Gadis Imut Kesayangan Playboy

Gadis Imut Kesayangan Playboy
Eps. 141.Roti Selai Sambai Maknyuss ( Gino dan Tania)


__ADS_3

Baca sampe akhir..


Karena kalian mungkin akan terkejot!


____________________________


Kedua alis Gino terangkat, dan ia tersenyum jenaka ia mengerti apa yang sedang di fikirkan oleh Tania "Oh, ya ... tapi aku sudah tidak tahan, bagaimana dong ? Ayolah sayang ... Hn," goda Gino.


Dugh..


Tepat sekali punggung kaki Tania berhasil mematuk benda berharga milik pak Gino.


"Argh!" teriak Gino penuh kesakitan, seperti wanita yang hendak melahirkan. Sungguh ya kamu lebay juga Gino !


Rasanya tulangnya putus dari tempatnya.


Gino tersungkur kelantai, sambil meringis kesakitan.


Tania hanya menatapnya dengan rasa stroberi,mangga, dan apel. Eh salah , maksudnya rasa penasaran. Tania menutup mulutnya yang sedang menganga lebar, kan sayang nanti masuk lalat kedalam mulut. Iyakan? iyalah, he-he


"Gino, a-aku e-enggak s-sengaja, e-emang s-sakit ya?" tanya Tania sedikit gelagapan.


"Sakit lah! pakai ditanya !" Protes Gino dan berhasil menetralisir rasa sakitnya.


"L-lagian kamu si, kenapa tadi deket-deket ... a-aku kan' jadi takut, di p-perkosa s-sama k-kamu," lirih Tania.


"Makanya otakmu jangan mikir kesana, saya cuma ingin mengambil handuk di belakang kamu, bukan apa-apain kamu, sekarang liat ... gimana caranya saya buat mandi sekarang ?! ************ saya sakit begini, untung-untung gak pecah telur puyuh punya saya," omel Gino, sungguh Warbiaza, Gino bisa semarah itu pemirsa.


Perasaan Tania ada yang janggal dalam Omelan Gino , Tania yang memang masih rada polos harus menanya'kan nya.


"Telur puyuh? apa maksudnya ?" tanya Tania.


Gino mengusap kering wajahnya.


"Tanya ke google, mending sekarang kamu bantu aku berdiri, cepatlah ...!" Gino mengulurkan tangannya.


Tania segera menerima uluran tangan itu, dan membantu Gino berdiri dengan pelan-pelan.


"Kamu berat banget, dosa kamu banyak ya?" celetuk Tania


Tak!


"Aduh," ringis Tania setelah jidatnya dijitak oleh Gino. "Sakit tau !" sambung Tania dengan sedikit merengek kesal.


"Yang ikhlas nolonginnya, saya suami kamu lho Tania, kalau kamu tidak ikhlas kamu bisa masuk neraka nanti, " ucap Gino menakut-nakuti


"Huh, iya-iya !" dengan rasa terpaksa Tania memapah tubuh Gino ke kamar mandi.


_________________________


"Jadi, gimana semalam ? lancar'kan ?" tanya Papi pada Tania dan Gino yang sedang ikut sarapan


Gino dan Tania Belum mengerti apa yang sedang ditanyakan, sehingga mereka cuma senyum-senyum saja.


"Kalau seperti itu, artinya lancar Pi, harus rajin itu, biar bulan depan langsung kedatangan tamu," sambung Mami


"Uhuk," Gino terbatuk, merasakan geli ditenggorakan nya. Otaknya sudah berhasil mencerna kandungan ucapan mertuanya itu.


Sementara Tania, tidak perduli ya, memang Tania otaknya lagi enggak ada, :v


Maksudnya Tania Males mikirin hal yang susah untuk ia fikir.


"Tania kasih minum dong suami kamu, kamu nya malah enak-enakan makan doang, dimana bentuk perhatian kamu untuk suami kamu," peringat Mami


Tania tersenyum paksa dan mengambil gelas minuman bekas punyanya, "nah, ini minum ... Halal kok," kata Tania


Gino melotot kearahnya, dan matanya seolah berkata 'tidak menerima minuman bekas '


Sementara Tania tidak menggubrisnya, ia terus melahap roti lapis berselai strowberry kesukaannya. Mau tidak mau karena tenggorakan semakin sakit, Gino meneguk air minum itu, walau dengan perasaan jengkel.

__ADS_1


"Tania kamu harusnya ngasih minum yang bener, tuangin gitu ...!" peringat Mami


"Aduh, repot banget si Mi, jadi istri ...!" omel Tania dan mau tidak mau mengikuti peringatan.


Bersamaan pula dengan kedua orangtuanya bergegas dari meja makan karena mereka sudah selsai.


Saat Tania sedang menuangkan air minum untuk Gino, dengan jailnya Gino Mengambil roti milik Tiara yang sudah berselimut dengan strowberry kini sudah berganti dengan roti berselimut sambal, kebetulan mereka sama-sama merah merekah, jadi tidak akan mudah di curigai.


"Ini minum nya, lain kali ... jangan manja ya! jangan mentang jadi suami terus kamu manja gitu sama aku, o-gah ba- amphh" Tania memasukkan roti tersebut kedalam mulutnya dan tiba-tiba matanya mengeluarkan air, beserta mulut bergetar, lidah bergoyang ... cintamu seperti sambalado eh...eh rasanya cuma di mulut saja, o.. oh..oh !


(Ampun ya, humor ku lagi tinggi :v)


"Kenapa sayang?" tanya Gino dengan menahan tawa


"Huwa! Pedes! Ahh !" desah prustasi Tania dan menepuk mulutnya yang mangap-mangap


"Kasian, mau minum?" Gino menunjuk gelas berisi air minum dan Tania hendak meraihnya tetapi Gino menyingkirkan nya dari Tania.


"Tu, minum bekas punya ku, halal kok sayang, minum tuh," suruh Gino seperti apa yang dikatakan oleh Tania tadi.


"Hiks, pedes banget huwa... aku, gak suka ... Ah! pedes! Hiks," Tania Melompat-lompat dari tempatnya ia butuh air namun enggan minum air bekas orang. Rasanya bagi Gino sudah cukup ia menjahili tania , lalu ia memberikan air minum untuknya. "Makanya jangan suka ngerjain orang, kalau di kerjain balik malah begini," oceh Gino


Glek!


Glek!


"Ngerjain nya aku gak segitunya juga, gimana kalau aku meninggal tadi," tanya Tania setelah rasa pedesnya sudah perlahan menghilang.


"Tinggal kubur, terus saya kawin lagi ," balas Gino Dengan santai.


"Mami ! Papi ! Gino mau kawin lagi ! Batalin kerja samanya ! Ma mph!" Teriakan Tania terpotong karena Gino membekap mulutnya dengan tangan.


"Ada apa ? kok rame banget ini," tanya Mami


"Enggak ada apa-apa mi, biasalah pengantin baru, dia manja Mi mau digendong katanya, cuma Gino bilang nanti makanya dia teriak-teriak begitu," dusta Gino.


"Ya sayang, akan ku gendong ...," Gino mengangkat tubuh Tania dan membawanya menuju kamar.


"Turunin aku, cepatan!"


Gino menurunkan Tania dari gendongannya. Mata Tania menatap sengit kearah Gino


Jangan-jangan, kamu sudah lama naksir sama aku'ya? makanya, kamu nyari kesempatan dalam kesempitan terus," selidik Tania


Gino merotasikan matanya, dan membalas menatap Tania dengan tatapan biasa saja.


"Anak kecil seperti kamu, apa untungnya ?" ledek Gino setelah menilai fisik Tania. Tentu, Tania memang terlihat seperti wanita sudah dewasa namun sikapnya jauh dari itu semua.


"Syukur deh, kita ini menikah tanpa adanya cinta, jadi jangan banyak berharap lebih ... kamu bukan tipeku," Tania terlihat angkuh


"Dan kamu kira, kamu adalah tipeku? tentu saja tidak, sudahlah ... soal tadi lupakan saja, " lerai Gino


"Oke!"


_________________________


Genap seminggu hari setelah pernikahan mereka. Dan, sekarang Gino berpamitan untuk mengajak Tania -istrinya, agar menetap dirumah yang sudah lama ia beli namun belum ia tempati. Sebenarnya Tiara tidak mau ikut, tetapi ... Papanya mengancam akan mencoret namanya dari kartu keluarga, mau tidak mau harus mau.


"Kita berangkat Mi,Pi,pamit Gin.


"Hati-hati bawa mobilnya," saran Papi Husen


"Mami percaya kamu akan menjaga anak Mami, semoga kalian selalu berbahagia," Mami Tiara dengan penuh harap.


"Amin Mi, jaga diri kalian ...,"


Tania melirik kearah Rumah yang sudah delapan belas tahun ia tempati, namun kini ... ia harus meninggalkannya karena sudah memiliki keluarga, dan juga rumah baru.


_________________________

__ADS_1


" Rumah sebesar ini, kenapa kamarnya cuma satu?" protes Tania


"Memangnya kenapa? masalah?" tanggap Gino sembari merebahkan diri diatas kasur empuk.


"Masalah besar dong," kata Tania


"Apa masalahnya?" tanya Gino


"Masa kita sekamar si, aku enggak mau ya ... nanti kamu terpesona liat aku terus kamu sentuh aku," ujar Tania


"Terus?" tanya Gino sambil merubah posisi menjadi duduk


"Ya terus, aku enggak mau tidur satu kamar dengan kamu ...," kata Tania


"Kalau begitu, " Gino menarik tangan Tania


"Eh, mau kemana ?" tanya Tania


"Kamu bisa tidur di kamar gudang, atau di manapun yang kamu mau ..., selamat malam istri," kata Gino setelah membawa Tania keluar dari kamarnya. Kemudian Gino menutup pintu kamar dan tidak lupa menguncinya dari dalam.


"Hah, akhirnya telinga ku bisa aman sekarang," ungkap Gino dan kembali merebahkan diri.


Berniat untuk tidur akan tetap


"GINO BIADAB! BANGSAT! MATI SAJA KAU! "


Gino terkejut mendengarnya dan menutup telinga.


"Kalau kamu biarin aku tidur di luar! Aku akan terus mengoceh didepan pintu kamar! " ancam Tania


"Tahan Gino, kamu pasti bisa menahan kekesalan mu itu, tidur saja ... anggap saja itu anjing sedang menggonggong," gumam Gino


Tidak pernah kehabisan akal, Tania Mencari panci di dapur dan tidak lupa centong besi.


Tras!!dprash!ctrangg!


"Ya Allah, punya istri kok gini banget ...?" keluh Gino yang sangat terganggu dengan bunyi bising yang sengaja Tania bunyikan.


Brak!


"Akhirnya pintu kamar dibuka, makanya ja--" ucapan Tania terhenti karena Gino membopong tubuh nya seperti karung beras.


Dan melemparnya keatas kasur.


"Kya! bokongku sakit! eh, kamu mau apa hah? ko gitu banget liat aku , oh kamu terpesona kan sama aku ?"


Gino menyunggingkan senyumannya dan perlahan mendekati Tania yang berada dibawanya.


Sebelum peristiwa malam pertama waktu itu terjadi lagi, maka Gino Menahan kaki Tania membuatnya tidak bisa menerjang 'sesuatu'


"Mau apa si? jangan macem-macem !" protes Tania.


Deruh napas Gino terdengar teratur tepat di telinga Tania. "diam, atau ku benar-benar membuka segel keperawanan mu malam ini?!" ancam Gino


Dag...Dig...dug...


Jantung Tania berpacu tidak dapat di kontrol, ia fanik dan juga takut jika itu benar.


Ia melirik Gino yang menggeser tubuhnya di samping Tania Namun satu tangannya memeluk tubuh Tania untuk mencegah Tania memberontak dan pasti akan menganggu Gino lagi.


"Tidur lah," suruh Gino Dengan menatap sayu karena dia memang sudah mengantuk.


"Kamu aja yang tidur, aku enggak bisa tidur !" seru Tania


"Oh begitu, apa mau aku tiduri?" Gino kembali berniat untuk mendekati Tania.


Bersambung


Sorry for typo🙏

__ADS_1


__ADS_2