
Sesampainya di rumah mereka (pak Revano dan Reya). Nenek langsung memeluk cucunya. Jangan tanya 'kenapa mereka bisa ada di sini?' Karena, tadi abang Hendra menelpon neneknya biar menunggu mereka di rumah menantunya saja. Jadi, nenek , mama Dewi , Risa juga Tania kesini.
"Kamu tidak apa-apa kan sayang? Baik-baik aja kan? Tidak ada yang luka kan? Ini, kamu di tampar? Ya ampun, benar-benar tuh cucunya! Beraninya melukai cucunya , tuh pipi kamu memar cu ," cerocos nenek dengan berbagai pertanyaan.
"Nenek , Ara nggak apa-apa," ucap abang Hendra menepuk pundak nenek nya.
"Enggak apa-apa abang bilang? Lihat ini, ini! Ya ampun, sakit kan nak ? Kita aja enggak mau giniin anak kita Yah, terus dia berani-beraninya nampar cucu kita!" omelnya lagi.
Abang Hendra geleng-geleng kepala. "Ara memang nggak apa-apa kok, nek " ucap Ara.
"Kamu ini sama saja, lebam gini di bilang enggak apa-apa."
"Ar !" teriak dua crocodil, lalu berhamburan memeluk Ara .
"Ara , lo enggak kenapa-napa kan? Lo masih oke kan?" tanya Risa tak kalah hobohnya seperti nenek .
"Oke-oke," jawab Ara malas.
"Hiks, gue kira lo pulang bakal sobek-sobek. Hiks, syukurlah kalau lo baik-baik aja," tangis buaya Tania.
"Elli. Stroberi mangga wafer, sorry enggak baper! Enggak baper gue sama air mata jadi-jadian lo!" ucap Ara pedas.
"Kampret lo Ra ! Orang serius juga," ucap Tania menoyor kepala Ara
"Ya, percaya deh," ucap Ara.
"Mantu Mama enggak apa-apa kan? Mana yang sakit? Itu pipinya ... aduh, sakit pasti. Eh, Ren ! Ambilin P3K, cepat!" tambah mama Dewi.
Para lelaki menggeleng kepala, 'kenapa para perempuan apa-apa di hebohkan?' batin para laki-laki itu menjerit.
"Lamunin apa?! Cepat Ren !"
"Iya- iya," ucap Reno dan langsung berjalan ke arah tempar kotak P3K berada.
"Nih." Reno menyerahkan kotak P3K.
"Duduk sini, sayang." Nenek dan mama Dewi menarik Ara untuk duduk di hadapan mereka, Ara. sendiri hanya pasrah.
"Auh, pelan-pelan Nek ," ucap Ara meringis.
"Pelan-pelan, San," ucap mama Dewi. (San\=Besan).
"Enggak bisa gue bayangin, gimana perihnya luka si berengs*k itu," celetuk Marvel dengan tampang meringis.
"Lukanya Aldi gimana emang?" tanya Tania.
"Mau tau?" Risa dan Tania mengangguk.
"Sering lihat kan, di film action-action yang bonyak mukanya?" Dan mereka mengangguk lagi.
"Nah, kurang lebih kayak gitu," ucap Marvel . Risa dan Tania sama-sama berpikir sejenak, dan langsung merinding.
"Kalian yang bonyokin?" tanya mama Dewi setelah selesai mengobati luka di pipi Ara .
"Beis, bukan Marvel Mam yang bonyokin. Ini nih, yang bonyokin," tunjuk Mt ke Reno.
"Lha, lo juga ikutan kali Bang!" ucap Ara.
"Lho-lho, gue cuma bagian perut. Reno yang bonyokin mukanya. Andaikan enggak di tegur 'ayah sama papa', sudah mampus anak orang di bu ..., aduh!"
"Intropeksi diri Vel , lo juga sama," ucap pak Gino, yang datang entah dari mana, langsung menarik rambut Marvel .
"Gini Mam, Nek . Mereka berdua mukulnya membabi buta banget, sampai-sampai anak orang hampir kehabisan nafas sama tenaga," adu pak Gino.
"Kamu enggak ikutan kan?" tanya Nenek.
"Enggak, Gino sih masih punya kesadaran diri. Awalnya sih Gino mau ikutan, tapi lihat Vano udah marah banget, jadi mundur. Takut kena pukul juga, aku Nek . Marvel saja hampir kena bogem—."
"Udah, enggak usah di terusin. Bikin malu, Gin. Sumpah," ucap Marvel memotong ucapan pak Gino.
"Serius Bang? Haha," tawa Ara.
"Ketawain aja Abang, Dek. Haruanya lo marah sama laki lo noh, gara-gara dia. Muka Abang yang ganteng ini, hampir benjol!" kesal Marvel.
"Ganteng dari mana!" cibir Reno, pak Gino, dan Ara bersamaan
"Enggak ngakuin kegantengan gue? Kata orang, gue mirip dengan ayah. Jadi kalau kalian enggak ngakuin kegantengan Marvel , berarti kalian enggak ngakuin kegantengan ayah juga dong? Bha, jahat banget mereka, Yah," oceh Marvel dengan merangkul pundak abang Hendra.
"Abang Hendra sama Abang, beda kali," ucap Hendra.
"Bwahaha, enggak di akuin. Gimana rasanya? Kayak nano-nano gak?" ledek pak Gino dengan tertawa puas.
"Au, dimana-mana gue selalu teraniyaya," ucap Marvel lebay.
"Eh, jadi Aldi di mana sekarang?" tanya Tania.
"Iya, dimana?" tambah Nenek.
"Sudah ada di 'sel', keluarga pelaku sama keluarga korban di minta berkumpul di 'Mahkamah Agung' hari senin, besok. Biar di proses lebih cepat, dan biar di ketahui ... keluarga korban menuntut apa," jelas pak Gino kembali ke mode dosennya.
"Jadi gimana, Yah? Ren ?" tanya Nenek .
"Kita lihat besok, apa anak itu menyesal? Atau tidak. Penuntutan terlalu kejam, ya walaupun apa yang dia lalukan jauh lebih kejam. Jadi terserah dari 'Hakim, menjatuhkan hukuman apa. Itu pendapat abang ya, kalau Reno bagaimana?"
" Reno ikut saja apa kata abang Hendra , walaupun kita tidak menuntut apa-apa, Hakim pasti tetap menjatuhkan hukuman yang setimpal," ucap Reno .
"Jadi besok, enggak kuliah dong?" tanya Ara.
__ADS_1
"Tanya ama laki lo aja noh, dia kan suami lo ," ucap Marvel.
"Enggak usah Dek, lagian kita perginya jam-jam sembilan kayaknya," ucap pak Gino.
"Yah, sepi dong enggak ada lo Ra " ucap Tania mengeluh.
"Masih ada gue, yang setia," ucap Risa.
"Setia ngebully, emang."
"Itu emang kerjaan gue."
"Ck, menyengsarakan teman sendiri. Enggak asik."
"Jaga mata Bang, entar lompat," celetuk Ara tanpa dosanya.
Marvel salting, dan melirik kesana-kesini. 'Dasar adek kampret lo Ara bukannya keluarin abangnya dari masalah. Malah makin ngedorong ke lubang masalah,' omel Marvel dalam hati, dengan pandangan tajam ke arah Ara
"Kayaknya ada yang lagi ekhem," ledek pak Gino.
"Maju terus Kak, jangan sampai keburu di ambil orang," tambah Tania dengan kedipan mata jail ke arah Risa.
"Kayaknya cucu nenek lagi jatuh cinta tuh," tambah Hendra meledek.
"Maju Bang, dari pada di tikung sebelum jadian? Sakit atuh Bang," ledek Ara lagi.
Risa yang memang sempat menangkap Marvel yang menatapnya, jadi tersipu malu. "Eh, Mbak Risa kenapa seperti malu-ma ...., Risa sakit, ogeb!" sentak Tania saat tangannya di cubit oleh Risa.
"Yasudah, langsung nikah aja gimana?" usul nenek , membuat orang-orang tertawa, kecuali kedua orang yang di ledek dan juga Reno , si kutub Afrika.
"Setuju nenek dari pada pacaran? Kan enggak bagus, langsung nikah aja. Langsung halal gitu," godo Tania.
"Anak kecil, belum boleh ngomong gitu," ucap Marvel mengalihkan ke 'saltingannya.
"Anak kecil apaan? Saya udah besar loh, Kak. Kalau Kakak bilang saya anak kecil, berarti Dina juga anak kecil dong?" tanya Tania dengan tampang polosnya.
"Setuju," sahut Ara dengan senyuman manisnya.
"Huft, ngomong sama anak kecil enggak ada habisnya," gerutu Marvel
"Ya udah, ngapain juga mau sama anak kecil macam kita?"
"Shut! Gara-gara sibuk berantem, sampai enggak nyadar kalau dari tadi si tuan rumah cuma berdiri," ucap pak Gino.
Orang-orang melirik ke arah Reno , yang memang masih stay berdiri di belakang Ara, dengan tangan yang dimasuk 'kan ke saku. Juga dengan muka datarnya.
"Jadi bodyguard, ei," ledek Marvel.
"Masalah?" balas pak Revano datar. Marvel mencebik, dengan di ikuti kekehan pak Gino.
Bukan di pipi yak, karna pipinya Ara ken lebam ....
"Hati-hati, kapan-kapan Ara main kesana," balas Ara dengan menyalimi mertuanya.
"Kita pulang dulu ya San, main kerumah lha kapan-kapan."
"Haha, kalau ada waktu senggang. Pasti kesana, bosan juga di rumah terus," ucap nenek
"Ya sudah, Mama pulang Ren . Ingat, jagain istri kamu! Kalau seperti ini terjadi lagi, siap-siap kamu Mama kuliti!" ancam Dewi , Reno cuma mengangguk. Ngeri juga ngebayangin nya, anak sendiri di kuliti.
"Mama pulang ya, Tania, Risa , Gino, Marvel Main-main kerumah lho nanti."
"Siap Mam," ucap mereka serempak.
Setelak kepergian orang tua Reno , di susul orang tua Ara yang pulang juga. Tinggal, ke empat orang itu yang tinggal.
Risa , Tania dan Ara sedang nonton film Korea yang bergendre action. Sedangkan ketiga laki-laki itu, sedang membahas masalah bisnis-bisnis.
"Kita pulang juga ya Ra udah di telpon my mommy gue," ucap Tania di angguki Risa.
"Ya udah, hati-hati." Ara mengantar mereka sampai depan pintu, setelah mobil Tania dan Risa sudah meninggalkan pekarangan rumah.Ara beranjak masuk ke dalam kembali, menghampiri ketiga ketiga laki-laki itu.
"Mereka berdua dimana?" tanya Marvel .
"Udah pulang," jawab Ara singkat.
"Terus muka kamu kenapa di tekuk, gitu?" tanya pak Gino juga.
"Kenapa? Enggak kok, cuma lagi ngantuk aja," jawab Ara dengan menguap.
"Ya tidur kalau ngantuk, Dek. Mau di temanin tidur emang, sama si 'onoh?"
"Dih, sotoy lo Bang!"
"Ye nyantai, ini kita udah mau pulang kok. Silahkan di temanin tidur istrinya Ren ."
"Lama-lama lo makin ngeselin tau, Bang!"
"Bisa enggak, kalau ketemu enggak usah berantem?!" dingin pak Gino.
"Bang Marvel yang ngselin, deluan!"
"Lo juga kenapa ngeladenin gue?"
"Au, Abang ngselin!" Ara meninggalkan mereka bertiga, yang sedang menatapnya bingung.
"Adek gue kenapa?" tanya Marvel dengan polosnya.
__ADS_1
"Idik gue kinipi? Lo juga enggak mau ngalah sama adek sendiri! Udah ah, gue cabut. Assalamualaikum!" Pak Gino lantas keluar menuju mobilnya.
"Itu anak juga kenapa?"
"Ren .... Lha, kena tinggal sendiri gue," gerutu Marvel . Pasalnya Reno sudah berjalan ke arah tangga, meninggalkan Marvel yang mengoceh sendiri.
"Kasihan nasib hambamu ini ya Allah," gumam Marvel , dengan langkah gontai berjalan keluar rumah.
"Mbok, Marvel pulang!" teriak Ma dari luar, juga di balas teriakan mbok Mina.
🐤🐤🐤🐤🐤🐤
Sedangkan di kamar, Reya berbaring setelah selesai membersihkan dirinya. Dengan cermin kecil di tangannya, yang di pakai melihat bekas tamparan di wajahnya.
"Gila sih, keras banget tamparannya. Keyaknya itu orang perlu, di ajarin tata krama sama perempuan," ucap Ara berbicara sendiri.
"Untung gue enggak jadi di apa-apain, ih ngeri sih bayanginnya kalau bener tuh orang ngelakuin hal gila itu sama gue."
"Hal gila apa?!" tanya Reno dengan nada dinginnya, yang secara tiba-tiba datang di balik pintu.
"Ha? Ha -hal apa? Salah dengar kali," elak Ara dengan menarik selimut menutupi wajahnya.
"Hal gila apa?" tanyanya lagi, dengan menarik paksa selimut yang menutupi wajah Ara .
"Bukan apa-apa," ucap Ara dengan memalingkan wajahnya.
"Saya tanya lho Ara !"
"Itu cuma soal di cekik itu, iya cuma hal itu," ucap Ara dengan membalik 'kan badannya.
"Jangan bohong!"
"Eng -enggak bohong, udah ih. Sana mandi, Mas bau tau."
"Saya nanya Ara , jangan mengalihkan pembicaraan!"
"Beneran, c -cuma itu. Jangan dekat-dekat, bau ih!" Ara masih keukeh tak mau memberi tahu, sedangkan Reno semakin mendekatkan dirinya ke arah reya.
"Iya-iya Ara kasih tau, tapi jauh-jauh!" Reno menggeleng, dengan menumpukan kedua tangannya ke kasur. Di atas Ara.
"Aldi mau gituin saya tadi, tapi enggak terjadi karna udah lebih dulu Ara lepasin ikatan tangan, yang Aldi ikat," jelas Ara , walau dengan susah nada sedikit gugup.
"Ngelakuin hal bej*t, seperti yang pernah dia lakuin sama perempuan itu?" tanya Reno dengan sorot mata gajam. Ara mengangguk, lemas. Antara sedih karena hampir saja dia kehilangan mahkota berharganya, dan juga takut dengan tatapan tajam suaminya.
"Mas marah? Maaf, tapi Aldi enggak nyentuh Ara kok," lirih Ara dengan menduduk 'kan dirinya.
"Maaf, saya terlambat datang."
Bagai di kena lemparan sendal, Ara mendadak jadi orang bodoh. Dengan jantung yang berdebar, juga mata yang mengerjap beberapa kali. Reno sudah memeluk tubuhya, dengan melontarkan kata 'maaf'.
"Kalau saya tidak lalai menjaga kamu, mungkin ini tidak akan terjadi," ucapnya.
Ara kembali ke alam sadarnya, bukan alam bawah tanah ya. "Ara udah bilang kan tadi, kalau ini bukan salah siapa-siapa! Ara juga enggak di apa-apain sama dia," ucap Ara perlahan membalas pelukan suaminya.
Dari pada di kacangin pelukannya ....
"Saya memang salah Ra, andaikan terjadi sesuatu —."
"Enggak ada yang salah! Jangan salahin diri sendiri Mas! Kemana Reno yang pantang minta maaf, walau jelas-jelas kesalahannya terpampang nyata?" sindir Ara untuk mencairkan suasana.
Reno menarik hidung Ara , "Suka banget ngalihin pembicaraan. Kalau soal ini beda lagi Ra, kamu itu tanggung jawab Mas."
"Sama aja tuh, berapa banyak orang-orang yang tersiksa sama kelakuan Mas yang se enaknya? Sampai-sampai ada yang mau pindah fakultas apa lagi kampus, gara-gara Mas yang sikapnya terlalu kejam," oceh Ara. .
"Saya begitu, biar mereka sadar. Kalau hidup, tidak selamanya senang!"
"Ya terserah Mas lah. Eh, tadi bunda bisikin apa sama Mas?"
"Mau tau?"
"Iya."
"Enggak bakal nyesel?"
"Enggak."
"Mau nurutin nggak, permintaan bunda?"
"Emang apa sih?!"
"Mama minta ...."
"Apa? Jangan ngegantungin dong, ih!"
"Minta cucu."
Mata yang tadinya sayu, langsung melotot dengan mulut menganga ....
👋🙋Haii readers,
Semoga suka dengan cerita nya.
Tinggalkan jejak like dan komwelnya.
🙏💕 terimakasih
See you 😍😍
__ADS_1