
Siapa yang tak ingin memiliki keluarga yang utuh?
Siapa yang menginginkan hidup di atas gunjingan orang?
Namaku Fanaya Clarissa. Hidup bahagia dengan kedua orang tua adalah impianku. Semenjak dari kecil aku tak pernah melihat sosok ayah. Sedang ibu tak pernah menganggap aku sebagai anaknya, hanya nenek yang sangat menyayangiku, membelaiku di setiap malam dan membacakan dongeng untukku.
Hidup di antara gunjingan orang sangatlah tak menyenangkan. Bahkan, saat umurku masih lima tahun hampir seluruh anak-anak seumuranku menjauhiku dan mengatakan jika aku anak haram. Aku di jauhi oleh teman sebaya dengan tuduhan pembawa sial. Yang bisa kulakukan hanya menangis dan berlari pulang, mengadu pada nenek. Beliau selalu mengatakan jika aku sangat berharga, diselingi dengan usapan dan nyanyian hingga aku tertidur dan melupakan kejadian tak mengenakkan itu.
Ibu adalah bidadari untukku walaupun beliau selalu marah dan memukuliku saat aku ingin memeluknya. Aku selalu mencari perhatian pada ibu agar beliau melihatku dan menyayangiku seperti ibu-ibu lain di luar sana. Aku belajar agar pintar demi bisa menarik perhatian ibu. Usaha tak menghianati hasil. Saat penerimaan lapor pertama kelas satu SD, aku mendapat rangking satu di kelas.
Berlari pulang dengan langkah bahagia, senyum mengembang di sepanjang jalan berbatu. Berharap sampai di rumah akan mendapat pujian dari ibu dan mendapat perhatiannya. Lagi dan lagi semua yang aku usahakan hanya sia-sia. Ibu marah dan membentak.
“Pergi kamu anak sialan!”
Apa yang bisa dilakukan oleh anak kecil berumur lima tahun? Menangis. Hanya itu. Entah sudah keberapa kali kata itu mengalun indah memasuki telinga ini sampai-sampai membuatku terbiasa dengan kata-kata itu. Aku anak sialan.
Sampai aku masuk SMP, aku baru tahu jika ibu depresi dan aku juga tahu bahwa yang diucapkan oleh teman-teman sekampung adalah kenyataan bahwa aku anak haram. Anak yang tak diinginkan lahir ke dunia. Manusia yang hanya bisa menyusahkan semua orang.
Gunjingan, bullian, semua aku dapatkan. Menangis satu-satunya jalan agar beban terasa berkurang.
“Tetaplah bersabar, Sayang. Tuhan selalu bersama orang-orang yang sabar.” Begitu ucap nenek untuk menegarkan hati ini saat pertama kali bullian aku rasakan.
Aku hanya mengangguk dan terlelap dengan berbantal kaki nenek. Semangatku untuk berjuang dan maju tak pupus untuk bersekolah dan menjadi orang yang sukses. Aku yakin Tuhan akan memberikan kebahagiaan suatu hari nanti.
Nenek adalah penyemangat untukku. Tempatku mengadu dan berkeluh kesah tentang kesedihan hati saat bullian di masa SMP semakin menjadi. Sedih, tentu saja.
Aku selalu berusaha menjadi yang terbaik di sekolah dan itu terbukti dengan penilaian kelulusan akhir SMP. Aku salah satu dari murid berbakat di sekolahku. Bahagia yang kurasa saat menjadi lulusan terbaik dari SMP.
Pulang dari sekolah saat itu, aku berlari sambil menjinjing hasil belajar yang sangat memuaskan dengan semangat pulang ke rumah. Ingin sekali saat itu aku cepat-cepat pulang ke rumah dan mengatakan pada nenek bahwa aku lulusan terbaik.
Sampai pada suatu kenyataan yang sangat tak bisa ku terima. Rumah ramai saat aku melangkah memasuki pekarangan. Bi surti, satu-satunya tetangga yang sangat baik pada kami sekeluarga memelukku dengan terisak. Kakiku melangkah memasuki rumah kecil kami.
Hasil belajar yang ingin kutunjukkan pada nenek terjatuh begitu saja. Melangkah, berlari kemudian mendekap tubuh yang terbaring lemah tak bernyawa itu. Tangis satu-satunya yang bisa kulakukan. Nenek telah tiada. Satu-satunya orang yang ku punya telah meninggalkanku selamanya.
Aku tak sanggup mengantar nenek ke tempat terakhir. Tubuhku tak sanggup berjalan menerima kenyataan.
Lambat laun keadaan ibu semakin memburuk setelah nenek meninggal. Ibu positif gila. Hatiku hancur melihat ibu yang di bawa paksa oleh tetangga ke rumah sakit jiwa. Lemah, tak berdaya sampai rasanya aku ingin bunuh diri dan ikut nenek ke alam sana.
Namun, saat pisau akan mulai menggores nadi di lengan, aku kembali tertegun dengan perkataan guru ngajiku di kampung, 'seburuk-buruknya keadaan janganlah membunuh diri sendiri karena Tuhan pasti akan memberi kebaikan setelahnya'. Pisau itu terjatuh, tubuh bergetar hebat merasakan sesak di dada yang kian bertambah hingga tak sadarkan diri.
__ADS_1
Bi Surti yang membawaku ke rumah sakit. Dokter mengatakan jika aku divonis tumor otak dan harus dioperasi. Aku tak ingin membuat beban untuk Bi Surti, biarlah jiwa dan raga ini merasakan sakit dan menjemput ajal perlahan.
Hanya obat pereda yang setia menemani saat sakit kembali meradang. Tubuhku luluh pada dinding kamar rapuh itu, menatap pada rumah yang sepi tak berpenghuni selain diri ini. Berusaha menguatkan diri untuk tetap semangat menjalani hari.
Gunjingan bukannya berkurang setelah nenek meninggal, malah semakin menjadi dan menyakitkan.
“Anak pembawa sial.”
“Anak haram.”
“Pasti ibunya gila karena dia.”
“Kenapa tak mati saja.”
Mataku memanas, bibir berkedut menahan isak tangis setiap melewati tempat ibu-ibu di desa berkumpul. Aku tetap melanjutkan pendidikan SMA dengan biaya gajiku berkerja di salah satu toko yang tak jauh dari rumah.
Sampai sosok wanita yang sangat baik menghampiri rumah dan membawaku pergi dari desa ke kota. Dari dia aku mengetahui semua tentang jati diri. Siapa ayah, siapa ibu, siapa dia. Aku merasa malu karena akulah penyebab rumah tangganya hancur tapi ia tetap baik padaku.
Ibu dipindahkan ke rumah sakit jiwa di kota yang cara perawatannya lebih baik dari rumah sakit jiwa desa. Dari wanita itu aku tahu bahwa ibu adalah sahabatnya makanya ia baik padaku. Tapi hati tetap saja tak enak padanya.
Namanya Ayu. Wanita yang telah membawaku ke kota dan menemukan keluarga baru.
Awal sampai ke rumahnya, anaknya yang laki-laki tak menerimaku di rumah tapi Tante Ayu tetap membujuk anaknya itu.
Refan nama kakak laki-lakiku atau bisa disebut kami se-ayah tapi tak satu ibu. Laki-laki itu masih kurang bersedia menerimaku dan yang bisa kulakukan hanya diam mendengarkan Tante Ayu yang membujuk putranya agar aku diperbolehkan tinggal di rumah yang mewah itu.
Sampai dua sosok remaja yang memakai seragam SMA memasuki rumah, pertikaian dua orang itu berhenti. Aku terdiam, menatap pada dua sosok yang kelihatan baru pulang dari sekolah itu. Satunya perempuan, sangat cantik menurutku, wajahnya imut dan kulitnya putih bersih berbeda denganku yang kuning langsat. Dia menyalami Tante Ayu dan tersenyum menambah kesan cantik pada wajahnya sebelum melangkah menaiki tangga. Bisa kupastikan saat itu bahwa dia adalah anak dari Tante Ayu yang berarti saudaraku juga.
“Nenek ” laki-laki berseragam SMA itu juga menyalami tangan Nenek Ayu.
Dia melangkah pada kursi dan duduk di kursi singgle sebelah kananku. Ia tersenyum.
Sejenak aku terdiam menatap senyumnya yang memperlihatkan lesung pipi, membuatnya terlihat manis.
“Reno,” ucapnya seraya menyondorkan tangan padaku.
“Clarissa.” Saat itu aku tahu akan sesuatu, bahwa aku mulai kagum padanya, senyumnya, sapanya, semua.
Sampai ia pergi aku masih menatapnya. Nenek Ayu menjelaskan kalau ia adalah kekasih putrinya. Kak Ara Saat itu aku sadar dan mencoba untuk bersikap sewajarnya.
__ADS_1
Aku sangat bahagia saat putri Nenek Ayu itu menerimaku dengan senang. Walaupun dengan dalih aku mengalami amnesia. Aku berfikir saat itu, akankah ia tetap menerimaku jika ia tahu bahwa aku adalah penyebab dari tiada nya kedua orang tuanya.
Kak Ara , ia tetap baik padaku sampai pada suatu hari aku merasa pandangannya berubah padaku. Ia sinis, tak menjawab sapaan ku lagi, tak tersenyum lagi menatapku, bahkan terlihat acuh jika kami berselisih jalan di rumah. Hatiku saat itu mulai gundah. Apakah ia sudah tahu bahwa aku penyebab hancur keluarganya? Itu yang terus terlintas di otakku.
Semuanya terungkap bahwa ia telah tahu saat dua sosok laki-laki datang ke rumah. Itu ayahku dan kembaran kak Ara . Rasa bersalah kembali meliputi batin dan raga saat melihat tangis kedua putra keluarga itu. Aku merasa ... hina di tengah-tengah mereka walaupun ada ayah kandungku di sana. Tetap saja bahwa aku adalah perusak kebahagian mereka.
Nenek Ayu yang kupanggil bunda itu marah pada cucunya saat diri ini disebut anak jalang. Aku tahu itu hanya bentuk persahabatan antara dirinya dan nenek nya. Takkan ada seorang sahabat yang tega mendengar sahabatnya dihina.
Saat itu nenek Ayu menjelaskan semua yang terjadi dengan membawa semua anggota keluarga ke rumah sakit jiwa tempat ibu dirawat. Hatiku kembali sakit saat ibu belum menerima diri ini bahkan kata-kata yang sudah lama tak kudengar itu kembali mengalun dari bibir ibu. Sakit, tentu saja, bukan karena tamparan atau kekasaran ibu tapi tentang batinnya yang kurasa sangat tersiksa dengan kehadiranku di dunia. Maafkan aku ... ibu. Karena aku hidupmu menderita.
Perlahan saudara se-ayahku mulai menerimaku termasuk kak Rosa. Sakit yang aku derita masih belum diketahui oleh keluarga baruku. Aku diam tak bermaksud memberi tahu karena aku tak ingin kembali menjadi beban untuk orang lain. Sudah cukup aku menjadi beban nenek dahulu. Wanita tua itu ... aku rindu. Bagaimana keadaanmu, Nek? Cucumu ini sangat merindu. Semoga Tuhan memberikan surga untukmu.
Hari terus berlanjut. Sampai pada hari itu, aku pingsan tepat di depan Kak Reno. Tempat hati ini berlabuh namun dirinya tak akan pernah menjadi milikku. Cukup dalam diam aku mencinta dan merindu. Meski sakit tapi hanya itu yang paling tepat saat ini. Aku tahu cintanya hanya untuk saudaraku. Kak Ara Biarlah rasa ini kubawa sendiri hingga mati.
Saat itu aku memohon padanya agar tak memberi tahu akan penyakit yang kuderita pada anggota keluarga. Kupikir semua tak akan tahu tentang penyakitku, ternyata salah, bunda dan ayah tahu saat melihat obat-obatan yang aku gunakan untuk pereda.
Sejak saat itu mereka lebih perhatian padaku sampai melupakan perhatian pada putrinya yang lain. Aku tahu yang dilakukan kakak dan nenek bukanlah suatu bentuk benci pada cucunya Kak Ara , mereka hanya iba untuk diri ini. Mencoba memberi kesenangan pada batin ini. Memberikan kenyamanan pada jiwa ini yang tak lama lagi akan menemui ajalnya. Yah, ajal karena penyakit yang kuderita tak bisa disembuhkan lagi. Hanya menunggu waktu kapan malaikat maut datang menjemput.
Di sisa hidup ini, apakah tuhan tak ingin memberi kebahagiaan untukku? Bukan aku tak bersyukur telah mendapat keluarga yang begitu sempurna. Hanya saja, melihat seseorang yang kita cintai bersama orang lain itu sangat menyakitkan. Pikiranku mulai egois saat itu, aku ingin mendapat perhatiannya. Mendapat perhatian orang yang kucintai. Dia, kekasih kakakku sendiri. Bolehkah aku egois untuk sesaat? Maafkan aku, Kak Ara .
Mengertilah untuk keinginan terakhir dalam hidup ini.
Pagi itu keegoisanku mulai terjadi. Kutatap pilu mata Kak Ara yang berair saat aku dibonceng Kak Reno. Maafkan aku, Kak. Ini bukan salah Kak Reno, tapi keegoisanku. Percayalah, aku hanya ingin waktu dengan orang yang kucinta. Hanya waktu, bukan cintanya. Karena kutahu cintanya hanya untukmu, Kakak. Dia akan kembali padamu.
Mungkin, kesalahpahaman adalah kata yang tepat untuk dua hati itu. Tapi, waktu ini, detik ini, aku akan mengakhiri keegoisan ini, aku akan mengembalikan harimu seperti semula kakak. Sebelum diri ini datang ke dunia. Seperti yang harusnya terjadi, tanpa ada diri ini, tanpa ada perceraian antara bunda dan ayah, tanpa adanya hati yang kecewa saat diri ini mencintai sosok yang telah kau miliki, Kak.
Seperti namaku, Fanaya Clarissa. Fana yang berarti sementara, bahwa aku hanyalah sementara dan sekilas dalam kisah mereka berdua. Reno dan Ara
Wahai para teman-temanku sekalian.
Lebay😄
Seperti yang kalian baca pada part ini. Kalau sebenarnya hanya kesalahpahaman yang terjadi.
Maafkeun diri ini yang mulai ngadi-ngadi 😅
Ok?👍
Makasih yang tak terhingga untuk pembaca:)
__ADS_1
Walaupun anda tak memberikan jempol untuk saya😅Tetaplah singgah meski story' ini memang rada-rada ga jelas.
Gubrak!