Gadis Imut Kesayangan Playboy

Gadis Imut Kesayangan Playboy
Eps. 54. Kehadiran Rissa dalam hubungan Ara-Reno


__ADS_3

KISAH KELUARGA ARA


Ara ini terlahir dari seorang ibu yang notabene dulunya adalah seorang janda yang mempunyai 4 abang yang berbeda ayah, tetapi abang-abangnya sangat menyayangi Ara.


Abang yang pertama itu bang Hendra, yang kedua Rizal, ketiga si kembar Marfel dan Karfel.


Apalagi abangnya sangat dingin posesif terhadap Ara ade satu-satunya wanita dalam keluarga nya selain sang ibu.


Dan, sekarang Ara sangat kaget mengetahui kalo dia bersaudara kembar dengan Zain, dan ayah masih hidup, seperti sebuah keajaiban buat Ara, dan penuh tanda tanya dalam hatinya.


Kenapa juga sangat nenek merahasiakan begitu pula ke empat abangnya yang lain.


Dengan adanya Rissa datang ke dalam keluarga nya. maka rahasia keluarga terbuka dan Ara akhirnya tau akan hal itu.


Kehadiran Rissa dalam hubungan Ara dan Reno.


Gadis itu masih terdiam. Pandangannya menatap jauh pada jalanan di luar sana yang terlihat ramai oleh pengendara.


Sudah lima belas menit kami sama-sama terdiam.


“Maaf.” Kata itu yang pertama kali keluar dari mulutnya.


Setelahnya kami kembali hening. Aku tak berniat memberi respon ataupun sanggahan. Tetap membiarkan gadis ini untuk melanjutkan apa yang ingin ia sampaikan padaku.


Untuk kata maaf, menurutku tak ada yang perlu dibahas. Sudah berlalu. Ya, sudah berlalu! Biarlah mereka semua tak memperhatikanku. Aku yakin, aku bisa hidup tanpa perhatian ataupun kasih sayang dari mereka.


“Maaf.” Bisa kulihat matanya mulai berkaca-kaca.


Ia menatapku, memandang sendu, berusaha meraih tangan ini tapi segera kutepis. Tetesan air matanya mulai terlihat. Ia menunduk, menggenggam tangannya pada pangkuan. Gumaman maaf terus keluar dari bibirnya.


Ia mendongak. “Kakak salah paham untuk semua,” ucapnya menatapku seakan yakin dengan apa yang diucapkannya.


“Ya, gue salah paham, dan kalian semua benar!”


Gadis itu menggeleng, kepalanya kembali menunduk membuat tetesan itu jatuh pada bajunya, meninggalkan bekas air matanya yang perlahan menghilang setelah beberapa detik, tenggelam dalam gumpalan benang biru muda itu.


“Aku sakit, Kak,” lirihnya.


Aku menyandarkan tubuh pada kepala ranjang, menatap pada gadis itu. Aku juga sakit, tapi apa? Apa ayah dan bunda menjengukku?


Mataku mulai menggenang, menciptakan danau kecil kemudian perlahan tumpah saat sudut mata tak mampu menopang lagi. Tak bisa! Aku tak boleh cengeng. Segera ku usap kasar air mata sialan itu. Mengalihkan tatapan pada jendela.


Isak tangis gadis itu semakin kencang.


Akh ...!


“Diam!” Ku pukul bantal yang berada di samping kananku.


Kursi yang ia duduki berderit, mundur satu buah keping keramik saat aku membentak. Mungkin, kaget. Biarlah, apa peduliku?


Tubuhnya terlihat bergetar. Wajahnya perlahan mendongak menatap padaku membuat mata sembabnya kembali mengisi retina ini.


“Kalian semua gak sayang sama gue! Ayah dan bunda gak perhatian lagi sama gue! Dan itu semua gara-gara lo!” Ku keluarkan unek-unek dalam hati.


Isak nya terdengar lagi, mata sembab itu kembali meneteskan cairan. Sialnya, kenapa mataku juga ikut berair?!


Gadis itu menunduk. Berujar dengan bahunya yang terlihat bergetar, “Semua memang salah Rissa, Kak. Ayah dan bunda gak salah, Rissa yang minta mereka untuk selalu di samping Rissa, Rissa juga yang minta Kak Reno untuk ngabisin waktu sama Rissa ... Rissa minta maaf ....”


Aku menghela nafas mencoba untuk mengontrol emosi yang entah kenapa seakan ingin dikeluarkan saat ini juga.


Kembali menatap pada gadis itu.


“Apa yang bisa membuatku memaafkanmu?”


Gadis itu mendongak, terlihat binar kecil di matanya.


Ia tersenyum. “Kak Reno cinta sama kakak,” ungkapnya dengan yakin.


Aku berdecih kecil. Hal semacam itu? Apakah dengan itu bisa membuatku memaafkannya? Kurasa tidak. Meski hati ini masih milik lelaki itu tapi hal itu tak bisa dijadikan alasan yang cukup bagus untukku.


“Kalau gue bilang, gue gak suka sama Reno, apa ada hal lain yang bisa buat gue maafin lo?”

__ADS_1


Gadis itu terdiam, air matanya kembali mengucur dari pelupuk.


“Aku mohon, Kak. Maafin Rissa kali ini, Rissa janji setelah kakak maafin Rissa, Rissa bakal pergi dan akan balikin cinta semua orang untuk kakak.”


Terdiam sesaat. Apa benar cinta mereka kembali untukku? Tapi ... sakit hati masih terasa saat mengingat mereka tak memperhatikanku.


Sial! Air mata bodoh ini kembali terjatuh. Bodoh! Bodoh!


Kembali mengarahkan pandangan pada jendela seraya mengusap sudut mata. Menggigit bibir bawah agar Isak tangis tak terdengar. Kenapa air mata ini terus jatuh?! Aku tak ingin menangis sialan!


“Percayalah, Kak. Semua orang akan kembali—”


“Diam lo! Hari-hari gue jelek karena lo! Jadi jangan sok ngatur! Apa lo tau ... gue iri liat lo disayang bunda! Ayah! Reno! Semua! Hiks ... gue iri begok ...! Seandainya lo jadi gue, gimana rasanya ...?Hah?! Sakit ...!” Kutepuk-tepuk dada yang terasa sesak. Pandangan pun memburam tertutup oleh air mata membuat tangan ini kembali bertugas untuk mengusapnya.


Gadis itu terdiam dalam tangis, kakinya berjalan lunglai pada jendela kemudian menyandar pada dinding tepat di samping jendela itu. Isaknya kian deras. Kenapa? Apa yang ia tangiskan?


“Seandainya ...,” lirihnya. Wajahnya mendongak menatap pada langit-langit ruangan ini. Matanya terpejam membuat sungai itu kian deras. Bibirnya bergetar oleh tangisnya.


Tubuhnya perlahan jatuh pada lantai.


“Seandainya aku jadi kakak ... aku akan sangat bahagia,” lirihnya sambil menangkup wajah pada belahan lututnya.


“Kakak pikir cuma kakak yang iri? Aku juga ... aku juga iri dengan kehidupan kakak! Ak—” Gadis itu terisak, seperti tak sanggup untuk melanjutkan kata-katanya.


Kuusap air mata yang terus berjatuhan. Sangat sesak rasanya.


Kami sama-sama terdiam dalam tangis. Sungguh bodoh menurutku.


Gadis itu bangkit, berjalan pada bangku di samping ranjang ini kemudian duduk pada bangku yang semula ia tempati. Mata sembab itu kembali menatapku mengiba.


Kepalanya ia baringkan di sisi ranjang tepat di samping lututku. Isaknya perlahan terdengar lagi.


“Kak, maafin Rissa,” lirihnya.


“Rissa bakal kasih tau kakak apa yang selama ini Rissa simpan.”


Aku masih diam, menantikan ucapannya selanjutnya.


Deg!


Jantungku terasa berdegup cepat. Dugaanku benar bahwa ia selama ini memiliki rasa pada Reno. Kugenggam tangan pada sisi badan, nafasku rasanya terengah. Marah rasanya.


“Rissa cuma minta jaga Kak Reno.” Lagi, gadis itu berujar lirih.


“Percaya padanya, Kak. Kak Reno tetap setia pada kakak.”


“Sekali lagi, Rissa minta ma—”


“DIAM!”


Bruk!


“RISSA!”


Reno masuk kemudian menatap padaku tajam. Aku menggeleng. Bukan! Bukan aku yang membuat gadis itu terjatuh pada lantai. Aku hanya mendorongnya sedikit ....


“Rissa!” Reno menepuk-nepuk pipi gadis itu. Tak ada sahutan, gadis itu pingsan?


Reno keluar dengan menggendong tubuh itu, tanpa mengucapkan sepatah katapun. Meninggalkanku di sini. Lagi?


Sakit! Ku tepuk-tepuk dada yang terasa sesak. Kenapa, Reno? Apa gadis itu lebih penting dariku? Apa tak ada waktu untukku, walau hanya mengucap sepatah kata untukku.


Kubanting semua benda yang ada di atas meja samping.


Prang!


“Kenapa, Reno?! Hiks ... aku ... aku sahabatmu sedari kecil! Aku yang menjadi temanmu sedari dulu! Benarkah hiks ... kamu masih cinta aku ...?”


***


Langit perlahan menggelap menandakan waktu yang telah beranjak malam. Aku masih terbaring di ranjang ini. Sesekali menatap pada pintu berharap ayah atau bunda datang. Atau mungkin saudaraku dan juga ... Reno.

__ADS_1


Satu jam. Dua jam. Sampai jam sepuluh malam, tak ada yang datang. Hanya Tina, suster magang itu datang membawakan makanan untukku. Berbicara sejenak sembari membersihkan ruangan yang telah berantakan olehku sore tadi.


Tina pergi. Kembali hening, hanya detak jarum jam yang setia menemani di sini.


Mataku kembali memanas. Tak lama cairan itu tumpah melewati tepian telinga sampai pada belakang tengkuk.


Apa? Apa yang membuat kalian tak ada waktu untukku ...?


***


Paginya, aku diperbolehkan pulang oleh dokter. Kakiku juga sudah bisa berjalan, walau harus menggunakan tongkat untuk sementara.


Dari semalam hingga pagi tak ada yang datang. Entah apa yang mereka lakukan. Keluarga? Benarkah?


Aku segera melangkah melalui lorong-lorong rumah sakit. Ketukan pada lantai yang disebabkan oleh tongkat yang aku pakai seakan beradu dengan Isak tangis di lorong rumah sakit ini.


“Huwa! Mama jangan pergi hiks ... mama!” Anak kecil yang tengah diperlukan lelaki itu menangis histeris saat suster membawa sosok yang berbaring di brankar yang telah tertutupi kain putih.


“Jangan nangis, Sayang. Mama gak pergi, mama cuma mau ketemu Tuhan dulu.” Lelaki itu mengusap kepala anaknya untuk menenangkan.


Saat aku benar-benar berselisih dengan dua orang itu. Lelaki itu sempat menatapku dan mengucap maaf untuk anaknya yang membuat keributan. Bisa kulihat mata lelaki yang dipanggil ayah oleh anak itu sedikit berair.


“Tak apa,” jawabku. Kembali melanjutkan langkah ditemani oleh tongkat ini.


Memang benar, ajal tak ada yang mengetahui. Sosok anak kecil yang masih memerlukan kasih sayang seorang ibu harus terhenti saat malaikat maut telah mengambil nyawa wanita itu. Umur tak menjadi penentu untuk menemui ajal. Kapan saja ajal bisa datang tanpa sepengetahuan. Sedang manusia hanya bisa berbuat amal ibadah selama masih diberi kesempatan untuk mengumpulkan kebaikan yang bisa membawa ke surga sebelum ajal menjelang.


***


“Makasih, Pak.” Ku sondorkan uang pada sopir taksi yang mengantarku pada rumah. Untung Tina memberiku uang untuk pulang.


Mataku pengedar menatap pada bangunan ini. Kosong, tak ada satupun orang di dalam.


Langkahku terhenti saat kaki terasa menendang sesuatu. Bunga? Kenapa ada bunga di dalam keranjang seperti ini di rumah?


Ku kembalikan bunga-bunga yang berserak pada keranjangnya.


Setelah selesai. Aku kembali melangkah pada tangga menuju kamar. Sudah ku putuskan untuk pindah dari sini. Untuk apa masih tetap tinggal di sini?


Kumasukkan baju-baju ke dalam koper. Untuk sementara, aku akan tinggal di apartemen Bang Rey. Untunglah sepupuku itu sedang pergi ke luar kota. Jadinya aku tak perlu repot-repot menjelaskan apa yang terjadi karena Bang Rey belum tahu tentang aku yang kecelakaan.


Maafkan aku, Ayam.


Prang ...!


Ku putik uang yang berserak dari celengan yang baru ku pecahkan. Itu uang tabunganku dari saat SD. Kurasa cukup banyak nominal yang terkumpulkan.


Segera kuseret koper ke luar dari kamar. Rumah masih kosong. Kududukkan bokong pada kursi di teras sambil menunggu taksi online datang. Menatap pada rumah di seberang jalan yang tampak juga sepi. Ke mana semua orang?


Tak lama, taksi yang kutunggu datang.


***


Kutekan tombol password untuk kunci apartemen Bang Rey. Ulang tahunku. Ah, Bang Rey memang aneh, dari kebanyakan tanggal ulang tahun, kenapa harus ulang tahunku?


Segera membawa koper masuk saat pintu sudah terbuka. Sebelum melangkah kututup pintu itu.


Ruangan yang bercat putih ini sangat menenangkan. Ditambah dengan segala perabotan yang berwarna putih, hitam, dan juga abu-abu, sangat elegan.


Baiklah, selamat datang di rumah baru.


Aku merebah pada sofa di depan televisi. Menyalakan benda persegi panjang itu, mempertontonkan tiga panda yang berperilaku manusia. Sangat menggemaskan.


Ternyata tayangan film itu tak mampu mengalihkan perhatian.


Aku menunduk, merasakan cairan itu yang mulai mengalir. Terisak dalam canda tawa yang terdengar dari televisi. Menyedihkan. Kenapa hidupku tak seperti panda-panda itu? Mereka akrab. Sedari kecil hingga dewasa, tetap setia kawan. Kenapa aku dan dia tidak?


👋🙋Haii readers,


author mau mempercepat kisah sesudah ini kita ulang cerita pernikahan Ara dan End ya,


Semoga suka dengan cerita nya?!

__ADS_1


Tinggalkan like dan komentar bawelnya.


__ADS_2