Gadis Imut Kesayangan Playboy

Gadis Imut Kesayangan Playboy
Eps. 117.Dinner Gino dan Tania


__ADS_3

Iri? Yah, siapa yang tidak iri dengan pasangan yang satu ini. Kalian baca sambil bayangin aja bakal, iri dan baper. Apalagi yang melihatnya langsung, auto nelan ludah aja bisanya.


*****


Reno dan Ara, pasangan halal yang sudah menikah tiga bulan yang lalu, tapi baru sekarang terbongkar. Sakit hati? Oh jelas. Sakit hati itu semakin bertambah, saat pak Reno mengunggah di akun instagramnnya sebuah foto, foto hasil USG tepatnya. Dengan menge 'tg, akun Ara juga.


Bahkan semua beramai-ramai membuat status sedih, sakit hati, bahkan tak sedikit membaut vidio tentang pak Reno. Baik di instagram, whatsapp, twitter, atau 'pun akun facebook.


Sakit hati berjamaah, pokoknya.


Bukan cuma dari fotonya, dari caption atau kata-katanya yang semakin membuat mereka mewek sambil menggigit apa saja yang di dekatnya.


'Tidak ada yang lebih membuat diriku bahagia, selain ini. Dirimu, dan dirinya yang masih berada di dalam sana, kalian adalah semangatku. Terima kasih karena sudah berada di dalam hidupku. Terima kasih Tuhan, engkau masih memberiku kebahagian ini, ini tidak akan hamba sia-siakan.


And you son, daddy menunggu mu. Kita semua menunggumu, baik-baik di sana. Daddy mencintai kalian.'


Tidak sampai setengah jam, postingannya sudah di sukai ribuan orang. Eits, tapi cuma di sukai, tidak ada komenan. Karena dari awal, pak Reno menonaktifakn kolom kementarnya. Bisa-bisa ngebleng hpnya, gara-gara notif dari para fans atau keluarganya.


Bukan pd, tapi emang kenyataan.


Maklum orang ganteng plus seleb tanpa di usahakan, rejeki orang ganteng emang.


***


"Jam terakhir tadi bagaimana? Banyak yang mandangin julid, gak?" tanya pak Reno. Ahya, sekarang mereka sedang dalam perjalanan ke parkiran untuk, pulang.


"Banget, apalagi teman-temannya Nirma. Mereka kayak mau nelen Ara hidup-hidup," oceh Ara.


"Tadi Ara dengar dari Tania sama Risa , kalau Nirma sama Mira, diskors?"


"Iya."


"Kenapa pake di skors segala? Mereka 'kan enggak tau apa-apa, cuma salah paham. Tapi kenapa malah di skors?" tanya ARA , entah polos atau tak tegaan.


"Salah paham apanya? Mereka ngata-ngatain kamu sampai, nangis. Andaikan tadi Mas enggak ingat, kalau dia perempuan, udah Mas pukul ... mungkin. Tapi Masih mending cuma di skors, enggak di D.O," ucap pak Reno, bisa dibilang ... sangat sadis.


"Ya justru salah pahamnya, jadi mereka ngata-ngatain Reya."


"Tidak usah bahas mereka," ucap pak Reno. Dan yah, sekarang mereka sudah sampai di dekat mobil.


Tapi baru ingin membukakan pintu untuk Ara, suara seseorang yang memanggil Ara membuatnya berhenti, dan menoleh di ikuti Ara.


"Ara, bisa bicara sebentar?" tanya ... Faris.


Pak Reno menatap Ara, mengisyaratkan 'jangan.'


"Boleh," ucap Ara. Pak Reno melotot, kenapa Ara tak menghiraukannya? Juga, perasaannya?


"Tidak, boleh! Dan lagi kenapa cuma izin dengan, Ara ? Kamu sama sekali tidak menghargai, saya!" ucap pak Reno, penuh penekanan.


"Maaf, Pak. Tapi izinin dulu, cuma sebentar kok. Ini penting!"


"Kamu ngegas?!"


"B-bukan Pak, s--saya ngomong dengan Ara dulu sebentar," ucap Faris gugup dan gagap.


"Saya bilang, tidak!"


"Ish, kenapa malah ribut sih! Mas, diam aja dulu deh. Cuma ngomong enggak ngapa-ngapain juga," ucap Ara. .


"Mau ngomong apa, cepetan?!"


"Sorry kalau ada yang salah. Maaf sebelumnya karna mungkin udah ngusik hidup lo atau ngebebanin pikiran‐‐"


"Langsung ke intinya! Saya tidak punya banyak waktu buat anda berbicara, dengan istri saya!" potong pak Reno.


"Gue pernah deketin lo, bukan karena suka atau cinta. Tapi, karena taruhan," ucap Faris, membuat pak Reno menatapnya nyalang.


"Kamu deketin Ara karena bahan, taruhan kamu?!"


"Maaf Pak, itu juga karena terpaksa," ujar Faris pelan.


"Masalahnya, sudah berapa orang yang kamu jadikan bahan taruhan? Kamu tidak mikir perasaan, mereka?!" tanya pak Reno, dengan nada dinginnya.


"Mik--mikirin Pak, jadi itu saya datang minta maaf. Ya jangan sampai Ara juga seperti mereka, jatuh cinta sama saya," ujar Faris agak ... pede, atau sangat pede.


Seketika pak Reno menatap Faris sambil tercengang, sunggu pede sekali mahasiwa satu ini. Berbeda dengan Ara , dia cuma bawa bodo amat lah.


"Dari mana kamu ngambil kesimpulan kalau Ara, bakal seperti itu?!"


"Y--yakan, kalau saya dekatin Ara , Ara ngeresponnya bagus sama santai banget. Jadi--"


"Belum tentu! Ara memang responnya seperti itu sama orang!" potong pak Reno. Sungguh dia sangat tidak suka, jika ada orang yang sepede Faris.


"I--iya Pak, maaf."


"Tidak adalagi yang mau dibicarakan, kan?" tanya pak Reno.


"Tidak ada, Pak. Cuma itu. Saya permisi," ucap Faris, dan pergi.


Setelah kepergian Faris, pak Reno tak hentinya mengomel dalam hati, tentang kepedean Faris. Entah kenapa dia sangat ingin berbicara banyak sekarang, tadi saja dia paling banyak meladeni Faris.


"Udah ah, mukanya enggak usah ditekuk gitu," ucap Ara , yang sunggu gemus dan gemes dengan bentukan wajah pak Reno.


"Ada ya, orang yang sepede dia?" tanyanya, sambil membuka 'kan pintu.


Ara cuma menggeleng 'kan kepala, sepertinya mood suaminya juga tidak teratur.


"Mas masuk cepetan deh, enggak usah tinggal ngoceh di situ."


"Mas 'kan eng--" Perkataan pak Reno terhenti atau terpotong, saat Ara menciumi bi*irnya sekilas, cuma sekilas.


"Udah masuk, enggak usah ngomel," ucap Ara sambil menutup pintu mobil. Memang itu cara ampuh, untuk menghentikan ocehan dari suaminya.

__ADS_1


Benar, selepas itu, pak Reno langsung berjalan ke arah pintu mobil kemudi, jangan lupa sama senyuman yang setia menghiasi wajahnya.


Di rumahnya


Sesampainya di rumah, bukannya pergi ganti baju, pak Reno malah langsung memeluk Reya.


"Mas, kenapa?"


"Enggak, cuma mau meluk."


"Kamu, kapan mau ambil cuti?" tanya pak Reno.


"Enggak tau. Mas juga, kenapa ngebet banget mau aku ambil cuti?"


"Kamu tau, Mas kadang enggak konsen ngajar apalagi saat ada rapat. Kepikiran kamu terus. Apalagi kalau Mas pulang dari kantor, sedangkan kamu belum, kamu enggak ada di rumah. Mas, langsung berpikir negatif," ucap pak Reno panjang lebar.


"Kok, aku jadi baper?" tanya Ara diikuti kekehannya, saat pak Reno berdecak kesal.


"Mas serius, Ra!"


"Iya, yang ngira Mas bercanda siapa juga. Orang Mas enggak pernah bercanda," ucap Ara .


"Serius, Ara !"


"Siapa yang bercanda, emang?"


"Greget loh Mas ini, Ara! Jangan sampai Mas gigit kamu, sekarang!"


"Idih, mau jadi kanibal? Pake gigit istri segala."


"Abisnya, istri Mas kok bikin greget sama gemes? Pengen kurungin aja di dalam sini!" ucap pak Reno memang, dengan nada gemas gemas greget.


Di dalam sini, maksudnya itu di dalam kamar. Jangan pada traveling.


"Kelaparan dong kalau dikurungin."


"Biarain."


"Jahat banget, bisa-bisa mampus aku."


"Apa, kamu bilang?!"


"Hehe, canda doang," ucap Ara.


"Enggak, lucu!"


"Yakali lucu, kalau lucu Mas bakal ketawa," balas Ara semakin, mengesalkan.


"Ngeselin kamu, Ra!"


"Rasanya dibuat kesal, gimana?" tanya Ara dibalas decakan lagi.


"Enggak enak, kan? Nah, kurang lebih seperti itu yang pernah Ara rasakan," kata Ara dengan melepas tangan, pak Reno dari perutnya.


"Siapa, yang balas dendam? Enggak ada ya," balas Ara dengan merebahkan tubuhnya di kasur.


"Cuma semacamnya," ucap pak Reno, ikut berebahkan badannya di samping Ara


"Ih Mas, kenapa ikutan baring sih! Pergi mandi, sana!" usir Ara dengan mendorong-dorong, tubuh pak Reno. Pake tangan ya, bukan pake kaki. Bisa dicap istri durhaka, kalau sampai pake kaki.


"Badan Mas juga pegel-pegel, Ra," ucapnya, sambil meregangkan tangannya.


"Giliran soal yang .. itu, enggak ada pegelnya," cibir Ara.


Pak Reno mengerinyitkan dahinya bingung, itu? Itu apa? Tapi sesaat kemudian, terbit kekehannya.


"Itu, apa?" goda pak Reno.


"Ya itu ...."


"Apa, sih?"


"Ish, enggak usah diperjelas! Mas, bangun pergi mandi cepetan!"


"Oke, bumilnya jangan marah-marah mulu dong," ucap pak Reno, membangunkan dirinya. Tapi bukan pak Reno namanya, kalau setiap saat tidak terbit ide jahilnya.


Saat Ara menyamping, memunggungi dirinya. Pak Reno mendekatkan kepalanya, sejajar dengan kepala Ara.


"Ara ," panggilnya, saat Ara berbalik, seketika bi*irnya dan Ara bersentuhan. Ara terbelalak, sedangkan pak Reno dengan cepat menjauh dan tertawa terbahak-bahak.


Tiada hari, tanpa kejahilannya.


Ditempat Gino dan Tania


Malam telah tiba, tepatnya pukul 19;35, di sebuah tempat atau bisa dibilang restoran yang berpemandangi hamparan lautan biru, sejauh mata memandang. Pak Gino dan Tania, yah mereka, mereka sedang berada di sini.


Apa hanya sekedar makan malam, atau ada maksud lain. Entahlah, hanya dirinya yang tau.


Di tengah-tengah makan mereka, pak Gino berdehem, dan mengeluarkan sesuatu berbentuk segi empat, yang berukuran tidak kecil ataupun besar. Atau tepatnya, itu seperti tempat kalung ... mungkin.


"Ini apa, Pak?" tanya Tania.


"Kamu ambil saja, sampai di rumah baru kamu buka," ucap pak Gino. Tania mengangguk, dan menyimpannya ke dalam tas kecilnya. Walau masih bertanya-tanya, itu apa.


Mereka kembali makan. Selesai makan, mereka melanjutnya dengan berjalan-jalan ke pinggir pantai, ditemani angin laut yang dingin menusuk ke dalam kulit. Untungnya mereka berdua memakai jaket tebal, walau tidak terlalu tebal, tapi lumayan bisa menangkalnya.


"Dingin?" tanya pak Gino.


"Emm, enggak terlalu."


"Tania."


"Kenapa, Pak?"

__ADS_1


"Andaikan ada yang nembak kamu, apa kamu ... terima?"


"Maksud, Bapak?"


"Andai ada yang nyatain perasaannya sama kamu, dan meminta kamu jadi kekasihnya. Apa, kamu akan terima?" tanya ulang pak Gino.


"Emang ada yang mau nembak, saya?"


"Cuma andai, Tania. Cuma andai," ujar pak Gino, agak kesal.


"Andai ..., andai ada ya ... tergantung dari saya sukanya atau tidak. Kan enggak mungkin saya terima kalau, saya enggak suka," ucap Tania.


"Kalau kamu, suka?"


"Kalau saya suka ..., sepertinya saya pertimbangin dulu," ucap Tania, seketika pak Gino berbalik memandangnya.


"Kenapa, begitu?"


"Hmm, harus saya pertimbangin. Dia serius tidak? Siapa tau dia cuma main-main."


"Kalau, dia serius?"


"Kalau serius ya, langsung nikahin aja kalau memang serius," canda Tania sambil tertawa.


"Saya serius nanya, Tania! Bukan bercanda!"


"Ya abisnya, Bapak kenapa juga bahas gituan? Atau jangan-jangan Bapak mau nembak, saya ya?" goda Tania, dengan mengedip 'kan satu matanya.


"Jangan geer! Sa--saya cuma nanya," elak pak Gino.


"Iyakah? Ya udah, enggak usah gugup gitu mukanya Pak. Saya juga cuma bercanda," ucap Tania.


"Ekhem, pertanyaan saya enggak mau kamu jawab?"


"Yaah, mungkin ... saya terima."


"Mungkin ..., berarti lima puluh persennya kamu mau, dan lima puluh persen lagi kamu, tidak mau."


"Seperti itu mungkin. Saya bilang 'kan tadi, kalau itu tergantung orangnya," kata Tania.


"Okeh. Emm, mau pulang atau mau lanjut jalan?"


"Kita pulang aja deh, Pak. Takutnya mamah khawatir. Soalnya saya belum pernah keluar sama laki-laki berduaan, selain sama papah," ucap Tania, di angguki pak Gino.


Yah, mereka berjalan ke arah mobil tempat mobil pak Gino terparkir. Selama beberapa menit perjalanan, mobil pak Gino sudah sampai di depan pelataran rumah Tania.


Dirumah Tania


"Mau, mampir dulu?"


"Hmm, sekalian pemitan," ucap pak Gino. Dan mereka turun dari mobil, dan berjalan ke arah pintu, di sana sudah berdiri tante Tiara.


"Malam Tant, saya nepatin janji 'kan, bawa anak Tante pergi dan pulang tanpa lecet."


Tanta Tiara tersenyum, dan mengangguk.


"Ya sudah Tant, saya pemit pulang."


"Enggak mau masuk, dulu?" tanya Tante Tiara.


"Nanti aja, Tant. Sudah malam, saya balik dulu," pamitnya.


"Hati-hati, Pak," ucap Tania, diangguki pak Gino.


Setelah mobil pak Gino berlalu pergi, mereka berdua masuk ke dalam rumah.


"Tania naik duluan, Mam."


"Ets, tunggu dulu," cegahnya.


"Kenapa?"


"Itu, siapa? Pacar?"


"Bukan," jawab Tania, sambil menggaruk kepala.


"Dan kenapa manggilnya, pak?"


"Ya ... terus manggil, apa? Masa manggil nama doang, enggak sopan. Kan dia ... dosen di kampus Tania," ujar Tania, sambil cengengesan.


"Astaga, jangan-jangan kamu deketin dia karena mau ...."


"Jangan ngadi-ngadi Mah, ih! Emang Tania perempuan apaan?"


"Ya udah, Tania naik. Good naight Mam." Dan dengan cepat, Tania langsung berlari menaiki tangga, meluncur masuk ke dalam kamarnya, menutup pintu dan menguncinya.


"Yang dikasih apaan, sih?" gumam Tania, dan langsung merogoh tasnya mencari benda yang tadi diberikan pak Gino.


Setelah mendapatnya, Tania menduduk 'kan dirinya di pinggir kasur. Mengamati beberapa saat, dan perlahan membukanya.


Saat kotaknya terbuka, Tania membulatkan matanya, dan ... mulutnya. Sebuah kalung, kalung emas yang entah berapa gram terletak di situ.


"Wow, dalam rangka apa nih gue di kasih, kalung?" Tania mengambilnya, dan berdiri menghadap cermin. Dan perlaha memasangnya.


"Ck. biasanya orang dikasih kalung, dia dipakein, lha gue? Make sendiri, emang enggak ada romantisnya sih," ucap Tania, sambil terus menatap kalung itu, yang melingkar indah di lehernya.


"Tapi ... masa cuma dikasih gitu, aja? Masa, enggak ada yang lain?" monolognya lagi. Tania melirik tempat kalung itu, dan dengan cepat mengambilnya dan membukanya lagi.


Di dalamnya ada kertas, bisa-bisanya dirinya tak melihatnya. Dengan perlahan, Tania mengambil dan membacanya, baris demi baris.


"What the ...! Apa gue bilang, pasti bakal ada ulang di balik batu!" pekik Tania, yang menggelegar di dalam kamarnya. Bahkan terdengar seruan sang mama, yang bertanya kenapa.


"Pak Gino nembak, gue!"

__ADS_1


Sorry for typo. 🙏


__ADS_2