Gadis Imut Kesayangan Playboy

Gadis Imut Kesayangan Playboy
Eps. 169.Datangnya Erina


__ADS_3

Tak terasa hari telah berlalu dengan cepat, sudah 1 bulan kejadian Rika keguguran dan sekarang Rika sudah tidak merasa takut jika Gino akan memintanya, karena memang 1 bulan ini Gino dan Rika tidak melakukan hubungan suami istri.


Di sebuah kamar, seorang gadis tengah mengacak-acak semua pakaiannya yang berada di lemarinya. ia terus mencari benda yang sedari tadi tidak ia temukan, padahal benda yang ia cari itu sangat penting.


Pakk


Erina menoleh ke sebuah kotak kecil yang jatuh, ia pun langsung mengambilnya. Erina tersenyum, lalu membukanya dan isinya terdapat sebuah foto dan kalung anak kecil. Erina membuka kalung yang dapat di belah, ia tersenyum saat melihat foto masa kecilnya dan foto masa kecil seseorang.


"Akhirnya ... gue mengingat siapa yang selalu ada di bayangan gue," gumamnya, lalu mengambil foto yang menampak'kan ia sedang bermain dengan seorang anak kecil, berkelamin laki-laki.


"Gue harus bawa ini, supaya dia bisa ingat juga ... siapa gue!" ucap Erina, dan segera menaruh semua pakaiannya di lemari dengan asal, lalu beranjak untuk bersiap-siap, agar ia dapat lebih cepat bertemu dengan seseorang yang selama ini ada di dekatnya.


Erina tengah menyetir mobilnya dengan senyum yang ia nampakan sedari tadi. Erina sudah tidak sabar lagi, bertemu dengan seseorang itu, akhirnya ia tahu siapa seseorang itu dan beruntungnya lagi, seseorang itu ada, dan orang yang berada di dekatnya.


Mengapa Erina tau? ... karena di belakang foto yang ia lihat tadi, ada nama seseorang tersebut, itu yang membuat Erina yakin, jika orang itu lah jodoh Erina dan hanya cocok untuknya.


Tak lama, mobil Erina telah terparkir rapi di sebuah rumah mewah milik seseorang. Erina pun segera keluar dari mobilnya, dengan membawa kotak kecil itu.


Tok ... tok ... tok!


Tak lama menunggu, akhirnya pintu terbuka dan menampakan seorang pria tampan. pria tersebut mengkerutkan alisnya bingung.


"Ngapain ke sini?" tanya Yoga.


"Gue mau ketemu sama pak Gino !" ucap Erina, lalu mendorong Yoga dan segera masuk tanpa di persilakan.


Yoga hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar dan segera menyusul Erina, bisa-bisa nanti ada perang dunia ke-3, karena di ruang tengah, Gino dan Rika tengah bermesraan.


Erina mengepalkan tangannya kuat, saat melihat Gino dan Rika sedang suap-suapan dan bercanda ria. ia pun segera menghampiri keduanya dengan amarah yang meledak.


"Jangan deket-deket sama dia!" ucap Erina, lalu menarik tangan Gino, membuat pria itu dan Rika menjauh.


Rika menatap tajam Erina, lalu segera bangkit dan siap untuk memukul wanita yang telah menarik suaminya seenak jidat.


"Ngapain lo ke sini hah?! ... main tarik-tarik suami gue lagi!" ucap Rika dan menarik tangan Gino dari tangan Erina, namun Erina menahannya, membuat keduanya saling tarik-menarik tangan pria itu, membuat sang empu merasa pegal.


"Udah-udah .. ini apaan sih, kamu lagi ... kamu kenapa narik saya?" tanya Gino menatap Erina, lalu Yoga pun datang, ia sudah duga, ini pasti akan terjadi.


"Yoga ... lo ngapain sih, suruh dia masuk?" tanya Rika , menatap sahabatnya itu.


"Gue juga gak tau ... tadi dia sendiri yang main nyelonong ajah!" jawab Yoga seadanya, lalu Anjani kembali menatap tajam wanita itu.


"Arya ... kamu ingat aku kan?" tanya Erina, membuat Gino menatap bingung pada Erina, ada apa dengan wanita di depannya ini?.


"Kamu ngomong apasih? ... saya kan dosen kamu, dan kamu mahasiswi saya ... yah jelas lah saya ingat," ucap Gino.

__ADS_1


"Gantengnya mumut masa gak inget sih sama mumut," ucapan Erina, membuat Gino terdiam.


*Flasback On*


Kedua anak kecil sedang bermain di sebuah taman, orang tua mereka juga sedang berbincang-bincang sembari mengawasi anak mereka masing-masing.


"Mumut ayo main bola!" ajak seorang anak kecil berkelamin laki-laki, yang berumur 6 tahun.


"Eh iya, ayok!" ucap seorang anak kecil berkelamin perempuan, yang berumur 4 tahun.


Mereka berdua pun bermain bersama dengan canda ria. setelah lama bermain, keduanya merasa lelah, lalu keduanya pun mengahampiri orang tua mereka masing-masing.


"Mah ... aku mau inum dong!" ucap Erina dengan tampang imutnya itu, membuat kedua orang tuanya semakin gemas dengan anaknya.


"Kamu enak yah, punya mamah!" ucap Gino yang membuat Erina menoleh.


"Antengnya mumut gak oleh gitu ... mamah mumut uga mamahnya anteng ko!" ucap Erina, membuat Gino mencubit pelan pipi cubby nya.


Darsa dan kedua orang tua Erina hanya bisa tertawa melihat tingkah anak mereka. Gino dan Erina sudah dekat sejak mereka bertetangga 2 tahun lalu, itu artinya waktu Gino berumur 4 tahun dan Erina 2 tahun, keduanya sudah sangat akrab, karena kedua orang tuanya juga berteman.


Saat Erina ber'umur 7 tahun, ia dan keluarga harus pindah keluar negeri yaitu Paris dan Erina akan bersekolah di sana. Gino yang sudah ber'umur 9 tahun pun sangat merasa sedih, begitupun dengan sebaliknya.


Gino sengaja membelikan kalung untuk Erina, serta foto masa kecilnya dan Erina. agar gadis itu akan senantiasa ingat dengan dirinya. Erina juga memberikan kenang-kenangan gelang coklat, yang akan menjadi hadiah perpisahan keduanya.


"Janji yah ... kalo kita udah gede, kita bakal ketemu lagi," ucap Erina, mengacungkan jari kelingkingnya.


-bisanya anak ber'umur 9 tahun berbicara seperti itu.


Setelah itu pun, pesawat yang di tumpangi Erina dan keluarganya meluncur. Gino menghapus air matanya, karena ia tak boleh cengeng, ia yakin Erina akan datang lagi ke indonesia.


Selama di Paris, Erina selalu mengingat sahabat kecilnya itu, ia selalu tersenyum saat melihat hadiah terakhir sahabatnya itu, dan tidak tahu secara kebetulan. suatu hari Erina tertabrak mobil dan kepalanya terbentur sangat keras, mengakibatkan ingatan masa lalunya ilang dan saat itu juga ia tak mengingat Gino.


Sedangkan Gino, setelah ia memasuki SMP ia dan Ayahnya membeli rumah baru dan menjual rumah yang di sebelah Erina itu, supaya Gino lebih dekat dengan sekolahnya.


Saat Erina memasuki SMA, ia kembali lagi ke indonesia untuk bersekolah di sana, namun ingatannya belum juga pulih, bahkan ia sama sekali tak mengingat jika dirinya pernah tertabrak mobil.


*Flasback Of*


Gino kaget bukan main, ternyata Erina adalah sahabat kecilnya yang selama ini ia tunggu, ia tidak menyangka mahasiswi nya itu adalah sahabatnya dulu. Rika dan Yoga hanya bisa menonton, sekaligus bingung.


"Apa buktinya?" tanya Gino, yang masih tak percaya.


"Ini dia buktinya," ucap Erina tersenyum manis, lalu memberikan kotak yang ia bawa tadi dan di terima oleh Gino.


Gino membuka kotak tersebut, lalu mengambil sebuah foto yang menampak'kan foto masa kecilnya dan di sebelahnya ada foto masa kecil sahabatnya. Gino ber'alih mengambil kalung dan membuka kalung tersebut. ia semakin kaget, ternyata Erina memang sahabatnya.

__ADS_1


Gino pun menatap Erina. Erina yang di tatap pun, hanya bisa tersenyum.


"Kamu inget kan? ... sekarang kita udah saling ingat ... jadi, bisa kan kita menikah?" ucap Erina, sembari menggenggam tangan Gino.


Rika yang melihat itu pun, langsung menghepas kasar tangan Erina dan tangan suaminya.


"Gino suami gue ... jadi, jangan sekali-kali lo ngajak dia nikah!" cetus Rika.


"Dia yang udah janji mau nikah sama gue ... jadi, mending lo cerai ajah deh!" cetus Erina.


Gino hanya bisa diam, bagaimana bisa ia melupakan sahabat kecilnya itu sekaligus wanita yang ia cintai sejak kecil, karena melihat seorang Rika. saat ia memasuki SMA, ia berniat untuk melupakan Erina, karena ia sudah tak yakin jika Erina akan kembali dan dugaannya salah.


"Tapi, nama kamu Erina Ganendra ... sedangkan sahabat saya, Erina Putri Mahaswara Ganendra!" ucap Gino.


"Itu namanya kepanjangan ... makannya aku pendekin, biar orang gak ribet nyebut nama aku ... dan kedua orang tua aku juga setuju, supaya gak ribet-ribet amat!" ucap Erina.


Gino menatap manik mata wanita itu, lalu membawa Erina ke dalam dekapannya, membuat hati Rika retak seketika.


"Maafkan saya ... karena saya tak menyadarinya, kalo itu kamu!" ucap Gino, yang membuat Erina tersenyum remeh, menatap Rika yang sepertinya sedang menahan api cemburu.


"Gapapa ... yang penting kamu udah inget sama aku, gantengnya mumut!" ucap Erina.


Gino pun melepaskan pelukannya, karena ia sadar di sini ada Rika dan Yoga. ia menggapai tangan Erina, lalu menatap wanita itu.


"Tapi, maafkan saya yah ... saya gak bisa nikah sama kamu, Rika sudah menjadi istri saya dan saya gak bisa cerai dengan dia begitu saja ... saya sudah mencintanya ... sangat mencintanya," jelas Gino, yang membuat Erina melepaskan tangannya.


Karena merasa bosan melihat adegan di depan matanya. Yoga pun duduk, sembari memakan cemilan, baginya ini seperti menonton bioskop yang berjudul 'sahabat lama bertemu kembali '.


"Apa maksud kamu? ... aku gak mau tau Yaa ... kamu harus cerai sama Rika, supaya kita bisa menikah ... kamu sendiri yang bilang, kalo kita udah gede kita bakal nikah!" ucap Erina, yang sudah menitikan air matanya, membuat Gino tak tega.


"Bu-bukan ... gitu," ucap Gino ia tidak tahu harus menjelaskannya bagaimana. jika nanti di jelaskan, pasti Erina akan lebih sakit hati.


"Ka-kamu ... jahat Yaa, aku adalah wanita yang kamu cintai dari kecil ... cinta pertama kamu, tapi ... kamu malah menikah dengan orang lain!" ucap Erina, lalu mengambil kotak yang di pegang Gino, dan menatap pria itu tajam.


"Ini udah gak berarti!" ucap Erina, lalu membanting kotak tersebut, yang membuat Gino kaget.


"Aku benci sama kamu!" bentak Erina, lalu berlari keluar rumah Gino. Yoga pun segera bangkit dan menatap Rika, yang seperti tidak peduli dengan Erina.


Gino pun mengejar Erina. Anjani harus ikut mengejar Erina, namun tujuannya ia akan mencegah Gino, agar tidak mengejar wanita itu, Yoga yang di tinggal pun ikut mengerjar.


"Erina tunggu! ... dengerin penjelasan saya dulu!" teriak Gino, namun wanita itu semakin mengencangkan larinya.


"Erina awas!" teriak Gino, saat sebuah mobil melaju ke arah wanita itu.


Erina menoleh lalu ...

__ADS_1


"Aaa!" teriak Erina.


Brakk!


__ADS_2