
Aditya dan Tania telah sampai di rumah Tania yang sederhana , Aditya yang melihat itu sungguh prihatin terhadap Tania, mungkin bila di bandingkan dengan rumah Aditya, rumah itu mungkin hanya dapurnya saja.
"Mama!" teriak seorang anak kecil yang baru keluar dari rumah dan langsung memeluk Tania erat, dan Tania pun membalas pelukan itu.
Mungkin di pikiran Aditya saat ini sedang bertanya-tanya, siapa anak ini? Mengapa ia memanggil Tania dengan sebutan Mama ?
Aditya yang sibuk dengan pemikirannya, hingga ia tidak tau kalau Tania dan anaknya itu sedang menatap ke arahnya.
"Tuan," panggil Tania yang membuat Aditya tersadar dari lamunannya.
"Ya." Itulah jawab dari Aditya tak berselang lama keluar gadis cantik dari rumah itu dan langsung menyapa Tania.
"Kak," panggil gadis yang di perkirankan masih duduk di bangku SMA, semua yang di sana pun menoleh ke arah gadis itu.
"Iya Nabila," jawab Tania dengan lembut.
Siapa?" tanya Nabila dengan menunjuk ke arah Aditya.
"Oh iya, tuan perkenalkan ini Nabila adik saya, dan ini Debby anak saya," ucap Tania dengan lembut dan menampakan senyumannya.
"Ah ... Salam kenal," ucap Aditya ramah, Tania yang melihat Nabila masi bingung langsung angkat bicara.
"Bil, ini tuan Aditya, anak ibu Mira," ujar Tania yang membuat Nabila terkejut, satu kata, tampan batin Nabila.
"Jadi om ini anak, oma mila ya bun," ucap Debby dengan cadelnya yang membuat Aditya menjadi gemas dan langsung berjongkok memjajarkan tubuhnya dengan tubuh Debby. ?
"Iya om anak, oma Mira, kamu kenal?" tanya Aditya dengan nada lembut, entah kena ia sangat tertarik dengan anak itu, biasanya ia tidak pernah seakrab itu dengan orang yang beru kenal.
"Iya dong, Debby kenal kan oma Mila, omanya Debby," ucap Debby yang lansung mendapat cubitan gemas di pipi gembulnya, oleh Aditya dan tanpa beban Aditya mencium Debby
"Owh gitu, ya udah om Aditya pamit pulang dulu ya Debby " pamit Aditya.
"Em ... Tuan gak mau mampir dulu," tawar Tania.
"Tidak terima kasih, lain kali saja, karena saya harus pulang," ucap Aditya yang di balas anggukan oleh Debby.
Aditya pun menjalankan mobilnya dengan kecepatan rata-rata.
Dua hari telah berlalu dan Aditya sering menyuruh orang untuk memberikan uang dan bahan-bahan rumah tangga ke pada Tania, tapi Aditya lakukan itu secara diam-diam tanpa sepengatuan bule dan adiknya, Tania pun juga bingung siapa yang memberikan itu semua.
Aditya sengaja melakukan itu semua dan itu demi Tania karena ia sudah menolong mama tercintanya.
Pagi hari di kediaman keluarga Albaretha tengah sibuk dengan menyiapkan sarapan pagi, dengan menyiapkan hidangan bintang lima yang sudah tertata rapi di atas meja, yang pastinya di masak oleh chef profesional.
Aditya keluar dari kamarnya menggunakan baju santai karena hari ini ia hanya berdiam diri saja, karena hari ini adalah hari libur.
Setelah berada di dekat meja makan, ia melihat mamanya yang sudah duduk manis menunggu Aditya turun, dan makan bersama. Hal itu adalah rutinitas di keluarga Aditya, yang mana harus menunggu kepala keluarga datang dan baru langsung makan bersama.
Mengingat ayah Aditya telah meninggal sejak tiga tahun lalu, maka kepala keluarga di rumah di gantikan oleh Aditya sendiri.
"Good morning Mom," sapa Aditya yang sudah tiba di meja makan dan langsung mencium pipi sang mama. Dan setelah itu ia langsung duduk di tempatnya.
"Morning," jawab Mira dengan senyum manisnya.
"Diva sama suaminya mana mah?" tanya Aditya yang tak melihat sang adik dan adik iparnya. Memang Diva dan suaminya sedang menginap di rumah Aditya.
Bukan mereka tidak punya rumah tau menumpang di rumah Aditya, mereka punya rumah yang megah karena Dava juga masuk ke jajaran orang kaya. Namun keinginan Diva yang tiba-tiba meminta menginap di rumah sang kakak.
"Tadi mereka keluar sebentar katanya mau menemui dokter, karena dari tadi malam Diva selalu muntah-muntah, mama jadi khawatir sama keadaan adik kamu," ucap Mira yang sedang mengambil nasi goreng untuk Aditya.
"Emang Diva sakit apah ma?" tanya Aditya sambil menerima sepiring nasi goreng yang di ambilkan oleh sang mama.
"Mama gak tau Aditya malah tadi mama mau ikut tapi gak di bolehin sama Dava," ucap Mira dengan nada lesu dan juga ada raut kekhwatiran di wajah Mira, Aditya yang menyadari raut wajah sang mama, langsung saja mengenggam tang Mira agar lebih tenang, dan cara itu berhasil.
"Mama! kak Aadit !" teriak Diva yang baru masuk ke rumah itu dan langsung memeluk Mira.
"Diva, kamu gak papa kan? mama khawatir tau sama kamu, terus Dava mana?" tanya Mira beruntun. Sedangkan Aditya mengelus dada sabar karena kaget mendengar teriakan Diva, membuat ia jantungan saja.
"Aku di sini mah," ucap Dava yang baru masuk dengan nafas tersenggal-senggal karena mengejar Diva tadi.
"Mama, Diva hamil!" ucap Diva yang membuat Mira dan Aditya kaget.
"Seriusan kamu hamil Div?" tanya Aditya yang sudah berdiri menatap ke arah Diva.
Sedang Mira menangis bahagia. Diva pu. melepas pelukan sang mama dan beralih memeluk Aditya.
"Iya kak, aku hamil udah tiga minggu malahan, tapi aku gak sadar dari kemaren-kemaren," ucap Diva sambil melepas pelukan itu. Dan Aditya beralih memeluk Iparnya yaitu Dava.
"Selamat ya Dav, lo bakal jadi ayah," ucap Aditya ke pada Dava.
"Iya bang," jawab Dava.
"Mah, Aditya Bakal punya ponakan, seneng deh dengernya," ucap Aditya.
"Iya mama juga seneng, mau punya cucu," jawab Mira yang senang mendengar kabar bahagia itu.
"Kak, kaka gak ada niatan gitu mau ngelamar kak Tania" goda Diva sambil menaik turunkan alisnya. Mira dan Dava yang mendengar itu hanya tersenyum ke arah Aditya.
"Apa sih! kok malah bahas Tania," ucap Aditya yang merasa kesal, lihat sekarang dia jadi bahan candaan oleh keluarganya.
"Iya loh Aditya, biar kamu gak hanya punya ponakan tapi juga punya anak nantinya, apa kamu gak malu sama adik kamu yang udah hamil ini," timpal Mira yang membuat Aditya semakin kesal.
"Apa sih gak jelas," ucap Aditya sambil berlalu ke arah ruang tamu.
"Dih gambek, haha," ucap Diva yang membuat mereka bertiga ketawa.
Sedangkan Aditya misuh-misuh tak jelas, tapi hatinya senang mendengar bahwa mamanya mendukung hubungannya dengan Tania.
"Aditya," panggil Mira yang sudah berada di dekat Aditya yang sedang duduk santai di sofa ruang tamu, sambil memainkan benda pipihnya. Aditya yang mendengar namanya di panggil langsung menoleh.
__ADS_1
"Eh ... mamah, ada apa?" tanya Aditya Mira pun langsung duduk di depan Aditya dan menatap sang anak.
"Kamu sekarang ke rumahnya Tania, suruh nanti malam datang ke kesini untuk makan malam bersama, merayakan kehamilan adik kamu," ucap Mira antusias.
"Emang harus," ucap Aditya dengan polosnya.
"Haruslah, Karena mama udah kangen banget sama Tania, dan nanti kalo ada Tania dan Keluarganya bisa tambah rame sama tambah asik," ujar Mira, Aditya yang mendengar itu bingung, wah benar-benar pesona Nadira sudah memikat mamanya. Emmm tidak di ragukan.
"Ngapain sih mah, kayak gak ada orang lain aja."
"Ayolah Aditya .... mama udah kangen banget tau, lagian apa kamu gak rindu sama Tania?" tanya Mira sambil menaik turunkan alisnya yang mencoba menggoda Aditya.
Kelo boleh jujur Aditya juga rindu dengan Tania, namun ia menutupinya dari mama dan adiknya itu, kalau mereka tau pasti Aditya akan terus di goda oleh kedua perempuan itu.
"Apa sih kok, jadi Aditya," ucap Aditya dengan nada kesal, Sedangkan Mira sudah terkikik geli.
"Ya udah iya-iya, anak perawan mama yang lagi ngambek." Mendengar itu Aditya langsung menatap sangar sang mama.
"Canda Dit, gitu aja kok langsung netep horor, tapi bener loh Dit kalo mama itu udah kangen banget sama Nadira, plise lah Aditya, yah-yah," ujar Mira dengan tampang memelas, dan cara itu berhasil meluluhkan hati Aditya.
"Iya mah, nanti Aditya kesana." Setelah mengucapkan kata itu Aditya kembali menfokuskan pandanganya ke handphonenya dan menyandarkan kepalanya di bahu sofa.
"Ngapai pakek nanti-nanti! Sekarang Dit!" sentak Mira yang membuat Aditya terlonjak kaget dan menjatuhkan handphone mahalnya.
"Astaga mama! untung handpone Aditya mahal jadi gak cepet rusak," ucap Aditya Sambil mengambil hanponenya yang sempat terjatuh ke lantai.
"Apasih! gitu aja lebay," ucap Mira sambil memutar bola mata malas.
"Ya abisnya, mama ngagetin," ujar Aditya.
"Ya udah sekarang kamu siap-siap, untuk pergi ke rumah Nadira gak pekek nanti-nantian," ucap Mira tegas, sedangkan Aditya hanya pasrah dan ia langsung bergegas ke kamarnya untuk mengganti bajunya, dan setelah itu ia langsung mengendarai mobilnya dan melesat ke rumah Tania.
***
Sesampainya Aditya di rumah Nadira, ia langsung turun dari mobilnya dan berjalan ke arah pintunya dan langsung mengetuknya.
Tok! Tok! Tok!
"Sebentar," ucap Tania dari dalam yang membuat senyum di bibir Aditya terbit.
'Ceklek'
Pintu terbuka dan nampak lah Tania dengan wajah yang tadinya tersenyum sekarang berubah raut terkejut saat melihat Aditya yang sudah tersenyum hangat kepadanya.
"T-tuan"sapa Taniaa dengan senyumnya kikuk dan juga terbata-bata.
"Siang Tania," sapa Aditya dengan ramah.
"Siang," balas Tania dengan sedikit menunduk.
"Apakah saya mengganggu?" tanya Aditya, yang sedikit tersenyum kecil ke arah Tania yang sedang merunduk.
"Sebelum saya masuk, boleh tidak kamu manggil saya Aditya saja gak usah pakek embel-embel tuan," ucap Aditya yang membuat Tania langsung menatap tak percaya ke arah Aditya. Bagai mana biasa ia memanggil Aditya dengan nama saja tampa kata tuan.
"Tapi saya tidak enak," ujar Tania yang kembali menundukkan kepalanya lagi.
"Saya tidak terima penolakan," ujar Aditya , mendengar itu Tania kembali mendongakkan kepalanya dan saat itu juga pandangan mereka bertemu.
"Ya sudah Aditya silahkan masuk," ucap Tania yang di balas anggukan oleh Aditya dengan senyum sumringahnya. Dan mereka pun langsung masuk ke rumah Tania yang terbilang sederhana itu.
"Silahkan duduk, saya mau bikin minum dulu," ucap Mira yang di balas anggukan oleh Aditya.
Saat sedang menunggu Tania, Aditya di kagetkan oleh tangan kecil yang memegang pundaknya, karena sedari tadi Aditya fokus dengan ponselnya.
"Hy Debby, apa kabar?" tanya Aditya sambil mengajak tubuh kecil Debby dan di dudukan di pangkuannya, ya yang menyentuh pundak Aditya adalah si kecil Debby.
"Baik kok om, kalo om apa kabal," jawab Debby dan menanyakan kembali kabar Aditya.
"Om baik kok," jawab Aditya dengan senyum manisnya.
"Debby, kok kamu duduk di situ sih, turun! gak sopan tau," ucap Tania yang baru datang dari arah dapur yang sudah membawa secangkir teh, untuk Aditya.
Debby yang mendengar itu langsung ingin turun namun di tahan oleh Aditya.
"Gak papa kok, saya yang menyuruh Debby untuk duduk di sini," ucap Aditya sambil tersenyum ke arah Tania
"Oh kalo gitu maaf sudah merepotkan ya, emm maksud kedatangan pak Aditya kesini apa ya?" tanya Tania yang tampa sadar mengucapkan kata 'pak'.
"Saya sudah bilang jangan panggil saya dengan embel-embel pak atau tuan," ujar Aditya.
"Em maaf, saya belum terbiasa," ucap Tania dengan senyumnya kikuk. Namun masih dengan nada halus.
"Iya gak papa, oh iya maksud kedatangan saya kesini ini untuk, mengundang keluarga kamu makan malam di rumah saya, dan saya harap keluarga kamu bisa, karena mama saya sudah kangen banget katanya sama kalian, dan ini juga permintaan mamah," ujar Aditya.
"Makan Malam?"
"Makan malam?" tanya Tania dengan alis yang di satukan.
"Iya, makan malam untuk merayakan kehamilan adik saya, Diva," ucap Aditya di sertai senyum manisnya.
"Owh Diva hamil, selamat atas kabar bahagianya," kata Tania yang mendengar kabar itu.
"Iya, terima kasih dan saya berharap kamu dan keluarga kamu bisa datang ke acara makan malam itu," jelas Aditya
"Emm ... Baiklah saya akan datang, dengan Nabila dan juga Debby ," jawab Tania yang mendapat senyum dari Aditya.
"Oh iya, nanti yang jemput keluarga kamu supir saya ya," kata Aditya yang membuat Nadira sedikit terkejut, jujur ia tak enak hati bila harus di jemput, dia kan bisa taik taxi.
"Em ... Gak usah repot-repot Aditya, kita bisa naik taxi kok," tolak Tania dengan nada halus.
__ADS_1
"Gak repot kok, kamu kan mau kerumah saya, jadi saya harus memastikan keselamatan kalian, dan saya akan tenang kalo ada yang menjemput," ucap Aditya panjang lebar.
"Ya sudah kalo begitu, saya tidak bisa menolak kan." Mendengar ucapan itu Aditya terkekeh pelan.
"Oh iya, saya harus pamit," ucap Aditya sambil menurunkan Debby dari pangkuannya.
"Om udah, mau pulang?" tanya Debby
"Iya sayang, om harus pulang," jawab Aditya sambil menjajarkan tubuhnya dengan tubuh Debby.
"Tapi lain kali, om bisa datang kesini kan?" tanya Debby yang di bakas anggukan oleh Aditya dan setelah itu Aditya berdiri dan berpamitan untuk pulang.
"Ya sudah kalau begitu saya pamit ya, dan jangan lupa datang," ucap Aditya.
"Debby, salim sama om," pinta Tania yang di balas anggukan oleh Debby dan mencium telapak tangan Aditya sesuai perintah Tania tadi.
Aditya yang melihat itu merasakan kehangatan di dalam dirinya, apa dirinya menyukai keluarga kecil ini? Dan ingin memilikinya? Entahlah Aditya juga tak tau.
Setelah itu Aditya benar-benar pergi dari rumah Nadira dan menyisahkan Tania dan Debby yang kembali masuk dan bermain lagi, namun pernyataan yang tiba-tiba di lontarkan oleh Debby, yang membuat Tania tersedak ludah sendiri.
"Debby suka sama om Aditya dan Debby kepengen deh punya ayah kayak om Aditya," ucap Debby sambil memainkan bonekanya.
***
Malam telah tiba kini Keluar Tania sedang bersiap-siap untuk menghadiri makan malam yang di ucapkan oleh Aditya
Tania dan Debby kini sedang berada di teras rumahnya, menunggu jemputan dari supir Aditya.
Tin! Tin!
Suara klakson itu membuat senyum di bibir Debby dan Tania terbit, karena sedari tadi mereka menunggu jemputan itu.
"Maaf ya buk Tania, saya telat karena tadi bannya bocor, jadi saya harus menggantikannya," ucap pak sopir sambil menudukkan kepalanya.
"Iya gak papa pak, yang penting sekarang sudah bisa," jawab Tania di sertai senyum manisnya. Khas seorang Tania.
Pak sopir yang mendengar itu hanya menganggukkan kepalanya dan membukakan pintu belakang untuk Tania dan juga Debby.
"Mari buk," ujar pak sopir yang di balas anggukan oleh Tania dan setelah itu Tania Dan juga Debby masuk ke dalam mobil mewah itu.
Debby tak henti-hentinya berceloteh tentang mobil yang sekarang di tumpangi nya namun lebih tepatnya mengagumi setiap inci interior yang di miliki mobil itu, karena jujur Debby baru pertama kali menaiki mobil semewah itu.
Tak lama mobil yang di tumpangi Tania dan Debby telah sampai di mansion Aditya, dan mereka pun segera turun dan berjalan menuju pintu utama.
Ceklek!
Pintu terbuka lebar tampa di ketuk dulu oleh Tania sepertinya Aditya telah menyiapkan ini semua.
Setelah pintu itu terbuka nampaklah Keluar Aditya yang sedang menunggu mereka.
"Huaaa dia imut banget!" teriak Diva sambil berlari ke arah Debby yang di gandeng oleh Tania, dan Diva membawa Debby kedalam gendongannya.
Mira, Dava dan juga Aditya yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala, melihat tingkah bumil itu.
"Assalamualaikum Buk," ucap Tania sambil mencium tangan Mira.
"Wa'alaikum salam," jawab Mira di sertai senyumannya.
Debby yang berada di gendongannya Diva, terus memberontak meminta turun karena Diva terus mencium wajah Debby yang berisi membuat Debby tak nyaman.
Dan Setelah berhasil turun dari gendongannya Diva, Debby lansung berlari ke arah Aditya, dan Aditya dengan sigap mengendong Nadira, sedang Diva jangan di tanya ia sudah melengkukkan bibirnya ke bawah bersiap untuk nangis, namun dengan cepat Dava menenenangkan istrinya.
Semua orang yang melihat itu terkekeh pelan melihat tingkah Diva dan Debby.
"Om, tante itu nakal, masak tante itu cium Debby telus, kn geli," adu Debby pada Aditya. mereka yang melihat itu merasa melihat anak yang sedang mengadu ke pada ayahnya.
"Kan tante itu, suka sama Debby," ucap Diva menyela Aditya yang hendak menjawab ucapan Debby.
"Udah-udah, maafin tante Diva ya Debby," ucap Mira sambil mengelus rambut Debby. Debby yang mendengar oma kesayangan itu langsung menoleh dan mendapat Mira yang sedang tersenyum hangat kepadanya.
"Oma Mila!" teriak Debby yang langsung turun dari gendongannya Aditya dan beralih memeluk Mira.
Semua yang melihat itu terkekeh pelan.
"Kok sama oma mira langsung peluk kok sama tante enggak sih," kesal Diva sambil melipat tangannya di depan dada.
"Udah ih jangan kayak anak kecil, mendingan kita langsung makan keburu dingin nanti makanannya," ucap Mira yang di balas anggukan oleh Aditya. Dan tampa persetujuan siapa pun Mira langsung menarik tangan mungil Debby ke ruang makan.
"Kakak apa kabar?" tanya Diva yang langsung menghimpit tangan Tania.
"Owh aku baik kok, kalo kamu apa kabar? Dan katanya kamu hamil, giman sehat gak kandungannya?" tanya Tania sambil mengelus perut Diva yang masih rata.
"Aku sehat kok kak, kandungan aku juga sehat, oh iya kenalin suamiku Dava," ucap Diva yang beralih menghimpit tangan Dava.
"Dava," ucap Dava sambil menyodorkan tangannya yang langsung di balas oleh Tania.
"Nadira," jawab Nadira di sertai senyum khasnya, Zean yang melihat itu merasa panas sendiri kala senyum itu di pertunjukan oleh pria lain, selain dirinya.
"Ekhem." Deheman Aditya berhasil membuat ketiaganya menatap Aditya secara bersmaan, membuat Aditya salah tingkah sendiri.
"Kenapa kak, mau kenalan lagi sama kak Tania bukannya udah ya," ucap Diva yang mendapat pelototan tajam oleh Aditya.
"HEY KALIAN MAU MAKAN APA MAU NGOBROL AJAL SIH!" teriak Mira dari arah ruang makan itu, yang membuat mereka berempat langsung berjalan ke arah ruang makan. Dan mulailah acara makan-makan secara khitmat.
#Bersambung.....
Wah gimana guys Tania mau atau tidak ya..๐คจ๐ง
Tabak ya gusy๐๐
__ADS_1
Part -part menuju ending