Gadis Imut Kesayangan Playboy

Gadis Imut Kesayangan Playboy
Eps. 91. Salah Paham


__ADS_3

POV Arabell


Entah kesal atau senang, karen udah buat si mantan dari suami menjadi patung pancoran di enak jidatnya dia bilang kalau 'tengah-tengah keramaian. " Reno itu milik siyi!' Ck, nghalu lo bambang!


*Berkat kalimat indah yang meluncur begitu saja dari mulu*t ku, perempuan itu menjadi marah. Ah bodo, kalau dia akan balas dedam. Yang aku butuhkan, cuma kesetiaan dari sang suami.


Ehhei.


Ya kan, kalau pak eh, mas Reno enggak tergoda atau enggak berharap lagi sama mantannya itu, akan aman lah sampai akhir. Kecuali kebalikannya, semua akan hancur sehancur hancurnya.


POV Author


Setelah pulang dari cafe dan pulang dari kampus, aku langsung pulang ke rumah. Juga kejadian di cafe itu, aku enggak kasih tau sama mas Reno . Bairlah, dia tidak tau.


"Lagi ngalmunin apa, sih?" Tiba-tiba suara mas Reno membuyarkan lamunanku tentang Amis, eh Anis.


Aku menggeleng. "Enggak lamunin apa-apa," ucapku dengan menumpu dagu menggunakan tangan, tangan aku sendiri lah pasti, masa tangan paksu.


"Ck. Dari tadi saya merhatiin, kamu seperti melamun. Lamunin apa?" tanyanya lagi. Dan satu lagi yang harus kalian tahu, mas Reno ini kalau udah nanya, harus sampai dapat jawaban yang benar. Baru dia berhenti bertanya, bisa di bilang .... 'kepo'.


"Mas-mas samping rumah, kita. Yang ganteng itu loh," ucapku asal. Pak suami mencibir, dan langsung merebahkan kepalanya di pundakku. Suka heran, sejak si Amis ah sala mulu. Saat si Anis menampak 'kan dirinya di depannya, mas Reno jadi kek manja gitu.


"Gantengan juga, Mas." Dia berujar dengan pd-nya, tapi emang ganteng sih. Pantas aja si Anis, nggak bisa lupain dia.


"Kalau Mas udah sering lihatnya, kadar kegantengannya udah biasa lah," ucapku, lagi-lagi dia berdecak dan membangunkan kepalanya. Tapi bukan cuma membangunkan kepala, dia juga membangunkan dirinya dan berjalan ke arah tangga.


Ngambek? Ah, masa.


Mana ada dia si devil ngambek.


Karna enggak mau banyak fikiran aneh-aneh, aku menyusul mas Reno ke kamar. Sampai di dalam kamar, ternyata dia sedang ganti baju. Cuma pakai celana boxer, ah mataku ....


Lebay.


"Mas, udah pakai celana belum?" tanyaku dengan membelakangi pintu.


"Udah sering lihat Mas begini, juga," ucapnya dari dalam.


Ajib, ajib benner. Rahasia ku di bongkar, kalau aku udah sering lihat dia cuma make boxer gitu. Ahh, dengan menghembuskan nafas, aku melangkah masuk dengan santainya.Dengan sesekali curi pandang ke arah mas Reno. Emang nih mata, enggak bisa banget di ajak kerja sama.


"Kalau mau liatim Mas, lihat aja. Sebelum di larang." Nahkan kena, kepergok kan. Dasar mata! Ngomong-ngomong dia juga peka amat, cuma mataku loh ini yang gerak-gerak bukan kepala.


"Mas mau, kemana?" tanyaku dengan berbalik menatap dirinya, yang sudah memakai kemeja juga celana kantornya.


"Ke kantor, ada masalah sama data-data ke uangan." Oh, patas saja dia kelihatan buru-buru, kirain ngambek.


"Pulangnya malem?"


"Belum tau, nanti Mas kabarin. Mas berangkat dulu," ucapnya, aku menyalimi tangannya. Di lanjut dengan dia mengecup keningku. Emm, udah jadi rutinitas sehari-hari selama beberapa minggu ini.


"Kalau aku keluar, boleh?"


"Enggak ada. Udah mau malam juga, enggak boleh pokoknya!" ucapnya tegas, aku cuma bisa mengangguk pasrah.


"Kalau jalan-jalan di kompleks?"


"Mas bilang enggak ada yang keluar-keluar! Biar di kompleks ini, nanti kamu ketemuan sama mas-mas di samping rumah!" Aku cuma bisa cekikikan, ternyata dia ngambil hati ucapanku tadi. Dan setelah itu, mas Reno udah pergi dengan satu kecupan lagi di keningku.


Romantis kan suami orang, eh suami ku?


Ah bosen, mau ngerumpi bareng mbok Mina tapi ... mbok Mina lagi sibuk.


Setelah berpikir setahun, eh. Aku baru teringat kalau ada tugas, ya terpaksa harus di kerjakan. Walau malas, tapi enggak ada kerjaan lain juga.


Setelah berkutak dengan buku, ponsel, labtop, dan lain-lain. Akhirnya selesai juga. Baru mau memejamkan mata, tapi suara notifikasi dari pesan whatsApp masuk.


+62 0814********


(Mengirim foto).


[Itu kakak, lo kan?]


[Gue Faris, gue dapat nomor lo dari Zaki.]


Gue kaget, bukan kaget sembarang kaget. Bukan masalah Faris dapat nomor whatsAppku, tapi foto ... foto yang dia kirim membuat jantung ku menjadi seperti di setrum. Benar gue nggak salah lihat, dan itu seratus persen bukan aditan!


Mata gue berkaca-kaca, bahkan udah ada beberapa buliran yang terjatuh. Ya Tuhan, apa lagi ini.


Dengan jantung yang masih berdetak kencang, aku membalas pesan Faris. Bukan berniat apa-apa, tapi cuma mau memastikan itu benar atau tidak.


'Lo dimana? Lo dapat fotonya dari mana?'


Dengan dada yang sesak, menunggu balasan dari Faris.


Kampr*t!


Lama banget di balasnya, enggak tau apa kalau gue lagi merana di sini.


[Di Restorant, depan perusahaan 'REV. Comp. Group.]

__ADS_1


Huhft, berarti mereka ketemu di kantor? Ya Allah, sebenarnya aku enggak mau su udzon dengan suami sendiri. Tapi melihat foto itu, foto di mana Anis bergelayut di lengan mas Reno ...., ah sudah lah.


Dengan gerakan cepat, aku menyambar kunci mobil dan menuruni tangga. Pamit ke pada mbok Mina. Tanpa memberi tahu mas Reno , aku langsung melajukan mobil ke restorant tepat di depan kantor mas Reno.


Setelah sampai ke parkiran, mata ini melirik sana-sini sampai pandangan ku berhenti ke sesuatu yang sedikit menyesak 'kan dada. Sengan langakah cepat ke arah mereka, di mana Anis terus bergelayut di lengan mas Reno , dan parahnya lagi, mas Reno cuma diam membiarkan.


Tapi masih ada beberapa langkah, tanganku langsung di tarik oleh seseorang. Hampir saja aku memekik, tapi untung tertahan.


"Hai," sapanya tanpa bersalah. Gue mendengus, ternyata si pengirim foto, ya siapa lagi kalau bukan Faris.


"Hampir aja gue banting, lo!" ujarku kesal, dengan mata melirik ke arah Anis yang ternyata sudah melepas gelayutan tangannya, dengan wajah cemberut.


"Hehe, santai. Lo mau apa? Mau ngelabrak kakak lo yang lagi bermesraan?" Bahasanya itu loh, 'bermesraan' cih! Dasar Faris enggak ada otak. Enggak tau apa, kalau gue sedang meradang.


"Bermesraan pala lu!" sentakku, si Faris cuma terkekeh. Heran gue, kenapa cowo-cowo suka banget buat perempuan kesal tingkat akut.


Dengan sedikit meladeni pembicaraan Faris, juga mata yang terus melihat ke arah mas Reno dan Anis. Sebenarnya pengen langsung ngehampirin, biar tau gimana reaksi mereka kalau gue datang tiba-tiba kesana. Tapi aku masih punya harga dirilah , malu-maluin aja kalau ke sana menjak-menjak.


Lagi-lagi si Amis-Amis itu bergelayut, dan tetap mas Reno tidak menepis atau menyuruh Anis menjauh. Tidak dapat menahan rasa sesak di dada, aku langsung beridiri. Tapi lagi-lagi Faris menarik tanganku, sampai-sampai aku memekik kaget.


Faris sialan!


Faris enggak punya otak!


Faris enggak punya perasaan!


Faris! Gue cincang lo nanti!


Hah, udah ... mampus udah. Orang-orang melihat ke arah ku juga Faris, sedangkan Faris cuma menyengir buaya. Dasar! Apa lagi, mas Reno juga melihat ke arah ku. Dan dapat ku tangkap raut terkejut di wajahnya saat melihat keberadaanku, dan juga dengan cepat dia melepas tangan Anis dari lengannya.


Cih, aku tersenyum getir. Dengan mata berkaca-kaca, aku bisa melihat kalau dia berjalan ke arahku. Tapi sebelum itu, lebih dulu aku seret Faris keluar dari restorant ini.


Walau sedih, Faris tetap jadi sasaran kemarahanku, yang gara-gara dia, aku ketahuan. Harusnyakan aku yang pergi melabrak mereka, tapi karna Faris ... akhh, gue cincang benar Faris nanti.


Dengan masih menangis, tangan Faris tetap gue seret mengikutiku. Tanpa mendengar ocehan dari mulutnya, juga suara si suami yang memanggil namaku.


"Ra, Ra berhenti! Parkiran sebelah sana."


"Lebay lo, masa kakak mesra-mesraan kamu nangis!" Seketika gue melepas seretan dari Faris, dan menatap dia nyalang, walau tidak terlalu kentara. Karena air mata yang membendung, di pelupuk mata.


Sorry nih, kata-katanya ke campur. Soalnya belum terbiasa pake kata 'aku', jadi maklumin ya. Oke, lanjut ke Faris.


"Enggak usah banyak bacot! Udah sana pergi ke mobil lo!"


"Lah lah, ini namanya enggak __, lha Ra, tungguin gue selesai bicara napa!" teriak Faris, saat gue tinggal begitu saja. Masalahnya, pak eh mas Reno udah mendekat. Aku berlari menuju mobil, yang masih terparkir rapi. Tidak ku pedulikan dengan teriakan mas Reno yang terus memanggil dan mengejarku, ku buka pintu mobil dan masuk.


Bisa ku dengar gedoran dari luar, juga wajah mas Reno. Tapi hati dan dada sudah sakit, tanpa menghiraukan. Aku tancap gas, keluar dari parkiran.


Cih. Ternyata ini, katanya ingin ke kantor. Ternyata mau ketemuan dengan mantan. Ck. Lo terlalu lugu Ra, mudah percaya dengan omongan laki-laki seperti itu.


"Lho, Ara ? Tumben main ke sini," sapa tante Tiara, ibunya Tania.


"Kamu abis nangis?" tanya tante Tiara lagi.


"Enggak kok Tante, cuma kelilipan debu di jalan. Tanianya ada, Tant?"


"Ada di kamarnya, masuk aja." Aku cuma mengangguk, dan mulai ke arah kamar Tania. Ya memang udah lama gak main ke sini, terakhir mungkin ... sebelum nikah.


Sampai di depan kamar Tania, gue langsung masuk tanpa mengetuk atau salam. Siapa tau heran, kenapa gak kerumah Risa saja? Emm bagaimana jawabnya ya, soalnya akhir-akhir ini ... Risa sedang bermasalah lagi dengan ayahnya.


"Hiks, Tania!" Aku langsung berhambur memeluknya, bisa ku rasakan kalau Tania tersentak kaget dengan, kedatanganku.


"Lho, Beb. Lo kenapa?"


"Hiks, kenapa coba gue harus ngalaim patah hati yang ketiga kalianya?" Tanpa menjawab pertanyaan dari Tania, aku semakin menangis dan mungkin semakin membuat Tania bingung.


"Ha? Siapa yang buat lo patah hati? Pak Reno? Pak Reno kenapa?" Ya Allah, heboh banget.


"Hiks, oppa gue deket sama __."


Pletak!


"Anj*r, gue pikir lo kenapa! Dasar enggak punya otak, gue pikir pak Reno selingkuh!" ucap Tania menggebu-gebu, gue cuma menyengir. Bukan maksud buat menyembunyikan ini, tapi gue rasa ini masalah rumah tangga gue.


Asek ....


"Hiks, lo juga langsung ngambil kesimpulan. Kan gue belum cerita juga," ucapku dengan menjitak balik kepala Tania.


"Hua, oppa gue. Hiks."


"Lebay!" cibir Tania.


"Eh, ada apa ini? Kenapa Ara nangis?" tanya tante Tiara, yang muncul di balik pintu.


"Ini Mom, Tania kira dia nangis karna di selingkuhi suami. Padahal, karna oppa koreanya dekat sama perempuan," ucap Tania melapor, gue mendengus.


"Lah, Mama kira kenapa. Udah, kalian lanjut," ucap tante Tiara, dan kembali ke aktifitas semulanya.


"Udah ih, enggak usah lebay! Cuma karna gitu, juga."

__ADS_1


Hiks, andai lo tau Tan. Ini sebagian melepas rasa sesak di dada gue, huhu. Tega banget lo pak, main sama perempuan lain.


Astaghfirullah, jangan su udzon dulu Ra, dosa.


Tapi emang benar kan, gue lihat sendiri malah.


Hiks, gue harus percaya yang mana sih! Hati bilang jangan su udzon, sedangkan pikiran menyatakan hal sebaliknya.


Karna lelah, mata ini lama-lama terasa berat. Dan tertidur di kasur Tania, dengan handphone yang sengaja aku matikan. Biar kelimpuangan dia nyari, itupun kalau dia nyari aku.


Akhhh!


Entah jam berapa sekarang, kepala ku terasa pusing. Efek habis menangis mungkin, aku meraba-raba di seblah ku. Seperti ada orang, tidak mungkin dia Tania. Pasalnya itu terlalu keras, tidak seperti kulitnya Tania.


Masa Tania saat malam berubah jadi hulk, kan enggak bagus. Aku mengambil ponsel yang tergeletak di sampingku, eh tunggu ... perasaan ponselnya aku matikan. Tapi sekarang ....


Ah, pasti si Tania yang diam-diam ngirim drakor. Ck, dasar enggak modal. Tunggu, sekarang pukul 20:11. Berarti gue tidurnya sekitar tiga jaman lebih lah, Tania kenapa enggak bangunin gue sih.


Kamar gelap, Tania kehabisan listrik atau apa. Masa baru jam segini, lampu udah di matiin. Dengan perlahan, aku mendudukan diri dengan kepala yang masih terasa pusing. Dengan berbekal senter hp, aku melihat ke arah samping.


Allahu Akbar.


Astaghfirullah.


Hampir saja jantungku ini lompat, juga hampir saja aku mengumpati Tania. Jika tidak cepat melihat siapa yang di sampingku, tapi kenapa dia bisa ada di sini?


Astaga, lupa. Pasti karna Tania yang menghidupkan ponselku, jadinya dia tau kalau aku ada di sini. Huft, aku melihat ponselku yang memang puluhan panggilan tak terjawab darinya.


Entah mau senang atau marah, ternyata dia mencariku, gue pikir dia malah senang kalau aku tidak ada di rumah. Jadi dia bisa bermesraan lama-lama dengan mantan terindahnya itu.


Astaga, su udzon mulu Ra.


"Oke, jangan mudah luluh Ra. Cuma karna dia datang nyariin lo, oke? Bisa jadi, ini cuma bentuk takutnya kalau sampai gue ngelakuin hal-hal yang aneh."


"Saya datang nyariin kamu karna khwatir, karna takut kamu pergi dari hidup saya, Ara !"


Demi Jin dan Jum! Gue kaget sumpah, dengan memberanikan diri, aku berabalik natap dia. Dan ....


Glek.


Huaa, nenek Ayu dan abang Hendra! Bibir anakmu sudah di renggut keperawanannya dengan bibir mantumu!


Tanpa bergerak, aku masih terdiam menikmati setiap pergerakan bib*r mas Reno di bib*rku. Eh apa? Menikmati? Oh tidak, Ara sadar bego!


Tapi apa yang mau di kata, meski sudah mendorong tubuhnya. Tetap saja tak ada pergerakan dari mas Reno, sepertinya dia sangat menikmatinya. Bahkan dia semakin memperdalam cium*nnya, tanpa ada tanda-tanda mau melepasnya.


Astaga, Ara . Sadar!


Oke kalau dia tidak sadar, maka lo yang harus tetap sadar.


Cayo!


Saat nafasku benar-benar sudah menipis, dengan segala tenaga yang tersisa. Aku mendorongnya, hingga benar-benar melapas ciu*annya.


Ah demi apa?


Dia udah rebut kiss, gue!


"Kamu salah paham, Dek. Mas tidak lagi ada berharap dengan dia!" ucapnya dengan nafas sedikit ngos-ngosan.


Tapi apa katanya? Salah paham? Tidak berharap lagi sama dia?


Aku percaya? Tentu ... tidak. Tidak semudah itu, aku percaya setelah melihat sendiri dengan mata-kepalaku. Di mana dia membiarkan si Amis-Amis itu, bergelayut di lengannya.


Cih, tidak semudah itu furgoso!


"Mas kenapa ada, disini?"


Di tersenyum kecil, "Hpnya kenapa di matikan?"


Aku diam tanpa menjawab, dia menghebuskan nafas dengan menatap lekat mataku. Ciah, biasa bakal ada reaksi jantung yang berlebihan, tapi sekarang tidak terlalu. Efek sudah mulai tidak percaya, maybe.


"Dek, kamu marah?"


Menurut lo?! Ish, ingin sekali berbicara seperti itu. Tapi lidah se akan keluh, aku hanya bisa menunduk dengan mata berkaca-kaca. Nangis lagi ....


Cengeng banget, gue.


"Maaf, Mas salah. Dek."


Gara-gara sibuk marah, sampai enggak sadar kalau sedari tadi dia manggil gue ... Dek. Pengen tau perasaan ku sekarang? Biasa aja, tuh.


Tapi boong.


Jantung gue kembali berdisko, dengan jedag-jedug yang hebat.


"Jangan nangis, Mas salah. Mas minta maaf, jangan nangis Ra." Tapi bodohnya, air mataku semakin berjatuhan. Padahal gue udah berusaha tegar, agar tidak terlihat sedang sedih.


"Maafin Mas, sayang."

__ADS_1


Apa ini furgoso! Barusan manggil 'adek' sekarang manggil 'sayang'. Jangan sampai gue luluh kembali, jangan sampai. Ra, lo masih ngambek. Jangan luluh, plis.


Sorry for typo. 🙏


__ADS_2