
Siapin tisu yuk 💪
***
Setelah mendapat sedikit perawatan lalu Dokter memberikan obat untuk Tania kemudian ia berpamitan pulang.
Gino mengantar dokter sampai kedepan pintu utama, lalu kembali ke kamar untuk melihat keadaan Tania. Tania masih terlelap dalam alamnya, Gino duduk di tepi ranjang sembari memposisikan bantal agar membuat Tania nyaman.
"Apakah benar yang kamu ucapkan tadi Tania? atau hanya, ah ... aku kebanyakan berharap, aku sangat mengenal Tania, dari awal dia hanya mencintai kekasihnya yaitu Aldo ... mungkin dia mengatakan hal itu karena tidak suka pada Anabela " simpul Gino
Ponsel Gino berdering menandakan ada seseorang yang tengah menghubungi nya.
"Ana , apa yang akan aku katakn kepadanya ... Dia pasti sedang menungguku," fikir Gino
Karena sudah berulang kali dihubungi
pada bunyi yang ke -20 barulah Gino terima telpon itu ia menuju balkon untuk bicara pada Anabela.
Tania terbangun lantas mendengar obrolan Gino dengan Ana yang terdengar seru.
"Kalau begini, buat apa aku menyatakan perasaanku, aku benar-benar tersingkirkan di hati nya atau mungkin aku yang terperangkap oleh tipuan nya ... karena selama ini kami hanya sering mengerjai satu sama lain, dia tidak pernah mencintai ku" batin Tania
Saat Gino kembali ia melihat Tania yang telah siuman.
"Kamu sudah sadar?"
"Iya,"
"Kamu sering telat makan ya? makanya kamu jadi seeprti itu," kata Gino
"Iya, aku memang melakukan hal bodoh itu karena seseorang yang menyakiti aku, " Tania menyindir Gino, namun Gino mengira itu adalah Aldo.
"Sudah ku bilang lupakan saja dia, " suruh Gino masih berfikir yang di fikir oleh Tania adalah Aldo
"Gampang banget kamu bilangnya, kamu tidak berada diposisi aku, makanya kamu bisa ngomong kaya gitu," balas Acha
"Tania, cukup ya ! kita selalu bicara dan akhirnya bertengkar , kamu tidak lelah dengan perdebatan kita? atau begini saja apa maumu sebenarnya ?" tanya Gino
"Aku tidak tau mauku apa, keinginanku perasaan ku, hatiku semua terasa hambar...
aku harus mengatakan apa agar kamu mengerti perasaan ku ?"
"... Aku akan melepaskan mu Tania, aku tau keinginan, juga perasaan dan terlebih hatimu itu, setelah kamu sembuh aku akan bicara pelan-pelan pada orang tua mu agar mereka mengerti permasalahan kita," jelas Gino
"Apakah kamu tidak berniat memperjuangkan cintamu yang pernah kau utarakan padaku beberapa bulan yang lalu? Oh atau aku salah , itu cuma lelucon untukku ?" tanya Tania
"Aku memang mencintaimu Tania, tapi aku sadar posisiku yang salah, tidak seharusnya aku menaruh rasa kepada orang yang jelas tidak bisa membalas perasaanku. Aku tau Tania, kau tidak pernah bisa melupakan Aldo. Jadi baiklah aku melepaskan mu," terang Gino
"Bagaiman hubungan mu dengan Anabela, kalian sudah dekat sekarang ...," Tania mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Ya, karena dialah aku bisa sadar dengan tempatku yang sebenarnya, sudah jelas sekarang apa yang akan kita lakukan. Kamu bisa bahagia dengan Aldo dan aku akan memulai kehidupan baru dengan orang lain," terang Gino
"Keputusan kamu sangat egois Van, kamu tidak mengerti posisi aku sekarang bagaimana ... kamu hanya memikirkan kesenanganmu saja, apa yang harus aku jelaskan kepadamu, aku lelah dan kau juga lelah untuk berdebat. Tapi kau selalu mengundang perdebatan ini, kau mmembuat aku bingung." Jelas Tania
"Kau tidak perlu bingung, karena aku sudah membebaskan mu seperti awal pernikahan kita ... aku pergi karena Ana sedang menungguku," ucapan terakhir Gino sangat menyakiti Tania
"Pergilah, dan bersenang senang lah! " Tania membalikan badannya hingga membelakangi Gino.
'dia tidak punya perasaan sama sekali, aku kira semua akan baik-baik saja, ternyata aku salah ! aku menyesal sudah melukis namanya didalam hatiku, Tania kau benar benar payah!" Umpat Tania dalam hatinya ia hanya mengeluarkan air mata .
Gino menatap punggung Tania lalu ia pergi.
***
"Pak, aku bawain makann buat bapak coba dong pak, enak lho !" tawar Ana
"Kamu baik banget , makasih ya?" Gino menerima nya.
Mereka berada di taman halaman samping sekolah, dari kantin bisa terlihat jelas.
Tania berada di kantin tidak sengaja melihat mereka berdua . Sangat menyakitkan bagi Tania, dia semakin hari merasa ditusuk beberapa anak panah beracun.
"Apa mereka sudah saling mencintai? bagaimna dengan aku? Apa ini hukuman buat aku? kenapa harus aku? aku tidak kuat ..., " lirih Tania cukup pelan sambil meremas roknya hingga kusut. Air matanya berjatuhan membuat temanya, Ara dan Dina heran dengan segera Tania memutuskan untuk ke toilet.
***
Ceklet...
Gino masuk kedalam kamar lalu duduk di sofa dan mulai bekerja.
Tania menyimpan Diary-nya kedalam laci lalu perlahan duduk di samping Vano.
"Aku udah mikirin ini cukup mateng, dan semoga ini yang terbaik buat kita," ucap Tania
Gino mengalihkan fokusnya dari pekerjaan lalu menuju Tania.
"Apa maksud kamu?" tanya Gino.
" Kamu pengen ngelepasin aku'kan? aku juga akan ngelepasin kamu, dan kita terbebas dari ikatan yang menurut orang suci tapi tidak dengan perjalanan yang kita lewati selama ini." Ucap Tania pelan
" Aku akan mengabulkan nya, mari berpisah ...,"ucap Gino.
Terasa dunia menjadi gelap seketika. Hati keduanya sebenarnya terluka.
"I--ya, kita berpisah ," bibir Tania bergetar lalu ia menyiapkan kopernya dan menyusn baju-bajunya kedalam sana.
Tania pulang kerumahnya. Sementara Gino dirumahnya ia selalu memikirkan Tania terlebih pada nasib pernikahan mereka. Harus kandas dengan cara seperti ini. Hal yang sama dilakukan oleh Tania. Ia tidak bisa menyembunyikan kesedihan nya.
**"
__ADS_1
"Tania enggak mau berpisah Mi, tapi Gino enggak pernah mau ngerti perasaan Tania, dia menganggap Tania masih berhubungan sama Aldo, Tania Udah coba jelasin tapi dia berfikir kalau Tania masih sama Aldo, dia egois Mi, yaudah lagian dia udah bilang buat berpisah, jadi secara agama Tania udah diceraikan sama dia Mi, dan Tania juga tau ada nama orang lain di hati nya sekarang, " jelas Tania dengan tangisan
"Sabar sayang, kamu sama Gino harus nenangin diri dulu, kalau suasana hati lagi panas emang selalu deh tuh kata pisah paling jadi andalan, Mami coba bilang ini sama Papi kamu dan biar Papi kamu negur Gino," jelas Mami
"Kalau emang Gino pengen pisah jangan dipaksa ya Mi, karena Tania tau rasanya dipaksa itu kaya gimana ," lirih Tania .
***
"Saya minta maaf karena mengecewakan Papi, tapi selama ini saya cukup kecewa dengn Tania. Dan saya tidak ingin di kecewakan lagi, dan saya rasa keputusan saya sudah benar . Dan juga, Tania sudah menyetujuinya " kata Gino
"Apa kamu mencintai anak saya?" tanya Papi Tania.
"Iya, tapi dia mencintai pria lain ... saya tidak akan menjadi penghalang untuk mereka bersama " kata Gino
" Lalu kenapa kamu dengan begitu mudahnya mengatakan hal yang tidak seharusnya kamu katakan?"
"Karena telah menjadi keputusan bersama dan Gino mengabulkan apa yang di inginkan oleh Tania ,"
"Kamu salah besar dalam mengambil keputusan, kamu jangan berfikir anak saya bahagia berada di rumah kami sekarang, ia hanya memikirkan kamu dan nasib pernikahan kalian, kamu tau kenapa dia berfikir seperti itu? karena dia sangat mencintai kamu ... sama seperti kamu yang mencintai dia.
Hanya saja kalian terlalu egois untuk mengerti hati satu sma lain."
"Pi, Tania itu hanya mencintai Aldo ... dan udah terbukti bahkan Tania terus meminta agar Aldo tetap bersama dengan nya. Gino sadar bahwa pernikahan kami tanpa adanya cinta"
"Dan kamu mencintai Ana ?"
"Kenapa Papi menyebut nama Ana ?"
"Karena Tania berfikir jika kamu mencintai Ana dan tidak benar mencintainya. "
"Itu tidak benar, Tania yang berulang kali membuat Gino kecewa dan mengkhianati pernikahan ini dan kembali pada Aldo mereka saling mencintai terlebih Tania sangat mencintai Aldo Pi. "
"Fikirkan baik-baik, jangan sampai menyesal dikemudian hari ... apa yang Papi jelaskan kepada kamu ini bukan lah karangan, tapi dari kebenaran yang Papi ketahui. "
***
Gino berfikir dengan ucapan mertuanya. Apakah benar Tania mencintai dia selama ini, tapi di malam itu kemesraan Aldo dengan Tania sulit bagi Gino untuk bisa tenang dan merasa baik -baik saja atau bisa menerima sakit itu.
Matanya tertujuh menuju sebuah laci yang pada biasanya Tania akan menaruh buku rahasianya disana.
Gino membukanya dan meraih buku cukup tebal dengan cover buku bermotif kupu-kupu.
Satu halaman buku Gino baca dengan seksama. Hingga beberapa halaman juga ia lompati, dan ia fokus membaca pada tulisan baru yang Tania buat.
Bersambung
Panjang banget ini huhu capek Wkwk
Mari nangis berjamaah 🤣
__ADS_1