lain dalam pembangunan proyek ini.


Kurang lebih empat puluh menit, hampir semua orang perwakilan atau pemilik dari perusahaan lain sudah mengemukakan pendapat tentang proyek itu. Gantian Indra yang mempresentasekan. Dan pak Reno kembali duduk di tempat, bersamaan dengan helaan nafas beratnya. Jangan lupakan, kalau sedari tadi tak jarang dia melirik ke arah jam tangannya.


Baru sekian dertik dia duduk, ponselnya bergetar. Panggilan dari pak Gino masuk. Setelah berpamitan ke semuanya, pak Reno melangkah agak menjauh dari tempat, agar tidak mengganggu yang lainnya.


"Halo, Gin. Gimana?"


"Meetingnya udah selesai?" Bukannya menjawab, tapi pak Gino balik bertanya.


"Sebentar lagi, Ara gimana?"


"Ya itu, gue nelepon karena mau ngasih tau kalau ... dokter Tifani udah mau ngelakuin operasi secepatnya. Lo bisa kembali sekarang? Kayaknya Ara butuh lo," ujar pak Gino, pak Reno menghela nafas dan melirik ke arah orang-orang yang masih sibuk mendengar penjelasan Indra.


"Nanti saya lihat."


"Oke, kalau bisa secepatnya!"


"Iya."


Tutt.


Setelah telepon terputus, pak Reno kembali ke tempatnya tadi.


"Maaf karena menyela sebentar," ucap pak Reno, juga mengintruksi Indra untuk berhenti dulu.


"Saya mau pergi sekarang, ada urusan mendesak. Biar ini tetap dilanjutkan sekretaris saya, dia tau semua seluk-beluk proyek ini. Jadi saya pamit dulu," ucapnya.


"Masalah apa, Bos?" tanya Indra.


"Masalah apa, Pak?" tanya pak Wijaya juga.


"Itu, istri saya sudah mau melahirkan. Sesar," ucap pak Reno.


"Bener, Bos? Selamat," ucap Indra, sepertinya dia yang paling semangat.


"Terima kasih."


"Selamat, Pak. Semoga operasinya berjalan lancar," sahut yang lain.


"Aamiin, terima kasih Pak."


"Semoga bayinya selamat. Oya, dengar-dengar bayinya kembar, ya?" tanya pak Wijaya, diangguki pak Reno. Setelah itu, pak Reno benar-benar pamit dan keluar dari ruangan meeting.


Dalam perjalanan keluar kantorpun, banyak karyawan yang menyapanya dan cuma dibalas anggukan sekilas atau tidak sama sekali. Sampai di dalam mobilnya, pak Reno langsung menancap gas keluar pintu gerbang perusahaannya. Kecepatannya hampir diatas rata-rata, itu juga menyebabkan pengendara lainnya mengoceh karena mereka hampir menabrak satu sama lain. Dan untungnya tidak ada lampu merah ataupun polis, jadinya perjalanannya lancar.


Begitu juga saat sampai dirumah sakit, hampir setiap saat dia menabrak orang-orang yang sedang buerada di lorong-lorong rumah sakit. Tak butuh waktu lama, dia sudah sampai di ruang operasi Reya dengan nafas ngos-ngosan.


"Gimana? Sudah dimulai?" tanya pak Reno, sambil mengatur nafasnya.


"Baru masuk, mungkin baru nyiapin alatnya sekarang," jawab Marvel.


"Yang di dalam siapa?"


"Nenek . Kalau lo mau masuk, sekarang masih bisa. Cepat sana pake baju itu-tu." Tapi baru pak Reno mengambil baju itu, pintu terbuka, keluar satu suster.


"Suaminya?" tanyanya.


"Saya, Sus," jawab pak Reno cepat.


"Silahkan masuk, Pak. Istri Bapak menunggu di dalam," ucapnya, pak Reno mengangguk dan langsung memakai pakain untuk memasuki ruangan operasi.


Dengan perasaan yang tak menentu, bagaikan nano-nano. Pak Reno melangkah masuk mendekati Ara. Sedangkan dokter Tifani dan satu dokter lagi, serta tiga orang perawat sudah siap melakukan operasi.


Suntikan bius sudah diberikan, tinggallah melakukan operasi.


Berbagai doa dan sholawat diucapkan pak Reno di dekat telinga Ara . Ngomong-ngomong, nenek nya Ara tadi sudah keluar saat pak Reno masuk.


To be continued ....


Sorry for typo. 🙏


UNTUK PARA PEMBACA, KHUSUSNYA EMAK-EMAK YANG SUDAH MELAHIRKAN. DI SINI BANYAK YANG SALAH DALAM KATA-KATA PENULISAN DALAM PROSES MELAHIRKAN, JADI MOHON DIMAKLUMI.


SEYEKEN BELUM PERNAH NGERASAIN CAM GITU, SEYE MASIH ANAK KECIL YANG BARU NETES KEMARIN MALAM.

__ADS_1


•KELANJUTANNYA, ADA DI PART SELANJUTNYA.•


__ADS_2