
Sekarang sedang jam istirahat di kantin. Aku hanya menatap pada batagor di depanku itu, sesekali mengaduk tanpa berniat untuk memasukkannya ke dalam mulut. Aku masih berpikir, di mana letak salahku pada Reno sehingga ia mendiamkanku. Dari berangkat sekolah, sampai sekolah, ia tetap diam, bahkan saat ku ajak berbicara ia hanya menyahuti sesekali saja. Di mana letak salahku, sayang? Eaaa.
Dari pada mubazir, akhirnya kumasukkan batagor itu kedalam mulut. Menyunyahnya, menelannya, dan diproses oleh organku yang lain, dan akhirnya ... taulahkan gimana.
“Tumben nggak ketemu Reno?”
Aku hanya berdehem sebagai jawaban dari pertanyaan Salsa.
“Kenapa Lo, putus cinta?”
Aku menggeleng. Malas untuk membalas, hanya mengunyah batagor dalam mulut.
“Kenapa sih? Seharusnya itu, gue yang galau gara-gara nomor gue diblokir Zain.” Salsa kembali berujar.
Aku tak berniat membalas, kembali memasukkan satu sendok batagor kedalam mulut.
“Palingan Reno udah dapat yang baru.”
Aku menatap tajam pada Sesil yang baru berujar. Memang santai, tapi apa dia tahu temannya yang satu ini Sadang mewanti-wanti akan itu terjadi. Terlebih lagi, aku masih belum tau letak salahku dimana. Apa mungkin yang dikatakan Sesil itu benar? Ah, nggak mungkin! Yah, nggak mungkin ... atau mungkin?
“Santai aja matanya, ntar gue colok.” Sesil dengan santainya melahap bakso miliknya.
Dasar teman yang satu ini!
“Psikopat!” umpatku pelan.
“Gue bukan psikopat.”
Mataku menyipit menghadap Sesil . Dengan santainya lagi ia memasukkan bakso ke dalam mulutnya. Aku jadi heran, ia tak menatapku dan terus makan dengan hikmat, tapi mata dan telinganya seakan mampu melakukan atraksi diluar dugaan. Ditambah lagi, mulutnya yang sekali berbicara bisa membuat batu sekalipun terbelah dan hancur melebur.
Aku memilih tak menanggapinya lagi, kembali memasukkan satu sendok batagor ke dalam mulut.
Mataku menatap pada Reno dan teman-temannya yang baru memasuki kantin. Sejenak mata kami bertubrukan sebelum ia membuang muka dan beralih ke balik tubuh Rendi, membuat mata ini tak melihatnya lagi. Aku membuang nafas kasar dan kembali memutar otak. Dulu, saat kecil, seingatku Reno hanya akan diam saat aku mengacuhkannya. Tapi, pertanyaannya adalah kapan aku mengacuhkannya?
Mereka duduk pada bangku kantin dipojokan. Mataku terus memperhatikan Reno, sedang ia hanya membuang muka saat mata kami bertemu kembali, lagi dan lagi. Ya, lagi. Karena Reno selang beberapa detik juga menatap ke arahku dan membuang muka lagi. Apa sih maunya?!
Tuh, kan. Matanya menatap kesini lagi, biar ku tebak pasti buang muka lagi. Kan!
Baiklah, akan ku perjelas situasi saat ini. Sendok yang ku pegang, ku letakkan kembali pada piring, atau lebih tepatnya membanting. Siswa-siswa yang berada di kantin menatapku. Aku acuh dan berjalan pada meja di pojokan, lebih tepatnya ke arah Reno.
“Renren,” panggilku saat didepan Reno.
Reno berdehem. Tapi tak kunjung memandangku.
“Ren.” ia diam.
“Renren.” kembali ku panggil. Tapi tak ada balasan.
Teman-temannya yang lain menatapku. Mungkin iba melihatku yang diacuhkan.
Sekali lagi. “Reno!”
Ia menatapku sekilas kemudian menyendok makanan yang didepannya ke dalam mulut.
Aku menatap pada penghuni kantin lainnya. Mereka menatapku. Mungkin dipikiran mereka aku cewek murahan yang mengemis perhatian pada seorang cowok. Kembali menatap Reno yang sedang mengaduk-aduk minumannya.
“Ren.”
Ia diam.
Mataku terasa memanas. Aku segera berlari keluar kantin, malu jika orang melihatku menangis.
Bruk!
“Akh.”
Tanganku panas karena kuah bakso yang baru saja menimpa tanganku.
“Maaf, kak.”
Aku mendongak menatap seseorang yang berujar, Zafran, lantas mengangguk.
“Ara yang harus minta maaf.” kusondorkan uang sepuluh ribu padanya sebagai ganti baksonya yang tumpah.
Ia menolak dan berkata jika aku tak perlu mengganti. Aku tetap memaksa, akhirnya ia menerima. Aku kembali berjalan ke luar kantin sesekali mengibaskan tanganku yang masih panas.
Memilih untuk pergi ke UKS. Kemudian meminta obat salep pada petugas PMR agar tangan tak melepuh karena panas kuah bakso.
“Sini, Ra , biar aku obatin.”
Aku mengangguk dan mendekat ke arah Mina. Aku baru ingat kalau ia salah satu anggota PMR. Aku duduk pada brankar disamping Mina. Lantas menghadapkan tanganku padanya. Mina dengan telaten mengusapkan salep itu sesekali meniupnya. Aku tersenyum, Bang Refan tak salah jatuh cinta padanya.
“Makasih.” kutatap tanganku yang sudah dilumuri saleb, terasa lebih baik dari tadi. Salebnya berbentuk gel dan transparan, jadi tak risih jika dipakai.
“Iya, sama-sama.”
Gadis berkerudung itu berjalan kearah lemari dan menyimpan obat itu. Kembali berbalik dan tersenyum.
“Abang Ara suka kamu, Min,” ucapku.
Kakinya berhenti berjalan, terlihat raut keterkejutan di wajahnya sebelum ia pamit undur diri dan berlalu dari UKS. Aku mengedikkan bahu, kemudian berjalan keluar UKS.
“Dasar bloon."
Suara itu membuatku berhenti berjalan dan menatap pada seorang cowok yang baru berujar, Rendi. Ia menyandar pada dinding UKS dengan tangan yang dimasukkan pada saku celananya.
“Maksudnya?” tanyaku sedikit sebal dengan ucapannya barusan.
“Ck, Lo nyadar nggak sih kalau Reno itu cemburu?!”
Aku mengeryit menatap padanya. Ia menghembuskan nafas, mengguyar rambut kebelakang dan menatapku dengan sengit.
“Lo selingkuh, kan?!”
Ku tendang kakinya, lantaran emosi mendengar ucapannya. Ia menjerit tertahan kemudian berjongkok mengusap-usap kakinya yang ku tendang. Ia mendongak, dahinya berkerut menatapku, lantas berdiri dan berkacak pinggang.
“Ara nggak selingkuh!” Tekanku.
“Kalo nggak selingkuh, ngapain peluk-peluk?” ia menatapku remeh, “Mesra banget lagi.”
Apa sih yang dia omongin?
“Ck, ga usah sok polos! Gue liat Lo kemarin peluk cowok didepan Reno saat diparkiran! Kalo nggak selingkuh apa namanya?”
Ku tepuk jidat saat otak kembali berputar pada kejadian sore kemarin, saat aku memeluk bang Rey dan meninggalkan Reno diparkiran.
“Ingat, kan, lo?!”
__ADS_1
Aku menatap Rendi sedikit sengit. Itu salahnya! Coba saja dia kemarin tidak mengadu pada Reno kalau tak membawa motor. Mungkin kemarin aku akan pulang bersama Reno, soal aku tak pamitan dan langsung pulang sama bang Rey, itu kelupaan.
“Itu salah Rendi!”
Ia terlihat tak terima dengan ucapanku. Memang benar itu salahnya!
“Lo yang selingkuh! Kok gue yang salah?!”
“Ara nggak selingkuh! Itu bang Rey! Sepupu Ara !” kutatap sengit cowok dihadapanku, “jelas?!”
Setelah mengatakan itu, aku berlalu menuju kelas. Saat melewati kelas Reno, ia membentang tangan menghalangi jalanku, membiarkan kami jadi tontonan murid-murid yang lewat.
“Awas!” suaraku sedikit tinggi, lantaran masih emosi dengan Rendi.
Helaan nafas Reno terdengar kasar. Tangannya menarik tanganku untuk mengikuti langkahnya.
“Duduk!” ucapnya saat sampai didepan bangku putih taman sekolah.
Aku duduk dan diikuti olehnya. Ia menghela nafas.
Tangan ini di ambil alih olehnya, “Masih sakit?”
“Enggak.” kutarik lagi tanganku.
Dahinya berkerut, menatapku tajam.
“Ngapain dilepas?” ucapnya kembali menarik tangan ini untuk digenggamnya.
Kembali kutarik tangan, “Ngapain cemburu?”
Ia menghembuskan nafas, lantas menyandar pada sandaran bangku taman. Matanya menerawang menatap awan yang terlihat putih. Indah.
Hening.
“Nggak punya alasan.”
Aku kembali mengalihkan pandangan dari langit ke arahnya. Ia duduk dari sandaran, kembali menatapku.
“Kenapa langsung pergi gitu aja kemarin?” tanyanya dengan dahi yang sedikit mengerut.
“Lupa.”
Tubuhnya kembali menyandar. Kali ini bukan pada bangku tapi bahu ini.
“Reno ngerasa di acuhin.”
“Ara nggak acuh tuh, malahan Reno yang acuh.”
Ia terkekeh, “Iya-iya Reno salah.”
Gitu dong! Perempuan, kan, selalu benar!
“Sakarang hari Selasa, bentar lagi hari Minggu.”
Minggu?
“Kenapa dengan Minggu?” tanyaku.
Ia mendongak dengan aku yang menunduk padanya yang menyandar.
Ku cubit pinggangnya. Sebelum tanganku mencubitnya yang kedua kali, ia berlari menjauh, segera ku kejar. Kami tertawa merasakan kebahagiaan sederhana yang tercipta saat bersama.
***
“Jadi gimana?”
“Jam dua sore nanti, Lo kerumah dan bawa ayah, kita cari kejelasan dengan semuanya, karena biasanya nenek jam dua sudah dirumah. Ya, kan, Ra ?”
Aku mengangguk menjawab bang Refan . Zain mengangguk, kemudian menyeruput minumannya hingga tandas.
“Ya udah, gue ke kantor ayah dulu,” ucap Zain kemudian berlalu keluar dari cafe.
“Kita pulang,” ucap bang Refan .
“Ara bareng Reno.”
Bang Refan mengangguk dan berlalu meninggalkan cafe tempat kami berdiskusi beberapa jam yang lalu.
“Jadi kita kemana?”
“Ke KUA aja,” jawabku sedikit terkekeh.
Akhirnya kami memutuskan untuk pulang setelah berbincang cukup lama.
***
Aku duduk di ruang tamu dengan bunda dihadapan, juga Rissa. Seperti janji kami tadi, jam dua siang kami akan membuat semuanya jelas.
Sesekali menatap ke arah pintu. Menanti Zain membawa ayah datang.
“Kenapa sih, Ara ?” tanya nenek , mungkin beliau jengah melihat tingkah cucu nya ini.
“Iya, kak Ara kenapa?”
Aku hanya menggeleng. Bagaimanapun, aku harus sabar menanti kejelasan dari nenek tentang yang terjadi. Jangan sampai karena aku yang tak bisa menahan emosi untuk mencakar wajah gadis di depanku ini semuanya jadi berantakan.
“Udah datang?”
Aku menggeleng sebagai jawaban dari bang Refan yang baru menuruni tangga.
Tak berselang lama setelah bang Refan duduk di sofa, bel berbunyi. Pasti Zain dan ayah. Segera aku melangkah ke arah pintu, sedikit berlari.
Terlihat dua orang laki-laki yang dengan gagah berdiri didepan pintu. Zain dan ayah. Kupeluk ayahku dan mengucap kata maaf karena perlakuanku di cafe waktu itu. Beliau memaafkan dan mengusap ujung kepala. Segera ku persilahkan mereka untuk masuk.
Wajah nenek terlihat terkejud ketika ayah dan Zain sampai di ruang tamu. nenek menangis, ayah berlari ke arah nenek menekuk kakinya didepan nenek seraya mengucapkan maaf terus menerus.
“Maaf, Aku nek ”
Nenek diam dalam tangisnya, menepis tangan ayah saat beliau mencoba menggapai tangan nenek
“Ayah .”
“Nenek .”
Serempak bang Refan dan Zain berucap.
Lantas ayah dan nenek menatap pada putra dan cucu mereka.
__ADS_1
Zain berlari dan memeluk nenek . Kembaranku itu menangis saat nenek memeluknya dan mengatakan jika ia sangat menyayanginya. Begitupun bang Refan yang memeluk ayah.
“Anak ayah yang ganteng udah gede.” ayah mengusap-usap kepala bang Refan sesekali melempar kecupan, beliau meneteskan air mata.
Aku duduk di sofa menatap pada gadis di kursi seberang yang terlihat menunduk. Saat ia mendongak menatapku, ku lempar tatapan sinis padanya. Ia kembali menunduk, meremas jemarinya. Cih! Aku muak dengannya.
“Demi kami, bersatulah,” ujar bang Refan.
Ayah mengangguk kemudian memeluk putra-putranya bersama. Kembali ku tatap sinis pada gadis itu.
“Nak, ayo sini gabung,” panggil ayah.
Aku tersenyum dan segera berdiri, kemudian mendekat pada keluargaku. Saat akan memeluk ke empat orang yang kusayangi terlihat sebuah tangan juga datang dari sampingku. Kulirik kesamping, Rissa. Gadis ini! Apa tak punya malu?!
“Sudah, ayo Rissa juga ikut,” ucap Nenek dengan lembut seraya membentang tangan pada Rissa.
“Nggak!” teriakku.
Aku cukup terbawa emosi dengan perlakuan nenek padanya. Sebenarnya apa yang istimewa darinya?
“Araa!” tekan nenek.
Aku mengeryit menatap bunda. Kenapa dia membentakku? Apa dia lebih sayang pada gadis itu ketimbang denganku?
“Apa, nek ?! Mau marah sama Ara ?! Nenek bohong, kan, tentang dia?!” ku tunjuk wajah gadis itu.
“Ara ,” lirih nenek , ia kemudian menunduk.
Ayah memeluk aku dan menatapku tajam. Kenapa dengan mereka?
“Siapa gadis ini?” tanya ayah menatap Rissa.
Nenek menarik tangan Rissa mendekat pada ayah. Mengacuhkanku yang disini. Apa ... apa yang sebenarnya terjadi?
“Dia anak Zahra.”
“Anakku.” ayah memeluk Rissa dan mengecup puncuk kepala gadis itu.
Apa-apaan mereka?
Kutarik tangan Rissa dan mendorongnya hingga jatuh ke lantai. Aku tersenyum sinis melihatnya yang kesakitan. Aku terlalu muak melihatnya!
Ayah berlari menghampiri gadis itu dan membantunya berdiri. Cih!
“Anak jalang aja dibantuin!”
Plak!
Aku memegang pipi yang memanas. Aku tertegun, baru kali ini nenek menamparku dan ini demi gadis itu.
“Ara ,” lirih nenek. Ku tepis tangannya yang hendak meraih wajahku.
Menatap tepat di mata wanita yang telah melahirkanku. Aku kecewa, aku benar kecewa, kalau tahu pertemuan ini akan jadi seperti ini. Lebih baik selamanya tuhan pisahkan kami.
“Nenek minta maaf, nak,” lirihnya.
Aku menggeleng. Menatap ke arah semua orang di ruangan ini. Mataku terhenti pada bang Refan . Aku berlari dan segera memeluknya. Bang Refan menangkup wajahku dan mengelusnya.
“Masih sakit, hmm?”
Aku mengangguk dengan air mata yang terus mengalir. Pipiku benar-benar sakit dan panas. Pertama kali dalam hidup pipiku ditampar dan yang menamparnya adalah bundaku sendiri. Karena gadis itu! Tanganku mengepal saat melihat ayah yang memperlakukan gadis itu dengan baik.
“Jelasin sama kita, kenapa segitunya nenek belain dia sampai-sampai nampar adik saya!” bang Refan berujar dengan wajah yang benar-benar datar.
Aku memeluknya erat. Aku tahu ia sangat emosi.
“Kalian semua ikut nenek maka kalian akan tau semuanya.”
Bang Refan mengangguk membawaku mengikuti nenek keluar rumah diikuti semuanya.
***
“Udah, jangan nangis lagi.”
Aku mengangguk merasakan usapan di kepala. Di mobil ini hanya ada aku dan bang Refan. Sedangkan yang lain menggunakan mobil Zain. Termasuk gadis itu!
Tanganku mengepal, menahan amarah saat ingat bunda menamparku hanya demi dia.
Mobil berhenti tepat di halaman rumah sakit jiwa. Kenapa kesini?
Bang Refan keluar, segera kuikuti langkahnya yang mengarah pada mobil Zain.
“Ikut nenek ”
Wanita yang membesarkanku itu berjalan mendahului kami. Berhenti tepat pada ruangan yang ku tebak adalah kamar orang sakit jiwa.
Nenek membuka pintu itu perlahan. Memperlihatkan seorang suster yang sedang membujuk makan pasien sakit jiwa itu. Pasien itu melempar semua barang pada kami. Refleks aku mundur.
Nenek maju dan memeluk pasien itu, dengan ajaibnya pasien itu berhenti mengamuk dan diam menerima suapan dari nenek.
“Ibu.” Rissa maju mendekati pasien itu, hendak memeluk.
Pasien itu mendorong Rissa dengan berteriak, menerjang tubuh Rissa, dan menamparnya. Aku membekap mulut. Rissa terisak, menerima setiap pukulan yang diberikan pasien itu. Nenek melerai mereka dan kembali menenangkan pasien itu. Setelah pasien itu tidur, nenek mengajak kami keluar dan duduk pada taman di rumah sakit jiwa ini.
Nenek menjelaskan semuanya. Akhirnya aku tahu, aku sedikit sedih mendengar cerita nenek. Nenek bilang kalau pasien itu ibunya Rissa, sahabat bunda Ara dulu. Bunda bercerai dengan ayah lantaran kecewa dengan ayah yang menghamili sahabatnya sendiri, atau lebih jelasnya ibunya Rissa diperkosa oleh ayah.
Ayah terus minta maaf sepanjang bunda menceritakan. Kata nenek itu terjadi karena antara ayah dan bunda dulunya tak ada cinta, bunda bilang ia dijodohkan dengan ayah, padahal ayah cinta pada ibunya Rissa.
Sampai malam itu terjadi. Ayah mabuk dan tak sadar akan apa yang ia lakukan pada ibunya Rissa. Ia larut akan cintanya. Melupakan kami yang menunggu dirumah, saat umurku masih satu tahun.
Setelah ibunya Rissa bilang kalau anak yang dikandungnya anak ayah, bunda kecewa dan minta cerai pada ayah. Nyatanya ayah baru sadar akan cinta pada bunda setelah bercerai. Ayah tak bertanggung jawab pada ibunya Rissa.
Bunda Rissa depresi akan gunjingan oleh masyarakat. Ia menepi dari kota, beranjak pada desa bersama neneknya Rissa. Berharap hidup di desa akan membuatnya lebih nyaman. Tapi kenyataannya, di desa ia lebih banyak mendapat sindiran meski tak dihakimi. Mereka hidup miskin akan gunjingan para tetangga di desa. Sampai nenek Rissa meninggal, ibu Rissa benar-benar gila.
Pencarian nenek tak sia-sia, ia mendapat kabar kalau sahabatnya gila dan menyisakan anaknya di desa. Nenek membawa ibu Rissa kerumah sakit jiwa yang kami datangi sekarang dan membawa Rissa ke rumah.
Nenek bilang, ia sebenarnya tak ingin bohong padaku mengenai Rissa, ia hanya takut aku akan membenci Rissa dan tak bisa menerima anak dari ayah dan sahabatnya itu. Meski hatiku belum sepenuhnya luluh akan itu, tapi rasa benciku pada Rissa mulai rapuh.
Akhirnya aku memeluk Rissa. Pasti sulit menjalani hidup di antara gunjingan orang. Di tambah dengan ibunya yang gila. Aku tak bisa membayangkan jika itu terjadi padaku.
“Ara minta maaf,” ucapku.
Gadis yang tengah kupeluk mengangguk dengan terus terisak.
Pesan author 😍😍🤗
Ingat, jangan membenci sesuatu yang belum tentu kepastiannya. Bisa jadi hal itu tak seperti yang dibayangkan, akan lebih baik jika mencari tau kebenaran dan menyelesaikan dengan cara yang baik dan benar.
__ADS_1