Gadis Imut Kesayangan Playboy

Gadis Imut Kesayangan Playboy
Eps. 74. Dimakan di pagi hari ( Sessions 2 )


__ADS_3

Suara kokok ayam sudah nyaring diluar sana, mengingatkan kembali pada manusia bahwa aktivitas sehari-hari akan segera dimulai. Embun pagi pun sudah menyebar, memberikan efek segar pada setiap makhluk yang bisa merasakan basah hadirnya.


Terlihat pagi ini Ara terbangun lebih dulu ketimbang suaminya, ia menggeliat pelan, menguap lalu mengucek-ngucek matanya agar kantuknya segera hilang.


" Hoammmm ."


Ia hendak membangun kan suaminya yg kini sedang tidur memeluk dirinya. Namun Ia urungkan, ia memandang wajah Reno yang masih terlelap nyaman dalam dekapannya, lalu ia melihat ke arah dirinya yg masih tak memakai apa-apa. Dia jadi senyum-senyum sendiri mengingat kejadian semalam, haha mereka gagal.


Ia kembali melihat ke arah Reno , wajah teduh suaminya yang kerap kali menyebalkan tapi tetap saja membuat nya senang.


" Kamu tuh ngeselin tau kalo lagi ngegombal, bikin aku kesel, tapi kenapa kok aku bisa baper, hehe. "


" Kamu manis juga ya mas ternyata, dan lihat bibir ini, bibir yang ingin aku capit kalo aku lagi gereget sama kamu. " tangannya memeragakan gerakan sedang mencubit sesuatu.


Diam-diam Reno tersenyum dalam hatinya, mendengar ocehan sang istri yg kemana mana, ia bahagia karena sepertinya sedikit demi sedikit hati Ara akan segera terbuka untuk nya.


"Lihat mata ini juga, ini mata yg selalu menatap ku teduh, tapi kadang nakal juga, ishhh kamu emang nyebelin tau gak, hehe. " reflek tangan Ara terulur untuk meraih mata suaminya.


" Uh jadi makin sayang, kalo adek udah berani pegang -pegang. " ucap Reno tiba-tiba, dan hal itu membuat Ara mengembalikan tangannya ke tempat semula.


Reno menyeringai nakal, sedangkan Ara menutup wajahnya menggunakan tangan.


" ish, ka udah bangun ya sebenernya?. " tanya nya sambil mencoba menyembunyikan rona merah di pipinya.


" Baru aja, pas adek bilang kesel tapi kok baper. Ckck. "


" Ihhh ka Reno nyebelin. " teriak Ara di depan wajah suaminya, ia memanyunkan bibirnya, tak tau dia kalo ia sedang begitu membuat suaminya semakin gemashh saja.


" Hehe, pukis dong dek. " pinta Reno dengan suara manjanya yg biasa ia gunakan untuk menggoda Ara .


" Pagi-pagi buta begini siapa yg mau jualan pukis sih mas, nanti siang lah, sana beli sendiri pas mas bekerja. Aku lagi ngambek soalnya. " balas Ara.


" Ih bukan pukis itu dek. "


" Terus pukis yg kaya gimana mas? Emang bentuk pukis ada berapa?. " pagi-pagi buta ardi sudah menyulut emosi sang istri.


" Puk-puk sambil kiss. " seraya mengerlingkan mata.


_niat hati mau marah, melihat dia begitu akukan jadi ingin tertawa, haha dasar ikutan gila kamu Ara_


" Dek pukis. " pintanya lagi, karena sang istri tak lekas memberi.


" Dimana?. " tanya Ara.


" Disini, disini, disini juga, ini juga, ini dia juga mau, yg ini, terus ini, yg terkahir ini. " dengan menunjuk area tubuhnya yg ingin dijelajahi bibir mungil sang istri.


" Sudah gila ya, tidak mau, itu banyak sekali. " tolak Ara. .


" Yah padahal semalem dikit lagi, kenapa harus gagal, dan pagi ini juga gagal lagi. "


Melihat gurat kecewa wajah suaminya, membuat alya sedikit merasa bersalah.


_hemmm baiklah, baiklah_


" Yaudah tapi sedikit aja ya?. "


Reno mengangguk menyetujui tawaran alya, dan kini senyumnya kembali merekah, serta wajahnya yg makin cerah ceria.


" Disini. " tunjuknya .


Cup


" sudah. "


" Disini juga. "


Cup


" sudah. "

__ADS_1


" Dia juga mau katanya. "


Cup


" Sudah. "


" Dia juga iri katanya, minta dicium dek Ara . " sambil membuka selimut menunjukkan alat tempur nya.


" Ahhhh, kaka gila. "


" HAHAHA. " Reno terlihat senang sekali mengerjai sang istri.


" Kaka mengerjaiku ya. "


" tidak istriku tercinta, dia bilang dia yg mau kok. "


" Hih mana ada cacing anaconda bicara pada majikannya. "


" Hahahaha. "


" Tidak usah tertawa, atau nanti aku potong cacing yang kaka punya,lalu aku kasih makan ayam baru tau rasa! " Ancam Ara , mendengar Rano yang terus menertawakan dirinya.


" Hehe iya iya , Maksay ya. "


" Apalagi itu Maksay?. "


" MAKASIH SAYANG. "


Ara menyembunyikan wajahnya kedalam bantal.


_ah dasar tukang gombal_


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Akhirnya mereka berdua sholat subuh berjamaah di dalam kamar, karena terlihat agak kesiangan, gara-gara banyak sekali perdebatan.


" Dek. " panggil Reno.


" Apa kita bisa melanjutkan yg semalam sekarang." ucap Reno sambil memeluk sang istri dari arah belakang.


Ara berjingkrak kaget, karena baru kali ini Reno berani melakukan ini.


" Aku kan harus memasak makanan buat kaka juga butuh makan kan?. "


" Sekali saja. " pintanya.


" Tidak mau!. " tolak Ara.


" Huh kaka jadi malas bekerja. " ucap Reno dengan wajah sendu, sebagai jurus melumpuhkan Ara.


" kenapa?. " tanya Ara.


" Tidak papa. " balasnya singkat sambil melepaskan pelukannya.


_aku lagi yg kalah_ (Ara)


" Baiklah, tapi sebentar aja ya. "


" Tidak mau!."


_kenapa jadi dia yg ngambek si, harusnya aku_


" Yasudah mau berapa kali, 2,3?." tawarnya.


" Tidak mau! ."


" Yaudah kalo ngga mau mah, aku tinggal pergi nih. "


" 5kali. "

__ADS_1


Ara membulatkan matanya, apa suaminya ini sudah gila, apa tadi dia bilang 5? 5 yg dia minta.


" Kamu ini mau membunuhku ya?. "


" Yasudah tidak jadi. " menunjukkan wajah sedih.


_omaygat ngambek lagi_


" Iya iya terserah kaka sajalah. " Akhirnya Ara mengalah pada suaminya, Dari pada dipecat dari predikat istri sholehah pikirnya.


Setelah mendapat persetujuan istrinya untuk melanjutkan kegiatan mereka yg semalam telah gagal, Tanpa pikir panjang Reno langsung menyatukan benda kenyal miliknya dengan milik Ara melakukan nya dengan sangat lembut dan pelan, Ia juga menyusuri leher, telinga bahkan bahu istrinya.


Ia buang segala yg melekat di badannya dan juga istrinya ke sembarang arah, sambil menikmati leher putih milik istrinya, Reno berhenti sejenak untuk mengambil nafas, lalu ia melancarkan kembali serangan berikutnya , kali ini lebih dalam dan lebih lama tentunya.


" Adek suka?. "


Jawabannya hanya semu merah dari Ara.


Tok tok


Suara gedoran pintu menghentikan sejenak aktivitas mereka berdua.


" Nduk, kamu kok ngga keluar-keluar?." Tanya mama Dewi yang berdiri di ambang pintu kamar putra sulungnya.


" Kaka itu ibu. " ucap Ara pada suaminya. Bukannya menjawab pertanyaan ibunya.


" Iya ibu, dek Ara sedang tidak enak badan. " Reno yang membalas pertanyaan ibunya yg di tujukan kepada istrinya.


" Apa benar begitu nduk?. " mama Dewi memastikan.


" Iya bu, Ara memang lagi kurang enak badan. Uhuk uhuk" Balas Ara dengan diselingi suara batuk agar ibunya percaya.


" Apa ibu boleh masuk?. "


" JANGAN " sergah mereka berbarengan.


" Eum maksudnya ibu jangan masuk sekarang, soalnya kaka Reno mau pake baju, abis mandi dia bu. " Ara mencoba meluruskan .


" Yaudah hari ini ibu yang masak ya, kamu istirahat aja. " Ucap mama Dewi.


" Baik bu. "


Bu Dewi pun melenggang meninggalkan kamar Ara dan melangkah masuk ke dapur untuk memasak.


" Ada saja halangannya. " gerutu Ara


" Hehe adek udah ga sabar ya?. "


" Enak saja! Memang dari tadi siapa yg memaksa melakukan nya hah? ."


Reno i malah mengusak ngusak wajahnya ke dada Ara.Tak peduli lagi ia dengan ocehan istri kecil nya.


Reno memeluk istrinya dengan erat, lalu kembali menyusuri setiap lekuk leher Alya menggunakan bibirnya . Ia juga banyak membuat maha karya di sana yang tercetak dengan simbol berwarna merah.


sedangkan Ara hanya mampu meloloskan suara sensualnya karena perbuatan suaminya. Tak butuh waktu lama untuk membakar tubuh keduanya, panas menjalar, serta kenikmatan yg tidak bisa di definisikan kini sedang mereka rasakan. Ara memegang kuat lengan suaminya, tatkala senjata tempur sang suami siap untuk mengoyakkan sarangnya. Pagi yang panjang pun akan segera dimulai, dan....


_Aaaaaa, begini kah rasanya dimakan?_ jerit Ara dalam hatinya.


Kala terjadi peperangan besar di atas ranjang...


πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ


Selebihnya halu pada diri masing-masing 😬


Hai πŸ‘‹πŸ™‹kak readers,


Semoga suka ceritanya,


Tinggallan komwel nya.

__ADS_1


TerimaπŸ™πŸ’• kasih


__ADS_2