
Setelah kejadian ulang tahun yang tidak mengesankan itu, tiba-tiba Aldo mulai berubah tanpa sebab. Ia jarang memberi kabar pada Tania, bertemu di kampus hanya bertegur sapa biasa, dan jujur hal itu membuat Tania sedih.
Ia berupaya mencari tau sebabnya, namun Aldo sangat pintar mencari alasan.
"Kamu tidak lelah, menangis?" tanya Gino saat mendapati Tania yang menangis di taman sekolah.
"Apaan si, kepo banget sama urusan orang," sungut Tania sambil menghapus air matanya kasar.
"Saya turut berduka ya," kata Gino dengan rasa iba.
"siapa yang meninggal! sembarangan aja si ! nyebelin banget bapak ini," seru Tania
"kirain ada yang meninggal, abisnya kamu nangis kaya nangisin orang meninggal, bunyinya kaya gini," Ginomemperagakan cara Tania yang menangis.
Pletak!
"Akh!" ringis Gino saat kepalahnya sudah di cium oleh sepatu
"Haha! rasain tuh, suka banget jailin orang terima tu akibatnya," kata Tania
"Begitu kamu ya, " Gino berjongkok dan melepas tali sepatu Tania.
"Eh, kenapa dilepas eh!"
Gino tak menanggapinya ia berhasil mengambil sepatu Tania yang sebelah lalu melempar nya ke atap kampus.
"Sudah, kamu tidak perlu memakai sepatu, benarkan?" enteng Gino.
"Dasar dosen nyebelin ! ambilin sepatuku ?!" teriak Tania
"Saya memang dosen tertampan di kampus ini, " balas Gino dengan topik lain.
"Gila! ambilin gak!"
"Enggak, selamat tinggal !"
"Gino dosen tidak punya akhlak!"
****
Tania seharian berjalan mengitari sekolah dengan menggunakan kaki polosnya.
Tanpa alas kaki, sebagian temannya sudah membicarakannya segala macam, namun Tania tidak menggubrisnya ia sibuk mendumel sepanjng jalan.
"Ada apa sama sepatumu Tania ?" tanya Ara temannya
"di gondol tikus, " jawabnya asal
"haha, bisa aja kamu ... seriusan, dimana kamu taruh sepatumu?" tanya Ara lagi
"Gara-gara pak Gino itu, dia yang buang sepatu aku keatap kampus bagian belakang. Nyebelin emang orangnya," adu Tania.
"Nyebelin si iya, tapi masa si ...kamu suka kan ?" heran Ara pada Tania
"Eh, " Tania menepuk jidatnya pelan.
Tiba-tiba bel sekolah berbunyi, pertanda mereka sudah boleh pulang dari sekolah. Bel sekolah itu memang tepat pada waktunya. Tania berlari nyeker keluar dari kampusnya.
***
Pak Gino menyipitkan matanya saat menyaksikan si pengendara motor didepan mobilnya, ia merasa tidak asing dengan pengemudi itu. Gino segaja memajukan mobilnya hingga berdampingan dengan si pemotor tersebut.
"Aldo? tapi ceweknya?" Gino menyelidiki dari ujung kaki yang memakai sepatu, dan Gino yakin itu bukan Tania. Karena Tania hari ini pulang tanpa sepatunya.
Lampu hijau menyala dan Aldo kembali menjalankan motornya dan cewek itu memeluk Aldo dengan erat karena Aldo melajuh sangat kencang.
" Kasian juga sama , Tania,Aldo pacarnya selingkuh pasti," ucap Gino.
***
"Tan , buka pintunya dong ... saya mau ke kamar, " Pinta Gino karena pintu kamar dikunci dari dalam
"Gausah ke kamar segala ... aku sebal sama kamu," saut Tania
"buka lah, maaf deh kita damai aja gimana?" tawar Gino.
__ADS_1
"males, kamu udah ngajak perang duluan, "
"Tania , kamu berdosa tau kalau kunciin suami diluar kaya gini, mau kamu?Gino menakut-nakutinya
Ceklek ...!
Pintu terbuka
Tania kembali berbaring dan melempar bantal dan juga sarung untuk Gino.
"Ini, kamu tidur di sofa sana, jangan tidur samping aku,"
Gino menangkap bantal dan juga sarung yang dilempari. "Ko sarung sih, kamu kira saya baru disunat apa?" sungut Gino
"Bodo amat!" ketus Tania
Gino menghela napas pelan lalu menuju sofa ia meletakan bantal dan juga sarung disana kemudian ia membuka lemari dan mengambil paperbag.
Tania sedikit penasaran, dan celingak-celinguk apa yang sedang Gino lakukan, saat Gino akan menutup lemari kembali dan paperbag itu dibawa ke sofa.
"Apaan si isinya," batin Tania
"Kepo ya?" tebak Gino
Tania membelakan mata seolah hatinya dapat didengar oleh Gino, lalu Tania kembali berbaring dan menghadap tembok.
****
Aku kasih yang romance gimana?
Gimana
Gimana
Ya gak gimana-gimana, palingan juga kebelet pengen juga ๐คฃ
*****
Tar!
Suara hujan perlahan turun dari atas langit membasahi bumi Pertiwi ini. Membuat hawa dingin menyengat tubuh. Bersamaan dengan angin mesum yang menusuk tubuh, menggelitik dan membuat bulu halus berdiri tegang. Hei, jangan mikir yang lain ya kalian!
Tania mengeratkan selimut tebal menutupi tubuhnya yang mungil nan montok. Jangan tanya gimana bentuk tubuhnya yang sebenarnya, author cuma ngarang juga :v
Tania melirik Gino yang juga kedinginan diujung sana, tiba rasa iba sekaligus rasa takut karena petir yang kian berlomba.
Tar!
"Aaaa!" kembali Tania berteriak sembari menutupi kupingnya.
Kedua kalinya teriakan itu berhasil menganggu alam mimpi Gino. Ia terbagun dan melihat Tania
"Ada apa?" tanya Gino
Tar!
Tar!
"Aaa, itu petirnya ... nakutin, aku kaget dan takut," jelas Tania dengan kuping ia tutup memakai tangannya.
"Makanya, kamu si tadi ngusir suami dari ranjang jadinya murka'kan Tuhan sama kamu," celoteh nya asal.
"Aku serius ya, aku takut sama petir tau ... percuma juga bilang, hih" Tania sedikit cemberut.
Brak!
Tidak tau dari kapan, Gino sudah mendaratkan tubuhnya disamping Tania.
"Siapa suruh tidur sini?" tanya Tania.
"Katanya takut, sebagai suami yang baik saya temenin sini, apa mau dipeluk juga?" tawarnya sambil merentangkan tangan.
"Ogah, jangan modus ya ...!" tolak Tania smbil membelakangi Gino tidak lupa guling di jadikan sebagai pembatas.
"Ingat jarak kita, ikuti protokol ranjang pernikahan kita," kata Tania.
__ADS_1
"yaudah, nanti kalau petir lagi jangan coba peluk saya ya ?!" kata Gino sambil berbaring dan kembali memejamkan matanya.
"Gak akan," saut Tania dan sedikit mendumel dengan pelan.
Tar!
Bruk!
Tania langsung berbalik dan memeluk Gino sangat erat, ia menyembunyikan wajahnya di dada suaminya itu, untung saja suaminya memakai baju jika tidak maka ia akan berinteraksi dengan roti sobek.
Biasanya bocil gak ngerti ini, ah sudahlah. Nikmati saja ini cerita :- )
Gino yang belum tidur sepenuhnya dengan cepat membuka matanya, dan melihat Tania yang ketakutan.
"Tidak apa apa tenang lah...?" suruh Gino sembari menepuk lengannya
Tania tidak menjawab, ia sibuk dengan pelukannya yang terlihat erat dan juga gemetaran. Mungkin karena dingin bercampur ketakutan.
Gino membuat posisi mereka menjadi senyaman mungkin, tangannya juga memeluk Tania . Ini untuk pertma kalinya pasangan suami istri itu berpelukan, dibalik selimut yang tebal, dengan hawa dingin manja, serta suara gemuruh, petir dan segenap keluarga nya yang datang menghiasi hujan pada malam hari ini.
**"
"Jijik, kamu modus'kan semalam?" tanya Tania
"Kamu yang peluk saya duluan, kamu lupa kamu ketakutan semalam, coba kalau saya tolak pasti kamu nangis dari semalam, bukannya terimakasih malah seperti itu, " omel Gino
Tania menjadi malu sendiri karena benar juga yang di bilang Gino.
"Aku khilaf, tapi kamu juga tidak perlu memeluk aku juga, tubuh aku ternoda kalau Deket sama kamu,"
"Ternoda, heh ... bahkan kita sudah halal, apanya yang ternoda ? Padahal cuma berpelukan bukan nganu,"
"Nganu apa?"
"Anak SD aja udah tau, jangan pura pura polos deh, atau mau saya polosin?"
Pak!
Puk!
"Hentikan, apaan si kamu ini," Gino menghindari dari pukulan Tania. Namun Tania terus memukulinya.
Membuat Gino bertindak dengan segera menahan tangan Tania lalu mendorong tubuhnya berada dibawahnya.
"Kalau kamu pukul saya lagi, saya akan ...!" seru Gino sambil menatap wajah Acha sedekat mungkin.
"Apa? lepasin gak?" kata Tania sembari menggerakkan tangannya supaya bisa terlepas dari cengraman seorang Gino.
"Oh, gitu ya ... kayanya pagi ini enak nih buat olahraga ranjang, iyakan ?" Gino menaikturunkan alis.
"Hah?" Tania menganga lebar.
Mungkin kalau kecoa terbang bisa mendarat sempurna kedalam mulutnya.
"Ih, lepas ... aku minta maaf deh, jangan ya ... aku ga mau diperkosa," pinta Tania.
"diperkosa? saya kan suami kamu," bantah Gino
"Ya walaupun begitu, aku'kan gak mau kalau kamu paksa itu artinya kamu pemerkosa !"
Perlahan Gino melepaskan Tania, dan dengan kesempatan yang ada Tania mendorong Gino hingga
Brak!
Tersungkur dilantai.
"Tania!"
"Wle... haha, rasain tuh!" Tania dengan secepat kilat ke kamar mandi.
Bersambung
Sorry for typo ๐
Terimakasih ๐atas dukungan don komwelnya.. maaf tidak sesuai yang kalian inginkan
__ADS_1