
"Mami, sama papi seneng banget ... karena kalian sudah mau kembali bersama, dan kami harap kalian enggak akan melakukan sesuatu yang akan membuat kalian menyesal." terang Mami Tiara sambil memeluk Tania
"Iya Mi, Pi ... kita minta maaf ya, udah bikin kalian khawatir,"ungkap Gino.
"Iya, ribut hal yang sudah lumrah jika sudah berumah tangga, namun ... jangan pernah menganggap berpisah adalah jalan keluar yang terbaik, " peringat Husen a.k.a Papi.
Keduanya mengangguk.
"Kalau begitu Gino mau ajak Tania pulang kerumah, boleh ya?" tanya Gino berharap jawaban 'iya' yang dia dapat.
Kedua sejoli parubaya itu saling menatap kemudian menggeleng. Vano menunduk karena berfikir mertuanya serius tidak mengizinkan dia pulang bersama sang istri.
"Kenapa Mi, Pi? Tania sama Mas Gino udah baikan ko," kata Tania
Pipi Gino memerah karena malu mendengar Tania sudah berani memanggilnya dengan panggilan 'Mas' di depan orangtuanya.
"Mami bercanda sayang, tentu saja boleh ... kalau mau menginap dirumah ini boleh asal berdua jangan pulang sendiri-sendiri," Mami meledeki Tania
"Yaudah, kalau gitu kita pamit ya ?! Mi, Pi ...," kata Gino
Setelah bergantian mencium punggung tangan mereka. Lalu, Gino dengan Tania masuk kedalam mobil. Mereka meninggalkan Rumah orangtua Tania.
Di dalam perjalanan, Tania cukup heran mengapa jalan yang mereka tempuh bukan lah menuju rumah mereka.
"Kita akan kemana? Ini bukan jalan kerumah kita," kata Tania dengan alis bertaut.
"Kejutan pokoknya, " balas Gino
"Hn, apaan coba ?"
"Kalau di kasih tau, gagal kejutannya. Kamu ambil tuh kain di dasbord buat tutupin mata kamu dan jangan coba ngintip ya ?" peringat Gino
"Ko pake ginian? "
"Udah, kejutan Special pokoknya"
"Yaudah deh,"
**"
Tania berjalan dengan tangan meraba-raba kedepan, dan jalan nya juga kadang hampir membuat ia terjatuh namun ada Gino di sebelahnya membantunya berjalan.
"Udah sampe belom? " tanya Tania
"Udah, aku hitung sampe tiga baru boleh dibuka ya?" Peringat Gino sembari membuka kain yang menutupi kedua mata Tania.
1
2
3!
Mata Tania terbuka sempurna dan ia melihat didepannya sebuah Rumah besar, sepuluh kali lebih besar dari rumah besar milik Gino sebelumnya. Taman rumah yang bisa dibuat sebagai lapangan Golf, terhias indah dengan berbagai bunga dan tanaman penyejuk lainnya.
Rumah berlantai 4 menunggu untuk ia telusuri.
"R-rumah siapa ini? besar banget ...," ungkap Tania
Gino menggandeng tangannya lalu membawa Tania untuk berjalan menuju pintu utama
Gino menjentikkan jarinya maka pintu tersebut terbuka lebar dan berjejeran para maid yang siap untuk menyambut kedua suami-istri ini.
Tania menoleh pada Gino yang hanya menatapnya dengan senyuman. Tania merasa seperti di dunia dongeng saja, dirumah besar dan disambut oleh para maid yang patuh terhadap tuan rumahnya.
"Bagaimana bisa? Ini beneran rumah kita?" tanya Tania
"Iya, ini rumah baru kita ." Gino menarik pelan kedua bahu Acha agar menghadap padanya.
Lalu menggenggam kedua tangan Tania .
"Kita mulai semuanya dengan kisah baru, rumah baru dan serba baru ... kita lupakan kenangan buruk yang terjadi diantara kita, kita hidup dengan bahagia disini. Kamu suka?"
"Hn, tapi rumahnya besar kamarnya enggak cuma satu'kan?" ledek Tania
"Tetep satu, "
"Percuma dong, rumah besar ...,"
"Haha, enggak kok ... kamarnya mungkin sekitar 20, "
Tania hanya mengangguk mengerti.
"Minumannya Tuan, Nyonya ...?" tawar maid yang dari dapur.
"terimakasih," Tania mengambil minumannya.
"Kaya di hotel aja, tunjukan aku kamar kita dong" pinta Tania
"Kamu melupakan sesuatu, jadi saya malas memberi tau kamu ," Gino terlihat jengkel
__ADS_1
"Apa yang aku lupakan?" bingung Tania
"Coba minta dengan panggilan mu saat kamu memanggilku dirumah orangtua mu tadi," suruh Gino
Tania mengerti dan ia yang malu sekarang karena para maid masih berada di sekeliling mereka.
"Malu tau !"
"Yasudah, tidak usah ke kamar kita pulang kerumah lama saja," simpul Gino
Tania memeluk lengan Vano. "Jangan dong mas eh ," Tania menggigit kukuhnya karena malu
"Ulangi sekali lagi," suruh Gino.
" Mas Gino hn" panggil Tania.
Gino tersenyum lalu menggendong tubuh Tania. Tania ingin rasanya berteriak namun ia tidak ingin jadi bahan pembahasan para maid . Hingga Tania hanya menyembunyikan wajahnya didalam jas Gino.
Gino memasuki lift tentu saja Tania masih dalam gendongan. Tania Ingin turun tidak diizinkan oleh Gino.
Cting!
"Udah sampekan? Turunin aku, aku bisa jalan " kata Tania
"Jangan bawel bisa?" kata Gino
Keduanya sudah sampai dikamar. Gino kembali menjentik jarinya hingga pintu tertutup dan juga terkunci . Tania bisa mengaga heran dan juga kagum . Gino mendaratkan tubuh Tania di atas kasur lalu ia juga duduk di sebelah Tania.
"Gimana? suka kamar ini? atau kita cari kamar lain aja?" tanya Gino beruntun.
"Suka ko, suka banget malah ...!"
"Disana ada ruang belajar buat kamu, dilengkapi dengan perpustakaan juga, di sana ada lemari dan untuk tempat ganti baju jga, lalu disana ada balkon disebelahnya ada lift langsung turun menuju kolam renang dilantai dua. " Jelas Gino.
"semewah ini? " lirih Tania.
"Untuk menyenangkan istri mengapa tidak," kata Gino.
"Dilantai 4 diatas merupakan ruang berfasilitas untuk menyengarkan tubuh dan juga Fikiran, kalau kamu mau nge-gym tidak usah capek pergi segala karena dirumah kita sudah tersedia. Salon juga ada, atau SPA bgtu juga ada disini, semuanya saya rasa kebutuhan untuk seorang wanita lengkap ." Terang Gino.
"Ah ... aku enggak tau mau bilang apa, pokoknya aku seneng banget, makasih ya ? kamu mmeberikan aku rumah impian setiap istri deh, makasih Mas Gino ku," kata Tania lalu merentangkan kedua tangannya tentu di sambut baik oleh Gino ia membawa Tania kedalam pelukannya.
Cup!
Hanya di puncak kepalah.
"Iya tidak akan, dan Mas juga harus janji akan setia cuma sama aku aja, jangan genit sama cewe lain. Ingat itu ?!" Tania juga memperingatkan nya.
Gino mengelus rambutnya "Tidak akan pernah, hanya ada kamu didalam hatiku dan seluruh hidupku, " ungkap Gino.
***
Seharian penuh berada didalam rumah.
Tania menelusuri rumah mewahnya ini, Tania terkagum-kagum melihat isi dalam rumah nya. Apapun yang ia genggam berbahan emas. Tania fikir jika kekayaan suaminya sudah habis rumah ini adalah penyebabnya.
"Sayang, kamu ada dimana?" suara Gino dari kamar.
Gino menuju lift, sebelum itu ia bertemu dengan salah satu maid yang bekerja di lantai tiga.
"Kamu lihat istri saya tidak?" tanya Gino
"Oh, Nyonya tadi kelantai dua tuan."
"Oh, ya ... baiklah,"
Gino masuk kedalam lift tujuannya sudah pasti kelantai dua. Bukan perihal mudah baginya untuk menemukan istri walaupun dia sudah tau Tania ada di lantai dua, mengingat ukuran dan berbagai ruangan yang ada juga menyulitkan dirinya.
"Hai, kamu yang bertugas bagian cctv. Saya minta kamu beri tau saya dimana posisi Tania sekarang," perintah Gino dari telponnya.
Penjaga cctv segera mencari keberadaan Tania. Setelah mengetahui ia berbicara lagi ditelpon.
"Nyonya sedang di Paviliun tuan,"
"Oh, ya!"
_
"Kamu ngapain disini? Sendirian lagi," kata Gino
"Aku mau hapalin setiap ruangan yang ada disini, aku kan malu kalau misalnya enggak tau setiap isi dalam rumah sendiri," balas Tania
"Kenapa tidak mengajakku? aku bisa menunjukkan kepadamu, apa saja yang ada dirumah kita," rutuk Gino.
"Aku lihat kamu keasikan tidur jadi aku tidak mau mengganggumu," kata Tania.
"Hn" Gino mendehem pelan.
Lalu Gino mengayunkan ayunan yang ada Tania nya.
__ADS_1
"Kau bahagia?" tanya Gino
"Sangat bahagia," kata Tania
"Aku juga lebih bahagia, kita sarapan pagi ya?" tawar Gino.
"Emang udah ada makanan nya?"
"Untuk apa ku pekerjakan 40 maid dirumah ini, kalau mereka tidak becus bekerja."
"Oh ,hehe"
"Ayo!"
Gino mengulurkan tangan untuk Tania. Tania menyambutnya hangat lalu mereka berjalan bersama ke ruang makan.
***
"Aku tidak tau cara mengisi soal ini, sangat sulit" keluh Tania
"Yang mana? belum juga berusaha udah menyerah, gimana si," sindir Gino alu mmebaca soal yang ada dibuku Tania
"Gampang ini, usaha dulu liat catatan terus baru lihat soalnya. Pasti ada yang kamu ingat kok, dan bisa pasti bisa!" dukung Gino
"Otakku udah penuh sama pelajaran yang begitu banyak, aku enggak ngerti deh kenapa dosen suka menyiksa muridnya "
"Gimana bisa ngerjain kalau kamu mengeluh terus, kalau kamu benar satu saja ngerjain soal ini tanpa mengeluh saya ajak kamu jalan-jalan hari ini, mau tidak?"
"Kemana?"
"Kemana saja"
"Beneran?"
"Iya bener!"
Tania kembali membuka bukunya dan mulai konsentrasi untuk belajar dan dibimbing oleh Gino selaku suami juga dosen nya dikampus.
PERINGATAN 🔞⚠️⚠️
Belum cukup umur jangan dibaca bagian ini!
***
"Huh, fikiran dan tanganku pegal huhu," rengek Tania karena sudah banyak soal yang ia kerjakan.
"Oh kasian nya," Gino mengacak rambut Tania sekilas kemudian meraih tangannya lalu mengelus nya lembut. Sesekali meniupnya.
"Emang nya kelilipan pakai ditiupin, huh"
Gino memperlihatkan cengiran khasnya.
"Sudah cukup belajarnya , ini makan ice creamnya dulu. " Gino memberikan ice freak itu.
"Wah, aku suka banget rasa strawberry, makasih ya ?" Tania menerimanya dan mulai melahap ice cream tersebut.
Gino hanya memerhatikan Tania yang begitu menikmati strowbery itu. Hingga habis, karena memang enak dan begitu menyengarkan tenggoran Tania sampai ******* stik ice cream itu. Membuat Gino otaknya kemana-mana
"Tania , jangan digituin dong ... nanti ada yang bangun lho, siang hari begini lagi."
"Apanya? "
Gino berkode mata sambil melirik bawahannya. "Bangun,"
"Terus?"
"Minta servis dong,"
"Aku rasa setelah kejadian semalam kamu jadi mesum gini, tidurin aja sendiri."
"Kamu suruh suami kamu bermain solo? enak aja, punya istri juga ... !" Gino menngerling nakal.
Ia mengendong Tania. Dan menhempaskannya diatas kingsize.
"Mas Gino, jangan ih ... masih siang bolong kaya gini juga, " protes Tania
"Emangnya saya perduli, kamu juga pasti menikmatinya. Kita juga harus sering melakukannya untuk kesehatan,"
"Kesehatan apa?"
Gino menindihnya. Meraih rahang Tania lalu mulai mengecup bagian yang terjangkau bibirnya.
"Kesehatan apa dulu, ih ... geli tau gak!"
Gino tidak menggubrisnya ia membekap bibir Tania dengan bibirnya. Memangutnya lembut, dan membuat Tania terbuai.
Hingga persatuan itu terjadi lagi dikamar ini.
Bersambung
__ADS_1