
Guling kanan, guling kiri. Ku tekan perut yang terasa nyeri. Aku bangkit dari ranjang dan segera berlari ke kamar mandi. Ini gara-gara makan rujak bikinan tante Rina. Rujak yang pedasnya melebihi kapasitas perutku. Menyesal aku yang sudah memakan rujak itu hampir satu piring besar, lagian enak sih, coba aja nggak enak pasti tak akan ku makan.
Kembali merebahkan diri di ranjang dengan terlentang. Lemasnya! Sudah tiga kali bolak balik kamar mandi. Uh! Perut, udah dong sakitnya!
“Gimana? Udah enakan?” Reno berjalan dan duduk di tepi ranjang sambil meletakkan sesuatu yang tak kusukai di atas nakas.
Aku menggeleng.
Ia terkekeh, “Makanya, tadi udah dibilang jangan makan banyak-banyak, malah bandel.” tangan Reno mencubit pipiku. Tak sakit, tapi mampu membuat sesuatu yang didalam sini bekerja lebih keras.
Aku membuang muka, mencoba menghindar dari pandangannya agar tak melihat pipiku yang mungkin sudah merah. Bukannya berhenti, tangannya terus mencubit pipi ini. Sejak kapan Reno jadi suka mencubit pipi?
“Liat sini!” tangannya menuntun wajahku menghadap padanya.
Alhasil, aku terjerat lagi di sorotan matanya yang teduh itu. Aku tak membantah jika dibilang cintaku padanya semakin hari semakin bertambah, atau mungkin sudah mengisi sepenuhnya. Sebenarnya aku juga bingung, kapan aku mulai menyukainya? Kapan perasaan itu datang? Seingatku dulu kami masih berlari bersama, bermain bersama, tapi yang kutahu semenjak menginjak SMP, aku tak suka jika Reno lebih dekat dengan perempuan lain.
Aku terkesiap saat Reno meniup wajahku.
“Lain kali, kalo Reno bilangin sesuatu harus nurut,” ucapnya.
“Jangan makan rujak?” tanyaku.
“Bukan cuma rujak! Tapi semuanya.”
“Kenapa Ara harus nurut sama Reno?”
“Karena ... karena Reno bentar lagi jadi suami Ara .”
“Kan, belum. Mana tahu umur Ara nggak sampai kita nikah.” spontan bibirku berucap.
Wajah Reno berubah datar. Kemudian berbalik mengambil sesuatu dan menyondorkannya padaku. Minyak telon, aku tak suka!
“Nggak mau!” aku menggeleng sambil mendorong tangannya yang menyondorkan minyak telon.
Tangan Reno bergerak kebawah tubuhku. Segera kutahan, takut-takut dia ngapain. Kan bahaya.
“Buka bajunya!”
Aku menggeleng. Mana boleh kakanda!
Tangan Reno menarik baju bawahku. Segera aku duduk dan menjauh darinya. Ku lemparkan tatapan sengit padanya. Dia menatap balik dengan tajam, seketika nyaliku menciut, hilang begitu saja entah kemana perginya. Apa mungkin ke rumah gebetannya? Eh
”Buka!”
Aku menggeleng.
Reno menghembuskan nafas. Setelah kupastikan ia kembali pada mode slow, baru aku bernafas dengan lancar. Fiuh!
“Makanya pakai telonnya.” Reno berujar dengan kembali menyondorkan minyak telon yang tak kusukai.
Aku kembali menggeleng.
Reno tersenyum dengan aneh, “Pakai atau Reno cium?”
“Cium.” kusondorkan pipi kiriku padanya. Tentunya ciuman Reno jauh lebih baik dari pada harus menggunakan minyak telon itu.
Lagi, lagi Reno tersenyum aneh.
“Bukan disitu, tapi disini.” Reno mengangkat tangannya.
Seketika tubuhku terasa meremang saat jemarinya mengusap bibir ini perlahan. Oh tidak! Apa yang aku lakukan? Segera kuambil minta telon ditangannya. Tentunya aku belum siap untuk hal-hal yang seperti itu. Terutama bibirku. Ah, sayang, tenang saja ke perawananmu tatap akan ku jaga, walaupun harus menggunakan minyak telon itu.
Reno kembali keposisi semula sambil tersenyum. Ia mengacak puncak kepalaku beberapa kali.
“Jangan lupa dipakai, Reno pulang dulu.”
Aku hanya mengangguk seraya memperhatikan minyak telon ditanganku. Apa tak apa aku memakainya? Kemarin waktu aku masih kecil, pernah dengan tak disengaja kuminum, rasanya tak enak. Berjam-jam aku muntah.
Terdengar derit pintu yang menandakan Reno sudah keluar. Samar aku mendengar suara bunda dan Reno berbicara.
Segera aku merebah untuk melumaskan minyak telon keperut. Berharap perut tak lagi sakit-sakitan.
Nyatanya, sakit perut tak kunjung mereda. Kulirik jam yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Segera aku turun dari ranjang untuk pergi kedapur. Mana tau setelah makan camilan sakit perutnya hilang.
“Ini semua gara-gara lo!”
Langkahku terhenti saat mendengar suara itu. Lantas aku kembali mundur sebelum dua makhluk yang berada didapur itu menyadari keberadaanku. Aku memilih bersembunyi dibalik tembok belokan ke arah dapur. Tentunya aku kepo, apa maksud bang Refan . Kenapa mereka berduaan didapur? Apa mereka pacaran? Oh, sungguh, aku kepo!
“Kenapa lo nggak sadar diri!”
Kembali kupasang telinga saat bang Refan kembali berujar. Sekali-kali kuintip dengan mataku.
“Maaf, bang.” Rissa menangis.
“Gue bukan abang Lo! Adek perempuan gue cuma satu! Cuma Ara !”
Bang Refan mengetuk meja makan dengan sendok ditangannya. Sudah kutebak, pasti bang Refan habis makan es krim. Kebiasaannya tengah malam, katanya kalau mata susah tidur, mending makan es krim.
Kembali aku fokus memasang mata dan telinga. Mudah-mudahan tak berdosa. Aamiin.
“Gue nggak bakal luluh sama air mata lo.” kembali bang Refan berujar.
Rissa hanya menunduk disamping meja makan. Kalau diperhatikan, bang Refan terlihat seperti menginterogasi Rissa. Aku masih bingung dengan arah percakapan mereka. Maklum otak sedikit lemot, ditambah lagi perut yang masih sakit.
“Karena lo tau, lo dan ibu lo yang udah bikin orang tua gue mati !” ujar bang Refan
Apa maksud bang Refan ? Bukankah Rissa hilang ingatan? Lalu mati ... ah, aku bingung.
Rissa terisak.
“Ibu lo itu pelakor! Gara-gara dia gue kehilangan ayah gue! Dan lo!” bang Refan menunjuk Rissa. “Lo anak dari pelakor!” tekan bang Refan .
Pelakor? Jadi ....
“Cukup bang! Ibu Rissa bukan pelakor hiks ... dan aku juga adik abang, aku anak dari ayah abang juga!”
Kubekap mulut, mataku seketika memanas, merasakan setumpuk yang ingin jatuh.
Brak! Bang Refan menggebrak meja makan dan berlalu dari dapur. Segera kuikuti, aku masih belum paham sepenuhnya.
Bang Refan melangkah keluar rumah. Segera aku berlari mengejarnya dan menangkap tangannya saat akan memasuki mobil.
“Aws.” aku meringis saat tubuhku jatuh ditanah karena didorong oleh bang Refan .
“Ara ?!”
Bang Refan berjongkok dan memapah tubuhku untuk berdiri.
“Ngapain diluar malam-malam?” tanyanya.
Aku tak menjawab dan segera masuk ke mobilnya. Tak perlu banyak bicara! Aku hanya ingin kejelasan!
Bang Refan masuk didepan stir. Aku bersidekap saat ia memandangku.
“Ara butuh penjelasan!” Tekanku saat ia ingin bicara.
Bang Refan menghembuskan nafas, lantas mengangguk. Bang Refan menjalankan mobil keluar dari perkarangan rumah.
“Kenapa nenek dan bang Refan bohong soal Rissa yang hilang ingatan?” tanyaku masih dengan bersidekap.
Bang Refan mengusap puncuk kepalaku.
“Nanti abang jelasin.”
Sudah hampir lima belas menit diperjalanan. Bang Refan menepikan mobilnya didepan hotel.
“Ngapain kehotel?”
Bang Refan menoleh, “Abang nggak pengen tidur dirumah dulu.”
“Turun! nanti abang jelasin didalam.”
Segera aku turun mengikuti langkahnya. Aku hanya berdiri memperhatikan bang Refan yang memesan kamar.
Bang Refan menarik tanganku dan membawa menuju lift.
“Bang, sebanarnya ayah masih hidup, kan?” tanyaku.
Bang Refan menggeleng, “Abang nggak tau.”
Saat pintu lift terbuka bang Refan kembali menarik tanganku menelusuri lorong hotel. Tepat pada pintu yang bertuliskan 08-81 bang Refan membawaku masuk dan menutup pintu.
Aku mengernyit melihat kamar ini. Menatap bang Refan untuk penjelasan. Ia menggaruk tengkuknya sambil menampilkan gigi-gigi putihnya.
Kamar untuk pasangan.
“Kata mereka, malam ini ada bonus untuk pasangan yang baru menikah, jadi abang ambil hehe.”
Pantesan dari tadi gandeng tangan mulu, gara-gara ini ternyata. Tak mempedulikannya, segera aku membanting tubuh kekasur yang terlihat empuk. Nyaman.
“Jelasin!” pintaku.
Bang Refan duduk melipat kaki di kasur. Segera aku duduk melakukan hal yang sama dengannya.
Bang Refan mengeluarkan foto dari sakunya. Segera kuambil dan memperhatikannya. Ada bunda yang terlihat menggendong seorang bayi berkisar satu tahun, bang Zidan dengan muka cemberut tengah berdiri disamping seseorang sambil memegang tangannya, dan seseorang itu ... om Kean yang menggendong seorang bayi yang terlihat sama dengan bayi yang digendong bunda. Jadi ....
Bang Zidan mengambil foto yang ditanganku.
“Lo tau, kan, ini bunda dan ini abang.” tunjuknya pada foto bunda dan ia masih kecil.
Aku mengangguk.
“Lo tebak, ini siapa?” tunjuknya pada om Kean.
“Ini ayah.” bang Zidan menangis saat mengatakan itu, tangannya bergetar. Terlihat matanya yang sangat merindukan sosok itu.
“Ayah adalah sosok yang sangat sayang akan keluarga, abang sayang dia, kalian juga. Abang masih ingat, saat ayah yang berlari memegang layangan hiks ... ngajarin abang hiks ...Ara , Abang rindu ayah.”
Bang Refan memelukku, bahunya bergetar. Tanpa sadar air mataku ikut jatuh. Jadi benar apa kata om Kean, kalau ia adalah ayahku. Ayah ....
Bang Refan mengurai pelukan dan kembali menatap foto itu.
Ia menunjuk bayi yang ada di gendongan om Kean, ayahku.
“Ini, lo,” ujarnya.
Jadi, kalau itu aku, yang digendong bunda siapa?
“Lo pasti berfikir, kan, yang digendong bunda siapa?” ia mengusap-usap foto bayi yang digendong bunda. Air matanya kembali jatuh.
“Ini adek gue yang ganteng, kembaran lo.”
'Lo mirip Zain kalo ketawa.'
Ucapan Rendi tiba-tiba terlintas di otakku. Zain kembaranku?
“Ini foto terakhir dari keluarga kita kumpul ... sampai jalang sialan itu datang kerumah dan bilang kalo anak yang dikandungnya anak ayah.” rahang bang Zidan terlihat mengeras.
“Gara-gara jalang itu, ayah dan bunda bertengkar, abang yang waktu itu masih berumur tujuh tahun hanya diam liat mereka bertengkar, sampai akhirnya bunda narik abang dan bawa kamu yang saat itu ada digendongan bunda, bunda bawa kita ke rumah nenek, ninggalin ayah dan kembaran kamu, namanya Zain. Pasti kamu mikir, kan, kenapa nama kalian beda, itu karena abang.” bang Zidan berhenti sejenak.
“Waktu kalian dalam kandungan, abang udah siapin nama, seandainya yang lahir laki-laki, abang bilang sama bunda dan ayah untuk kasih nama Zain Angelo, dan seandainya yang lahir perempuan, namanya abang kasih Arabell sampai akhirnya kalian lahir, jadi gitu deh.” bang Refan terkekeh dengan air mata yang terus mengucur.
Bang Refan memelukku, “Abang rindu dengan keluarga kita yang masih utuh.”
Kuusap ujung mata yang terus mengeluarkan air.
Bang Refan kembali mengurai pelukan, “Abang benci mereka yang udah buat keluarga kita pisah.”
“Rasa benci abang bertambah saat bunda bawa anak jalang itu kerumah, abang nggak tau alasannya kenapa bunda bawa orang yang jelas-jelas penyebab hancurnya keluarga kita.”
“Maksud abang Rissa?”
Bang Refan menggangguk.
Jadi, dia yang udah bikin keluargaku hancur. Tanganku terkepal, menahan amarah padanya. Kenapa nenek malah membawa orang itu ke rumah?
“Tapi kenapa kalian bohong soal Rissa hilang ingatan?”
Ia menggeleng, “Abang nggak ingin bohong, tapi nenek maksa, mungkin nenek nggak mau kasih tau kamu karena takut kamu juga benci sama Rissa.”
Kenapa bunda segitu perhatiannya pada Rissa? Mengingat itu, rasa benciku semakin bertambah. Apalagi mengingat bagaimana nenek memuji Rissa.
“Abang pengen ketemu ayah dan Zain, tapi abang lupa dimana rumah kita dulu. Yang abang ingat cuma bentuknya, tempatnya Abang lupa, setiap nanya sama bunda, bunda malah marah sama abang.”
“Ara tahu!”
Bang Refan menatapku.
__ADS_1
“Kenapa nggak bilang sama Abang?!”
“Ara kan, dulu nggak tau kalau mereka keluarga kita.”
Bang Refan bangkit dari kasur, kembali memakai jaketnya. “Kita kesana!”
Aku menggeleng dan menariknya kembali hingga terjatuh diranjang. Aku tertawa melihat mukanya yang cemberut.
“Udah malam, tidur!”
Ia duduk kemudian menyipitkan matanya.
“Dari mana lo tahu rumahnya? Bukannya lo dulu masih bayi, masih satu tahun, jangan-jangan lo ... ” matanya menatapku dari atas kemudian kebawah, kembali lagi ke atas, “Lo dukun?”
Bugh!
Kupukul kepalanya dengan bantal. Ya kali dukun!
“Ara udah dua kali kesana, pertama waktu kelas sepuluh, Reno yang bawa Ara kesana waktu mereka kerja kelompok.”
“Kerja kelompok?”
“Iya, Zain satu kelas dengan Reno, dia juga sahabat Reno.”
“Lo udah ketemu sama dia?! Gimana, ganteng kayak gue nggak? Ah, gue rasa enggak, pasti gue yang paling ganteng.”
Pede sekali Junaedi ini!
“Ara juga udah ketemu sama ayah.”
Tangan bang Refan terhenti mengguyar rambutnya.
“Lo udah ketemu ayah? Gimana pertemuan lo? Lo peluk ayah?”
Aku kembali teringat dengan kejadian di restoran. Aku menggeleng.
“Waktu ayah bilang kalau dia ayah Ara bilang ayah Ara udah meninggal,” jawabku menunduk.
Terdengar helaan nafas bang Refan kasar. Kemudian dia membawaku dalam pelukannya.
“Bukan salah Lo, ini salah abang yang nggak kasih tau kebenarannya." Bang Refan mengecup keningku. Aku mengangguk.
Dia bangkit dan melepas kembali jaket yang ia pakai. Kemudian menghambur pada kasur. Ia menepuk-nepuk kasur di sebelahnya.
“Sini tidur, besok Lo sekolah, kan, jangan lupa bilang sama Zain, kalau abang gantengnya mau ketemu.”
Aku segera merebahkan badan. Menatap ke arah bang Zidan.
Ia menatap pada langit-langit.
“Gue pengen peluk adik kecil gue yang ganteng.”
Adik kecil? Rasanya perutku tergelitik mendengar ucapan bang Refan . Gimana ekspresinya melihat Zain yang sudah besar dan juga kekar? Erg, jadi teringat perut Zain. Menggoda.
“Ngapain lo senyum-senyum?”
“Bukan apa-apa.” kubalikkan badan membelakangi bang Refan . Kembali tersenyum mengingat perut Zain. Tak apa bukan, kami saudara. Hehe
***
Jam enam kurang dua puluh menit aku dan bang Refan sudah sampai dirumah. Segera aku berjalan menaiki tangga untuk ke kamar. Tepat dianak tangga terakhir aku melihat Rissa yang baru keluar dari kamarnya. Ia tersenyum. Entah kenapa jika dulu aku suka melihat senyumnya sekarang aku jadi muak. Muak melihatnya!
“Kak Ara dari mana?”
Tak ku jawab pertanyaannya dan segera masuk ke kamar. Setelah selesai bersiap untuk berangkat sekolah aku turun dan mendapati nenek dan Rissa di meja makan.
“Ara makan dulu yuk, Rissa tadi masak, enak banget.” nenek mengusap kepala Rissa.
Kulihat jam yang melingkar ditangan sekilas yang menunjukkan pukul 6.30. Masih terlalu pagi untuk berangkat sekolah. Tapi rasanya aku tidak berminat makan melihat bunda yang terus tersenyum kepada Rissa.
“Nggak nek , Sasa langsung pergi aja.”
Segera ku salami nenek dan melangkah keluar rumah menuju rumah Reno.
“Renren,” panggilku saat melihatnya baru keluar dari rumahnya.
“Tumben cepet, biasanya lelet.”
Aku hanya manyun. Cepat salah, lambat salah. Jadi mau bagaimana?
“Ayo naik.” Reno sudah duduk dimotornya.
Segera aku naik kemotornya setelah mengenakan helm pemberiannya. Reno menjalankan motornya dengan lambat, atau mungkin sangat lambat.
“Kenapa lelet banget?!”
Reno terkekeh, “Masih pagi, jadi bisa santai-santai.”
“Ini bukan santai namanya!”
Ya jelas bukan santai, mang Ujang tukang sate saja lebih cepat jalannya dari ini.
“Iya-iya.”
Spontan tanganku memeluk pinggangnya saat ia menjalankan motor dengan sangat cepat. Bikin jantungan! Kututup mata sambil mengeratkan pelukan.
Huek!
Huek!
Tuh, kan, muntah! Bukan, bukan muntah, cuma mual.
Anak-anak yang masih duduk diparkir menatapku. Bodoh amat! Rasanya perutku kembung.
Aku menatap Reno yang sedang cengengesan sambil menggaruk tengkuknya. Pacar no akhlak!
“Astaga Reno! Jangan bilang Lo udah hamilin Ara !”
Bugh!
Ku tendang kaki Rendi yang berbicara sembarangan. Hamil! Hamil! Palamu!
“Auh, tuh, kan, biasanya hormon ibu hamil suka labil.”
“RENDI!” teriakku.
Terdengar bisik-bisik dibelakang. Seketika aku tersadar dan melepas pelukan. Gawat! Orang-orang belum tau kalau aku saudara Zain. Bahkan, aku belum yakin kalau Zain tahu.
Aku tersentak saat Zain kembali memelukku.
“Kenapa?”
Meskipun canggung tapi tetap kujawab.
“Me-mereka jahat.” tunjukku pada Reno dan Rendi.
Dari mukanya tampak Reno dan Rendi terkejut. Zain berjalan ke arah mereka dengan merangkulku. Ya Tuhan, mudah-mudahan Reno tak cemburu dan berfikir macam-macam. Bagaimana kalau dia memutuskanku dan mencari pacar baru. Tidak!
Segera aku memeluk Reno.
“Jangan cari pacar baru!”
Reno tersentak hampir terjatuh karena aku yang menghambur kepelukannya.
“Ara nggak selingkuh! Sumpah!” kuangkat tanganku keatas.
Reno diam, aku tak tahu ekpresinya. Karena mukaku kutenggelamkan pada dadanya.
Hening.
Setelahnya terasa tubuhku disentak kebelakang dan kembali dipeluk oleh Zain. Ia mengecup keningku.
“Kok gitu sih sayang, kita, kan, emang pacaran,” ucap Zain sambil menyelipkan rambutku.
Astaga! Apa-apaan ini! Kenapa dengan Zain? Ku tatap sekeliling parkir yang sudah ramai.
“Zain,” panggilku dengan sedikit mengecilkan suara.
Zain tersenyum, “Iya, sayang.” terdengar jeritan siswi-siswi. Aku tahu itu para dugemnya Zain. Mampus! Tolong hambamu ya Tuhan.
Segera aku melepas pelukan Zain dan beralih menatap Reno. Mukanya merah. Apa dia marah?
“Hahaha ....”
Kenapa Reno dan Zain tertawa? Bahkan, murid-murid yang menyaksikan pun terlihat bingung. Kecuali para cewek-cewek dugem mereka berdua, yang terlihat tersenyum-senyum tak jelas. Mereka tebar pesona!
“Haha ... ayo ke kelas,” ucap Reno sambil menepuk-nepuk punggung Zain. Lantas mereka berdua berjalan saling merangkul meninggalkan parkiran.
Aku ditinggal? Sial!
Aku segera berlari menuju kelas, tak mempedulikan tatapan siswi-siswi yang terlihat lebih menyeramkan dari biasanya.
Segera aku duduk dibangku saat sampai dikelas. Mengalihkan tatapan pada sosok teman sebangku yang terlihat diam. Aku mengernyit, biasanya saat aku datang senyuman cerahnya sudah menyambutku. Kenapa dia?
“Salsa ,” panggilku.
Ia berdehem.
“Salsa kenapa?”
Ia mengalihkan tatapan padaku dengan wajah yang terlihat menyeramkan. Mungkin.
“Kenapa lo bilang?! Lo meluk Zain, Ra ! Lo, kan tau gue suka Zain.” suaranya perlahan mengecil dengan tatapan mengedar ke seluruh kelas.
Oh, dia cemburu toh?
Ia berdehem kembali saat beberapa teman sekelas menatapnya dengan horor. Jelas, mereka lagi nyontek pr, jadi jangan diganggu, kelas ini punya semboyan “When cheating don't make a fuss, otherwise you die”, artinya saat mereka menyontek jangan ribut, jika tidak anda mati, begitu.
“Btw, lu dah dapet nomor Zain belum?” bisiknya sesekali tetap senyum pada makhluk kelas lainnya.
Aku menggeleng. Wajahnya kembali datar, bibirnya mencebik.
“Meluk aja bisa, masa nomornya nggak dapat,” gerutunya dengan muka cemberut.
“Bentar.” aku mengeluarkan ponsel dari tas.
Segera kukirim pesan pada Reno.
[Renren, bagi nomor Zain.]
Centang biru dua.
Tak lama terlihat Reno membagikan kontak Zain.
“Nih.” kusondorkan ponsel pada Salsa yang masih menggerutu.
Matanya seketika berbinar dan mengambil ponselku, cengir lebar terpampang lagi diwajahnya.
“Hehe, makasih Ara cantik.”
Tak lama ia mengembalikan ponselku. Terlihat semangatnya yang masih menggebu mengetik sesuatu di ponselnya.
Kulirik jam yang baru memasuki angka tujuh. Upacara akan dilaksanakan jam delapan, itu artinya masih tersisa satu jam untuk bersantai.
“Akh!” Salsa menggeram.
“Kenapa?” tanyaku.
Salsa memperlihatkan ponselnya. Terlihat pesannya yang centang biru tapi tak dibalas. Bahkan, lebih buruk lagi pesan kedua dan ketiganya tak dilihat. Aku tertawa melihatnya.
“Ish, kok ketawa sih?!”
Aku mengedikkan bahu. Dia kembali menatap ponselnya dengan manyun.
Aku yang penasaran langsung membuka ponsel dan mencoba mengirim pesan pada Zain. Apa dia memang sedingin itu?
[P.]
Dua menit baru terlihat centang biru tapi tak dibalas.
[Hai.] Kembali kukirim pesan pada Zain.
Centang dua tapi tak dilihat. Ternyata memang dingin. Ok, pakai cara dua. Bangkitlah engkau wahai kembaran!
[Zain sayang.]
Tak dilihat.
__ADS_1
[Handsome.]
[Beb.]
[Say.]
[Dear.]
Fix, kembaranku es batu! Tak menyerah, pakai cara tiga.
[Selamat, anda pemenang dari costumer kami, silahkan balas pesan ini dengan yes jika anda menyetujui.]
Lima menit terlihat centang biru dua tapi tak kunjung dibalas. Ok, pakai cara empat. SANTET!
[BALES WOY, KALAU NGGAK GUE SANTET!]
Ku usap dada. Sabar, sabar. Kuhembuskan nafas perlahan. Ok, aku orangnya sabar.
Lima menit kemudian nomorku di blokir. SETAN!
“Huwa! Ara , nomer gue di blokir!” teriak Salsa sambil menyondorkan ponselnya padaku. Markonah kita bernasip sama!
“Hehe, teman sejati,” ucapku memperlihatkan layar ponselku.
Salsa cemberut dan berbalik badan, menangkup wajahnya dimeja. Kembali kubuka ponsel dan mencari nomor Reno.
[Renren, nomor Ara diblokir sama Zain.]
Satu menit sudah centang biru, terlihat Reno sedang mengetik.
Ting!
[Coba buka lagi, udah Reno bilang sama Zain, katanya udah dibuka lagi.] Begitu pesannya.
Ting!
[Makanya lain kali kalo chat orang kenalin dulu, jangan langsung santet!] Pesannya kembali datang.
Iya juga. Kenapa nggak kepikiran? Dasar otak!
[Hehe.]
Kembali kubuka chat dengan Zain.
[Zain, maaf ya Ara cuma becanda soal santet-santet, lagian Ara nggak paham;)]
Send. Centang biru.
Ting!
[Ya, nggak papa, kenapa chat?]
[Emang nggak boleh ya?] Balasku.
Ting!
[Bukan gitu, kalau perlu ke kelas aja.]
Ting!
[Foto profil lo aneh.]
Segera kuketik balasan. Itu foto Suga Lo, masa aneh?
[Itu suami Ara oh iya, bukain blokiran nomer temen Ara ya, yang profilnya bunga pink.]
Ting!
[Nggak!]
[Loh, kenapa? Buka ya, please.]
Ting!
[G.]
Kuhembuskan nafas sambil melihat kearah Salsa yang masih menangkup wajahnya pada meja. Maaf sob, aku nggak bisa bantu. Sepertinya cintamu berat.
Setelah lonceng berbunyi kami beranjak kelapangan untuk melaksanakan upacara.
***
“Renren, nanti Ara mau bicara sama Zain pulang sekolah, m-bang Refan juga kok.”
Reno menoleh dan tersenyum. Buku yang dipegangnya ia letakkan diatas rumput. Sekarang istirahat, kami sedang duduk di bawah pohon belakang sekolah seperti biasa.
“Iya, Reno udah tau,” ucapnya.
“Tau apa?”
“Tau Ara kembaran Zain.” tangannya mengacak pelan puncak kepalaku.
“Kapan tau?”
“Kemarin, dirumah Rendi.”
“Kenapa nggak ngasih tau Ara ?”
Reno terkekeh, “Maunya Zain bilangnya pulang dari rumah Rendi, tapi Ara , kan, sakit perut, jadi tau dari siapa?”
“Bang Refan .”
Reno mengangguk.
“Pantesan diparkiran nggak cemburu, malah main pergi gitu aja.” kulipat tangan didepan dada.
Ia terkekeh menarikku untuk bersandar pada bahunya.
“Kelupaan.”
“Besok-besok bukan kelupaan tinggal diparkir lagi, tapi ntar juga ketuker sama Zain pas dipelaminan.” kembali kusindir dia.
“Mana ada, Zain cowok,” balasnya.
Aku menegakkan badan dan menghadapnya.
“Jadi maksudnya kalau cewek, bisa gitu?”
Reno menggeleng kembali menarikku bukan menyandar tapi dipeluk.
“Nggak ada yang bisa gantiin Ara ,” ucapnya.
Aku mengangguk.
“Akhem!” Zain berdiri tak jauh dari tempat kami duduk. Tak kupedulikan, kembali menyender pada Reno.
“ Ara udah tau,” ujar Reno.
Zain mengangguk dan mendekat, lantas duduk dihadapan kami.
“Jangan pacaran mulu!”
Aku segera duduk tegak menatap Zain.
“Serah Ara !”
Hening.
Aku memandang Zain. Mataku rasanya memanas merasakan sesuatu yang terasa ingin keluar. Aku tak tahan! Segera aku menghambur memeluk Zain hingga ia hampir tertelentang.
Hanya isakku yang terdengar diantara kami. Katakanlah aku cengeng, aku tak peduli. Terasa tangannya yang mengusap punggungku.
“Gue udah tau dua bulan yang lalu,” ujar Zain.
Zain mengurai pelukan kemudian menyeka air matanya yang hampir turun. Kugantikan tangannya untuk menyeka air matanya. Air matanya semakin tumpah saat kuusap. Ia kembali membawaku ke dekapannya.
“Waktu umur gue tujuh tahun, ayah pernah bawa gue kerumah lo, ayah udah berulang kali bawa gue kesana tapi saat pengen ngetuk pintu ayah berhenti dan balik lagi kemobil, begitu terus sampai berulang-ulang.
“Udah sering, sampai gue umur dua belas tahun ayah bawa gue ke luar negeri untuk sekolah di sana, di Korea rumah nenek.”
“Nenek?” tanyaku.
Zain mengangguk, “Ibu ayah, setelah tamat pendidikan SPM, ayah bawa gue lagi ke Indonesia, dan sekolahin gue disini, gue temenan sama Reno, Rendi, dan yang lain. Kelas sepuluh gue kerumah Reno karena ada tugas kelompok, tapi sayang saat itu gue belum sadar kalo ternyata rumah yang sering ayah datangi tetangga Reno, kalian. Padahal gue udah ketemu sama bunda waktu mau masuk kepagar rumah Reno, sayangnya gue nggak tau muka bunda saat itu.
“Tapi dua bulan lalu, gue nemuin foto bunda dilaci meja kerja ayah saat ayah nyuruh gue belajar bisnis. Ayah jujur dan bilang kalo itu bunda, saat itu gue bingung karena yang gue lihat itu elo, persis.” Zain terkekeh dengan air mata yang hendak turun. Kuusap kembali air mata itu.
“Karena gue penasaran, gue ikutin lo dan Reno pulang, baru gue sadar kalo rumah yang lo masuki adalah rumah yang sering ayah datangi waktu gue kecil, tapi selalu terhenti dan berakhir pulang lagi. Gue tetap duduk dimobil waktu itu, kemudian sosok wanita yang mirip elo tapi lebih tua keluar dari rumah yang sama. Gue perhatiin poto itu dan wanita itu. Saat itu gue sadar kalo itu bunda ... bunda gue.
“Akhirnya terjawab dengan ayah bilang kalo gue punya kembaran, saat itu ayah nangis cerita ke gue, dia rindu kalian, dia pengen ngliat wajah anaknya, pengen meluk katanya ... hiks. Ayah rindu kalian. Tapi ... apa bunda nggak rindu gue ... ”
“Bunda rindu kok.” tenggorokanku rasanya tercekat mengatakan itu, jangankan pernah mengatakan rindu, bahkan bunda tak jujur padaku.
“Kita tinggal disatu kota, tapi kenapa bunda nggak datang kerumah dan cari gue? Lo tau, gue iri liat anak-anak lain yang punya bunda yang sayang mereka ... gue iri liat Reno punya mama Dewi yang selalu nyambut Reno saat gue kerumah Reno tugas kelompok, gue ... hiks ... gue iri liat Rendi yang punya bunda Rina yang selalu masakin Rendi setiap saat, lo tau Sa, hiks ... kenapa gue banyak diem, itu karena setiap saat gue rindu sosok bunda, makanya gue suka kerumah Rendi karena bunda Rina juga perlakuin gue kayak anaknya.
“Gue rindu bunda, Ra hiks ....”
Aku mengangguk melepaskan pelukan dan menghapus kembali matanya yang berair.
“Waktu ditaman gue cium lo, itu karena gue nganggap lo bunda waktu itu, sampai bajingan ini mukul gue dengan nggak etisnya.” Zain menunjuk Reno yang menyandar pada pohon yang sedang terisak. Reno yang ditunjuk seketika duduk sambil mengusap air matanya.
“Kok lo nyalain gue hiks, mana gue tau lo kembaran Ara , lo nggak bilang sama gue, dan juga lo nggak izin mau cium pacar gue hiks.” Reno mengusap sudut matanya yang berair.
“Kok Lo yang nangis sih? Hiks.”
“Gue terhura goblok! Hiks.”
“Terharu bego! Hiks.”
“Itu maksud gue.” Reno mengusap kembali ujung matanya.
“Dasar bego!”
“Dasar goblok!”
Sedetik kemudian mereka tertawa. Ku seka air mata yang kembali ingin meluncur. Mungkin sadar aku kembali terisak, Zain memelukku kembali.
“Udah pelukannya, itu pacar gue,” ucap Reno.
“Cih, pacar! Gue kembarannya, mau lo nggak gue restuin?”
“Eleh, kembaran doang.”
Zain melepas pelukan dan menatap Reno. Sedetik kemudian jitakan melayang pada kepala Reno.
“Lo nggak gue kasih restu!” ujar Zain.
Reno tersenyum sinis, “Nggak Lo kasih restu, gue tetap bakal jadi suami Ara .”
“Mana bisa Juned, gue kembarannya, gue nggak kasih izin!”
“Emang gue minta izin Lo?”
Mereka berdiri sambil melipat tangan didepan dada.
“Harus minta izin dong.”
“Nggak mau!”
“Fix, Lo bukan ipar gue.”
“Emang gue terlihat peduli gitu?”
“Lo ng—”
Bugh!
Bugh!
Yes! Kena! Kuambil lagi sepatuku dan segera berjalan menjauh tanpa mempedulikan kepala mereka yang dicium sepatuku. Lagian masih bersih kok, baru hari Senin.
“Kamu ini ... berdosa banget!” serempak mereka.
Tak kupedulikan ucapan mereka dan lanjut berjalan dengan sesekali bergoyang.
👋🙋Haii readers,
semoga suka dengan ceritanya.
__ADS_1
Tinggalkan jejak like dan komentar bawelnya.