
Seperti permintaan pak Gino tadi, sekarang tiga sekawan itu sudah ada di ruangannya. Tidak atau apa yang mereka lakukan, cuma duduk dengan masing-masing menumpu dagu mereka, menatap ke satu arah yang sama. Ya itu, ke arah pak Gino yang seperti tidak memperdulikan keberadaan mereka. Pak Gino cuma sibuk mengotak atik labtopnya, sunggu membosangkan.
"Ya Allah, Pak. Kita ke sini mau ngapain sih? Dari tadi cuma bengong mulu," ucap Tania kesal, dengan menatap tanpa ekspresi ke arah dosennya.
"Iya, siapa sih yang di tunggu? Pak dekan? Pak rektor?" tanya Risa juga.
"Anaknya pak rektor," ucap pak Gino singkat.
"Ganteng gak, Pak?" tanya Tania, langsung di sikut oleh Risa , serta di pelototi pak Gino.
"Ganteng," jawabnya singkat.
"Asik, gebet boleh nih," ucap Tania cengar-cengir.
"Tapi sudah punya istri," balas pak Gino, langsung saja Tania cemberut, di sertai suara cekikikan Risa .
"Mau jadi pelakor, Tan?" ejek Risa , Tania sendiri cuma berdecak kesal. Kapan jodoh dirinya, akan datang.
"Istrinya temen kalian sendiri," ucap pak Gino, menunjuk Ara .
"Haa?!" Reflek saja, Risa dan Tania kaget. Pantas saja, saat pertama kali melihat wajah ayahnya pak Reno, sudah seperti tidak asing lagi bagi mereka.
"Lo kok, enggak pernah cerita?!" tanya Tania dan Risa bersamaan lagi.
"Hmm. Mana gue tau, kalau papa rektor di sini. Orang-orang enggak pernah cerita," ucap Ara
'Awas aja, masa enggak pernah cerita ke gue! Bisa-bisanya mereka nyembunyiin,' rutuk Ara dalam hati.
"Wah, bisa di bilang istri enggak di anggap," ucap pak Gino, semakin memperburuk suasana hati Ara.
"Berarti Ara mantunya, pak rektor dong!" heboh Tania.
"Tapi kenapa kita jarang lihat om, di kampus?" tanya Risa memikir-mikir.
"Yang sering cuma wakilnya, karna om Nando sibuk di kantor," jelas pak Gino, mereka berdua mangut-mangut.
Tak lama, pintu terbuka. Terlihat pak Reno yang masuk, dan perlahan duduk di kersi samping pak Gino. Ara menatap pak Reno dengan pandangan yang ... entah. Hanya dia yang tau arti, tatapannya itu.
"Hayoloh, perang yang ketiga kali kayaknya," bisik pak Gino ke pak Reno, sedangkan pak Reno sendiri menatap temannya dengan pandangan bingung. Dan bergantian, menatap ARa yang sedang melihatnya seperti, ingin menelannya hidup-hidup.
"Kenapa?"
Pak Gino menghendik 'kan bahunya, "Nanti juga tau."
"Khem, karena sudah membuat keributan di kantin tadi __."
"Bukan kita, tapi perempuan kesasar itu yang buat ribut!" potong Tania dengan tampang datarnya.
"Oke, berdua. Karna sudah membuat keributan, dan perempuan itu bukan dari kampus ini. Maka __."
"Hukumannya, apa?" potong Ara juga, dengan mengangkat kedua alisnya menatap pak Gino.
"Bisa tidak, jangan potong ucapan saya?!"
"Enggak!" jawab mereka bertiga serempak, di sertai gelengan polosnya. Pak Gino berdecak kesal, sedangkan pak Reno menahan tawanya dengan menutup mulutnya dengan tangan.
"Jangan buat saya marah!" ucap pak Gino datar, lagi-lagi ketiganya cuma mengangguk. Pak Gino menggeleng kepala, disertai hembusan nafas kasar.
"Bukannya saya menyalahkan kalian, tapi ini juga kalian yang ribut. Tepatnya __."
"Saya, saya yang terlibat. Bukan mereka!" ucap Ara datar.
"Enggak Pak, kita sama-sama. Kalau mau di hukum, silahkan hukum kita bertiga!" tambah Risa.
"Kalau cuma Ara yang di hukum, maaf. Ara bakal kita tarik keluar hukuman!" lanjut Tania juga.
"Enggak Pak, saya yang membuat keributan. Bukan mereka! Jadi saya yang harus dapat hukuman," ucap Ara lagi.
"Kita juga ikut, Pak!" ucap Tania dan Risa, bersamaan.
Pak Gino menarik nafas dalam-dalam, dan beralih menatap temannya yang duduk dengan santainya. "Lo urus deh, Ren . Gue angkat tangan," ucap pak Gino dengan menggaruk pelipisnya.
"Kalian ...." Pak Reno menggantung ucapannya, dan melirik ke arah Ara , yang menatapnya lebih tajam dari yang tadi. 'Saya saja, jangan mereka! Kalau enggak, Ara pulang ke rumah nenek , abang Hendra !' .... Semacam itu gerakan mulut Ara , yang untungnya bisa di mengerti pak Reno.
"Ara yang saya, hukum!" putus pak Reno.
"Bapak jangan gitu lah, masa cuma Ara yang di hukum!"
"Iya Bapak enggak adil, pasti Ara bakal di hukum yang macam-macam kan? Inget Pak, Reya masih marah sama Bapak. Jangan sampai Ara makin marah, karna hukuman Bapak ini!" ucap Tania menyerocos.
"Sudah-sudah! Kalian bertiga keluar, hukuman Ara biar di urus sama pak Reno. Pusing saya ngadepin kalian!" usir pak Gino ketus, serta Tania merengut kesal.
"Hukuman Ara, apa Pak?" tanya Risa mewanti-wanti.
"Enggak macam-macam kan?" lajut Tania.
"Tidak, kalian bisa keluar!"
"Siap!" seru Tania dan Risa Reya sendiri cuma diam.
Melihat kelakuan mahasiswinya, pak Gino geleng-geleng kepala. Pak Reno sendiri cuma diam, memikirkan bagaimana caranya, agar Ara tidak marah lagi.
Sedangkan di luar, mereka bertiga bertos ria. "Puas banget gue lihat muka kesalnya pak Gino," ucap Tania kesenengan.
"Rasain, enak banget cuma nyuruh si wanita enggak tau diri itu pergi. Lha kita, malah dapat hukumannya!" ucap Risa ikut senang campur kesal.
"Ralat, cuma gue yang kena hukumnya! Mudah-mudahan enggak di kasih yang aneh-aneh," kata Ara , di cengengesani keduanya.
"Eh iya, sebagai imbalannya karena bebasin kita yang imut ini dari, hukuman. Emm, kita belikan tiket nonton konser atau film yang akan tayang. Gimana?" tanya Risa.
"Oke, gue tunggu!" Lalu mereka tertawa bersama, tanpa beban dan rasa bersalahnya.
Sedangkan di pintu ruangan pak Gino, kedua dosen itu menarik nafas dalam-dalam untuk menetralkan emosinya. Haa, bisa-bisanya mereka cuma di kerjain. Awas saja, ada hukuman terindah yang akan mereka dapat. 'Terutama kamu, Ara ,' batin pak Revano menyeringai puas.
Dirumah Ara
Ara membaringkan tubuhnya yang terasa sangat lelah, karena aktivitasnya hari ini. Dari duduk lama, sampai mengeluarkan tenaga lebih hanya untuk, menghadapi mantan si suami.
Tidak lama, suara pintu kamar terbuka. Itu pak Reno yang datang. Walau masih dengan wajah tanpa senyumnya, Ara menghampiri suaminya, dan menyaliminya. Setelah itu dia kembali ke tempat tidur, tapi itu urung saat pak Reno menarik tangannya ... jadinya dia terpaksa berbalik, dan ....
Jeng.
Jeng.
Jeng.
Wajah mereka saling berhadapan, pak Reno menciumi kening Ara, beralih turun ke mata dan ....
Bi*ir.
Ya, untuk kedua kalinya. Bi*iirArs direnggut kesuciannya. Lama-lama itu turun ke leh*r, Ara menggigit bibirnya agar tidak mengeluarkan suara la**nat dari mulutnya.
Ara , sadar oi.
~Pov Arabell.~
Mau di suruh berhenti tapi enak, astaghfirullah sadar Ra! Entah bagaimana caranya, sekarang aku sudah tersandar di tembok. Dengan pak suami yang belum melepas ciu**nnya dari le*erku, bahkan sering kali naik ke bi*ir.
Itu terus terulang, hati menolak. Tapi, pikiran dan tubuh se akan saling bekerja sama untuk membiarkan. Astaga, dosa Ara. Eh, kan udah halal.
Seperdetik kemudia, keluar juga suara ter lac*at dari mulutku. Astaga, aku kelepasan. Dengan gerakan super cepat dan kuat, aku mendorong tubuhnya. Huh, untung aku tidak ikutan terbuai dalam permainannya.
Dengan menahan malu, aku berlari ke kamar mandi. Oh Tuhan, memalukan. Mana suaraku sangat, serak tadi.
Astaghfirullah, malu aku malu!
Dengan membasuh wajah, dan melihat ke cermin. Allahu akbar, Reno sialan. Astaga, dosa Ra mengumpati suami. Tapi ini, oh tidak! Leherku penuh tanda, merah-ke unguan. Dasar Reno enggak punya perasaan!
Ini bagaimana, astaga Ra. Lo juga kenapa enggak sadar sih, gara-gara ke enakan. bagaimana besok? Aku ada jam kuliah, terus ini? Akhh, dasar suami enggak punya kasihan, pak Reno sial*n
Dosa Ra , jangan mengumpati suami.
__ADS_1
Keluar tidak, keluar tidak. Keluar ... malu, tidak keluar ... entar ada hantu lagi. Huft, oke Ara, lo harus semangat. Ingat! Lo masih marah sama dia, jangan malu, apa lagi malu-maluin.
Sedikit pintu ku buka, mengintip keberadaan sang suami. Di sana dia duduk seperti orang yang gelisah, sebentar-sebebtar melihat ke arah kamar mandi. Kebelet pipis kalik, ya?
Pintu aku buka lebar, jangan lupakan kedua telapak tangan yang setia menempel di leher. Menutupi bekas ki*s mark, dari si onoh. Dia menoleh dengan wajah lega, mungkin karna aku sudah keluar, jadi dia bisa masuk ke kamar mandi.
Lama aku duduk membelakanginya, masih dengan tangan yang menutup leher. Tapi heran, sudah enggak mau pipis atau apakan? Duduknya sudah tenang-tenang gitu.
"Ra, Ma -Mas minta maaf. So -soal itu." Kenapa jadi gugup gitu, ngomongnya? Soal itu, soal apa? Waduh, jan-jan soal di leherku ini?
"Soal, apa?" tanyaku, masih membelakanginya.
"Soal, se -semuanya."
Aku berbalik menatapnya, bingung dengan apa yang dia bicarakan. "Maksudnya?" Duh, ini otak di saat-saat begi jadi, lola.
"Iya. Emm, itu lehernya ...." Dia menggantung ucapannya dengan menunjuk leherku, yang masih ku tutup dengan tangan.
Aku memalingkan wajah, malu lah. Mengingat suara des***n yang keluar dari mulutku, duh ... malu guys.
Tiba-tiba dia menarik kedua tanganku, kaget ... tapi lebih kaget dia saat melihat, bekas ciu*annya. Keknya tadi dia kerasukan deh, sampai enggak sadar gitu.
"Ish, enggak usah gitu juga lihatnya! Gara-gara Mas juga kan, gimana cara ngilanginya ini?!" tanyaku ngegas, dia cuma terkekeh. Dih, enggak ngerasa bersalah gitu.
"Eh, mau ngapain?!"
"Mau ratain, biar enggak kentara." Hidungku membulat, eh mataku membulat. Dia kerasukan? Langsung saja aku berdiri, menjauh darinya. Dan edannya lagi, dia malah ketawa ngakak.
"Mas jangan macem-macem ya sama saya! Biarpun Ara istri Mas, tapi Ara enggak mau di gitu-gituin!" ketusku, enak saja dia mau nambahin bekasnya. Pake bilang mau ratain, kalau emang ke enakam, 'bilang boss'. Jan pake alasan gitu kale ....
Astaga, sepertinya otakku mau di servis. Otakku sudah tidak, polos lagi.
"Terserah Mas dong, kamu itu istri Mas. Jadi, enggak apa-apa kalau Mas macam-macam," jawabnya enteng.
"Enggak ada, awas aja kalau sampai macem-macem sama Ara !"
Enak saja, biarpun aku istrinya. Aku masih mau mempertahankan haraga diriku, enggak mau lah sampai di apa-apain.
Eh tunggu, kenapa jadi banyak bacot aku hari ini. Harusnyakan harus banyak diam, oke Reya. Harus diam, jangan banyak bicara. Kamu masih marah, tapi ini ... leherku bagaimana.
"Ehm, hukuman ARa apa? Yang tadi, Mas bilang?" tanyaku, setelah mengingat kembali soal hukuman itu.
"Sudah," ucapnya singkat.
"Sudah? Perasaan belum ngapa-ngapain," gumam ku dengan memandang mas Reno bertanya-tanya.
Mas, em Mas. Haha ... geli gimana, gitu manggilnya Mas.
"Iya, sudah. Itu, yang di leher kamu," ucapnya dengan menahan tawanya. Gue cengo, naudzubillah! Ini lebih dari hukuman yang gue bayangkan, hukumannya parah gini. Dasar Revonusa!
"Mas, jahaat!" pekik 'ku, bisa di lihat kalau mas Reno tersentak kaget. Biarin, bodo amat! Gue udah terlanjur kesal, dia pikir gampang apa hilanginnya.
Dasar mesum!
"Raa__."
"Enggak usah bicara!" ketusku. Huaa, ini hilanginnya gimana? Bisa bantu gak, heyyo?
"Kamu marah?"
Menurut lo, Bambang?!
"Enggak!"
"Ja__."
"Ara udah bilang kan, kalau mau ini cepar selesai. Beri Ara penjelasan, kenapa Mas biarin Anis manja-manja di lengan Mas kek cacing kepanasan?!"
Diam.
Diam.
Dan diam, lagi.
Huft, emang ya. Marah-marah dan pura-pura bahagia butuh, tenaga. "Tinggal jawab, 'iya' atau 'tidak?!'" Dia cuma menggeleng, yang aku butuhkan itu bukan gelengan, tapi jawaban secara langsung yang keluar dari mulut Mas.
Retak, kreek.
"Atau ... Mas masih__."
"Enggak, Dek! Mas enggak ada maksud apa-apa biarin Anis, meluk lengan Mas. Itu __."
"Khilaf?!" Lagi-lagi dia menggeleng. Ada mulutkan? Kenapa enggak di pake?
"Oke, kalau memang Mas enggak mau jujur. Hmm, terserah Mas. Ara dukung, apa 'pun keputusan Mas," ucapku berusaha tidak menangis.
Cengeng banget, sih.
"Maksud kamu, apa?"
Tersenyum kecil, dengan memalingkan wajah ke samping. Perih dan sesak, bercampur. "Ya, kalau memang Mas masih mencintai, Anis. Ara ikhlas melepa__.
"Enggak, Mas enggak mencintai Anis lagi. Tolong jangan bicara begitu, Dek. Mas enggak mau kehilangan kamu! Jangan bicara seperti itu, Dek." lirihnya dengan mendekap tubuhku, jatuh sudah air mataku. Se sesak ini kah, saat kita mencoba mengiklaskan? Se perih ini kah, saat kita mencoba melepaskan orang yang sudah kita anggap milik kita. Se sekit ini kah saat kita sudah ... mencintai orang itu, dan menyuruhnya pergi?
Yaa, tidak bisa aku bohongin. Aku mencintainya, entah sejak kapan. Yang jelas, cinta ini tumbuh begitu saja. Saat melihatnya bersama wanita lain, perasaan sesak menjalar di dada, ingin sekali teriak tapi tak mampu. Saat melihatnya di gelayuti mesra oleh wanita lain, rasa perih mengiris hati begitu sakit. Saat menyuruhnya pergi dari hidup, rasa sakit hati ter amat, yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.
Aku mencintainya ....
Aku lemah, dalam mencintainya ....
Aku tak sanggup melepasnya ....
Bisakah aku egois kali ini? Sampai ada pembuktian, bahwa dia tidak mencintai ku. Dan lebih memilih hidup kembali dengan mantannya, akan aku ikhlaskan.
~Reya Pov End.~
Di tempat lain, tepatnya di sebuah apertemen mewah. Seorang gadis, tengah berdiri di depan cermin full body. Dengan sebuah pisau ditangannya, di sertai senyuman yang tak bisa di artikan.
"Kenapa? Kenapa Ren?!" jeritnya berbicara, sendiri.
"Aku sudah baik-baik meminta kamu kembali sama aku, tapi kenapa? Kenapa kamu, menolakku?"
Prang!
Pisau yang di tangannya dia lempar, mengenai cermin hingga retak. "Akan ku buat, hidup kalian seretak dan sehancur cermin ini!" geramnya disertai senyum menyeringai.
"Kalau aku tidak bisa mendapatkan mu, makan siapapun juga tidak boleh memilikimu!"
"Pisau ini ... pisau ini yang akan mengakhiri segalanya!"
🐳🐳🐳
Pagi menyapa, sinar matahari menyinari bumi. Membangunkan para manusia, kembali ke aktivitasnya.
Di sebuah rumah, terbangun seorang gadis dengan mata sembabnya. Jelas sudah, kalau dia habis menangis lama.
"Aaaish." Gadis itu meringis, saat kepalanya sangat terasa berat dan pusing.
"Sudah bangun, Dek?"
"Jam berapa, sekarang? Mas kok, sudah rapi?"
"Kamu enggak usah ke kampus, ya?" ucap Reno mengelus rambut, Ara
"Kenapa begitu?"
"Sudah jam mau 'setengah sembilan', enggak usah__."
"Setengah sembilan? Mas kenapa enggak bangunin, Ara ?!" Lantas Ara langsung berdiri, tapi sontak saja kepalanya oleng. Hampir saja dia terjatuh, kalau tidak cepat di tahan Reno.
"Kamu sakit, Dek. Dari semalam kamu mengigau, panas dingin, keringatan. Enggak usah ke kampus ya?" Reno membawa Ara kembali, berbaring ke tempat tidur.
__ADS_1
"Tapi__."
"Nurut sama, Mas. Jangan membantah, Mas ke bawah dulu ambilin makanan."
"Enggak usah, Mas berangkat aja. Nanti telat," ucap Ara dengan suara seraknya.
"Enggak, Mas enggak bakal telat. Mas kan bosnya," ucap Reno di ikuti candaan sedikit.
"Kamu istirahat dulu ya."
Setelah Reno keluar, Araperlahan berdiri. Berjalan pelan-pelan ke kamar mandi, walau sulit karna kepalanya yang tak henti-hentinya pusing.
Ara memandang wajahnya yang memang sangat pucat, terbayang kejadian kemarin. Di mana sudah Reno jelaskan, semua. Tapi tidak dengan perasaannya, apa dia sudah mencintai dirinya atau masih mencintai Anis.
Yang ternyata, itu paksaan dari Anis. Di mana dia akan melakukan hal aneh, ya walau itu mungkin tidak akan dia lakukan. Tapi satu yang Reno tahu, Anis itu orangnya nekat. Anis mengancam akan ke tengah jalan, dan membiarkan dirinya tertabrak.
Ingat! Anis orangnya nekat.
Jadi p Reno biarkan, dari pada ada nyawa yang melayang karna dirinya. Walau bukan kesalahannya, tapi itu bersumber karna dirinya.
Reno tidak mau memberitahu itu dari awal, karna tidak mau terjadi salah paham. Apa lagi saat Ara tengah marah-marahnya, tapi kesalahannya ... malah itu menjadi masalah rumit, yang hampir membuat rumah tangganya berantakan.
🐠🐠🐠🐠
Lama Ara melamun, hingga panggilan dari pak Reno membuyarkan lamunannya.
"Kamu di mana, Dek?"
"Khem, di kamar mandi."
"Kamu ngapain? Masih pusing?"
"Cuci muka. Masih sedikit," ucap Ara
"Sini, Mas bantu." Reno menuntun Ara keluar, dan berjalan ke arah kasur.
"Makan, dulu. Mulutnya di buka."
"Ara aja, Mas berangkat aja deh," ucap Ara , pak Reno menyimpan mangkuk bubur di atas nakas. Dan sedikit-sedikit membuka kancing, kemejanya.
"Mau mau, apa?"
"Mas enggak jadi berangkat," jawab Reno.
"Lho, kenapa?"
"Biar Mas enggak telat, jadi enggak perlu berangkat sekalian. Biar bisa suapin kamu."
"Ish. Bukan gitu juga, ya udah. Suapin Ara !" ucap Ara cemberut, pak Revano sendiri tersenyum senang.
"Nah gitu, jangan membantah sama suami," ucap Reno, sedangkan Ara menggerutu tak jelas.
"Aaaa."
Aku juga mau di suapin, dong Pak ....:v
🐴🐴🐴
"Mbok, jagain Ara ya."
"Kayak bayi, aja gue mau di jagain," gumam Ara tapi didengar jelas Reno.
"Memang bukan bayi, tapi kamu lagi sakit sayang," ucap Reno, lagi-lagi Ara harus menarik nafas dalam karena panggilan 'sayang' dari Reno.
Mbok Mina sendiri sudah senyum-senyum, melihat majikannya yang akur juga sedikit romantis.
"Ya udah, berangkat sana!"
"Baik-baik ya, banyakin makan. Banyakin istirahat, jangan banyak nonton drakor!" ucap Reno memperingati.
"Iya."
***
Di sisi lain, perempuan yang dari tadi memata-matai rumah itu. Tepatnya, memata-matai si tuan rumah keluar.
"Bagus, saatnya beraksi," ucapnya menyeringai.
Dia memakai baju sebagai kurir, lengkap dengan bahan bawaan di tangannya, juga masker yang menutupi setengah wajahnya. Dengan sedikit berlari, dia sudah ada di depan pagar.
Kebetulan pintu pagar yang tidak di kunci, membuat dirinya bebas masuk begitu saja. Karena pak Doni, sedang keluar mengurus sesuatu.
"Permisi, paket!" teriaknya dari luar pintu.
Ara yang juga kebetulan sedang duduk dekat ruang tamu, sedikit berjalan sempoyong ke arah pintu. Karena pusing di kepalanya. Mbok Mina juga ikut di samping Ara , membantunya agar tidak terjatuh.
"Iya. Paket dari siapa?" tanya Ara setelah membuka pintu.
'Bagus, ternyata aku tidak salah waktu,' batinnya.
"Dari ...." Dia menggantung ucapannya, dan menarik pisau keluar dari kardus di tangannya. Seperdetik kemudian, dia menarik Ara masuk ke dalam dengan menyimpan pisau di leher Ara
"Astaghfirullah, Non! Lepas, Mbak!" jerit mbok Mina.
"Jangan coba-coba teriak! Atau nyawanya yang akan melayang detik ini juga!"
Ara sendiri tidak bisa berbuat apa-apa, di karenakan kepalanya yang sangat pusing. Di tambah pisau yang berjarak begitu dekat dengan lehernya, bergerak sedikit saja ... Anis akan melakukan aksinya.
Sunggu, kepalanya sangat pusing. Bisa saja di melawan Anis saat ini, tapi itu cuma untuk sebentar. Pasti Ara akan kalah juga, kepalanya yang terasa sangat berat membuatnya sulit bergerak.
"Lepas, Mbak. Mbak ada masalah apa, sebenarnya? Ya Allah," lirih mbok Mina.
"Kenapa? Enggak bisa melawan? Jangan coba-coba bergerak, kalau tidak mau kamu tewas sekarang!" ucap Anis penuh penekanan.
"Dan kamu! Jangan coba-coba berteriak, atau beranjak sedikitpun dari situ!"
"Jangan kayak gini, Mbak!" ucap Ara sedikit kecil, karena hampir saja dia kehilangan kesadarannya.
"Bagaimana rasanya? Bisa saja saya langsung membunuh kamu, sekarang! Tapi kita harus bermain-main, dulu!"
"Jangan bergerak, wanita tua! Kalau tidak mau nyawa nyonyamu ini, melayang sekarang!" sentak Anis, saat mbok Mina bergerak perlahan ke arah mereka.
"Pisau ini, akan mengores wajahmu lebih dulu. Baru leher, dan lengan. Dan terakhir ... jantung!" seringai Anis.
Ara sudah sulit bernafas, bahkan matanya sudah berat. Tapi sekuat tenaga dia tahan, agar tidak pingsan atau apa.
"Mbak, sadar Mbak! Jangan seperti ini!"
"Kenapa? Kamu diam! Kamu tidak tau apa-apa! Karena dia, Renotidak mau menerima aku kembali! Karena dia, Reno jadi benci sama Anis, Mbok!" terang Anis, seketika mbok Mina terkejut. Tidak menyangka, kalau Anis--mantan pacar majikannya akan kembali dan, melakukan hal semacam ini.
"Anis?"
"Iya, saya Anis. Mbok tau kan, kalau Reno sangan mencintai Anis. Tapi saat dia datang, Renojadi benci sama aku!" ujar Anis, tanpa rasa malunya.
"Tapi iti bukan karna, non Ara. Itu karna Mbak Anis, yang pergi ninggalin den Reno tanpa kabar," ucap mbok Mina.
"Mbok juga mau belain, dia?!"
"Lepas, Mbak," lirih Ara, kepalanya semakin sakit dan pusing.
"Enggak! Enggak akan! Biar, kamu mati sekarang!"
"Mbak Anis, saya mohon. Lepas __."
"Lepasin dia, Nis! Jangan Gila!" Sentak seorang pria, yang tiba-tiba muncul di balik pintu.
(Ngegantung)
Sorry for typo. 🙏
Ekhhem, Reya ternyata cinta sama pak Revano. Uhhai.
__ADS_1
Aku enggak mau banyak bacot, tapi kutunggui komentar kalian see you 👋byee