
Part bikin baper
***
Tania Hanya bisa bengong, dengan apa yang terjadi pagi ini. Diatas meja sudah tersedia makanan, siapa yang memasak? Mencium aroma makanan yang baru selesai dimasak. Membuat Tania terpikat untuk duduk disana.
"Pagi sayang," sapa Gino dari kamar kecil yang ada di dapur.
"Kamu, kamu masak? enggak pada bi--"ucapan Tania terhenti karena Gino menarik kursinya dan mendorong pelan Tania agar duduk.
Tania menjadi kikuk, lalu matanya menelusuri beberapa masakan siap untuk ia santap pagi ini.
" Keliatannya enak," ucap Tania meneguk air liur dalam tenggorokannya.
"Tentu saja, makanlah ...!" suruh Gino sambil tersenyum manis, sejenak Tania terpaku melihat manisnya senyuman itu dan ditambah dengan ketampanan yang tercipta secara alami dari paras suaminya. Semua kekaguman itu menghilang, ia fikir pasti suaminya ada maksud lain.
"Kamu pasti lagi ngerjain aku'kan? kamu naruh sesuatu dimakann ini? ngaku aja deh," tuduh Tania sembari hendak berdiri dari tempat duduknya.
Gino menahan tangan Tania
"Bisa tidak buang fikiran burukmu terhadap suamimu?" tanya Gino dengan mata menatap serius Tania. Jika begini Tania luluh jga dan akhirnya kembali duduk.
"Kalau gitu, kamu makan duluan ... kalau tidak ada apa-apa baru aku makan" jelas Tania
"Oke," Gino mulai makan lebih dulu dan benar tidak ada apa-apa dimakanannya. "Sekarang kamu percaya'kan?" tanya Gino.
Tania mengangguk dan mulai ikut makan dengan lahapnya, karena memang masakan dari Gino sangat lezat.
_
"Ayo, kita berangkat bersama!" ajak Gino sembari menenteng tas Tania lalu memberikan pada sang empuh.
Tania menerima tas nya, lalu menyampirkan kepunggungnya dan menatap Gino dengan tatapan heran. Langkah kakinya mendekati, lalu menaruh tangan di jidat Gino.
"Apa kamu sakit? aku melihat kamu seperti orang yang berbeda sekarang," kata Tania dengan perlahan menurunkan tangannya itu namun Gino menggenggam tangan Tania dan menarik tubuhnya agar lebih dekat dengannya. Mata mereka bertemu cukup lama.
Usapan lembut dipipinya membuat Tania memejamkan matanya beberapa saat.
Mata Tania membelak sempurna karena bibirnya dikecup singkat oleh Gino pastinya, lalu Gino membisikkan ditelinga ya.
"Sudah ku bilang, ada banyak kejutan untukmu mulai pagi ini, kamu tidak lupa apa yang dikatakan olehku malam tadi bukan?" tanya Gino
Glek!
Menelan paksa liurnya dan matanya masih membelak, tubuhnya menegang ditempat tidak tau kenapa. Entah mengapa tanganya tidak bekerja saat ini, pada biasanya ia akan langsung menampar siapa saja yang berbuat seintim ini dengannya.
Gino meninggalkan Tania yang berdiri dengan rasa ketidakpercayaannya. Gino mengode agar masuk kedalam mobil.
_
"Tania, kamu dipanggil pak Gino tuh," kata teman Tania.
"Ngapain coba, ada ada aja ini orang," gumam Tania menatap tajam kedepan kelasnya.
Tania maju dan Gino menyuruhnya untuk mendiktekan semua materi pada teman-temannya.
"Mau kemana kamu?" tanya Gino
"Ya, katanya disuruh buat dikte'in ke temen-temen, ya duduk ditempat Tania lagi lah," jawab Tania
Langkah Tania terhenti, karena Gino merangkul pinggangnya untung meja guru sangat tinggi hingga tidak ada yang bisa melihat perbuatan Gino itu.
"Apaan ini," bisik Tania Menatap horor
"Duduklah disini, atau --" Gino menggantungkan ucapannya dan tangannya meremas pelan bokong Tania dan menatap nakal kearahnya.
Brak!
"Kenapa Tania ?" tanya temannya
"Aku tidak apa-apa," Tania meninggalkan kelas setelah melempar buku diatas meja dosen.
****
Tania pulang terlambat kerumah. Karena ia berjalan-jalan sendiri untuk menenangkan fikirannya dan juga menghindari suaminya, ia takut Gino melakukan hal berbahaya karena sikap Gino mulai mencurigakan.
Terlintas kenangan manisnya bersama Aldo disekitar jalanan ini, dan dimana mata Tania tertuju maka ia seolah melihat Aldo.
"Aldo, kenapa susah sekali melupakanmu ... aku rasa tidak akan pernah, " ucap Tania sembari meloloskan air matanya.
Mobil berhenti disamping nya. Karena larut dalam fikirannya hingga tidak menyadari hal itu untung saja pemilik nya adalah orang baik.
"Ku cari dimana,mana rupanya disini." kata Tania
"Kamu, kenapa kamu selalu menganggu ketenanganku?"
__ADS_1
"Apa yang membuatmu mencari ketenangan sampai membuat aku cemas?"
"Kau cemas? omong kosong! lebih tepatnya kau meledekiku, iyakan?"
Gino mengacak rambutnya prustasi apa yang harus ia katakan pada Tania , bagaimana cara menunjukkan rasa sayangnya itu. Semuanya dianggap palsu oleh Tania.
"Terserah kau saja, sekarang pulang lah." Suruh Gino
"Aku bisa pulang sendiri, bagaimana tadi aku kesini maka seperti itulah aku akan pulang," jawab Tania.
"Baiklah, terserah kau saja ... kau membuatku pusing, diperhatikan malah seperti ini apa yang salah dengan sikapku, aku berusaha menjadi suami yang baik dan kau tidak ada apresiasi sedikitpun? Oh, kau hanya memikirkan orang lain. " Jelas Gino dengan kata penuh kekesalan
"Kamu sudah tau, untuk apa kamu lakukan semua ini? "
Gino mencengram kedua bahu Tania.
"Karena aku mencintaimu! kau dengar itu? lupakan Aldo itu, karena dia tidak akan bisa menjadi milikmu. Dan sadarlah aku ini suamimu, dan kau adalah istriku !" Jelas Gino dengan nada tinggi
" K---kau mencintaiku?" lirih Tania
"Apa sikapku kurang jelas selama ini? sudah cukup kamu menangisi pria lain, sekarang sadarilah ada aku, aku yang mencintaimu dan perduli padamu, aku tidak memaksamu untuk membalas perasaanku tapi, hargai aku sebagai suamimu," jelas dan berakhir pinta dari seorang Gino.
Bruk!
Gino mengembangkan senyuman dibibirnya dan tangannya dengan cepat membalas pelukan Tania
"Maaf, a--aku tidak menyadari hal itu, aku minta maaf ... membuatmu cemas," ucap Tania seperti menahan air matanya.
"Iya, sekarang kita pulang ya?"
"Iya,"
*****
Semenjak mengetahui perasaan Gino yang sebenarnya kepadanya, membuat Acha menjadi canggung seperti ini.
Tania yang berkutat dengan buku diatas meja belajarnya, sebenarnya fikirannya melayang jauh dari semua itu.
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka, dan hadirlah suaminya yang baru selesai mandi. Tania kembali untuk fokus belajar karena besok masih jadwal test harian.
"Cha, kamu enggak mandi?" tanya Gino
Seraya membuka lemari mencari baju ganti.
"Hn" Gino hanya berdehem singkat.
Pintu kamar mandi kembali tertutup menandakan Gino berada didalam sana. Tania meraba dadanya terasa didalam sana sedang ada konser jedag-jedug!
"Ada apa ini? kenapa seperti ini? padahal ... dia tidak meminta haknya, eoh! aku sudah gila," dengus Tania
_
Gino menatap aneh Tania yang seperti menghindar darinya. Memang, selama ini mereka tidur dalam ranjang yang sama tetapi pembatas tidak pernah hilang. Namun pergerakan tubuh Tania seperti risih siapapun bisa merasakan nya.
Gino mendekatkan wajahnya mengarah pada telinga Tania. Beruntung Taniadalam posisi membelakangi saat ini.
"Kamu jangan takut, saya tidak akan meminta hak saya jika kamu belum siap," bisiknya seperti menusuk kedalam jantung Tania.
Bukannya membuat Tania merasa tenang. Justru hal itu membuat bulu kuduknya berdiri, sebisa mungkin Tania harus bisa bersikap normal
"I-iya," jawab Tania pelan.
"Aku boleh memelukmu?" tanya Gino
Tania membolakan matanya. Dia tidak mengatakan iya atau pun tidak, entah mengapa malam ini dia mendadak menjadi seorang yang pendiam. Tidak tau harus mengatakan apa.
"Jika kamu tidak mau, baiklah ... aku tidak memaksa," kata Gino sedikit menggeser tubuhnya
"Boleh!" seru Tania seperti mencegah Gino untuk mengurungkan niatnya. Tania juga tidak sadar atas apa yang telah mulutnya lakukan fikiran dan tindakan nya seolah bertolak belakang.
Hap!
Gino memeluk tubuhnya dan ia mencium aroma tubuh istrinya, walaupun jarang mandi namun wewangian itu selalu melekat di badannya.
"Kau wangi," bisik nya
"Jangan macam-macam," peringat Tania
"Saya bukan pria brengsek, tidurlah sudah malam"
Tania melegah dan mulai tidur dengan tenang.
***
__ADS_1
Tania Merenggangkan otot lengannya, dan juga kepalahnya. Matahari sudah menyambutnya, ia merasakan ada benda berat menimpa perutnya.
Oh, rupanya tangan Gino masih berada disana. Dengan pelan-pelan Tania melepasnya dan hendak turun dari ranjang.
Tetapi dua tangan Gino memeluk pinggangnya seolah menahan dia untuk pergi
"Apa?" tanya Tania Sembari menoleh pada si pelaku.
Gino mengatur posisinya menjadi duduk dan tangannya beralih menuju kedua pundak Acha.
"Morning kiss?" tagih nya
"Hah?
"Wajib !"
"T-tapi ?"
Gino menarik kedua bahu Tania mendekat lalu ia mengecup b*b*rnya lembut.
Hanya kecupan sehingga berlangsung hanya beberapa detik.
Tania masih dengan wajah bingung nya. Membuat Gino gemas dengan mukanya.
"Kita ini suami istri, kamu tidak perlu merasa takut seperti itu ... mandilah dulu, " suruh Gino
Tania segera beranjak dari kasur dan berlari ke kamar mandi.
***
"Berangkat bersama atau tidak usah kesekolah sekalian?" tanya Gino
Sedari tadi Gino begitu memaksa dirinya untuk pergi kesekolah bareng. Namun, Tania ada saja alsan untuk menolak sehingga Gino tidak segan mengancamnya.
"Baiklah, " Tania mengalah dan masuk kedalam mobil. Bergitu pula dengan Gino
****
Test Fisika, berjalan dengan mulus. Mereka hanya menunggu hasil siapa yang mendapat nilai tertinggi didalam kelas.
"Ini adalah hasil Test kalian didalam pelajaran saya. Saya akan memberikan kebebasan untuk yang mendapatkan nilai tertinggi bisa meminta apa saja kepada saya seharian ini, bagaimna?" tanya Gino
Semua para gadis yang ada dikelasnya bersorak gembira. Mereka berharap mereka bisa mendapatkan nilai tersebut walaupun kenyataannya sudah dipastikan hanya satu orang.
"Arabell mendapatkan nilai tertinggi didalam kelas, jadi Ara kamu ingin apa hari ini akan saya kabulkan," ujar Gino
"Yes!" Ara nampak girang, bagaimana tidak sudah lama ia menaruh hati pada dosennya si Gino itu, dan kesempatan bagi nya sudah tiba.
Senyuman Tania perlahan memudar karena melihat Ara dengan Reno, Gino sedang berbincang, mungkin membahas apa saja yang Ara inginkan dalam seharian penuh.
Bel pulang berbunyi.
Gino mengajak Ara pulang, karena memang itu yang Ara inginkan. Selain itu, Ara njuga memintanya untuk pergi jalan-jalan dan tidak lupa mengabadikan moment bertiga mereka dan mengaplodnya di ig nya Ara.
*
"Kenapa sakit baget rasanya, apa aku cemburu?" batin Taniasembari melihat postingan Ara.
Dalam satu foto ada yang sangat menyajikan hati Tania karena Ara memeluk Reno dan Gino
Ceklek !
Gino baru pulang dan jam sudah menunjukkan pukul 20:15.
"Kenapa pintu tidak kamu kunci, untung saja rumah kita aman," ucap Gino
"Seru banget keliatan nya sampai pulang malam begini, kaya pacaran aja" sindir Tania
Gino merotasikan matanya dan dapat mengerti isi dari sindiran Tania ia tersenyum dan duduk di sebelahnya. Tania bruu-buru menutup ponsel.
"kamu cemburu?"
"Cemburu? Enggaklah, ngapain cemburu!"
"Eh, kok sewot begitu ... keliatan cemburunya diatas level tertinggi "
Gino terkekeh dan Tania Menatapnya tajam namun cairan dalam matanya berdemo ingin keluar. Tania terpaksa harus mendongak keatas agar air matanya tidak jatuh begitu saja. Ia gengsi harus menangis didepan suaminya, dia tidak boleh kedapatan cengeng karena cemburu.
Gino menghentikan kekehannya dan menatap instens Tania tangannya terulur untuk memegang tangan Tania namun dengan cepat Tania menepis nya.
"Mau kemana?"
Tania tidak menjawab ia hanya berlalu dari kamar. Dan Gino sempat mendengar pintu utama tertutup cukup keras. Dan di pastikan Tania keluar rumah.
"Ya, Tania ini sudah malam, untuk apa kamu keluar ?" teriak Gino dari balkon kamar. Bukannya kembali kerumah.Tania justru berlari keluar tidak ada cara lain, Gino harus mengejarnya.
__ADS_1
Bersambung