Gadis Imut Kesayangan Playboy

Gadis Imut Kesayangan Playboy
Eps .52.Apa Om kean ayah Ara??


__ADS_3

Setelah dua hari Reno sadar, akhirnya mama Reno meminta ke pihak Rumah sakit untuk pulang dan Reno pun di bolehkan pulang. Ara bahagia Reno sudah sadar dan boleh pulang, Ara pun menemani Reno pulang kerumah nya.


**********


Minggu.


Jam di nakas menunjukkan pukul 9.45. Aku rasanya masih malas untuk beranjak tapi seketika teringat dengan apa yang harus aku lakukan.


Aku duduk. Mengucek mata, menggeliat. Segera beranjak dari ranjang dan berlalu membersihkan tubuh. Tidak lama cuma sepuluh menit.


Ku pakai dres putih pas badan, menggurai rambut dan memoles sedikit. Sudah selesai aku berdiri di depan cermin. Cantik.


Segera turun ke bawah untuk sarapan. Maklum Minggu, jadi siangan. Kulihat bunda dan Rissa di meja makan.


“Pagi nek, abang -abang dan Rissa.”


“Anak gadis kok bangun telat.” nenek mencubit pipiku.


“Nenek jangan cubit, sakit,” rengekku.


Sebenarnya nggak sakit cuma mau manja aja.


Rissa hanya tersenyum.


Segera aku duduk di samping Rissa dan menyendok nasi goreng ke mulut. Enak. Bukan nasi goreng bunda atau pun bi Ijah, apalagi bang Refan,Apa Rissa?


“Enak,” ucapku.


“Rissa yang bikin,” ujar nenek.


“Rissa bisa masak?” tanyaku.


“Bisa, kak.” Rissa mengangguk antusias.


“Hebat, ajarin aku dong Rissa, mau nggak? Soalnya enak banget.”


Rissa tersenyum dan mengangguk.


Kembali kulanjutkan makan.


“Bang Refan !” panggilku ketika melihat bang Refan menuruni tangga.


Bang Refan menoleh.


“Nasi goreng enak bang, Rissa yang bikin,” lanjutku.


Bang Refan menatap Rissa.


“Abang ada urusan sama temen, jadi langsung pergi aja,” ujar bang Refan.


Setelah mengatakan itu bang Refan berlalu keluar rumah. Biasanya hari Minggu dia nggak ada kerjaan, palingan cuma gosok motornya di depan atau sekedar makan mangga samping rumah. Tumbenan ada urusan. Aku mengedik kan bahu, melanjutkan makan yang sempat tertunda.


“Mau pergi sama Reno?” tanya nenek.


Aku mengangguk, kemudian minum air sesudah menghabiskan makanan.


“Mau cari baju pengantin, di suruh mama Dewi .”


Nenek mengangguk.


“Ya udah, Ara pergi dulu, Rissa mau ikut?” tanyaku mengalihkan perhatian ke samping.


“Boleh?” tanyanya.


Aku mengangguk.


"Ara,Rissa pergi sama nenek nanti.” nenek berujar.


“Oh, ya udah. Ara pamit nek, Ris.”


Nenek tersenyum begitupun dengan Rissa.


Selanjutnya aku melangkah ke rumah Reno. Bersamaan dengan kakiku yang mendekati pintu, Reno keluar dari rumahnya.


Kami berpamitan dulu pada Tante Dewi dan segera pergi menggunakan mobil Reno. Yah, mobil, karena aku yang menggunakan dress. Jadi lebih mudah kata mama Reno.


“Renren.”


“Hmm.” Reno masih fokus pada jalan di depan.


“Beneran kita bakalan nikah?”

__ADS_1


Reno menoleh sebentar. Kembali fokus pada jalan. “Iya.”


“Ara masih nggak nyangka.”


“Emang kenapa?”


Aku cengengesan. “Nggak.”


Reno mengangguk. Menepikan mobilnya ke parkiran toko tempat baju pengantin kami. Yang kutahu sang pemilik bernama Reni. Tantenya Reno.


Segera kami melangkah ke dalam dan di sambut oleh seorang pria, tapi mirip wanita. Gimana sih, maksudnya pria dengan penampilan wanita.


“Ehehehe, ini dengan mas Reno dan mbak Ara ya,” ujarnya dengan logat persis wanita, hanya saja suaranya 'tak mendukung. Tentunya karena dia laki-laki.


“Iya.” Reno menjawab.


“Ayo sini, ikut dengan eke.” Dia berjalan dengan langkah yang berlenggak-lenggok.


Kami di suruh duduk di sofa ruang tunggu dulu. Katanya Tante Reni bentar lagi kesini.


“Eh Reno udah datang.”


Ku alihkan pandangan pada sumber suara. Terlihat wanita cantik berjalan dengan sedikit berlari. Terlihat seperti mama Reno. Ia kemudian duduk di samping Reno.


“Wah, ini Ara ya.” kemudian ia menyelip antara aku dan Reno dan menangkup wajahku.


“Kamu ya, Ra , kemarin masih bocah sekarang udah gede aja, cantik banget,” ujarnya. “Masih ingat Tante nggak?”


Aku hanya tersenyum. Aku tidak ingat, kapan aku pernah bertemu dengan Tante Reni ini.


“Pasti nggak ingat ya, huh, Tante yang kemarin bawain kamu makanan itu loh,” katanya.


Aku hanya mampu geleng kepala karena tidak mengingat apapun. Mungkin karena aku masih kecil waktu itu.


Raut wajah Tante Reni terlihat sedih tapi sedetik kemudian ia kembali terlihat bersemangat.


“Nggak papa, sekarang ikut tante, kita cari gaun yang indah.” Wanita cantik ini menarik tanganku.


Dia kembali berhenti dan menoleh pada Reno yang masih duduk. “Oh, iya. Sese!” teriknya.


Tak lama setelahnya pria tadi datang dengan sedikit berlari ke arah kami.


“Ya, nya.”


“Siap nyonya.” pria mirip wanita itu segera mengamit lengan Reno dan membawanya dengan berlenggok. Reno cemberut menghadap ke arah kami seakan minta tolong untuk di lepaskan dari pria itu.


Tante Dewi terlihat tidak peduli dan menarik tanganku. Membawaku entah kemana.


***


“Pilih, sayang,” ujar Tante Reni.


Tiga jenis gaun pengantin yang di perlihatkan oleh Tante Reni. Mataku menangkap indah pada gaun berwarna putih tulang. Ia terlihat indah dengan aksen yang sempurna.


“Ini Tante.”


Tante Reni mengangguk dan membantuku untuk mencoba gaun ini. Tidak sulit, cukup simple.


“Liatin dulu ke Reno,” ujar Tante Reni.


Aku mengangguk dan berjalan dengan Tante Reni ke ruang tadi. Terlihat Reno yang sedang duduk sambil memainkan ponselnya. Kenapa rasanya deg degan. Rasanya seperti mau ngambil raport hasil belajar yang nilainya di bawah rata-rata.


“Reno,” panggil tante Reni.


Reno mendongak dan segera berdiri. Dia terlihat berbeda dengan tuxedo yang ia pakai. Terlihat sempurna dan ... tampan.


“Ekhem.”


Aku tersadar saat Tante Reni berdehem. Tapi Reno masih terlihat diam sambil menatapku. Aku tau, pasti aku cantik. Hehe


“Reno.” Tante Reni menepuk pundak Reno. Seperti tersadar Reno segera mengalihkan pandangan.


“Udah pas?” tanya Tante Reni .


Kami mengangguk.


Setelah di rasa sudah pas kami mengganti pakaian kembali dengan baju tadi. Sementara baju itu kata Tante Reni akan di antarkan sehari sebelum acara.


Kami keluar setelah berpamitan pada Tante Reni.


***

__ADS_1


Hening.


Keadaan ini membuatku canggung. Tiba-tiba tanganku di serasa digenggam. Aku menoleh pada Reno.


“Renren.”


“Sttt, udah, biarin gini dulu.” Reno tetap menggenggam tanganku sebelah. Dengan tangannya yang satu lagi memegang stir.


Di dalam sini rasanya tidak baik. Terasa berdegup lebih kencang.


“Renren, Ara lapar.” sebenarnya tidak lapar, hanya berusaha mencari topik agar sedikit mengurangi rasa gugup.


“Mau makan apa?” tanya Reno.


Di dalam sini kembali merasa tidak baik saat jari Reno terasa mengusap punggung tangan. Kenapa rasanya rongga dadaku menyempit, atau mungkin oksigen yang menipis.


“E-emm, terserah,” jawabku sekenanya.


Reno menoleh kemudian terkekeh. Ia melepaskan genggamannya beralih mengusap kepala. Kembali lagi menggenggam tanganku.


Reno menepikan mobilnya di depan sebuah restoran. Ia turun kemudian memutari mobil, membukakan pintu sebelahku. Segera aku turun.


Saat akan berjalan kami melihat ayahnya Zain. Reno menawarkan ayah Zain untuk makan bersama kami. Sampai di dalam restoran kami duduk bertiga di salah satu meja.


Walaupun aku tidak lapar tapi melihat menu yang enak membuatku ingin menelan semuanya.


“Pelan-pelan,” ujar Reno.


Aku hanya tersenyum. Melihat ke arah om Kean yang sedang terkekeh, mungkin melihat cara makanku. Aku bukannya tidak pandai makan anggun. Hanya saja sekarang aku ingin makan lepas dulu, besok-besok baru anggun.


“Kamu anak siapa sih?” tanya om Kean sambil terkekeh.


“Bunda Ayu,” jawabku kembali melanjutkan makan.


Om Kean berhenti tertawa.


“Ayu Kamala sari?”


Aku mengangguk dan tetap makan.


Om Kean kembali hening. Aku menatapnya, Reno juga. Dari rautnya ia terlihat terkejut. Memang apa? Ada yang salah dengan ucapanku. Reno juga terlihat bingung.


“Om, tau dari mana nama bunda saya?” tanyaku.


Om Kean terlihat sedih. Sedetik kemudian aku dan Reno di buat terkejut menatapnya yang menangis.


“Ara ” lirihnya.


“Iya, om,” jawabku hati-hati.


“Anak ayah,” ucapnya.


Aku terkejut. “M-maksud om?”


“Kamu anak saya.” om Kean kemudian memelukku.


Segera ku sentak tangannya yang merengkuhku. Aku tidak mengerti. Bagaimana mungkin dia ayahku. Sedangkan kata nenek ayahku sudah meninggal.


“Nggak om, ayah saya sudah meninggal,” tegasku.


“Ayu bilang saya meninggal?” air mata om Kean kembali menetes.


Aku bingung.


“Dengar Ara , kamu anak ayah, nak,” ucapnya lembut.


Aku bingung dan segera menarik lengan Reno untuk pergi dari hadapan om Kean yang mengaku menjadi ayahku. Mana mungkin.


Sebelum benar-benar keluar aku menatap kembali ke arah meja yang kami duduki tadi. Walaupun aku masih sayang makanan tadi, tapi kali ini perhatianku bukan makanan, tapi om Kean. Dia terlihat menunduk dengan bahu bergetar, aku rasa dia menangis. Apa aku keterlaluan? Terbesit rasa sedih melihatnya, tapi pikiran 'tak menyetujui untuk berbalik atau sekedar pamit undur diri.


Reno terlihat hanya diam saat aku menariknya pergi. Kami sampai di mobil Reno dan segera masuk.


Tanpa sadar air mataku menetes. 'tak bisa ku pungkiri kalau aku memang merindukan sosok ayah. Tapi itu tidak mungkin terjadi, karena ayahku sudah meninggal sebelum aku lahir kata nenek.


Reno memelukku. Mungkin dia tahu, diri ini yang teramat merindukan sosok ayah. Kembali teringat ucapan om Kean. Apa mungkin om Kean ayahku? Tapi kenapa nenek bohong? Apa yang terjadi? Apa alasannya?


Aku tidak tahu. Aku bingung.


Hayo? Ada yang bisa nebak apa yang terjadi?😆


Yang bisa dapat hadiah jalan gratis😂

__ADS_1


Anda bebas berjalan dimana saja termasuk di depan rumah saya😂 becanda😂🙏


__ADS_2