
Aku mengernyit karena merasa silau. Hendak bangkit, tapi terhenti saat kepala rasanya sangat sakit. Kembali merebah, menatap pada sekeliling yang dominan berwarna putih. Di mana ini? Rumah sakit? Bahkan kepalaku juga diperban.
Sedikit meringis saat kepala rasanya kembali sakit. Menatap pada langit-langit ruangan yang diyakini adalah rumah sakit.
Derit pintu yang berbunyi mengalihkan perhatian, lantas menoleh pada seseorang yang baru masuk. Zain. Mata kami bertubruk beberapa saat. Ia terlihat tercengang.
“L-lo udah sadar?”
Aku hanya diam, rasanya sangat sulit untuk berbicara bahkan tenggorokan terasa kering.
Zain berjalan cepat kemudian memeluk tubuh ini. Aku hanya diam karena merasa sedikit sakit jika bergerak.
Zain melepas pelukan, matanya terlihat menajam. “Gue sayang sama lo, jangan berfikir untuk bunuh diri.”
Aku masih diam menatapnya. Bunuh diri? Mungkin ide yang bagus.
Aku hendak bicara tapi tenggorokan masih terasa sangat kering. Mungkin paham dengan apa yang menimpaku, Zain menyondorkan air putih seraya menuntun tubuh ini untuk duduk. Sedikit meringis karena terasa sakit pada kaki. Aku menghela nafas menatap pada kaki yang juga diperban. Apa separah ini?
“Mana yang lain?” tanyaku saat setelah minum.
Ia meletakkan kembali gelas itu pada tempat semula. Ia terdiam sejenak beralih menggenggam tanganku. Aku tak paham maksud dari tatapannya itu.
Ia menghembuskan nafas sedikit kasar. “Lagi di ruang Rissa.”
“Ruang Rissa?”
“Rissa sakit.”
Entah kenapa rasanya sesak kembali. Aku menunduk menatap pada perban di kaki dan mengusap perban di kepala. Apa luka ini tak cukup parah untuk mendapat perhatian mereka?
Genggaman tangan Zain terasa lebih erat. Mungkin ia sadar jika hati ini sedikit tertusuk. Aku menarik tangan kanan yang digenggam Zain hingga terlepas. Membuang muka tak menatap padanya. Mataku rasanya memanas.
“Kenapa lo nggak ke sana juga?” Suaraku sedikit bergetar meski sudah kutahan sekuat tenaga.
“Biarin aja gue sendiri di sini,” lanjutku.
Kepalaku tertoleh padanya saat tangannya menuntun untuk menatap padanya.
“Dengar.” Ia berhenti sejenak, “Jangan pernah berfikir kalau kita nggak sayang sama lo.”
“Jadi gue harus berfikir kayak gimana menurut Lo? Tetap berfikir kalian sayang sama gue sementara kenyataannya nggak. Gitu?”
Ia diam sejenak kemudian menuntun tubuh ini untuk berbaring. Aku memejam saat satu kecupan mendarat pada kening.
“Kita sayang lo, selalu.”
Hendak berbicara tapi telunjuk Zain menempel pada bibirnya menandakan jangan bicara.
__ADS_1
“Gue panggil dokter dulu, Lo baru siuman setelah dua hari, jadi jangan banyak bergerak dan bicara.”
Dua hari?
Zain berjalan ke arah pintu dan melempar senyuman sebelum benar-benar hilang dibalik pintu. Dua hari? Apa Reno pernah datang menjengukku?
Kepala kugelengkan saat pikiran kembali tertuju padanya. Apa lagi yang kuharap? Kami sudah putus, aku yang memutuskannya. Aku akan berusaha untuk melupakannya walaupun rasanya sulit.
Dokter datang dengan Zain dibelakangnya. Dokter itu melakukan tugasnya dan berkata jika aku tak lama lagi bisa pulang.
“Untuk sementara jangan berjalan dulu karena ditakutkan kaki anda akan mengalami infeksi.”
Aku hanya mengangguk mendengarkan ucapan dokter itu. Setelahnya dokter itu sedikit berbincang dengan Zain sebelum meninggalkan ruangan ini.
Zain duduk pada bangku di samping ranjang. Mengusap lembut kepala ini membuatku memejam.
“Zain,” panggilku masih terpejam.
Ia berdehem dengan tangan yang setia mengusap kepala ini.
“Nenek sama ayah sayang Ara gak sih?” Tanpa sadar bibirku kembali berucap seperti dulu. Memang susah untuk merubah sesuatu.
Kurasakan usapan dikepala berhenti sejenak kemudian usapan tersebut beralih pada tangan.
“Nenek sama ayah sayang sama lo.”
“Terus kenapa mereka belum datang ke sini?” tanyaku masih terpejam.
Aku tak mendengar suaranya lagi. Aku juga tak ambil pusing. Lebih baik aku tidur dan menemukan kesenangan di alam mimpi dari pada di dunia yang rasanya tak lagi berpihak padaku.
Selang beberapa detik kurasakan kembali kecupan di dahi. Aku hanya diam tetap memejam. Tercium wangi parfum yang menjadi candu untukku. Mungkin aku sudah tidur dan sedang bermimpi. Sudahlah.
“Ara ”
Suara lirih itu membuatku bingung. Aku sedang bermimpi atau bukan?
Mataku terbuka saat merasakan sesuatu yang berat menimpa tubuh. Menoleh ke samping kanan. Sedikit mengeryit melihat orang yang tengah memelukku. Rambut hitam lebat? Bukankah Zain rambutnya sedikit coklat? Dan juga pakai jaket Levis, perasaan Zain memakai hodie.
Aku sedikit geli merasakan hembusan nafas di telinga. Sedikit terperanjat, menyadari bahwa aroma ini bukan Zain.
Kudorong tubuh itu sehingga pelukan terlepas. Mengalihkan pandangan saat ia menatap sendu. Untuk apa lagi dia ke sini?
“Maaf,” lirihnya.
Tangannya ku tepis saat ingin menggenggam tangan ini.
“Kita sudah putus, jadi pergi dari sini!”
__ADS_1
Mataku mengedar menatap sekeliling ruangan ini. Kenapa hanya kami berdua di sini? Ke mana Zain?
“Nggak!”
Aku kembali menatap pada sosok cowok yang kata orang-orang mirip oppa Korea ini.
“Kalau gitu Ara aja yang pergi,” putusku.
Aku duduk dari baring. Sedikit meringis saat kaki terasa sakit saat diturunkan dari ranjang.
Aku tersentak kembali meringis saat tubuh ini di dorong hingga kembali merebah pada ranjang rumah sakit. Menatap sosok itu yang kini tepat di depan mata, matanya terlihat menyeramkan. Aku mengalihkan pandangan ke jendela rumah sakit, tak ingin menatapnya, namun kembali menoleh saat tangannya memegang dagu dan menuntut untuk menatap padanya.
“Reno cuma cinta Ara !”
Kalau cinta kenapa berubah? Kenapa lebih memilih mengantar gadis itu pulang ketimbang diriku?
“Oh, ya?” tanyaku berusaha terlihat santai.
Mengalihkan pandangan agar tak menatap padanya. Jujur saja, dalam posisi ini gadis mana yang akan merasa tetap tenang. Ditatap oleh orang yang dicintai dan posisi tepat di depan mata.
Aku memejam merasakan kecupan pada kening.
“Sangat.”
Tangan ku kepal di bawah. Tak tepat baper di saat situasi seperti ini.
“Maafin Reno.” tangannya mengusap lembut pada kepala.
Aku memejam sembari mengepal tangan lebih erat di bawah. Jangan luluh Arabell !
“Maaf,” lirihnya.
Aku memeluknya.
“Ara maafin.”
Aku memang bodoh! Bodoh! Hanya karena cinta dengan mudahnya memaafkan, bodoh kamu Ara !
Ku cengkram kuat bajunya untuk melepas kekesalan pada diri sendiri. Aku memang bodoh!
Mungkin benar kata Salsa kalau aku memang sudah bucin sebucin-bucinnya pada Reno.
Ada yang kesel sama Ara ?😹
Atau sama saya?😂
Hai 👋🙋kak readers,
__ADS_1
Semoga suka ceritanya,
Tinggalkan jejak like dan koment bawelnya.