
“Bang Rey!”
Aku langsung berlari dan menghambur kepelukan sepupuku itu. Rasanya sudah lama sekali sejak dia pergi kuliah ke luar negeri.
“Bang Rey, kenapa baru datang sekarang? Ara 'kan rindu.”
Kurasakan tangan bang Rey mengusap kepalaku. Uh, aku rindu sekali saat-saat seperti ini.
“Abang juga rindu sama Ara, rindu banget ... malah.”
Aku terkekeh saat bang Rey mencubit hidung ini. Rasanya aku tak mau lepas dari pelukannya, sudah lama aku tak merasakan pelukan ini, terakhir kali saat bang Rey ingin pergi ke Australia.
“Alah, lebay lo Sa!”
Aku menatap tajam kearah bang Refan. Dasar abang lucknat!
“Sans aja tuh mata,” ujar bang Refan .
Melihat tampang watadosnya membuatku kesal. Kuambil bantal sofa dan kulempar kearah bang Refan . Yes! Kena.
“Jahat banget lu Ra sama gue, sama Rey aja lu baek,” ujar bang Refan dengan muka cemberutnya.
“Ya iyalah, bang Rey ganteng, lah Abang?”
Bang Refan cemberut dan pergi berlalu, mungkin ke kamarnya. Kembali kupeluk sepupuku yang ganteng ini.
“Jadi, gimana sama kuliahmu Rey?” tanya nenek yang sedari tadi hanya diam memperhatikan kami.
“Lancar nek ” jawab bang Rey.
Aku hanya diam memperhatikan percakapan mereka sambil memeluk bang Rey dan merasakan elusan lembut dikepala.
Di kamar Ara
Samar-samar kudengar suara memanggil namaku. Aku mengerjab saat cahaya yang menyilaukan masuk ke penglihatan.
“Udah tidurnya, udah pagi.”
Kualihkan pandangan kearah sumber suara.
“Bang Rey?” tanyaku sambil mengusap mata yang susah melek.
Dia terkekeh, “Iya, mandi sana,” ucapnya sambil mengusap kepalaku.
Aku hanya mengangguk, dan berjalan menuju kamar mandi. Kuguyur tubuh dengan air. Rasanya segar.
Setelah selesai mandi langsung saja kukenakan saragam sekolah dan langsung menuju ruang makan. Pasti orang-orang sudah menunggu.
“Pagi semua,” ujar ku saat setelah sampai diruang makan.
“Pagi.”
Kutarik kursi yang ada di depanku dan segera melahap nasi goreng buatan bi Ijah yang rasanya sangat enak.
“Bi Ijah emang the best,” ucapku sambil mengacungkan jempol ke udara.
“Makasih pujiannya non Ara ,” ucapnya sambil tersenyum.
Aku tersenyum kearah bi Ijah dan melanjutkan makan yang sempat tertunda. Setelah selesai sarapan, aku segera pamit untuk pergi kesekolah.
“Nek,Ara pergi dulu ya,” ucapku sambil meraih tangan bunda untuk kucium.
Nenek tersenyum, “hati-hati sayang,” ucap Nenek.
Aku hanya tersenyum dan hendak melangkah dari ruang makan sebelum suara bang Rey terdengar memanggil.
__ADS_1
“Kamu bawa mobil sendiri?” tanya bang Rey.
Ada yang aneh dari bang Rey. Biasanya dia memanggil namaku. Tapi segera kutepis pikiran yang aneh-aneh, mungkin saja hanya kebetulan.
“Nggak bang.”
Bang Rey menatapku. Tatapan matanya tidak terlihat seperti biasa, bahkan terlihat menyeramkan.
“Sama Refan ?” tanyanya lagi.
Kujawab dengan gelengan.
“Biar abang antar.”
“Tapi Ara --”
“Biar abang antar!”
Aku terkejut saat bang Rey berteriak seperti itu. Bahkan ucapanku belum selesai.
“Rey,” panggil nenek.
Sepupuku itu hanya berlalu tanpa mempedulikan panggilan nenek, segera saja kuikuti takut ia marah. Mungkin, bang Rey ada masalah.
Segera aku masuk kedalam mobil bang Rey. Selanjutnya ia menjalankan mobilnya dengan kecepatan rata-rata.
Kualihkan pandangan kearah bang Rey. Ia hanya fokus untuk menyetir. Mungkin benar bang Rey ada masalah.
“Bang Rey,”
Kuberanikan untuk memanggilnya. Namun apa, dia hanya melihat sekilas lalu fokus lagi kejalan.
Aku mengalihkan pandangan keluar jendela mobil. Memperhatikan kendaraan lain yang berlalu dijalan.
“Maaf,”
Ia hanya tersenyum dan kembali melihat kearah jalan.
Sesampainya digerbang sekolah aku langsung turun dari mobil diikuti oleh bang Rey. Sepupuku itu tersenyum dan mengacak pelan rambutku.
“Yang semangat belajarnya, biar pintar,” ucapnya.
Aku mengangguk, “ Ara masuk dulu,” ucapku.
Saat berbalik aku terkejut melihat para siswi yang menatapku lebih tepatnya kearah bang Rey. Aku tau sepupuku itu tampan, tapi 'tak usah sampai mangap kali.
Kulanjutkan langkah yang sempat terhenti. Segera kuberlaju jalan saat para siswi itu menanyakan tentang bang Rey.
“Ara , itu siapa?”
“Lo punya nomornya nggak Ra ?”
“Gans banget, pacar lo ya Ra ?”
Aku 'tak menghiraukan ocehan-ocehan mereka, segera aku lari agar cepat sampai dikelas.
Saat sampai dikelas langsung saja aku duduk di kursi. Untungnya mereka 'tak mengejar sampai sini.
“Tadi itu siapa Ra ? Pacar lo?”
Kualihkan pandangan kearah Cindy, “Sepupu Ara ,” jawabku seadanya.
“Oh, kirain pacar lo, tumben nggak bareng Reno?”
Kutepuk jidat. Bisa-bisa aku sampai lupa Dangan pacarku sendiri. Saat aku hendak berdiri, pak Niko sudah terlihat di depan pintu. Kuurungkan niatku untuk ke kelas Reno.
__ADS_1
Aku tak berani permisi pada pak Niko karena beliau sudah terkenal dengan kegalakannya disekolah ini.
Kring... Kring... Kringg
Setelah bel istirahat berbunyi langsung saja aku keluar kelas untuk menemui Reno. Segera aku melangkah kebelakang sekolah.
“Renren,” panggilku saat melihat Reno sedang duduk dibawah pohon biasanya.
Reno menoleh sekilas lalu kembali fokus pada buku yang dibacanya. Aku mendekat dan langsung duduk menyender pada pohon yang rindang ini.
“Renren,” panggilku.
Reno 'tak menanggapi panggilanku. Karena aku kesal, kutarik buku yang dipegangnya dan langsung berdiri saat ia ingin mengambil buku ini, ia mendongak menatap tajam.
“Balikin buku gue!”
Aku tersentak mendengar bentakannya. Tak terasa bulir bening mengalir begitu saja di pipi.
“Renren,” lirihku dengan suara bergetar.
Reno berdiri dan langsung memeluk tubuh ini.
“Maaf,” ucapnya.
Aku hanya diam. Terlalu terkejut dengan perubahannya dan tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
“Maaf, aku cemburu ... cemburu saat dengar kamu dekat dengan cowok lain,” ucapnya.
Sekarang aku mengerti, kubalas pelukannya. “Siapa bilang?” bisik ku.
“Reno bilang kamu pergi bareng cowok ganteng dan kalian mesra banget katanya.”
Aku terkekeh, “itu bang Rey,” ucapku.
“Bang Rey?”
Aku mengangguk melepas pelukan dan langsung duduk kembali diikuti oleh Reno.
“Iya, dia baru pulang semalam,” ucapku.
“Tetap aja nggak boleh terlalu deket!”
Aku terkejut sejak kapan Reno jadi posessive begini. Biasanya dia biasa aja mendengar tentang bang Rey.
“Dia sepupu Ara , Renren!” Tekanku.
“Kenapa kamu bela dia? Apa kamu suka sama sepupumu itu?!”
Astaga, bagaimana cara menjelaskannya.
“Dia sepupu Ara , Renren,” ucapku dengan lembut.
Kukira Reno akan mengerti tapi nyatanya ia malah melotot. Reno menarik tanganku, kukira bakalan kekantin, tapi nyatanya ia malah membawaku keparkiran tempat motornya.
Aku semakin bingung saat Reno menyerahkan helmnya.
“Naik,” ucapnya.
“Kita mau kemana Renren?” tanyaku.
Reno menoleh sambil mengerucutkan bibirnya. “Kita ke KUA, Reno bakalan nikahin Ara sekarang!”
Bugh
Kupukul kepalanya menggunakan helm yang kupegang. Mana tau otaknya geser karena terlalu cemburu. Ya kali nikah segampang itu!
__ADS_1