Gadis Imut Kesayangan Playboy

Gadis Imut Kesayangan Playboy
Eps. 61.Sudah Putus tapi hati tidak rela


__ADS_3

“Gue pergi dulu.”


“Yoi, Bro.”


Kedua cowok di depan mataku ini bertos sebelum salah satu dari mereka meninggalkan ruangan ini. Reno mengusap kepala sebelum benar-benar berlalu.


Setelah ia benar-benar sudah keluar dari ruangan ini, pandanganku jatuh pada Zain yang tengah duduk pada bangku di samping ranjang, tangannya sibuk mengupas kulit apel merah ditangannya.


“Kenapa perginya gak bilang-bilang?”


Zain mendongak. “Kalau izin dulu, pasti kalian gak bakal baik lagi,” jawabnya sembari menyondorkan apel yang telah dipotong pada mulut dan kuterima.


Aku benar-benar tak habis pikir. Kembaran macam apa dia, meninggalkanku dengan orang yang jelas-jelas sudah membuatku kecewa.


“Tapi Reno itu udah selingkuh,” celutukku masih dengan mengunyah apel dalam mulut, menatap pada jendela yang menghubungkan langsung dengan cuaca yang cerah siang ini.


“Reno gak selingkuh.”


Aku tak membalasnya, memang benar jika tak ada bukti bahwa Reno selingkuh tapi apa alasannya dia lebih mementingkan Rissa dariku belakangan ini.


“Ya udah, Ara mau pergi ke luar, bosan di sini.”


Zain menggeleng.


Aku menatapnya dengan pandangan memelas berharap ia mengizinkan aku keluar dari ruangan yang sangat membosankan ini.


Ia melotot. “Gak boleh!”


“Kenapa gak boleh?”


“Kaki lo masih belum sembuh.”


Aku menggeleng menyalahkan atensinya. “Siapa bilang jalan kaki?”


“Kalo gak jalan, gimana bisa keluar?”


Aku merentangkan tangan padanya. Ia mengerutkan dahi, bingung mungkin.


“Gendong,” rengekku sembari tersenyum.


“Manja!” ucapnya. “Bentar, gue tanya dokter dulu.” Ia berjalan ke luar dari ruangan ini, meninggalkanku sendiri.


Tak berselang lama ia datang membawa kursi roda. Aku bangun dari baring, sakit di kaki dan kepala memang rasanya sudah tak sesakit tadi.


Aku menggeleng saat ia menginterupsi aku untuk duduk pada kursi roda.


“Ara gak mau di kursi roda.”


“Terus maunya gimana?”


“Pakai tongkat aja kalo gak mau gendong.”


Zain menggeleng kemudian berjongkok menepuk punggungnya. Aku yang paham maksudnya segera mengalungkan tangan pada lehernya.


“Lo dah kebiasaan manja sama Reno, jadinya gini, dikit-dikit minta gendong!”


Aku manja?


Aku menunduk kembali menarik tangan dari lehernya. Kembali berbaring pada ranjang, menatap pada jendela. Entah kenapa, mendengar kata itu aku sedikit sedih. Apa aku terlalu menyusahkan orang jika manja? Apa tak boleh aku manja padanya? Dia kembaranku, apa salah? Bang Rey, cuma dia orang yang benar-benar mengerti diriku.


“Lo baperan banget sih.”


Aku menunduk merasakan mata yang mulai memanas. Apa ia aku terlalu baperan? Terlalu manja?


“Jangan nangis, cengeng banget.”


Tanganku mengepal tak menatap padanya. “Pergi!”


Hening.


“Maaf.”


Aku mengalihkan tatapan padanya yang berlalu keluar begitu saja setelah mengucap satu kata. Aku memang bodoh!


Tatapanku beralih pada kursi roda yang dibawa Zain. Seharusnya aku sudah pergi ke luar dengan kursi roda itu.


“Eh Ara ?”


Seseorang terlihat dibibir pintu yang kuyakini adalah suster, terlihat dari pakaian yang ia kenakan. Aku mengusap mata yang sedikit basah kemudian tersenyum padanya.


Suster itu mendekat kemudian duduk pada bangku di samping ranjang.


“Hai, Mbak suster,” ucapku tersenyum.


Ia terkekeh. “Gak perlu panggil suster, aku masih magang disini, namaku Tina, panggil nama aja.”


“Iya, Kak Tina.”


Ia tersenyum kemudian menarik kursi roda mendekat pada ranjang.


“Mau jalan-jalan? Pasti bosan di dalam sini, udaranya gak enak, lebih enak di luar,” katanya menepuk-nepuk kursi roda.


Aku mengangguk. Ia membantuku berdiri dan duduk pada kursi roda. Sebenarnya aku ingin berjalan saja, tapi tak enak rasanya minta-minta pada orang yang baru ku kenal.


“Aku bahagia banget kamu sudah sembuh, ahh! Kamu pasien pertamaku!” serunya terlihat gembira.


Aku mengangguk menatap pada lorong rumah sakit. Kemana Zain?


Gadis itu tetap mengoceh seraya mendorong kursi roda yang kutumpangi, entah tentang masa SMA-nya, kuliahnya, keluarganya, semua ia ceritakan. Aku sedikit terhibur mendengar kisahnya.


“Aku juga punya adik laki-laki sebayamu,” ujarnya.


Aku menatap padanya sejenak kemudian kembali menatap ke depan. “Oh, ya?”


Ia berdehem kecil. “Namanya Vano.”

__ADS_1


Aku mengangguk. “Nama yang bagus.”


Kursi roda berhenti berjalan, Tina berjalan ke depanku kemudian berjongkok.


“Bukan cuma namanya yang bagus tapi juga orangnya, ganteng banget, kamu tau, dia baru pulang beberapa hari yang lalu.”


Aku hanya manggut-manggut mendengar ceritanya. Mahasiswa magang ini terlihat sangat bersemangat menceritakan adiknya, tentunya aku tak tega menyelanya.


“Siang ini dia ke sini, kamu harus ketemu sama dia, mana tau jodoh, mau ya? Bentar lagi dia datang.” Cengir lebar terpampang di wajah imut gadis itu.


“Boleh.” Aku mengangguk.


Dia tersenyum kembali mendorong kursi roda, belum genap beberapa langkah kursi roda berhenti lagi.


“Bentar, ngangkat telpon dulu.”


Aku hanya mengangguk.


“Halo, No.”


“Kakak lagi di lorong rumah sakit.”


“Taman?”


“Bentar lagi kakak ke sana.”


Begitu yang terdengar oleh telingaku. Gadis itu kembali memasukkan ponselnya pada seragamnya.


“Maaf, ya, lama,” ujarnya tersenyum.


“Ga pa-pa, Kak.”


Kursi roda ini kembali ia dorong menelusuri lorong rumah sakit. Gadis itu kembali mengoceh di sepanjang lorong rumah sakit, kali ini pembahasannya adiknya yang ganteng. Aku hanya mendengarkan sesekali mengangguk mengiyakan. Aku jadi teringat bang Rey, dia bilang tipenya yang manja dan cerewet. Apa boleh kujodohkan ia dengan suster magang ini?


“Itu adik aku.” Tunjuknya pada sosok yang duduk pada bangku taman rumah sakit.


Aku hanya mengangguk tak tahu apa yang harus kubicarakan, haruskah aku bilang ganteng? Sementara wajahnya saja belum kulihat karena ia membelakangi kami.


“No!” panggil Tina.


Cowok itu berbalik badan.


“Dede?” gumamku.


“Dede?” ulang Tina. Terlihat kerutan dari keningnya.


Aku mengangguk. Memang benar itu Dede, teman sebangkuku waktu SMP.


“Ara ?”


Aku mengangguk pada Dede sambil tersenyum.


“Ya ampun, ternyata lo di rumah sakit ini, capek gue carinya ke mana-mana.”


Tak!


Dede meringis menatap pada kakaknya yang barusan melayangkan jitakan. Sedangkan Tina hanya tersenyum dengan alis naik turun. Selanjutnya gadis itu menarik tangan Dede menjauh sedikit dariku. Terlihat acara bisik-bisik dari mereka. Sang kakak yang cengengesan dan Dede yang cemberut. Entah apa yang mereka bicarakan sehingga harus menjauh dariku.


“Ekhem! Ara kakak ada pertemuan rapat sebentar, jadi kamu sama Vano dulu, ya?”


Setelah mengatakan itu Tina berjalan menjauh dengan mengerling ke arah Dede. Aku bingung, memang suster magang ada rapat, ya?


“Gebet adekku!” Begitu teriakan Tina sebelum menghilang dari belokan.


Dede mengalihkan pandangan dengan menggaruk tengkuknya.


“Gak usah didenger ucapan kakak gue,” ucapnya.


“Iya.”


Dede mendorong kursi roda mendekat pada bangku taman. Selanjutnya ia berjalan ke depanku, dahinya berkerut, hendak jongkok kembali berdiri lagi. Entah apa yang ia lakukan. Mondar-mandir terus sesekali mengusap kepala gusar.


“Kenapa sih?” tanyaku.


Ia menoleh sambil menggaruk bagian belakang kepalanya.


“Itu lho, lo mau duduk di kursi taman, kan?” tanyanya.


Aku mengangguk.


“Nah itu,” ujarnya.


Tentu saja aku bingung. Nah itu apa?


“Lo bisa bangkit sendiri?” tanyanya.


Aku menggeleng. Sedang turun dari ranjang saja Tina yang menolong. Ia mencondongkan badan ke depanku, menarik nafas perlahan kemudian membuangnya. Ada apa dengannya? Mau lahiran?


“Maaf, ya,” ucapnya.


Tangannya memegang pada pangkal lenganku. Membuat tubuh ini berdiri dengan kaki yang sedikit berjinjit karena sakit. Entah karena angin apa kakiku rasanya tiba-tiba mati rasa membuatku mau tak mau harus memegang pada Dede sepenuhnya. Ia terlonjak, mungkin karena tanganku yang sudah bertengger pada pundaknya. Raut wajahnya tak bisa kubaca.


Sedikit terpaku melihatnya. Baru menyadari kalau wajahnya sangat tegas dengan rahangnya terlihat kokoh. Mungkin dulu karena ia gendut jadi terlihat imut, sekarang berbanding terbalik, wajahnya terlihat tegas dan dewasa mungkin karena umur yang bertambah dan tubuhnya juga tak terlihat gendut sama sekali, bahkan gagah menurutku.


Ia berdehem kemudian mendudukkan diri ini pada bangku taman.


“Em ... Sa, gue ke kamar mandi dulu, ya.”


Belum sempat aku menjawab ia sudah lebih dulu pergi. Aku kembali menatap pada pasien-pasien lain yang juga banyak di taman ini. Kuhirup udara banyak-banyak. Segar.


Rasanya terlalu sepi untuk di tempat yang ramai ini. Kurebahkan kepala pada sandaran kursi, menatap pada gadis kecil yang istimewa di depan sana. Terlihat wanita yang sekiranya adalah ibunya dengan telaten menyuapi anak kecil itu. Kasih sayang ibu memang luar biasa. Apa kabar dengan bunda?


“Sa, maaf lama.”


Aku hanya mengangguk menatap pada Dede. Cowok itu duduk di sampingku kemudian menyondorkan bubur.

__ADS_1


“Untuk lo.”


Aku menggeleng. Aku tak suka bubur.


“Ayolah, lo baru tadi pagi sadar dan belum makan apa-apa.”


“Dari mana tau?”


“Kak Tina, jadi makan sekarang.”


Aku kembali menggeleng. Menatap bubur itu saja rasanya tak ingin, apalagi memakan. Aku sudah pernah makan bubur rumah sakit dan rasanya sangat tidak enak. Hambar. Tak memiliki rasa. Pahit. Macam janji Reno.


“Ya udah.” Bubur itu ia letakkan di ujung bangku taman.


Kami sama-sama terdiam.


“Jadi panggilan lo di rumah, Vano?”


Ia mengangguk. “Cuma lo doang yang manggil gue Dede.”


Aku manggut-manggut. Nama Dede sebenarnya Devano ariansyah tapi aku lebih suka memanggilnya Dede kalau teman-teman di sekolah SMP dulu memanggilnya Devan. Sedikit berbeda mungkin lebih baik.


“Itu Reno, ya?” Tunjuknya pada dua sosok yang tengah duduk di depan sana.


Mataku menyipit untuk memperjelas objek yang dimaksud. Benar, itu Reno dan ... Rissa. Dadaku rasanya sesak. Jadi ia cepat-cepat pergi hanya untuk jalan-jalan di taman dengan gadis itu? Tapi, aku tidak berhak melarang lagi. Kami sudah putus, tetapi hati ini tetap tak rela. Kuseka air mata yang hendak turun, membelakangi Dede agar ia tak melihat si bodoh ini menangis.


Dede berlari pada dua sosok itu. Terlihat dari kejauhan mereka berbicara, Reno bangkit dari duduk mengikuti langkah Dede untuk menjauh sedikit dari gadis itu.


Aku memilih memejamkan mata. Bosan melihat kisah hidup yang seakan berputar di situ-situ saja.


Keningku berkedut dalam pejam karena mendengar keributan di sekitar. Kubuka mata, benar saja di depan sudah ramai. Aku tak bisa bangkit begitu saja, kakiku masih sakit, ada apa di sana?


Petugas keamanan datang memasuki pusat keramaian terjadi. Semua orang mulai bubar. Terlihat Reno dan Dede yang berdiri di depan petugas keamanan tersebut. Dari kejauhan, aku masih bisa melihat wajah mereka yang sama-sama terlihat sedang marah.


Tak lama Dede berlari ke arah tempatku duduk.


“Kenapa?”


Dede diam.


“Kenapa sih, De?”


Ia menoleh, terlihat lembam disudut bibirnya. Tanganku terulur untuk mengusapnya.


“Lo pacar Reno?”


Tanganku berhenti mengusap lembamnya, menjatuhkan tangan ke bawah dan tak menjawab pertanyaannya, bibirku terasa kelu untuk menjawab tidak.


“Gue pergi dulu.”


“Tapi—”


Belum sempat aku berbicara, cowok itu sudah pergi meninggalkanku sendiri ... lagi. Tak adakah orang di dunia yang mengerti aku? Apakah aku harus duduk di sini sampai malam? Sendiri?


Mata kupejam lagi, menyender pada kursi. Kenapa semua orang pergi begitu saja meninggalkanku?


“Ara .”


Sontak aku membuka mata menatap pada dua sosok yang akhir-akhir ini selalu membuat luka pada hati. Untuk apa mereka ke sini? Pamer kemesraan?


“Kalo mau mesra jangan di sini! Pergi Lo berdua!”


Reno menggeleng kemudian berjongkok di depan. Apa-apaan? Aku berbicara tak diindahkan?


“Kak Rosa, Rissa minta maaf, dan juga ada yang pengen Rissa omongin berdua sama kakak.”


Reno mengangguk dan tersenyum. Cih! Terus saja belain pacarmu itu!


Gadis itu melangkah duluan, meninggalkanku dengan Reno di sini.


“Ayo.” Reno menepuk-nepuk pundaknya.


“Pakai kursi roda aja!”


“Gak usah, naik aja.”


“Kursi roda!”


“Gendong aja,” ujarnya tersenyum.


Aku melipat tangan di depan dada. Tak bisakah ia mengalah dengan orang yang sakit?


“Aaa!” Refleks tanganku mengalung pada lehernya.


Ia tersenyum seakan tak bersalah telah membuat jantungku berdetak tak karuan. Tak bisakah senyumnya lebih pahit sedikit?


“Turunin!”


Ia menggeleng sembari melangkah dengan tangannya yang menyangga tubuh di pundak dan kaki. Sepanjang lorong rumah sakit orang-orang terus menatap padaku dan Reno. Memalukan.


Sesampainya di ruanganku, Reno menurunkan tubuh ini di ranjang. Menatap pada Rissa yang berdiri di samping jendela. Sakit apa gadis itu sehingga masih bisa berdiri?


Reno pergi dari ruangan setelah meninggalkan satu usapan pada puncuk kepala.


Rissa menoleh setelah pintu di tutup dari luar. Ia mendekat kemudian duduk di bangku samping ranjang. Pandangannya terlihat menerawang menatap jauh pada jalanan yang terlihat dari jendela. Entah apa yang ada dipikiran gadis itu.


Maaf ya kalau gak sesuai ekspetasi kalian.


Makasih untuk yang udah baca:)


Haii kak readers,


Semoga suka ceritanya,


Tinggalkan like dan koment bawelnya.

__ADS_1


__ADS_2