
Kaki jenjang Ara berjalan menyusuri jalan yang sangat gelap, lama sudah Ara berjalan di kegelapan dari kejauhan dia melihat secercah cahaya biru yang sangat menyilaukan mata. Perlahan demi perlahan langkahnya semakin cepat, berlari menuju cahaya itu hingga benar-benar keluar dari kegelapan.
"Indah sekali warna bulan itu, pasti saat ini sedang terjadi bulan purnama," decak kagum Muthia kala melihat bulan biru dari jendela.
"Oh iya, ini di mana?" gumam Ara bingung setelah menyadari dirinya saat ini sedang berada di dalam sebuah ruangan yang sangat asing baginya.
"Mas, bagaimana dengan keadaan putri-putri kita? Di mana mereka, mas?" Dengan spontan Ara membalikkan badannya melihat ke arah sumber suara yang sangat dikenalnya.
Matanya membelalak kaget kala melihat mamanya yang sedang tidur di bangsal rumah sakit dengan sangat lemas di temani papahnya.
"Papah? Mama?" gumam Ara bingung bercampur kaget.
Ara menghampiri keduanya dengan perasaan campur aduk, dia menatap keduanya dengan tatapan sayup. Mama dan papa mengobrol tanpa menyadari kehadiran Ara membuat wanita itu kebingungan.
"Ma, pah, ini Ara . Kenapa tangan gue gak bisa menyentuh mereka? Apa hiks apa gue sudah mat-."
"Kamu belum mati cucuku." Secara tiba-tiba terdengar suara seseorang yang sudah tidak asing lagi di pendengaran Ara.
Ara yang menangis karena panik dengan cepat berbalik dan melihat seorang kakek yang dulu pernah ditolongnya.
"Kakek?" gumam Ara sambil menyeka air matanya.
Dengan bingung Ara mendekati kakek misterius itu yang sedang tersenyum kecil ke arahnya.
"Apa maksud kakek dengan bilang kalau saya belum? Jika saya belum meninggal kenapa saya tidak bisa menyentuh mereka? Dan tadi kakek bilang apa? Cucuku? Apa maksud semua ini saya tidak mengerti sama sekali?" Ara bertanya dengan sedikit marah bercampur bingung.
Kakek misterius itu tersenyum kecil mendengar pertanyaan Ara , dia membalikkan badannya berniat masuk ke dalam lubang hitam yang entah sejak kapan muncul membuat Ara semakin penasaran.
"Tunggu! Kakek mau ke mana? Jawab dulu pertanyaan saya!" decak Ara kesal membuat langkah kakek itu terhenti.
"Bani, itu nama kakek. Kakek akan menceritakan semuanya jika kamu ikut bersama kakek." Setelah berkata seperti itu, kakek misterius yang mengaku bernama Bani tersebut melanjutkan langkahnya masuk ke lubang hitam.
"Tapi ...." Ara bergumam bingung sambil menatap lubang hitam dan kedua orang tuanya berulang kali.
Cukup lama dia menatap mamanya yang sedang memeluk kedua putri-putranya yang baru lahir, senyumnya mengembang sambil menyeka air matanya.
"Ara pergi sebentar ya, ma?" pamit Ara lalu menyusul kakek Bani masuk ke lubang hitam, lubang hitam itu menghilang tanpa jejak setelah Ara masuk ke dalamnya.
***
Matanya perlahan terbuka kala terbangun dari tidur nyenyak nya, Ara merubah posisinya menjadi duduk dan meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Keningnya mengernyitkan kala melihat Reno tidak ada di sampingnya.
"Ya ampun, sudah jam 6? Pasti mereka sudah menunggu di bawah, gue harus cepat-cepat mandi nih," pikir Ara dan cepat masuk ke dalam kamar mandi.
ðĶĒðĶĒðĶĒðĶĒðĶĒ
Suara bising-bising dari para tetangga, membangunkan kedua insan yang sedari tadi tertidur dengan nyenyak. Ara sedikit melenguh, dengan mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya yang menyapu wajahnya.
"Sudah bangun?"
Pertanyaan macam apa itu Reno ? Jelas-jelas Bapak lihat sendiri, kalau Ara sudah bangaun .....
"Hmm," dehem Ara sebagai jawaban.
"Lepas dulu Mas, Ara mau bangun!" ketus Ara, karena Reno tak kunjung melepas tangannya dari pinggangnya.
"Sebentar dulu," gumam Reno
"Saya mau bangun, Pak!" tukas Ara dengan bada datar, bahkan sekarang dia menggunakan kata 'pak'.
Tetap saja, Reno hanya menggeleng. Malah semakin mengeratkan pelukannya, dengan mata terpejam. 'Huh, sabar Ra... Jangan emosi,' batin Ara menguatkan dirinya.
Reno belum melepaskan lilitan tangannya dari pinggang Ara , Ara sendiri hanya bisa pasrah. Tidak ada gunanya dia melawan, pasti Reno tetap keukeh dengan pendiriannya.
"Udah lepas, Mas. Ara mau bangun, enggak enak sama mbok Mina," ucap Ara dengan alasan.
"Saya bingung dan takut, Ra," gumam Reno , sontak saja Ara menghentikan aksi melepas pelukan Reno .
Reno sendiri beralih menatap wajah Ara , "Bagaimana kalau dia datang, dengan tujuan merusak pernikahan kita?" Ara terdiam, masih bingung apa yang di bicarakan oleh suaminya. Siapa orang di maksud, akan datang merusak rumah tangga mereka? Apa perempuan di resto itu? Siapa sebenarnya perempuan itu? Lagi-lagi banyak pertanyaan, berkecamuk dalam benak Ara.
"Dia itu selalu di penuhi ambisi, akan menjadikan sesuatu yang dia incar jadi kenyataan. Dia tidak akan berhenti jika, dia belum mendapatkan apa yang dia inginkan," ucap Reno Lagi-lagi itu terasa seperti teka-teki yang sulit bagi Ara memecahkannya, walau sudah berpikir keras.
"Dia? Dia siapa? Apa perempuan di restorant tadi?" tanya Ara lirih, tapi masih bisa di dengar Reno.
"Hmm, kamu pergi cuci muka dulu. Nanti Mas cerita," ucap Reno dengan menarik hidung Ara.
"Tuhkan, selalu aja di gantungin!" rajuk Ara bangun dari tidurnya, dan berjalan ke kamar mandi. Sedangkan Reno tersenyum kecil, tapi seketika senyum itu hilang saat, wajah itu muncul lagi dipikirannya.
'Kuharap kau datang, bukan dengan maksud yang seperti di pikiranku,' batin Reno.
ð ð ð ð ð
Sekarang mereka sedang berada di dekat kolam ikan. Tepatnya, di samping rumah atau taman samping rumah.
__ADS_1
"Bisa jelasin sekarang, gak?" desak Ara dengan menggoyangkan lengan pak Revano.
Dengan menghembuskan nafas kasar, Reno menceritakan awal ketemunya dengan perempuan di resto itu.
Flashback On
Beberapa jam yang lalu, di restorant itu ....
Setelah Ara izin ke toilet, sekitar satu menitan. Meeting mereka selesai, dan teman meeting Reno pamit pulang. Di saat itu, Reno menelpon pak Doni untuk datang mengambil mobil Ara . Karena rencananya, dia juga akan pulang ke rumah. Jadi dia memilih, Ara pulang dengannya saja.
Disaat sedang memeriksa file-file di labtopnya, Reno di kagetkan dengan kedatangan seseorang yang memanggilnya. Bukan apa-apa yang membuatnya kaget, karena orang itu ada lah masa lalunya. Yang sudah berusaha dia lupakan, ya awalnya memang tidak langsung dia kenali. Karena dari bentuk wajahnya sudah berubah, tapi setelah memperkenalkan diri, baru Reno mengenalinya.
Seketika itu juga, wajah Reno berubah pias. Lebih tepatnya, sedang menahan dirinya untuk bersikap biasa saja. Tapi apa daya .....
"Aku sudah cari kamu kemana-mana, ternyata kita ketemu di sini. Aku, aku mau bicara sebentar sama kamu. Boleh?"
"Mau bicara apa? Saya tidak ada waktu!"
"Ren, aku -aku masih s -sayang, aku enggak bisa lupain kamu, Ren ."
Seketika wajah yang tadinya biasa-biasa saja, berubah menjadi datar atau lebih tepatnya sedang menahan amarah. "Sayang? Enggak bisa lupain? Haha." Reno tertawa sinis, dengan wajah dinginnya.
"Anda pikir, saya peduli? Kemana Anda selama ini? Oh, sudah mau melupakan, tapi tidak bisa. Jadi Anda kembali lagi kesini?! Maaf, saya tidak bisa lama-lama. Saya masih banyak urusan!" ucap dingin Reno , perempuan itu ingin berkata lagi. Tapi terurung, saat Ara datang.
Flasback End
"Mas harap, kamu tidak salah paham dengan cerita Mas barusan," ucap Reno dengan menangkup pipi Ara.
Ara diam, mau menggeleng atau pun mengangguk tidak bisa. Kepalanya tidak bisa di gerak 'kan, karena tangan Reno yang menangkup wajahnya.
"Den ada telepon, dari ibu," ucap mbok Mina, datang dan menyerahkan ponselnya ke Reno.
"Oh, iya."
"Saya masuk dulu Den, Non," pamit mbok Mina, mereka berdua hanya mengangguk.
Telepon di angkat, Reno . Oh bukan, lebih tepatnya 'vidio call' dari mama Dewi . "Hal â."
"Kamu kemana aja sih? Mama telepon enggak di angkat, menantu Mama juga enggak ngangkat! Kamu enggak ngapa-ngapain, mantu Mama kan Ren ?!"
Allahu akbar, hampir saja jantung mereka berdua lompat dari tempatnya. Baru di angkat, suara mama Dewi sudah melengking di pendengaran mereka.
"Ya Allah Ma, bisa santai dikit kali bicaranya. Mantu Mama oke kok, enggak Ren apa-apain. Hp Reno ketinggalan di kamar, kalau hp Ara â."
"Ada nih, aman kan?" Reno mengarahkan kamera ke arah Ara.
"Mantu Mama. Mama kangen lho," ucap mama Dewi.
"Baru aja ketemu kemarin dulu," gumam Reno yang merasa tak di anggap sebagai anak.
"Ara juga kangen mah ," balas Ara dengan tersenyum.
"Kesini lagi dong, Mama kangen nih. Sepi di rumah," ucap mama Dewi lagi.
"Besok Ara main ke sana, sekalian belajar bikin kue lagi," ujar Ara di sertai kekehannya.
"Mama tunggu ya Ara . Ren , kamu di mana?"
"Di sini, enggak hilang kok," celetuk Reno , mama Dewi berdecak.
"Ada yang mau Mama, bicarakan sama kamu," ucap mama Dewi berubah serius, dengan menatap Ara dan Reno silih berganti.
"Apa?"
"Hemm, soal mantan kamu itu." Reno menghebuskan nafas, dengan mengangguk 'kan kepalanya. "Dia kenapa?" tanyanya lagi.
Mama Dewi memperhatikan wajah anaknya, seksama dan beralih menatap menantunya. "Kamu sudah tau?" tanya mama Dewi kepada anaknya.
"Hmm, tadi Reno tidak sengaja ketemu."
"Mantu Mama, juga tau?" tanya mama Dewi kepada, keduanya, yang hanya di 'iya-kan' Reno dan Ara .
"Tadi dia datang ke rumah, nyari kamu. Ya Mama bilang, kamu tidak tinggal di sini," ucap mama Dewi.
"Mama bilang kalau aku udah, nikah? Dan pindah kesini?"
"Enggak, Mama takut kalau sampai dia ngelakuin sesuatu di luar nalar kita," kata mama Dewi.
"Baguslah, ya walau suatu saat pasti tetap akan dia tau," ujar Reno.
"Kamu tidak mengharap, sama dia lagi kan Nak?" tanya mama Dewi hati-hati.
Reno tersenyum, senyum yang sangat jarang dia tampak 'kan pada siapa'pun. Bahkan pada orang tuanya. "Mama tidak usah khawatir, Reno tidak akan kembali lagi dengan dia. Karena Reno sudah mempunyai ... Ara ," ucap Reno dengan merangkul bahu Ara disertai senyuman manisnya.
__ADS_1
Manis eui ... madu pun kalah.
"Ya udah deh, Mama matiin. Ingat! Jangan sakitin mantu Mama!" ancam mama Dewi di balas anggukan oleh Reno.
Panggilan di akhiri, Reno menghembuskan nafas pelan. Ya mudah-mudahan, Anis tidak akan melakukan hal-hal yang akan merugikan dirinya maupun orang lain.
ðððð
Pagi hari tiba, seperti biasa. Hari ini, Ara ada jadwal mata kuliah. Sebenarnya sangat malas rasanya ke kampus, tapi apa daya tinggal serumah dengan seorang dosen. Mau tidak mau, Ara harus setiap saat selalu siap ke kampus saat ada mata kuliah.
"Pak Gino, masih lama gak masuknya?" tanya Tania, dengan melihat-lihat jam tangannya.
"Kenapa emang? Kangen?" goda Ara dengan kekehannya.
"Enggak lah, cuma udah bosan gue nunggu. Enggak datang-datang juga."
"Emang belum masuk jamnya, masih ada lima menit lah," tambah Risa melanjutkan bermain gamenya, tapi bukan game online pasti.
"Lo udah lihat drama barunya Song Jong Ki, gak?" tanya Ara dengan memperlihatkan layar ponselnya.
"Udah, yang 'vincenzo' kan?" tanya Risa , dengan meletak 'kan ponselnya di meja.
"Iya, masih satu episode sih yang keluar," ujar Ara.
"Lo Tan?" tanya Ara dan Risa bersamaan, Tania cuma mengangguk mengiyakan.
"Ganteng banget sih, aura-aura 'durennya' semakin terpancar," ucap Ara lagi.
"Inget laki woy!" seru Tania dan Risa , Ara cuma cengengesan.
Seperti perkataan Risa tadi, setelah menunggu lima menitan atau sedikit lebih. Pak Gino sudah memasuki kelas, dengan aura killer nya yang sangat terasa.
Setelah kelas selesai, para mahasiswa/i berhamburan keluar dengan tujuan yang berbeda-beda. Ada yang ke ke temannya di kelas lain, pergi pacaran, atau lain-lain. Tapi yang paling banyak, ke kantin untuk mengisi perut.
Beda halnya dengan ketiga sahabat itu, karena jam mata kuliah mereka sudah habis. Mereka pergi makannya, di cafe samping kampus. Itu juga karena paksaan dari Tania, yang katanya mau makan di cafe itu saja.
"Lo minumnya copi latte mulu perasaan Tan, eggak ada yang lain apa," sewot Risa yang setiap saatampir ke cafe, pasti Tania akan selalu memesan copi latte.
"Yang lain sih banyak, tapi udah kepentok sama latte ini. Eh, ngomong-ngomong ... hubungan lo sama pak Reno gimana? Udah mulai tumbuh cinta gak?" goda Tania ke Ara.
"Ah iya, gimana? Pak Reno masih dingin sama lo? Atau emang pak Reno orangnya, dingin?" tanya berurutan Risa , dengan senyuman jahilnya.
"K e p o!" ucap Ara , dengan mengeja kalimatnya.
"Ish, enggak asik lo Ra! " seru mereka berdua, Ara sendiri cuma cekikikan.
"Emm gimana ya? Pak Reno itu aslinya enggak sedingin di kampus atau saat ketemu orang baru, cuma ya memang ... agak dingin tambah datar. Selebihnya, masuk ke dalam kategori suami idaman gue lah," ucap Ara dengan membayangkan momen-momen yang lucu, atau yang sangat menguras kesabarannya, karena ulah pak Reno.
"Cie, keknya udah mulai tumbuh benih-benih cinta nih," goda Risa.
"Iya, dan kayaknya bentar lagi bakal ada ponakan juga nih," goda Tania juga.
"Ponakan, pale lo!" ketus Ara dengan mencebik.
"Ya enggak apa-apa dong, emang harusnya kan gitu. Buruan ngasih hak pak Reno sebagai suami Ra , entar pak Reno car __, bego sakit!" jerit Tania saat kakinya, di injak tanpa perasaan oleh Risa.
"Lo yang bego! Jangan bicara gitu sih, lihat noh. Temen lo jadi cemberutkan!" omel Risa dengan menunjuk wajah Ara yang sedikit di tekuk.
"Hehe, sorry Ra Jangan di tekuk gitu dong mukanya, entar kita di marahin sama bapak dosen," ucap Tania cengengesan tak jelas.
"Ya udah, balik ke kampus yuk," ajak Risa mereka berdua cuma mengangguk.
Bruk!
Saat berjalan ke luar cafe, tidak sengaja Tania menabrak, atau tepatnya mereka saling menabrak. Lagi-lagi yang membuat Ara terkejut, orang itu adalah masa lalu suaminya. Anis, ya dia orangnya.
"Eh, maaf," ucap Tania.
"Kamu yang kemarin sama Reno , kan?" bukannya minta maaf juga, Anis malah menunjuk ke arah Ara
"Iya," balas datar Ara.
"Kebetulan kita ketemu di sini, kamu itu siapanya Reno ? Kenapa kalian seperti sangat dekat?" tanya Anis lagi, Ara cuma menatap datar Anis tanpa menjawab pertanyaannya. Sedangkan Tania dan Risa, cuma tinggal menyimak.
"Saya nanya! Kamu siapanya Reno ?!"
"Emang penting?" tanya balik Ara dengan santainya.
"Anak ini! Ya jelas itu penting! Saya peringati, jangan coba-coba dekat-dekat dengan Reno Karena dia itu milik, saya!"
Ara tersenyum manis, sangat manis. "Milik Mbak ya? Hem, mungkin ... andaikan Anda tidak pergi meninggalkan mas Reno ..." Ara menggantung ucapannya, dengan menekan kata 'mas Reno . "Mungkin, cuma mungkin ya. Mungkin mas Reno masih milik Mbak! Tapi sekarang ... hmm, sepertinya bukan lagi," ucap Ara di sertai senyuman sinis nya, dan berlalu pergi di ikuti Risa dan Tania. Meninggalkan Anis yang diam mematung, disertai wajah marah yang terlihat jelas di wajahnya.
Sorry for typo. ð
__ADS_1