Gadis Imut Kesayangan Playboy

Gadis Imut Kesayangan Playboy
Eps. 96. Lebih Baik Kita Berpisah


__ADS_3

Jika memang kedatanganku di hidupmu, hanya beban. Hanya membuatmu berpisah, dengan orang yang kamu cintai ... maka tolong biarkan aku, pergi. ~Arabell Sofyani.


πŸ₯πŸ₯πŸ₯πŸ₯


Hari senin, Ara akan pergi lagi ke kampus. Walau harus berdebat adu mulut, dengan Reno. Yang belum mengizinkannya ke kampus, tapi Ara tetap keukeh ingin ke kampus. Dengan jurus andalannya, yaitu pura-pura ingin menangis.


Dengan pasrah, Reno menuruti. Dengan syarat, jangan panas-panas an dan harus berangkat dengannya.


🐀🐀🐣


Setelah jam kedua selesai, Ara akan ke ruangan suaminya. Karna tadi Reno memang menyuruhnya, datang setelah jam pelajarannya selesai.


Ara melangkah 'kan kakinya keruangan pak Reno plus suaminya. Dia melangkah dengan perasaan senang.


Saat sudah sampai di depan ruangan, Ara tersenyum miris. Perasaan senangnya hilang seketika, saat melihat adegan yang mengiris hatinya.


"M ... Mas," panggil Ara lirih dengan perasaan yang berkecamuk.


Di depannya sendiri, suaminya berpelukan dengan wanita lain. Apa lagi itu mantan pacarnya ... sakit hati, itu yang di rasakannya.


"Ara !" Reno langsung mendorong tubuh Anis, menjauh darinya.


"Araaa, saya bisa jelas β€”."


Arsenal menggeleng lemah, dengan senyum getirnya. "Lanjutin ... maaf kalau saya ganggu," ucap Ara dan langsung berlari meninggal 'kan kedua orang itu.


"Van ... maaf, a -aku gak maksud b- buat jadi g- gini," ucap Anis gugup, karna di tatap tajam oleh Reno.


"Lebih baik kamu pergi sekarang!"


" Ren aku β€”."


"Keluar!" Intonasi suara Reno meninggi, dengan perasaan takut, Anis keluar ruangan Reno.


Reno mengusap rambut sampai wajahnya kasar. Dan dengan cepat mengambil barang-barangnya lalu berlari menyusul Ara.


Sedangkan Ara, dia berlari berusaha menahan agar air matanya tidak jatuh. Banyak orang yang memandangnya bertanya.


Tujuannya sekarang adalah parkiran, tapi saat hendak melewati kelasnya. Faris ada disana dengan melambai 'kan tangannya.


"Ara . Kamu kenapa?" tanya Faris.


"Gue gak apa-apa kok," jawab Ara dengan senyuman.


"Bener?"


"Iya."


"Terus kamu mau kemana?" tanya Faris.

__ADS_1


"Ke parkiran. Gue mau pulang," jawab Ara .


"Bareng aja gimana? Kebetulan gue juga mau keparkiran," ujar Faris.


"Yaudah." Lalu mereka berjalan, dan mengobrol. Sesekali tertawa bersama, sedikit perasaan sedih Ara hilang.


"Kamu bawa mobil?" tanya Faris, setelah sampai.


Ara menggeleng, karna tadi dia berangkat dengan suaminya.


"Terus lo balik naik apa?"


"Gue balik sama Tania atau Risa ," ucap Ara berbohong.


"Atau mau bareng gue aβ€”." Ucapan Faris langsung terpotong, saat suara bariton memanggil nama Ara.


"Eh ada calon kakak ipar. Yaudah, gue balik deluan ya," ucap Faris. Memang Faris sudah tau kalau Reno dosen disini, tapi belum tau kalau mereka bukan adik-kakak. Tapi entah belum tau, atau pura-pura tidak tau ... hanya dia yang tau soal itu.


"Faris gue ikut sama lo," ujar Ara.


"Kamu pulang sama saya!"


"Kamu pulang sama Reno ya ... nanti gue kena jotosnya lagi," ucap Faris terkekeh, dan masuk kedalam mobilnya.


"Naik!" perintahnya.


"Saya bilang Naik!" ucap Reno dengan suara terdengar marah juga emosi. Dan rahangnya mengeras.


Karna tidak ada pilihan lain, Ara terpaksa masuk kedalam mobil Reno.


Setelah sampai dirumah, Reno langsung keluar dan membanting pintu mobilnya. Hingga Ara yang baru membuka seat belt-nya terlonjak kaget.


"Harusnya aku yang marah," lirih Ara dengan air mata yang tertahan. Dan Ara turun, lalu masuk kedalam rumah. Pertama yang dia lihat, adalah mbok Mina yang sedang memandangnya seperti bertanya. Karna tadi dia melihat Reno dengan wajah emosi.


"Gak ada apa-apa Mbok," ucap Ara dengan senyumannya. Lalu menyusul suaminya ke kamar.


Perlahan Ara membuka pintu, dan melihat disana ada Reno yang sedang duduk di pinggir ranjang dengan tangan mengepal.


Ara menarik nafasnya dalam, baru kali ini dia melihat suaminya se emosi sekarang.


"Mas." Namun tidak di gubris.


"Mas, maaf. Tadi aku cuma kebetulan ketemu sama Faris."


"Tidak sengaja ketemu, lalu pake acara bicara sambil ketawa-ketawa?! Mas sudah mengejar kamu, karna nggak mau kamu salah paham. Tapi apa yang mas lihat! Kamu malah ke enakan mengobrol juga ketawa-ketawa! Gitu?!" ucap Reno dengan nafas memburu.


"Kenapa malah Mas yang marah? Harusnya yang marah disini itu 'Ara Mas! Kamu pelukan sama mantan kamu, di depan mata aku!" ucap Ara sama emosinya.


"Tapi itu tidak seperti yang kamu pikir!"

__ADS_1


"Ara juga cuma ngobrol sama Faris!"


"Saya suami kamu Ara ! Kamu sudah punya suami! Tapi kenapa kamu malah dekat-dekat sama laki-laki itu? Ha!" bentak Reno.


"Mas nggak suka aku dekat sama dia?! Mas nggak mau, aku dekat sama laki-laki lain? Tapi Mas sendiri yang pelukan sama Mantan 'Mas, didepan mataku sendiri! Aku istrimu 'Mas, aku juga bisa marah!" bentak balik Ara dengan mata berkaca-kaca.


Reno terdiam, ya memang benar. Yang diucap 'kan Ara memang benar, dia memang berpelukan dengan mantannya. Tapi itu bukan kemauan dirinya.


"Dan Mas bilang, Anis sudah balik lagi ke Australia. Tapi kenapa bisa ada di ruangan, Mas?!"


"Kenapa diam? Yang aku bicarakan memang benar 'kan?! Mas main-main sama perempuan lain, pelukan sama wanita itu. Sedangkan aku ... kita hanya kebetulan ketemu didepan kelas, hendak ke parkiran. Dan kebetulan, tujuan kita sama. Jadi kita bisa jalan sama-sama, dan mengobrol. Hanya itu, kita tidak pegangan tangan, apa lagi pelukan! Karna apa? Karna Ara menghormati suami ARa! Ara menghormati pernikahan kita, 'Mas!" tekan Ara.


Reno diam, walaupun dia tidak meminta penjelasan. Tapi ucapan Arabarusan, sudah memperjelas semuanya.


"Kalau memang, 'Mas masih mencintai mantan pacar 'Mas. Lebih baik kita ... Berpisah! Lebih baik 'Mas ceraikan Ara !" tegas ARa dengan air mata yang berjatuhan.


Reno kaget, lagi-lagi dia mengepalkan kuat tangannya dan menggertak 'kan giginya kuat.


"Jangan dengan mudahnya kamu bicara seperti itu Ra!" bentak Reno.


"Bicara apa? Asal Mas tau, Ra kadang jengah. Kadang Ra berusaha sabar menghadapi sikap posesifnya Mas. Ramerasa tertekan 'Mas! Ra dilarang dekat sama ini, dilarang dekat dengan itu! Tapi Mas sendiri ... kalau didekatin perempuan, aku mendam semuanya. Aku gak mau ngelarang sana-sini kalau belum kelewatan batas, itu karna aku gak mau kamu ngerasain apa yang aku rasain 'Mas!


Tapi setelah apa yang aku lihat tadi ... itu cukup membuat Ra sakit hati," ucap Ara dengan air mata berjatuhan.


Sakit? Itu yang dirasakan Reno sekarang. Sangat sakit rasanya, melihat dan mendengar sendiri curahan hati istrinya, melihat istrinya menangis menitik 'kan air mata. Apa dia sangat egois selama ini?


Karna tidak dapat menahan sesak didadanya, Reno memilih pergi ke ruang kerjanya. Dari pada tetap di situ, akan membuat emosi dan rasa sakitnya bersatu.


Ara terkulai lemas dilantai dengan terisak, baru kali ini dia merasakan sakit yang amat sangat.


Mbok Mina yang dari tadi melihat pertengkaran majikannya, ikut merasakan kesedihan itu. Lalu dia masuk, dan memeluk majikannya yang sedang menangis sesugukan.


"Sabar 'Non ... sabar," ucap mbok Mina sambil mengelus punggung Ara.


"Araaaaa salah ya Mbok, kalau Araaa m -marah ka karna su -suami Ara di peluk sama p -perempuan yang b -bukan s -siapa-siap kita," ucap Ara dengan sesegukan.


"Tidak salah 'Non. Tapi waktu dan cara marahnya gak tepat," ujar mbok Mina juga ikutan menangis.


"Non Ara tenangin diri dulu ya ... mbok mau ke den Reno dulu." Ara mengangguk, memang dia butuh waktu untuk sendiri dulu.


Selepas mbok Mina keluar, Ars pergi membasuh wajahnya yang sudah sembab. Perutnya tak henti-hentinya berbunyi, dengan sangat terpaksa. Ara melangkah keluar kamar, saat di depan kamar. Ar berpapasan dengan Reno, tanpa mengucap 'kan satu kata 'pun. Ara berlalu meninggal 'kan Reno tanpa melihat kearahnya yang masih berdiri.


Reno memandang nanar, punggung Ara yang berjalan menjauh dari tempatnya berdiri.


Sorry For Typo. πŸ™


Huaa, mau nangis tapi gengsi🀧


Part kali ini sedih gak?πŸ‘‰πŸ‘ˆ

__ADS_1


__ADS_2