
Masih ada yang ingat sama cerita ini ?
***
Hubungan Tania dengan Gino sudah menjadi lebih baik. Kemesraan sering mereka tunjukan jika sudah berdua. Di kampus belum banyak yang tau hubungan mereka kecuali para dosen dan teman dekat Tania saja.
Anabela saja tidak tau. Dan ia sedikit mendengar kabar burung bahwa Gino memang sudah menikah. Anabela begitu kecewa, dan merasa perhatian dan kebaikan Gino seperti membuka hati untuknya ternyata itu hanya harapan semu belaka.
Bruk!
Anabela mendekap Gino dari belakang di tengah lapangan. Dan menjadi pusat perhatian banyak mahasiswa/i
"Kenapa bapak lakuin ini, kenapa saat cinta itu semakin tumbuh dalam tapi bapak sudah memiliki istri? Katakan ini hanya berita tidak benar," ungkap Anabela dengan air mata berjatuhan
Gino sebenarnya merasa bersalah juga. Hingga ia diam belum melepaskan dekapan Anabela, ia siap mendengar kekesalan dari hati dan mulut Anabela kepadanya.
"Kenapa bapak tidak bilang sama Anabela seandainya bapak bilang ... Anabela tidak akan jatuh cinta sama bapak terlalu dalam," kata Anabela
"Ya, benar saya sudah menikah. Maka dari itu lupakan saya," suruh Gino
Sembari melepaskan pelukan Anabela lalu mereka berhadapan.
"Katakan siapa istri bapak itu?"
Semua orang tidak ingin kehilangan momen ini sehingga mereka sangat serius memperhatikan apa saja yang akan terjadi selanjutnya.
Tania yang sedang berjalan dari kantin menuju lapangan yang ramai.
"Tania !" Seru teman Dina
"Ada apaan itu?" tanya Tania
"Mendingan kamu ikut aku" ajak Dina dan Ara Temannya.
"Eh!" Tangan Tania ditarik smbil berlari mengikuti temannya juga.
Tania terpaku ketika sudah berada di tengah bersama Anabela dan Gino Juga. Terlihat kedua mata Anabela sembab dan Tania melirik Gino meminta kejelasan karena dia tidak mengerti.
Gino menarik Gino kedalam rangkulannya.
"Tania adalah istri saya,"
"Wah!"
"Serius itu? Hatiku terpotek!" Seru mahasiswi lainnya yang berada disana.
"Enggak mungkin, bapak bercanda mana mungkin seorang murid menikah dengan guru. Itu tidak mungkin !" Bantah Anabela.
Tania tersenyum dengan senang lalu memeluk Gino dengan erat. "Memang kenyataannya begitu, kami sudah menikah lihat.Tania menunjukkan cincin pernikahan nya sama dengan milik Gino.
"Jadi, mereka beneran sudah menikah."
"Pandai sekali mereka merahasiakan nya."
"Aku sakit hati sekali hiks"
__ADS_1
Begitu banyak komentar orang-orang terhadap Tania dan Gino yang merahasiakan pernikahan mereka selama ini.
"Aku tidak percaya,"kata Anabela.
"Semua sudah jelas kenapa kamu tidak percaya si? Kamu jangan jadi pelakor ya!" bentak Tania
"Kamu yang bermimpi, pak Gino cuma bercanda aja dan kamu yang kebaperan dan perihal cincin ini bisa di pesan kok!"
"Anabela saya sudah katakan yang sebenarnya kamu belum percaya juga, baiklah jika begitu mungkin ini kamu akan percaya."
Cup!
Dihadapan semua orang Gino mencium bibir Tania. Semua orang berteriak histeris sedangkan Anabela menggepalakan tangannya lalu meninggalkan lapangan.
Semua orang bertepuk tangan dan bersorak gembira karena mereka sudah menunjukkan hubungan keduanya sebenarnya.
***
Anabela tidak bisa menerima kenyataan ini. Begitu sulit hatinya untuk berlapang dada lalu rela dan ikhlas dengan semua yang sudah terjadi pada hari ini. Anabela ingin mengetahui semuanya dengan caranya sendiri supaya ia tau kelemahan juga kelebihan dalam rumah tangga Tania dengan Gino.
Anabela mengirim mata-mata untuk mengikuti setiap pergerakan keduanya. Kemanapun pasangan itu pergi mata-mata Anabela siap untuk memberitahu dirinya.
***
Seminggu telah terlewati.
Pada saat test harian matematika, Tania tidak menahu dari mana kertas contekan itu tiba-tiba ada di dalam laci mejanya.
"Kamu berbuat curang Tania? pantas saja nilai mu tinggi, ibu sempat heran bagaimana bisa, rupanya kamu mencontek. Ini hal yang tidak baik, " kata ibu dosen pada Tania.
Pras!
Kertas test Tania di robek didepan wajahnya lalu kepingan kertas itu melayang dari atas kepalanya. Tania hanya bisa menatap kertas itu berjatuhan kelantai.
"Kamu tidak punya nilai di pelajaran saya, saya sangat kecewa terhadap anak didik seperti kamu," ungkap ibu guru lalu keluar dari kelas. Tania mulai menangis sedih dan dia tidak bisa membela dirinya sendiri semua orang tidak akan mudah percaya.
"Gak nyangka kita Tania, kamu mulai berbuat curang kaya gitu?" kata teman Tania yang kecewa
Memang seisi kelas Tania sudah berpegang kuat untuk menerima nilai dari isi otak mereka tanpa pertolongan secara curang. Sebuah senyuman terbit dari Anabela namun ia
Segera merubahnya lalu mendekati Tania
Kemudian menepuk bahu Tania.
"Sabar ya," bisik Anabela dengan nada mengejek.
Tania menyentak tangan Anabela.
"Awh!kasar banget sih," ringis Anabela.
"Udah deh, pasti ini kerjaan kamu'kan? kamu yang naruh contekan itu !" tunjuk Tania
"Nuduh tanpa bukti, kamu itu berbuat curang, karena nilai kamu selalu rendah dari aku, jadi kamu iri'kan? tapi dengan cara kotor seperti ini?"
Plak!
__ADS_1
" Tania !" Seru Gino dari ambang pintu melihat Tania yang menampar Anabela lalu ia memisahkan keduanya sebelum bertengkar lagi.
"Ada apa ini? Tania , kenapa kamu menampar Anabela ? mau jadi preman kamu?!" kata Gino.
"Gak tau pak, Anabela cuma ngasih saran aja tapi dia respon nya kaya gitu, awh ... sakit banget pipi aku," lirih Anabela dan memang pipinya merah. Gino memerhatikan muka Anabela lalu menatap Tania ingin sekali marah.
"Marahin aja aku! biar semua orang marahin aku !" kata Taniadengan emosi memuncak
"Ga ada yang bakal belain aku kok, kamu Anabela dasar drama queen! Bapak mau lihat preman yang sebenarnya seperti apa?" Tania mendekati Anabela
Bugh!
Satu pukulan melayang di pipi Anabela
itu memang Tania sengaja lakukan membuktikan secara jelas pada Gino bagaimana sikap preman itu sesungguhnya nya.
"Tania !" Gino dengan nada tinggi sambil mengangkat tangannya.
"Apa? mau tampar aku? Ayo tampar?!" tantang Tania
Anabela memegang pipinya yang bertambah lebam karena Tania lalu berpura-pura ambruk dan ditangkap oleh Gino
"Kamu dapat hukuman karena ini," kata Gino sambil membawa Anabela keruangan kesehatan.
***
" Tania tolong bicaralah ... kenapa masalah disekolah kamu bawa kerumah segala? " kata Gino.
Tania hanya diam saja, begitu lah dia jika sudah marah tidak ingin bicara lagi bisa bertahan sampai berhari-hari.
Gino mengehentikan langkahnya mencegah niat Tania yang akan tidur di kamar tamu.
Semua maid jadi sedih melihat majikan mereka sedang bertengkar suasana rumah biasanya sangat seru dan hangat tapi hari ini berbeda tiada lagi keceriaan yang tercipta melainkan suara pertengkaran yang sedang terjadi.
"Minggir," kata Tania tanpa menoleh Gino
"Kamu ini kenapa, katakan dulu apa permasalahan nya kenapa kamu berbuat semau mu saja Tania , itu tidak baik ... Jadi berhentilah untuk kekanakan," kata Gino
"Minggir ! Aku bilang minggir !" Tania mendorong Gino untuk menyingkir.
Mulanya Gino tidak ingin menuruti keinginan Tania.
"Aku tidur di kamar tamu atau aku pulang kerumah mama?!" pilihan yang sulit Gino kabulkan, ia mengerti watak anak seusia istrinya itu memang tidak bisa mengontrol tindakan juga emosinya. Gino menyingkir lalu Tania ke kamar tamu
Brak!
Tania menumpahkan tubuhnya diatas kasur lalu memukul guling dan menangis histeris. Begini lah dia jika sedih, dan juga marah dalam waktu bersamaan.
"Gak ada yang akan percaya sama aku hiks, semua semua orang percaya sama Anabela! aku enggak lakuin hal itu, guru, teman, termasuk Gino juga akhhh sialan! awas kamu Anabela ! " oceh Tania dengan tangisan nya
Gino jelas mendengar ocehan Tania dari dalam kamar. Ia juga tidak dapat membenarkan tindakan Tania di kampus yaitu tindak kekerasan terhadap Anabela.
"Harus ku selidiki apa yang terjadi sebenarnya," gumam Gino lalu ia menuju sofa untuk tidur disana.
Bersambung
__ADS_1