Gadis Imut Kesayangan Playboy

Gadis Imut Kesayangan Playboy
Eps. 35. Ara dimarahin mama Reno


__ADS_3

“Kak Reno !” gadis itu berlari dan ia berjongkok kemudian memeluk tubuh Reno yang mulai mengeluarkan darah segar.


“Ck ... dasar lemah!” umpat Alexan tersenyum puas. pria berkulit putih itu memang tidak mempunyai hati nurani.


Alexan kemudian memandang sekitarnya. Saatnya ia harus kabur, karena anggota tambahan Zarkvage mulai berdatangan, pria itu merapikan Hoodienya membuang tongkat base ball kesembarang arah kemudian berlari kecil menuju motor Sport miliknya.


“Ck ... semoga lo mati,” pria itu tersenyum dibalik helmnya. Dan ia melajukan motor sport nya meningalkan Ara yang terduduk menangis memangku kepala Reno.


“Hiks ... kak,” gadis itu bersuara serak. Mengusap kepala pria itu.


“Ara! Ara!” Alleta keluar dari base camp tergesa-gesa. Dan tatapannya langsung mematung mayat dan orang terluka banyak berserakan dan tatapannya mulai berair melihat Ragiel juga terkulai lemah.


“Ragiel!” gadis itu menghampiri pria yang terkulai lemah itu. Alleta, wanita itu berjongkok dengan lututnya bertumpu aspal jalanan yang panas mengengam dan mengusap ubun-ubun pria yang pucat pasi itu.


Arka dengan tergesa juga keluar dari base camp. Handphone dari gengamannya lansung jatuh, Sial! Ternyata Anggota tambahan Zarkvage juga terkulai lemah.


Lebih dari lima puluh orang terkulai lemah di aspal jalanan ada juga yang meninggal, mata pria itu berembun. Mulutnya sulit untuk berbicara, ia terpaku melihat kedua sahabatnya dalam masa sekarat.


Pria itu dengan tangan gemetar merogoh handphone nya yang tergeletak jalanan dan langsung menelpon nomor gawat darurat.


Beberapa menit kemudian. Terdengar sirene ambulance dan mobil polisi berdatangan ditempat kejadian, dengan cepat Brankar dikeluarkan dari mobil ambulance. Mengangkat tubuh Reno yang pucat pasi dengan darah tidak henti-hentinya mengalir. Kemudian disusul ambulance tambahan ditempat kejadian.


“Kakak harus bertahan,” gadis itu tidak henti-hentinya cairan bening keluar dari pelupuk mata gadis itu, sampai ada sebuah tangan kekar nan pucat mengusap lembut pipi gadis mungil itu dengan senyum dibibir pucatnya.


“Kak Reno ,” mata gadis itu kembali berembun.


“Gue baik-baik saja, sayang.” pria itu mengucap dengan perlirihan.


“Kakak harus bertahan,” satu tetes cairan bening kembali mengalir dipipinya. Reno tersenyum tangan kekarnya melemah seketika dan akhirnya mata pria itu tertutup.


“Kak Reno”


“Kak Reno!”


Brankar itu didorong cepat menuju Ambulance. Ara. Gadis itu masih setia memegangi tangan Suaminya. Berharap banyak pria itu kembali membuka matanya.


“Ara yakin Kakak pasti bisa bertahan,” Gumam Ara. Dua perawat laki-laki dengan sigap memasang selang infus didekat nadi dan di hidung Reno tidak lupa dengan Gas tabung oksigen menghubungkan antara selang pernapasan hidung pria itu.


‘Kakak pasti bisa bertahan.’ pintu belakang Ambulance ditutup, suara sirene darurat mulai berbunyi mobil itu melaju dari tempat kejadian.


Arka masih mematung menatap kosong mayat-mayat dan orang terluka yang dievakuasi, Sampai seorang pria berseragam polisi menghampiri nya.


“Maaf Dek, apa anda tahu dalang dibalik semua ini?” polisi itu bertanya. Arka mengeleng, kemudian pria itu mengucap,


“Maaf pak, biar Pihak kami yang menyelidikinya.” Terpaksa Arka berbohong. Tanpa rasa curiga polisi itu menganguk pasalnya ia tahu bahwa orang tua Arka adalah detektif pemecahan kasus terhebat.

__ADS_1


“Baiklah, selamat siang,” Polisi itu berlalu.


“Hufft ...,”


***RS. Medical bunga Center


Mobil Ambulance itu telah sampai dihalaman Medical bunga Center. Dengan gerak cepat Brankar itu dikeluarkan bersamaan dengan Ara yang masih setia memegang erat tangan suaminya dan disusul sebuah mobil Ambulance membawa tubuh Ragiel dibrankar.


Dua brankar didorong cepat oleh beberapa perawat. Dua gadis cantik masih setia memegangi tangan diantara dua brankar itu.


“Maaf dek Ruang ICU hanya perawat dan Dokter yang menangani orang-orang tidak boleh masuk selain perawat dan Dokter, ”


“Tapi Dok ...,” Dokter itu berlalu dengan disusul dua brankar lainnya memasuki ruang ICU.


Ara gadis itu duduk diruang tunggu disamping ICU itu. Mengacak-ngacak Rambutnya sampai air mata tidak henti-hentinya mengalir.


“Ara,” Alleta. Gadis itu lansung merengkuh memberi pelukan Hangat kepada Ara, “Kak Reno baik-baik saja kok,”


Tiba-tiba sepasang suami istri setengah baya lansung sampai ditempat itu.


Wanita setengah baya itu mendekat dan lansung menampar Ara.


Plak!


“Mah ...,”


Plak!


Arabell. Pipi gadis itu kembali tertoleh tapi gadis itu tidak meringis sedikitpun malah ia berjongkok dan memeluk kedua kaki mertuanya.


“Mah maafin Ara”


“Ngak ada kata maaf untuk mu!” wanita setengah baya itu mendorong bahu Ara kasar.


Bugh!


******


Setelah itu Ara pun pulang dijemput abang Refan, yang tidak suka Ara dikasarin ibu mertua.


* Di Ruang_Tamu


"Udah semua kan, kalau sudah ayo pergi sebelum jalanan bertambah ramai dan macet ucap Hendra


" Ho'oh, Ayo bang ara udah siap ni"ucap Ara sumringah dan membuat yang lain tersenyum namun tidak dengan Marfel.

__ADS_1


"Marfel , nape lu tu muka datar amat kek tembok" ucap Rizal heran karena tak biasa nya dia memasang muka datar.


"Tidak papa, aku ke mobil duluan" ucap Marfel dan berlalu ke mobil.


"Et dah, ngapa tu anak perasaan kemaren baik baik aja" heran Rizal.


"Apa yang terjadi Refan" Tanya Hendra.


Refan pun menceritakan semua yang terjadi hingga membuat papa Nando yang selalu tersenyum dan ramah namun hari ini menjadi datar dan dingin.


"Hmmmmm, minta maaf lah kalian juga sama sama salah" ucap Hendra tersenyum


"Dia tidak mau bicara sama Refan" ucap Refan sedih dan berlalu pergi ke mobil.


"Bang Ara punya ide" Ucap Ara sumringah


"Apa dex? " Tanya Hendra.


Ara pun membisik kan ide nya pada Hendra dan Refan.


#Skip_Mall


"Bang belanja nya nanti aja ya" Ucap Ara pada Abang- Abang nya yang berdiri di belakang guna untuk melindungi Ara jika ada orang yang ingin mencelakai nya dari belakang


"Kenapa gitu, kan tadi katanya mau belanja kok malah nanti"Tanya Rizal.


" Ara mau kerumah hantu dulu, katanya di mall ini ada yang baru buka"Ucap Ara senang namun berbeda dengan Marfel yang langsung pucat saat mendengar RUMAH HANTU.


"Ya sudah kalau begitu, kita kerumah hantu dulu baru belanja" Ucap Hendra dan di angguki oleh Rizal, Karfel dan Refan Sedankan Marfel dia hanya diam mematung.


"Emmm, kalian saja Aku tidak mau ikut" ucap Marfeldatar padahal di dalam hatinya dia berdo'a agar tidak jadi kerumah hantu


"Ga mau, pokoknya Bang Hendra bang Rizal, bang Refan, bang Karfel Dan bang Marfel harus kalian harus ikut semuanya kalau nggak Ara bakal nangis di sini" Ucap Ara mengancam


"Ya udah nangis aja, toh kamu bakal malu sendiri" Ucap Marfel.


"Bang Marfel" ucap Ara seraya meneteskan air matanya


" ayolah Fel kasian Ara, emang nya lu tega liat dia nangis" Ucap Refan


👋🙋Hai readers,


Semoga suka dengan ceritanya.


Tinggalkan jejak dan koment bawelnya.

__ADS_1


__ADS_2