Gadis Imut Kesayangan Playboy

Gadis Imut Kesayangan Playboy
Eps. 49.Dunia Ara_Reno


__ADS_3

"I love you, Arabell .”


Kakiku spontan berhenti saat mendengar ucapan Reno yang tiba-tiba. Jantung kembali berpacu.


Reno berhenti. Memegang kedua tangan ini. Pandangan matanya menyiratkan akan keyakinan, aku benar terjatuh dalam pandangan itu.


“I love you, Arabell ,” lirihnya.


Kuteguk ludah kasar. Otakku rasanya blank seketika. Ungkapan pertama kali dari mulutnya.


“Kapan?” tanyaku.


Ia mengecilkan bahu, “Nggak tau,” ucapnya, “Yuk, lanjut.”


Kami kembali berjalan menuju tempat sate diujung kompleks. Sesekali melempar senyuman pada pejalan kaki lainnya. Tepat di ujung sudah terlihat tempat sate yang terlihat ramai pengunjung.


Sesampainya di tempat kami duduk di kursi panjang yang berderet.


“Mbak, kita sate ayam dua ya,” ucap Reno.


Penjual sate itu dengan kecepatan yang sangat mengagumkan tiba-tiba sudah menyelesaikan pesanan dan ikut duduk di depan kami.


“Udah lama nggak kesini, Reno sama Ara ,” ucap wanita yang berumur sekitar tiga puluhan ini.


“Iya, mbak.” Aku yang menjawab.


Kutarik piring sate dan segera menyantapnya.


“Mbak udah nikah,” ucapnya lagi.


“Sama siapa mbak?” tanyaku lagi.


Dia tersenyum-senyum malu sambil memainkan kain lap di tangannya. Aku tentu saja menyuap kembali sate di hadapan yang rasanya enak sekali.


Dia mendekat ke telingaku. “Sama Suga hehe,” bisiknya.


Spontan aku tersedak dan menerima uluran air minum dari Reno. Sedangkan si pelaku hanya senyum manis tanpa dosa. Mbak sate ini halunya emang tinggi. Setelah dirasa tenggorokan sudah enakan. Kembali ku suap sate di hadapan. Hening.


“Gimana?” tanyanya.


Aku mengerutkan kening karena gagal paham arah bicara mbak-mbak sate ini.


“Gimana apanya, mbak?” tanyaku balik sambil menyudahi makan sate.


Dia kembali mendekat. “Udah di gaet belum, si Renonya,” bisiknya.


Aku mendorong jidat mbak sate ini perlahan. Menjauh dari telingaku yang gatal karena di bisikin terus.


“Udah.” Ku ambil serbet dan menempelkannya dimulut.


“Kapan?” tanyanya.


Aku mengerutkan kening. “Kapan apanya, mbak?”


“Kapan nikahnya?” bisiknya yang entah sejak kapan sudah di dekat telinga.


Buru-buru dia menjauh saat aku mengarahkan telunjuk ke keningnya. Dia cengengesan.


“Minggu depan.”


Aku menatap Reno yang barusan berujar dengan santai. Dia mendengar. Aku lupa dia pintar, jadi pasti telinganya tajam.


Mbak-mbak sate menutup mulut seakan tidak percaya. “Baneran?” tanyanya antusias.


Reno mengangguk kembali menyeruput minuman yang sudah di pesannya.


Tanganku tiba-tiba di tarik oleh mbak-mbak sate. “Undang mbak, ya.”


“Iya, mbak.”


Ia bersorak kemudian kembali menuju tempatnya saat ada pelanggan yang datang.


Mata Reno menyipit menghadap ke depan sana. Ku perhatikan arah pandangnya. Segerombolan cowok yang sedang menarik-narik tangan seorang cewek. Reno berlari ke arah mereka segera ku ikuti. Setelah dekat baru jelas terlihat wajah cewek itu karena hari memang sudah malam. Rissa.


“Lepas!” sentak Reno.


Cowok-cowok yang berjumlah sekitar sepuluh orang itu menatap remeh ke arah Reno dan melepaskan Rissa. Rissa segera berlari menghampiriku sambil menangis. Segera kupeluk tubuhnya.


“Boleh juga tuh cewek yang lu bawa, enak tuh kayaknya.” Salah satu dari mereka menatapku dengan tatapan yang tidak ku pahami.


Bugh!


Aku terkejut saat Reno membogem pipi cowok yang barusan berujar. Cowok itu berdiri dari tanah kemudian menatap Reno nyalang.


“Hajar dia!”


Sembilan orang yang lainnya maju dan melawan Reno. Sekuat apapun Reno pastinya kalah karena jumlah.


“Jangan!” teriakku saat cowok yang Reno bogem tadi menginjak dada Reno. Reno sudah babak belur.


Yang lainnya tertawa.


Orang-orang yang tadinya nongkrong di tempat sate berlari ke arah kami. Sepuluh cowok tadi pergi berlalu meninggalkan Reno yang meringis karena luka.


“Kamu tidak apa-apa, nak?” tanya bapak-bapak yang membantu Reno berdiri.


Aku segera mendekat mengambil alih tubuh Reno begitu pun dengan Rissa.


Reno mengangguk pada bapak itu. “Makasih, pak.”


Bapak-bapak itu mengangguk. Setelahnya kami menuntun Reno pulang.


“Renren ... hiks.”


Reno berhenti melangkah dan menangkup wajahku.


“Reno nggak papa.” Dia tersenyum, sesekali meringis karena lembam di wajahnya.


Aku mengangguk menghapus air mata.


“Maaf.”


Aku menatap Rissa yang berujar. Ku ambil tangannya.


“Bukan salah kamu,” ujarku.


Dia menunduk. “Tadinya aku pengen cari angin, tapi nggak taunya lupa jalan pulang ... hiks.”


Ku usap punggungnya. “Lain kali kalau mau pergi sama Sasa aja.”


Ia mendongak. Terlihat matanya yang basah karena air mata.


“Makasih, kak Ara ” Dia memelukku dan kubalas.


Ku usap punggungnya.


Setelah tangisnya reda kami kembali melangkah menuju rumah.


Saat sampai di depan rumah terlihat mobil yang parkir di tepi jalan dan seorang pria yang tengah mondar-mandir.


“Om Kean?” panggil Reno


Pria itu menoleh. “Reno,”


Kemudian pria itu menatap ke arah aku dan Rissa.


“Om, sedang apa disini?” tanya Reno.


Pria itu kembali menatap Reno. Ia menggaruk tengkuknya, “Ahh, bukan apa-apa.” Setelah mengucapkan kalimat itu dia pamit setelahnya pergi dengan mobilnya.


“Siapa Renren?” tanyaku.


“Ayahnya Zain.”


Aku mengerutkan kening manghadap Reno. Ngapain ayah Zain di sini malam-malam?


“Rissa, kamu masuk ya. Aku ke rumah Reno dulu.”


Sampainya dirumah Reno


Rissa mengangguk dan segera masuk ke rumahnya. Setelah melihat dia benar-benar masuk. Aku menarik Reno ke rumahnya seakan aku pemilik rumah. Ku dudukkan dia di sofa dan mencari kotak p3k. Setelah dapat kembali aku melangkah mendekati Reno dan duduk di sampingnya.


“Akh.” Reno meringis saat ku usapkan kapas ke lukanya untuk membersihkan.


“Makanya jangan sok jagoan,” ujar ku tetap mengoles lukanya.


“Reno emosi,” ujarnya.


“Lagian Rissa nggak papa, main langsung tonjok aja, kan di keroyok jadinya.” Aku kembali berujar sedikit kesal.


“Bukan karena Rissa.”


“Terus?” Kuoleskan obat itu pada sudut bibir Reno yang berdarah.


Reno diam.


Ku perhatikan wajahnya yang terlihat memerah.


“Masih sakit ya?” ku usap rambutnya.


Wajahnya tambah merah bahkan telinganya yang putih juga terlihat memerah. Sangat. Aku tau sekarang dia malu.


“Ciee blussing,” godaku sambil menoel pipinya yang terlihat menggemaskan.


Ia sedikit beringsut menjauh ke ujung sofa. Aku tertawa dalam hati. Ku dekati kembali dia dan Menyenderkan kepala pada pundaknya. Ku mainkan jari-jarinya.


“Lain kali kalau orangnya banyak jangan langsung tonjok,” kataku.


Dia hening.


“Ehem!”

__ADS_1


Ku angkat kepala saat mendengar deheman seseorang. Sedikit menjauh dari Reno dan tersenyum menampilkan gigi-gigi kepada Tante Dewi .


Tante Dewi duduk di sofa seberang menatap seperti menginterogasi.


“Kenapa mukanya luka?” tanya tente Dewi sengit. Tapi terlihat gurat khawatir di wajahnya.


“Di keroyok.” Reno menjawab.


“Makanya mama bilang apa, pakai bodyguard aja.”


Reno menggeleng. Memang sedari dulu mama Reno menyuruh Reno menggunakan bodyguard tapi Reno bilang tidak enak, terasa asing, masak cowok pakai bodyguard. Tapi tente Renata tidak pernah bosan mengatakan itu, tentunya karena dia khawatir pada anaknya.


“Ya sudah, terserah kamu,” ujarnya. “Besok kalian pergi ke toko tante Dewi, buat cari baju pengantin.”


Reno mengangguk. Jadi, beneran nih mau nikah. Aku pikir cuma main-main. Tapi ya sudahlah, menikah dengan Reno memang kemauanku dari dulu. Kalau sekarang waktunya, yah aku akan jalani.


Setelah mengucapkan itu Tante Dewi berdiri kemudian berlari sedikit melompat-lompat seperti anak kecil.


“Yeiy! Bentar lagi dapat cucu!” teriaknya.


Reno terbatuk. Segera ku tepuk-tepuk punggungnya.


******


“Apa mungkin, om Kean ayah Ara ?” tanyaku dengan masih sedikit terisak.


Reno 'tak menjawab. Ia semakin merengkuh tubuh ini membawanya kedekapan yang terasa hangat dan nyaman.


Ku pejamkan mata, berharap bahwa pikiran ini tidak mengarah pada kejadian tadi. Rasa kantuk terasa mendera saat merasakan usapan lembut di kepala.


“Kita pulang?”


Aku menggeleng sebagai jawaban dari pertanyaan Reno. Di rumah tidak akan ada orang, bunda dan Rissa pergi, bang Refan juga pergi, sedangkan bi Ijah pulang kampung. Aku tidak ingin diam di rumah sendirian.


Reno melepas pelukan beralih menangkup wajahku dan mengusapnya beberapakali.


“Udah, jangan nangis, ntar cantiknya ilang.”


Aku menggangguk.


Reno menjalankan mobil keluar dari parkiran restoran.


Sebelum benar-benar keluar dari parkiran. Aku sempat melihat om Kean yang baru keluar dari restoran, ia menatap ke arah sini. Entah kapan tanganku sudah terangkat sejajar dengannya, seakan hendak meraih, namun 'tak bisa. Ku turunkan tangan dan mengalihkan tatapan saat mobil sudah benar-benar keluar dari area restoran.


Ku arahkan pandangan pada gedung-gedung tinggi yang berderet, terlihat indah.


'Kamu anak saya, nak.'


Kalimat itu yang terus terlintas dipikiran. Seakan ada perekat yang membuatnya terus menempel sehingga sangat sulit untuk enyah dari pikiran.


Ku pejamkan mata dan menyandar pada sandaran kursi mobil. Berharap alam bawah sadar menyapa, tapi entah kenapa kantuk tadi seakan pergi entah kemana.


Ku rogoh ponsel dalam tas, membuka Facebook, menscroll beranda berharap pikiran ini tidak mengingat kejadian tadi. Sesekali memberi react pada postingan, entah suka, ketawa, yang penting melakukan hal sebagai pengalih pikiran.


Sial.


Ucapan om Kean lagi dan lagi terus berputar di otak. Seakan kaset rusak yang menayangkan kejadian tadi terus menerus tanpa henti.


Ponsel kumatikan dan meletakkannya dalam tas. Bukan apa, baterainya tinggal sedikit, aku lupa mengisi dayanya.


Kembali menyandar pada sandaran kursi. Mengalihkan tatapan ke Reno yang dari tadi fokus nyetir.


“Kita mau kemana?”


Reno menoleh sebentar, “Nggak tau.” ia menggaruk tengkuknya.


Aku melongo menghadapnya. Berarti dari tadi mobil berjalan hampir satu jam tidak ada tujuan?


Ting!


Ponsel Reno berbunyi.


Reno membuka ponselnya, entah apa pesan yang masuk.


“Anak-anak lagi ngumpul.” Reno berujar sambil meletakkan ponselnya di dashboard.


“Anak-anak kita?” tanyaku.


Reno menjitak kepalaku dan kubalas dengan kekehan.


“Ngawur,” ucapnya. “Hari Minggu, biasa, main ke rumah Rendi, Ara mau ikut?”


“Mmm boleh.” Kuanggukkan kepala.


Lagi pula selain ikut Reno, aku tidak tahu mau kemana. Jadi ikuti saja.


Baru memasuki pekarangan rumah Rendi, sudah terlihat para cogan yang duduk-duduk diatas motor. Benar kata pepatah 'Rainbow after rain'.


Surga dunia menurutku adalah melihat para cogan. Pikiran yang galau seketika menghilang digantikan oleh bahagia ketika melihat mereka yang tertawa bersama.


Seandainya aku punya sahabat perempuan yang dekat, mungkin bisa ku ajak jalan-jalan dan curhat padanya. Terkadang perempuan punya privasi, jadi 'tak bisa semua keluh kesah ku lampiaskan pada Reno. Dia, kan, laki-laki.


Reno berjalan ke arah teman-temannya dengan menggandeng tangan ini.


Aku hanya berdiri memperhatikan Reno dan teman-temannya yang masih bersalaman ala mereka. Sampai sekarang aku belum tahu nama mereka.


“Ren.”


Semua menoleh pada Zain, kecuali Reno yang malah membuang muka.


“Lo manggil gue?” tanya Rendi sambil tangan yang menunjuk dirinya sendiri.


Zain menggelang.


“Reno?” sahut cowok yang sedari tadi mengusap-usap kucing yang dipegangnya.


Zain diam dengan tatapan yang terarah pada Reno.


“Napa?” tanya Reno yang terdengar malas.


“Gue mau bicara sama lo.” setelah mengatakan itu Zain melangkah menjauh.


Cowok yang memegang kucing itu menepuk-nepuk bahu Reno seakan menyuruh Reno untuk mengikutinya. Reno berjalan mengikuti arah Zain.


Aku hendak melangkah mengikuti Reno. Tentunya aku kepo, apa yang ingin Zain bicarakan dengan Reno.


“Eiitts, Lo mau kemana?” tanya Rendi memegang kerah belakang bajuku.


Langkahku terhenti. Kutolehkan kepala ke arah Rendi. “Mau ikut Renren,” jawabku.


Rendi menggeleng, “Nggak, biarin mereka berdua sementara waktu.”


Kenapa ucapan Rendi terdengar aneh di telingaku?


“Ayo.” tanganku ditarik oleh Rendi.


Aku hanya pasrah mengikuti langkahnya. Sedangkan yang lain sudah 'tak terlihat. Kemana mereka, cepat sekali hilangnya. Apa mereka punya kekuatan menghilang?


***


Ternyata dibelakang rumah Rendi ada lapangan basket, disini udaranya segar, tanamannya terawat, dan banyak bunga-bunga. Pantesan Reno suka kesini. Menyesal aku yang dulu sering menolak untuk datang kesini, padahal sudah sering Reno mengajak, dan baru dua kali aku ke sini.


Di tambah lagi dengan adanya ruangan gym. Jangan tanya aku tahu dari mana. Rendi memang rada-rada sengklek, masa cewek cantik sepertiku disuruh nggym sendiri, masih untung kalau ada yang menemani. Katanya biar cantik dan kenceng, pasti Reno bahagia. Apa hubungannya nggym dengan Reno bahagia?


Akhirnya setelah berdebat dengan Rendi. Aku terdampar di bangku putih yang kududuki sambil memperhatikan mereka yang bermain basket. Keringat mereka seakan menambah nilai plus, terlihat seksi.


“Minum.”


Rendi berlari kesini dengan keringat yang telah membanjiri kening dan lehernya.


Kusondorkan botol air minum pada Rendi. Dia duduk di sampingku sambil meminum airnya.


“Baik, kan, gue.” Rendi menepuk-nepuk dadanya.


“Apanya yang baik?”


“Lo nggak ngerasa gitu, gue bela-belain nemenin Lo disini?”


Aku menggeleng. Toh, aku tidak menyuruhnya menemaniku disini.


Rendi berdehem.


“Lo tau nggak, bedanya Lo sama lemari gue?”


“Nggak.”


“Kalau lemari gue, kuncinya ada di gue. Tapi kalau hati lo, kuncinya ada di Reno, hahah ....” Rendi tertawa sambil menepuk-nepuk bangku yang kami duduki.


Apanya yang lucu coba?


Ia menghentikan tawanya, kembali menegakkan badan sambil berdehem.


“Udah, bro. Lo nggak lucu,” ucap cowok yang memegang kucing tadi. Sudah kubilang aku belum tau namanya. Dia berlari kecil ke arah kami.


Cowok itu merebut botol minum ditangan Rendi dan meminumnya sampai habis, kemudian menendang botol itu ke arah tong sampah. Tepat sasaran. Hebat.


“ Arabell ? Ya 'kan?” tanyanya.


Aku mengangguk.


“Gue Dewa.”


Aku mengguk-mangguk. “Salam kenal.”


Dewa duduk lesehan di rumput. “Lo yang kemaren didandani tante Rina?”


“Iya hehe.”


“Lucu Lo ya, pantesan Reno suka,” ucapnya. “Ya udah, gue ke lapangan dulu, Lo Ren?”


Rendi menggeleng.

__ADS_1


Dewa mengedikkan bahu dan segera berjalan.


“Lo hati-hati sama dewa, Ra , dia playboy kelas kakap,” bisik Rendi.


“JANGAN GOSIPIN GUE, RENDI!”


Aku terkekeh mendengar Dewa yang teriak. Sedangkan Rendi terdengar mendengus. Aku baru tahu kalau Rendi tukang gosip, berbanding terbalik dengan di sekolah yang terlihat cool.


“Beneran lho, Ra ,” bisik Rendi lagi.


“RENDI!”


Tawaku pecah mendengar teriakkan Dewa lagi.


Duh, perutku sakit karena tertawa. Kuhembuskan nafas setelah berhasil menghentikan tawa.


“Lo mirip Zain kalo ketawa.”


“Ha?”


“Iya, persis banget, walau Zain jarang ketawa sih,” ucap Rendi, “Terakhir yang gue inget, pas Lo datang kemaren kesini.” Rendi mengusap-usap dagunya seakan berfikir.


“Masa sih?”


Rendi menyipitkan matanya ke arahku. Ia mengangguk.


“Iya, dan lagi kalau dilihat teliti dari sudut pandang keajaiban, Lo bisa dibilang kayak Zain yang perempuan.” Rendi mangguk-mangguk, kembali mengusap dagunya, “Bedanya Zain orangnya kaku, Lo asyik.”


“Keajaiban?”


“Iya, soalnya Lo nggak sedarah sama Zain, tapi bisa mirip.”


Kembali teringat ucapan om Kean. Apa mungkin Zain dan aku saudara, dan om Kean memang ayahku?


Rendi mengalihkan pandangan pada Reno dan Zain yang baru datang.


“Lama amat, bicarain apa?” tanya Rendi.


“Nggak boleh kepo,” ujar Reno.


Ku perhatikan Zain, ia juga menatap ke arahku. Apa mirip? Apa mataku setajam Zain?


“Ngapain natap gitu, naksir sama gue?” tanya Zain.


Reno menjitak kepala Zain. Sepertinya mereka sudah baikan. Setelahnya mereka berdua membuka baju. Kututup wajahku dengan tangan. Ingat! Dosa.


“Nggak tau tempat!” ketus ku.


“Alah, bilang aja lo dah sering liat ABS Reno,” ujar Rendi.


Ku dorong wajah Rendi yang entah kenapa hari ini terlihat mengesalkan.


Astaga! Mataku bertemu dua roti sobek. Bolehkah adek sentuh bang?


“Cih, tadi sok nggak mau liat, lah, sekarang dipelototin.”


Ku dorong kembali wajah Rendi dengan tanganku. Persetan dengan dosa, dah terlanjur.


Tanpa sadar tanganku sudah terarah ke perut Zain.


Plak!


Tanganku di tepis Reno. Aku menggelengkan kepala. Astaga, apa yang aku lakukan? Bagaimana kalau Reno cemburu dan nonjok Zain lagi?


“Hahaha ... kesemsem juga sama Zain.”


Aku melotot ke arah Rendi yang tidak tahu situasi. Nggak tahu apa, orang lagi diujung tanduk. Kulirik Reno pelan-pelan, takutnya ia cemburu. Wajahnya cemberut.


Reno menarik tanganku menjauh dari mereka berdua.


“Jangan sentuh punya Zain, punya Reno lebih enak.” Reno menarik tanganku mendekat ke arah perutnya.


Ku sentak tangannya.


“Ara bukan murahan!” ketusku.


“Kalau bukan, ngapain tangannya tadi kayak gitu?”


“Tangannya gerak sendiri!”


“Mana ada tangan gerak sendiri,” ucap Reno terdengar meremehkan.


“Iya, bukan gerak sendiri, Ara yang pengen! Puas!” teriakku.


Air mataku jatuh sendiri, entah kapan munculnya. Aku hendak berlari menjauhi Reno tapi tangannya menyentak tanganku hingga tubuhku terasa dipeluk.


“Sstts, jangan nangis, Reno cuma becanda.” tangannya mengelus kepalaku.


Ku dongakkan kepala untuk melihat wajahnya.


“Beneran? Ara, boleh pegang perut Zain?”


Wajah Reno berubah datar. Ku tutup mulut saat menyadari ucapanku.


“Yang itu bukan becanda! Nggak boleh!”


Aku mengangguk.


“Ya udah, duduk lagi sana, Reno mau ganti baju, mau main sama anak-anak.”


Ku anggukkan kepala dan segera berjalan ke bangku tadi. Rendi dan Zain sudah 'tak terlihat disana. Kualihkan pandangan ke arah lapangan, mereka berdua sudah disana, bahkan Zain sudah berpakaian seperti cowok yang lainnya.


“Ara !”


Kualihkan pandangan ke arah sumber suara. Terlihat Tante Rina yang berdiri di samping pintu.


“Sini!” teriak Tante Rina.


Segera kuhampiri.


“Ya, bunda?” tanyaku saat sampai didepan Tante Rina.


“Ikut bunda yuk, kita masak.” Sebelum aku menjawab, tante Rina sudah menarik tanganku.


Ini rumah atau apa? Kenapa dari tadi jalan nggak sampai-sampai?


“Ini rumah atau apaan sih, Bun? Kok gede amat?”


“Ini surga, sayang.”


“Surga?”


“Iya, kamu bakalan tahu kalau udah nikah nantinya.”


Benarkah?


Lama berkutat didapur. Aku sedikit-sedikit paham dengan yang diajarkan Tante Rina. Baru pertama kali aku belajar memasak, ternyata tidak susah.


“Kalau perempuan, harus bisa masak,” ucap tante Rina.


Aku mangguk-mangguk.


“Kalau nggak bisa masak, nanti suami makan apa?”


“Makan nasi, Bun.”


Tuk!


Ku usap kepalaku yang terkena getokan sendok Tante Rina. Kayak nenek gayung aja, pakai getok-getok.


“Suami itu lebih senang kalau istri yang masakin dirumah,” ujar tente Rina.


“Masa sih, Bun?”


Tuk!


Ku usap lagi kepala yang terkena ciuman sendok.


“Emang Sasa nggak pernah liat, abang abang Ara bahagia liat nenek Ara masak?” tanya tante Rina.


Aku menunduk dan menggeleng.


“Ara aja nggak tau rupa ayah Ara gimana.”


Ku tahan air mata yang seakan berdesakan ingin keluar.


“Maafin bunda, sayang,” lirih tante Rina sambil memelukku.


Tuk! Tuk! Tuk!


Tangisku pecah.


Tuk! Tuk! Tuk!


“Sstts, udah, sayang.”


Tuk! Tuk! Tuk!


“Iya, bunda hiks ... tapi jangan getok pala Ara terus hiks, sakit.”


Pang!


“Eh maaf, sayang, bunda pikir itu tangan bunda hehe,” ujar tante Rina setelah melemparkan sendok itu.


Apa persamaan antara tangan dan sendok, bunda.


👋🙋Haii readers,


Semoga suka dengan cerita nya.


Tinggalkan jejak lke dan koment bawelnya.

__ADS_1


.


.


__ADS_2