
Malam telah tiba, saat insiden di kamar mandi tadi. Ara tidak pernah mau menatap Reno, perasaan malu dan kesalnya bercampur padu. Jangankan menatap, duduk bersebelahan saja sudah membuatnya malu.
"Reno bawakan makanan buat Ara dulu," pamit pak Reno, dan berjalan ke arah kamar Ara .
Tok ... tok ... tok.
Bisa saja Reno langsung nyelonong masuk, tapi jangan sampai Ara lagi ganti baju atau apa. Dan berakhir membuatnya betul-betul khilaf. Setelah mendengar sahutan yang menyuruhnya masuk, Reno membuka pintu dengan sikunya.
"Makan," ucap Reno singkat, dan berjalan mendekat ke arah Ara . Menyimpan piring dan gelas di atas nakas, lalu menarik kursi kecil, untuk dia duduki.
"Mau ngapain? Keluar aja, biar aku makan sendiri aja," ucap Ara hendak merebut piring yang sudah ada di tangan Reno, namun sudah lebih dulu mendapat gelengan.
"Bisa emang nyuap sendiri? Buka baju aja har___iya enggak, di bahas lagi," ucap Reno dia potong, saat mendapat pelototan dari Ara.
"Keluar sana, Ara bisa sendiri."
"Enggak ada, Mas yang suapin. Kamu tinggal buka mulut!" Ara mendengus, dengan terpaksa hanya menuruti permintaan pak Revano.
Setelah makan beberapa menit, di sertai bacotan yang keluar dari mulut keduanya. Sudah selesai. Di lanjut, Ara meminum obat.
"Udahkan, Mas keluar sana!" usir Ara , Reno tidak mengidahkan. Malah berjalan mengitari kamar itu, sampai di depan laci kecil. Reno berjongkok, dan membuka laci itu. Ternyata di situ ada satu album foto pernikahan mereka, ya ... yang album lainnya ada di rumah mama Dewi dan ada juga di rumahnya.
Reno mengambilnya, berniat ingin melihat semua foto-foto disitu. Tapi ....
"Foto pernikahannya siapa, itu?" tanya Ara yang muncul tiba-tiba di belakang pak Reno.
"Untungnya Mas enggak punya riwayat penyakit jantung, Ra!" ucap Reno dengan mengusap dadanya, yang sudah berdetak kencang.
"Bukan foto siapa-siapa," ucap Reno menyembunyikan album itu ke belakangnya.
"Sini coba, Ara mau lihat," ucap Ara dengan mencoba mengambilnya dari belakang Reno, namun tetap hasilnya nihil.
"Kamu pergi istirahat saja Ra, dokter udah bilangkan kalau kamu harus banyak istirahat," ucap Reno dengan mengangkat tinggi album itu.
"Enggak mau dan enggak bisa, sebelum Ara lihat itu foto pernikahan siapa!" ucap Ara kekeh, dengan terus menarik-narik tangan pReno untuk di turunkan. Tidak peduli dengan tangannya yang sudah kembali sakit.
"Istirahat Mas bilang, jangan kayak gini Ra. Nanti kita jat__."
'Tuh,' lanjutnya dalam hati.
Ya ... mereka terjatuh, untungnya keberuntungan masih berpihak ke mereka. Mereka terjatuh di atas kasur, dengan Ara yang di atas tanpa jarak dari tubuh Reno. Atau bahasanya ... menempel tanpa jarak. Karena kedua tangan Ara berada di lengan Reno.
Pandangannya keudanya saling terkunci, baik Ara dan Reno sama-sama diam tanpa melihat kendisi mereka. Hanya saling sibuk memerhatikan wajah.
Reno menggelengkan kepala, menepis pikiran kotor yang sempat hinggap di otaknya. Sunggu, kalau dia tidak ingat Ara sedang sakit. Sudah dia makan Ara sekarang.
"Bang-bangun Ara , nanti Mas beneran khilaf," ucap pak Reno, Ara menatap Reno melotot. Oh Tuhan, bagaimana caranya dia bangun. Tangannya sunggu sakit, untuk dipakai mendorong tubuhnya untuk berbangun.
"Bagaimana Ara bangunnya, tangan Ara sakit." Reno menggerutu dalam hati, oh tidak ... jangan sampai dia kehabisan kendali.
Dengan pelan-pelan, pak Reno memegang belakang Ara dan membaliknya. Karena bagaimana caranya, dia bangun kalau Ara menindis tubuhnya. Tapi itu berakhir, dengan ke adaan yang sebaliknya. Ara yang di bawah, tapi bedanya ... Reno menumpu badannya dengan kedua tangannya, jangan lupakan nafasnya yang tersengal-sengal.
"Kamu berat," ucap Reno dan merebahkan badannya di samping Ara.
"Ya sal-salah Mas sendiri, ngapain coba pake acara nggak mau liatin Ara album itu ...." Ara menggantung ucapannya, dengan melirik album yang tergelatak tak berdaya di kasur atas Ara . Reno yang melihat lirikan Ara, langsung menyambar album itu hingga berada kembali dalam tangannya.
"Ara mau lihat!" ketus Ara dengan menatap tajam Reno.
"No and no, kamu tidur. Sudah malah, jangan nonton atau apa-apa. Langsung tidur! Mas mau balikin piring sama gelasnya," ucap Reno, dengan mengapit album itu di lengan dan badannya. Sedangkan kedua tangannya memegang piring dan gelas.
"Ara marah, jangan temuin Ara lagi!" ucap Ara kesal, dan merebahkan juga menarik selimut menutupi seluruh tububuhnya, dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Biarin, yang penting kamu tidur," ucap Reno, dan melenggang pergi keluar kamar.
"Ral!" panggil pak Reno.
"Kenapa?" tanya Marvel tanpa menoleh.
"Ambil ini dulu."
Marvel berbalik dan berjalan mendekat ke Reno. "Apa?"
"Nih, ambil," ucap Reno dengan isyarat mengambil album yang masih terjepit di lengannya.
__ADS_1
"Lha, kenapa lo bawa?" tanya Marvel lagi, dengan mengambil album itu.
"Ara mau lihat, jadi ya gue bawa kabur," ucap Reno sambil melangkah ke arah wastafel menyimpan piring dan gelas bekas makan Ara.
"Malah gue adu mulut dulu, sampai-sampai ...." Reno menggantung, lebih tepatnya tidak mau melanjutkannya. Kan itu aib, yang tak boleh di ketahui Marvel.
"**Pantesan gue dengar ada yang ribut-ribut, gue pikir tetangga baru yang emang suka marah-marah, marahin anaknya. Sampai-sampai apa**?"
"Enggak."
"Kenapa enggak lo kasih lihat aja, kan siapa tau dia bisa ingat. Biar enggak ngenes gini, hidup lo," ledek Marvel.
"Otak di mana? Bisa-bisa kalau dia lihat, terus kepikiran? Berabe urusannya dude!"
"My name is Marvel napa pake panggil dude! Untung Dude Harlino, ini nama entah punya siapa," ucap Marvel dengan kesalnya, pergi meninggalkan Reno.
\*\*\*
"Nenek " panggil Ara yang menggelegar, orang yang sedari tadi tinggal mengobrol, kompak melihat ke arah Ara yang tengah berjalan ke arah mereka.
"Lho, nenek pikir kamu sudah tidur," ucap nenek nya Ara berdiri, kemudian menuntun Ara untuk duduk di dekatnya.
"Kenapa?" tanya Reno sadar akan tatapan ... menguliti yang di kayangkan Ara.
"Albumnya mana?" Reno menggeleng tidak tau.
"Album apa?" tanya nenek
"Foto pernikahan, Nenek. Tapi dia larang Ara lihat," ujar Ara merajuk dengan memeluk abang Hendra dari samping.
"Bukan larang tapi, ya emang ... enggak boleh kamu lihat," ucap Reno.
"*Emang kenapa enggak boleh lihat? Jangan-jangan itu bukan foto pernikahan, tapi foto ... porno lagi*!"
"Sembarangan!" ucap Marvel dan Reno barengan, nenek,kakek dan abang Hendra terkekeh.
"Ya terus? Kenapa enggak boleh Ara lihat?"
"Nant kamu juga tau, sudah malam. Kamu pergi tidur ya," lerai nenek.
"Enggak bisa tidur," rengek Ara
__ADS_1
"Mau Mas temenin?" goda Reno, tapi itu serius.
"Enggak, entar khilaf lagi," ucap Ara ceplos.
"Khilaf bagaimana?" tanya Marvel , Abang Hendra dan bunda nenek nya bersamaan.
"Ehem," dehem Reno, dengan menatap Ara .
"nenek,abang , Reno bawa Ara ke kamar dulu," ucap Reno, dan tanpa aba-aba langsung mengangkat Ara ala brydal style. Jangankan Ara yang lainnya pun terkejut dengan adegan barusan.
"Jelasin dulu, khilaf gimana?!" tanya Marvel dengan teriak, yang tidak mendapat respon apa-apa.
Sedangkan Ara , walau dirinya memberontak, tapi tidak di pedulikan Reno. Dia tetap menggendong hingga ke dalam kamar.
"Turunin!" Reno tersenyum sinis, kemudian menurunkan Ara di kasur.
"Udah sana keluar!"
"Mau ngapain?!" Reno tidak menjawab, malah merebakan badannya di samping Ara. .
"Mas keluar ih!" usir Ara, Reno lagi-lagi tidak mendengarkan, bahkan mulai memejamkan matanya.
"Ini ada apa sih? nenek sama kakek juga, kenapa biarin dia gitu aja," gumam Ara , dengan melirik ke arah Reno.
Ara menggoyang-goyangkan tangannya di dekat mata Reno, tapi tidak ada respon. "Mas, pindah tidur sih. Jangan di sini!" Tapi Ara seperti berbicara dengan tembok, tidak ada respon maupun reaksi dari orang di sampingnya.
Saat Ara ingin bangkit dari tidurnya, tangan pak Reno sudah melingkar di pinggangnya. Ara berbalik menatap si pelaku, tapi cuma mata terpejamnya yang dia lihat. Dengan segala tenaga, Ara melepas tangan itu. Tapi nihil, tangannya yang sakit, dan pelukan itu semakin di eratkan saat Ara mencoba melepasnya.
Ara geram sendiri dengan ke adaannya sekarang, mau teriak minta tolong, terlalu lebay. Pasrah ... sepertinya akan begitu. Karna matanya memang sudah mau terpejam. Dan tak lama, Ara benar-benar sudah tertidur.
Di sisi lain, ada orang yang tersenyum menang. Ya siapa, kalau bukan Reno. Jelas sekali kalau dia cuma pura-pura tidur, untuk mendapat kesempatan emas seperti ini.
"***Tidur yang nyenyak, semoga kamu cepat mengingat semuanya. Have a nice dream and i love you forever my wife," ucap Reno mencium singkat kening Ara dan ikutan tertidur, masih dengan memeluk Ara***
.
Sorry for typo. 🙏
Sekian banyaknya kata-kata, fokusnya kemana kalian?
Kalau aku ke kata ... 'I love you forever my wife.'🌹🤣
Uwu, senangnya hati ini, secara tidak langsung pak Reno mengungkapkan perasaannya.💕❤🤣
__ADS_1