
Ke'esokan harinya.
Tania enggan untuk sarapan dirumah sehingga tawaran Gino terabaikan begitu saja.
Gino segera menyelesaikan sarapan pagi langsung meraih tas kerjanya kemudian berlari menyusul Tania yang sudah keluar rumah.
" Tania ! Masuk," suruh Gino
"Aku naik taxi saja," balas Tania
"Tania ... jangan membuat suamimu marah pagi-pagi ini, bisa?" tanya Gino seraya menarik tangan Tania lalu membantunya untuk masuk kedalam mobil.
Setelah itu Gino menuju kursi kemudi lalu mereka menuju sekolah. Tanpa adany obrolan di sepanjang perjalanan ... Tania terlihat menyibukkan diri dengan lamunan sedangkan Gino konsentrasi pada jalanan supaya mereka selamat sampai tujuan.
Setibanya di kampus melepaskan sabuk pengaman lalu tangannya ingin membuka pintu tetapi tidak bisa. Tania menoleh pada Gino yang berada disebelahnya.
"Kenapa dikunci?" tanya Tania
Gino menarik tangan Tania hingga mereka berdekatan. Gino menatap mata Tania dalam.
"Kamu harus janji padaku Tania ," kata Gino
"Janji apa?" kata Tania
"Janji untuk tidak menyakiti atau berbuat kasar pada Anabela lagi," kata Gino
Bibir Tania cengo beberapa saat lalu hatinya dengan cepat merespon rasa sakit. Bagaimana bisa ia bisa menerima permintaan setulus itu dari mulut suaminya sendiri. Bukan apa, Anabela adalah orang yang jelas menyukai suaminya dan kemarin sampai sekarang Gino tetap membela Anabela walaupun memang Tania juga salah. Tapi, pagi ini Gino menunjukan rasa sayang dan perduli terhadap orang lain sampai dia memperingati Tania seolah Tania Adalah orang yang paling berbahaya.
Tania mendorong Gino hingga mereka berjarak seperti semula.
"Buka pintunya," suruh Tania
"Janji dulu Tania , kamu tidak boleh seperti kemarin," kata Gino.
"Buka pintunya. aku bilang ... buka pintunya!" seru Tania.
"Tidak, sebelum kamu mau janji tidak akan mengulang kesalahan kemarin, karena kamu salah--"
"Iya aku salah, aku udah ngaku dari kemarin kalau aku ini salah! apa aku harus berteriak supaya telinga kamu denger ?!" seru Tania.
Gino memijat dahinya sekilas kemudian membuka kunci mobil lalu Tania keluar dari dalam sana.
Tania menjatuhkan air matanya, luka yang kemarin belum sepenuhnya kering kini bertambah lagi. Pria memang tidak bisa mengerti perasaan wanita, seharusnya dirinya dibujuk atau dibuat momen yang bagus ini malah menurunkan moodnya secara kejam.
Tania menghapus air matanya lalu ke kelasnya dengan berlari.
Di kelas pun semua temannya mejauhkan dirinya. Itu karena kesalahannya yang kedapatan mencontek kemarin.
Anabela tampak senang dengan kehadiran Tania yang di abaikan oleh semua orang.
'rasain kamu Tania ,' batin Anabela
'ini belum seberapa, tapi liat nanti permainanku belum berakhir' batin Anabela
**"
"Kasian banget kamu ya, di jauhin teman sekelas terus juga enggak dibelain suami kamu juga, sial banget kamu Tania ... Oya,mata kamu sembab pasti kamu dari kemarin nangis ya? cengeng banget si," ejek Anabela.
Tania mengabaikan ucapan Anabela, ia berhasil melewati Anabela, berupaya meredam emosi nya yang hampir akan meledak. Tania tidak bisa melawan musuhnya dengan sekedar berbicara sengit dia pasti akan menggunakan tangannya untuk melampiaskan kemarahannya.
Anabela kembali dan menghadang Tania lagi.
"Takut kamu Tania ? dasar payah!"
Tania menggepalkan tangannya lalu menarik kerah baju Anabela lalu mendorongnya ketembok
Brak!
__ADS_1
"Mau kamu apa si! tidak puas kamu bikin drama kebohongan seperti ini ?! Hah!" seru Tania
"Awh, lepaskan ...!" Anabela benar merasa kesakitan sekarang. Ingin juga ia membalas perbuatan Tania namun ia memiliki ide lain
"Hiks, tolong ! kenapa kamu kaya gini Tania, kamu dendam banget sama aku, " Anabela terlihat begitu tersakiti ditambah memang posisinya sangat mendukung
Teman-teman disekitar langsung datang
"Ada apa ini?" tanya salah satu dari mereka.
"Lihatlah Tania mau menyakiti aku hiks, sakit banget ... Lepaskan aku Tania ," tangis Anabela
"Lepaskan Anabela !"
"Dasar tukang contek!"
"Tukang bohong!"
Tania melepaskan tangannya dari kerah baju Anabela lalu menutup kedua telinganya.
"Aku enggak bohong ! aku bukan seorang pembohong !" bantah Tania
"Halah, mana ada maling ngaku ...!"
"Udah guys, kita lempar aja dia sama makanan kita ," usul mereka
Berbagai macam makanan dilempari ketubuh Tania , dari coklat dan jenis makanan lainnya.
"Kalian jahat!" seru Tania sambil berlari menangis
Bruk!
"Ada apa sama kamu Tania, kenapa keadaan kamu seperti ini?" tanya Gino
Tania tidak merespon ia melanjutkan larinya menuju toilet untuk membersihkan noda yang melekat dibaju juga rambutnya.
***
Tania memasuki ruang cctv lalu mengotak Atik salah satu komputer disana lalu memeriksa keadaan di kelasnya. Tepat pagi-pagi buta.
Ada seorang gadis yang tidak Tania kenal. Tania sangat yakin gadis itu adalah suruhan Anabela untuk menaruh kertas contekan.
Tania dengan sigap menyalin hal yang penting itu untuk menjadi bukti pembelaan atas dirinya. Ini belum cukup, Tania harus mencari siapa gadis bertopi itu. Dan Tania menebaknya dia memang bukan Anabela . Tapi dia yakin itu suruhan Anabela.Saat tugas nya dirasa sudah selesai ia ingin mematikan cctv itu namun ia melihat sebuah pertunjukan yang mengejutkan baginya. Dipastikan itu dari roftop kampus sedang berlangsung saat ini. Anabela dengan teman pria kelas sebelah sedang berciuman
"Wah, ini akan jadi senjata tambahan untukku ... bagus sekali, lihatlah Anabela apa yang bisa aku tunjukkan kepadamu nanti!" gumam Tania dengan senyuman miring.
Suara langkah kaki akan memasuki ruangan cctv terdengar semakin mendekat. Buru-buru Tania sembunyi dibelakang lemari besar.
Penjaga cctv kembali bekerja sambil menyantap Kopi mereka. Lalu Tania berjalan cara jongkok perlahan hingga sampai kedepan pintu.
"Siapa itu?!" seru mereka
Dengan cepat Tania berlari keluar dan mencari tempat yang aman untuknya
Tania meraih laptopnya lalu menyalin semuanya kedalam sana. Setelah semua terasa aman ia tersenyum puas.
"Kamu kenapa disini? Kamu tidak masuk kelas?" tanya Gino
Tania berdiri dari duduknya dan menatap sekilas Gino kemudian meninggalkannya. Panggilan Gino diabaikan oleh Tania karena tentunya Tania masih kecewa dan sangat marah pada Gino. Puasa bicara akan berlaku sampai Tania melihat penyesalan Gino nanti.
***
Tok!
Tok!
Tok!
__ADS_1
" Tania buka pintunya Tania, saya mau bicara sama kamu." suara yang lembut terdengar.
Tania mengeraskan volume music dari earphone nya sehingga ia tidak mendengar suara Gino diluar.
"O-iya aku punya kunci duplikatnya," kata Gino sambil mengambil kunci duplikat. lalu berhasil membuka pintu kamar Tamu yang jadi tempat Tania tidur selama dua hari dan dua malam ini.
Gino duduk dipinggir ranjang. Tania yang merasa ada Gino segera menarik selimutnya untuk menutup seluruh kepalanya.
"Tania, kenapa kamu ini harus semarah ini? " kata Gino.
"Saya mengatakan hal yang baik semua itu juga untuk kamu, Tania ayo kita bicara sayang," ajak Gino seraya menarik selimut Tania namun Tania mempertahankannya.
"Mari kita bicarakan semuanya dari hati ke hati, jangan mendiamkan ku begini Tania, ayo kita bicara biar semuanya jadi jelas."
Tania menurunkan selimutnya lalu meletak ponselnya di nakas lalu melirik Gino yang menatap penuh harap kepadanya.
"Keluar," usir Tania Sambil menunjuk pintu kamarnya.
Gino menggeleng. "Tidak, aku akan disini ... karena kita harus menyelesaikan permasalahan sepele ini," kata Gino.
"Sepele? kamu bilang ini sepele, kamu benar tidak mengerti aku. sama sekali tidak ! sebaiknya kamu pergi karena kehadiran kamu ini membuat aku semakin muak dengan segalanya," kata Tania
"Tania berhentilah untuk bersikap kekanakan ... kamu ini sudah menjadi seorang istri, disekolah kamu memnag seorang murid namun dirumah kamu adalah istri saya," kata Gino.
"Aku memang istri kamu, apa aku harus selemah itu dan menerima tuduhan yang tidak pernah aku lakukan sama sekali. Apakah itu adil buat aku? Dimana letak keadilan buat aku yang jadi istri kamu, kamu bilang aku istri kamu? tapi kamu tidak percaya sedikitpun dengan ucapanku... kamu lebih percaya dengan Anabela itu dan kamu mengecewakan aku." Jelas Tania mengeluarkan unek-unek dihatinya.
"Dengar Tania, perbuatan kamu yang mencontek itu masih bisa di maafkan namun tindakan kasar kamu terhadap Anabela itu tidak bisa dibenarkan itu adalah kejahatan Tania , nama kamu bisa tercoreng dikampus," terang Gino.
"Haha, kamu tetap percaya kalau aku mencontek ? saat semut terinjak apa semut diam saja ?! Tidak 'kan? sudah pasti dia akan menggigit, begitulah aku ... jika tidak ada yang menganggu ... aku tidak akan seperti ini, kita sudah hidup bersama hampir setahun dan kamu tidak pernah mengerti aku sama sekali, dan kamu dengan mudahnya percaya sama Anabela ." ucap TANIA
"Kebenaran tidak bisa di sembunyikan Tania
Apa salahnya kamu mengakui kesalahan kamu itu dan tidak mengulanginya lagi, semua masalah selesai. Jangan memperpanjang urusan dengan hal yang tidak penting Tania." bantah Gino.
"Tidak penting? Aku emang enggak penting buat kamu Gino karena yang penting adalah Anabela, makanya kamu menganggap semuanya aku yang bersalah dan Anabela tidak salah. O-ya aku hampir lupa, dulu kalian sering pergi bersama ... nyaman kamu sama dia?" sindir Tania dari akhir kalimatnya
"Tania berhentilah membahas hal tidak ada kaitannya dengan permasalahan mu yang mencontek di kelas, hal itu sudah lalu. Untuk apa kamu bahas ?" kata Gino tidak terima
"Terus kenapa kamu membela Ara dan mengambil embel-embel dari permasalahan ku yang mencontek? itu tidak masuk akal sama sekali, kamu memberikan peringatan padaku seolah aku ini sangat menakutkan bagi Anabela mu itu !" seru Tania
" TANIA !" bentak Gino.
"Bahkan kamu membentak aku atas nama Ara, istri kamu itu aku atau Anabela?!" teriak Tania
Gino menyadari kesalahannya yakni membentak Tania padahal dia sangat tau Tania tidak pernah dibentak seperti itu. Lihatlah mata Tania berkaca-kaca.
"Tania, maafkan saya ... saya salah sudah membentak kamu," lirih Gino
Gino ingin memeluk Tania namun Tania mengangkat kelima jarinya. "Jangan peluk aku dan jangan pedulikan aku, pergi kamu dari sini, aku benci sama kamu!"
"Tania --"
"Pergi!"
Gino menunduk lalu melangkah keluar dari kamar tamu. Lalu Acha menutup pintu dengan keras.
***
Kesel gak?
Kesel lah
Masa gak!
Kesel sama siapa?
Anabela atau Gino ?
__ADS_1
Makasih juga buat yang masih setia sama cerita aku yang ini he-he 😁