Gadis Imut Kesayangan Playboy

Gadis Imut Kesayangan Playboy
Eps. 157. Siapa Yang Datang


__ADS_3

Setelah dari toilet ,mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mereka kembali keparkiran untuk pulang kerumah.


Tania termenung sebentar, lalu Gino yang dari dapur langsung duduk di sebelahnya sambil memberikan segelas air minum dan juga sebuah obat.


"Minum dulu obatnya sayang?" kata Gino.


Gino menaruh obat itu di tangan Tania lalu Tania mulai memasukkan obat itu kedalam mulutnya, lalu Gino membantunya untuk minum agar obat itu bisa secepatnya tertelan.


"Capek?" tanya Gino


Tania menggeleng pelan lalu tangannya meraba lengan Gino , membuat Gino meraih bahu istrinya, bisa di bilang Tania di peluk dalam posisi samping.


"Kamu tadi liat keadaan Aldo'kan? emang udah kaya gimana dia sekarang?" tanya Tania


"Beda dari sebelumnya, kamu tau orang sakit parah'kan?" kata Gino.


"Kasian ya dia, apa lagi Rika istrinya itu ...," ucap Tania.


"Lika -liku rumah tangga setiap manusia pasti ada aja kisahnya, semoga saja Aldo cepat sembuh dan mereka bisa menikmati biduk rumah tangga seperti awal," terang Gino.


"Tapi mereka beruntung," lirih Tania


"Maksudnya?" heran Gino.


"Rika selain sebagai istri yang kuat dia juga wanita yang hebat banget, karena dia bisa hamil. Aku yakin pasti semua suami menginginkan anak dari istrinya ... termasuk kamu," Tania melepaskan pelukan Gino .


"Aku tidak bisa memenuhi itu, aku tidak bisa hamil dan juga tidak bisa melihat seperti ini," kata Tania dengan menahan rasa sedih dan juga kecewanya.


"Kamu ini bicara apa sih? Aku tidak pernah membahas hal itu, karena itu tidak penting," kata Gino.


"Itu penting, sangat penting ... Setiap orang mendambakan adanya anak di tengah keluarga, aku tau kamu juga ingin tapi kamu kasihan sama keadaan aku, makanya kamu selalu membujuk aku dengan segala cara," terang Tania.


Gino kembali memeluk Tania begitu erat.


"Aku menikahimu dulunya memang karena terpaksa karena di jodohkan denganmu, lalu sejalannya waktu berputar karena setiap harinya kita bersama perasaan cinta dan sayangku tumbuh untukmu, sampai akhirnya aku tidak bisa melihatmu sedih, karena air matamu ini terasa menyakitkan di dadaku, aku menerima segenap kelebihan dan juga kekuranganmu. Aku yakin kok, kamu bisa hamil pada suatu saat nanti," jelas Gino menyemangati Tania.


"Jangan berharap hal itu padaku, aku tidak bisa ,"


"10% kamu bisa hamil kok, itu masih ada harapan sayang, jadi jangan bersedih lagi ... Harusnya kamu banyak berdoa supaya nanti keinginan kita juga keluarga kita tercapai, jangan menangis lagi?" pinta Gino sembari menghapus air mata Tania.


Tania mengangguk lalu membalas pelukan Gini, karena sejak tadi hanya Gino yang memeluknya.


___________________


Tok!


Tok!


Tania bingung siapa yang datang pagi seperti ini, sementara Gino sudah berangkat beberapa menit yang lalu.


Brak!


Untung saja Tania berhasil menghindari dari hantaman pintu yang dibuka paksa oleh seseorang.


"Siapa kamu? kenapa kamu mendobrak pintu rumahku?" tanya Tania.


Wanita yang berdiri di hadapan Tania tersenyum miring, lalu melambaikan tangannya di depan Tania. Namun Tania tidak tau tau .

__ADS_1


"Haha, kamu benar buta ya sekarang? ejek Anabela.


"Anabela ? kenapa Lo disini?"


Anabela membisikan sesuatu di telinga Tania.


"Aku ingin melenyapkan mu, "


Tania menegang ditempat, apa lagi dirumah ia sedang sendiri. Dia tidak tau bagaimana nasibnya, memang dia bisa berkelahi tapi dengan mata tidak bisa melihat serprti ini apakah dia bisa melakukan nya.


Anabela duduk lalu mengambil buah apel di atas meja lalu memakannya kemudian mendekati Tania.


"Jangan mendekatiku, aku akan berteriak supaya semua orang datang kemari !"


"Haha, tenang dulu Tania, sebelum melenypakan mu aku ingin mengatakan sesuatu kepada'mu," kata Anabela.


Prang!


Anabela membuang tongkat Tania.Lalu Tania menunduk untik mencari keberadaan Tongkatnya.


"Kamu bisa seperti ini, itu semua karena rencana ku," kata Anabela


Anabela terperangah kaget lalu ia bangkit kembali, dan menunjuk Anabela


"Jahat kamu Ana, kamu hancurin hidup aku sampai begini," kata Tania.


"Kamu fikir, kamu orang baik? kamu yang buat aku keluar dari sekolah, semua ini karena kamu Tania!" marah Anabela


"Itu karena kesalahan kamu, dan kamu penyebab permasalahan nya, Pelakor memang harus di tindas, "


Plak!


Brak!


"Ahhh," ringis Tania


Anabela mencengram rahang Tania


"Melihatmu sudah buta juga tidak bisa hamil sebenarnya membuat aku senang, tapi hatiku belum bisa puas, karena Pak Gino masih bertahan sama kamu, jadi aku fikir aku memang harus membunuh kamu supaya tidak ada lagi penghalang untukku, " jelas Anabela lalu mengeluarkan sebilah pisau lipat.


"Aku tancap dimana ya? di leher atau di jantungmu?" kata Anabela sambil memainkan ujung pisau itu.


"Jangan, "


"Kenapa jangan? kamu harus mati Tania karena hidupmu juga tidak ada gunanya,"


________________________


"bersiaplah !"lalu ia tertawa Anabela sembari mengangkat pisau itu diudara lalu mengayunkannya


Srek!


Darah mengucur begitu derasnya mulanya Anabela tertawa senang namun saat mengetahui targetnya Masih baik-baik saja rupanya darah itu berasal dari genggaman Gino. Dengan tatapan tajam Gino menarrik pisau yang ia genggam untuk melindungi Tania.


Prang!


"Pak Gi-No?" lirih Anabela

__ADS_1


Plak!


Anabela memegang pipinya terasa sakit juga ada noda darah, karena Gino menamparnya dengan tangan yang terluka. Bau amis sangat menyengat.


"Ku sudah tau semua nya, bersiap lah untuk pembalasanku, " smrik Gino.


Lalu mengikat Anabela dan tidak lupa untuk membekab mulutnya supaya tidak bisa berbicara dengan benar.Gino mengikat nya di kursi.


Lalu menghampiri Tania yang masih terkejut atas peristiwa itu, Gino tidak memikirkan luka ditangannya ia membawa Taniake kamar mereka lalu memberikannya air minum.


"Kamu tidak kenapa-napa?" tanya Gino


"Tidak, aku kira hidupku akan berakhir di tangan wanita itu, terimakasih kamu menyelamatkan aku," kata Tania.


"Aku sudah berjanji kepadamu, akan menjaga juga melindungi kamu," balas Gino.


"Apa yang akan kamu lakukan terhadap Anabela itu?" tanya Tania.


"Mengirimnya ke neraka, "


_____________


"Hmm!" Anabela mencoba membuka suara namun tidak bisa.


Gino hanya memandang Anabela dari spion mobil ya dan menambah kecepatan mobilnya , mereka menuju jalan ke hutan.


Setelah di rasa di depan merupakan jurang, dengan cepat Gino keluar dari mobil lalu mobil nya masuk kedalam jurang percikan api keluar dengan berbunyi


Boom!


Seluruh mobilnya terbakar, bahkan lahan hutan dijurang itu ikut terbakar. Gino tersenyum tipis ,setelah semua hangus tanpa tersisa ia menghubungi anak buahnya untuk menjemputnya.


___________________


"Anabela sudah tiada, kamu jangan khawatir lagi ... tidak ada yang akan menganggu lagi," ucap Gino.


"Kamu bener membunuhnya?" tanya Tania


Gino menggngguk. "Dari pada kamu yang dibunuhnya lebih baik dia yang dibunuh," kata Gino


"Kamu enggak takut di kejar polisi?"


"Ku sudah mengatur segalanya, semua akan aman. Jangan fikirkan itu, " cegah Gino.


"Makasih ya,"


"Hn,"


Tania memeluk Gino langsung dibalas pelukannya oleh Gino sembari mengecup kening istri tercintanya.


Ting nong!


Bunyi bel rumah mereka membuat Tania menegang takut saja itu polisi kemari untuk menangkap Gino


"Tenang lah," saran Gino sambil pergi dari kamar.


Ceklet...

__ADS_1


__ADS_2