
Di saat-saat seperti ini mereka yang dulu sering berkumpul layaknya anak remaja, tapi sekarang sudah terhalang oleh kesibukan masing-masing. Tania sibuk dengan perkuliahannya, Risa yang kadang begitu senang membuat Marvel tersiksa dengan acara ngidamnya, dan Ara yang sering kesusahan dalam melakukan segala hal, karena perutnya. Yang kini kandungannya sudah menginjak sembilan bulan lewat tiga hari. Dan kisah kedua suami, yang selalu siaga setiap istri mereka membutuhkan, juga pak Gino yang selalu ada setiap Tania membutuhkan sesuatu.
Kisah mereka berjalan begitu saja, layaknya sungai yang mengalir. Tapi kadang terdapat hambatan, terjadinya pertengkaran kecil karena terjadinya selisih paham. Tapi kembali lagi, mereka mengesampingkan ego masing-masing, memilih saling mengalah.
Pagi ini, pak Reno pergi mengajar di kampus. Entah sampai kapan dia akan mengajar terus, tapi yang dia rencanakan adalah, setelah Ara lulus, baru dia berhenti mengajar dan fokus ke urusan perusahaannya.
"Diantaranya yaitu produksi, distribusi, dan konsumsi. Ketiganya ...." Pak Reno memberhentikan ucapannya, saat pintu kelas diketuk, dan itu pak Gino yang mengetuknya.
"Maaf Pak, ada yang mau saya bicarakan, penting!" tekan pak Gino, karena mendapat tatapan nyalang dari pak Reno. Karena dirinya tau betul bagaimana temannya itu, dia sangat anti diganggu saat mengajar begini.
"Saya permisi dulu," pamit pak Reno, dan menyusul pak Gino entah mau ke mana.
Mereka berjalan, hingga sampai di tempat yang agak sepi, di ujung lorong kampus, ya walau tidak terlalu jauh dari kelas yang diajar pak Reno tadi.
"Ada apa?" tanya pak Reno mengawali pembicaraan.
"Emm, bisa bantuin gue gak?" Bukan menjawab, tapi pak Gini bertanya balik, sambil menggaruk tengkuknya ... kikuk.
"Bantu apa? Cepat Gin, jangan bertele-tele. Jam ngajar saya udah terbuang beberapa menit!" ketus pak Reno, membuat pak Gino hanya mampu berdecak.
"Oke sekarang sebagai teman, dan hilngkan dulu gaya dosenmu!" Pak Reno mengangguk.
"Ekhem, bi-bisa bantuin gue nyiapin sesuatu bu-buat ... lamar Tania?" tanya pak Gino, malu campur gugup, tapi gugup yang lebih mendominasi.
Pak Reno tak memberi jawaban, bahkan tak merespon cuma memandang pak Gino tanpa ekspresi.
Sedetik.
Dua deti.
Tiga detik.
Hingga hitungan ke empat detik, ketawa pak Reno menyebur keluar.
Pak Gino meringis, pikiran gugupnya berganti dengan pikiran parnoannya. "Ada yang salah sama omongan, gue? Atau lo kesambet hantu penunggu lorong?" tanya pak Gino berurutan.
"Kesambet kepalamu! Saya cuma senang, akhirnya pintu hatimu sudah dibukan oleh Allah. Enggak baik 'kan pacaran terus?" tanya pak Reno, dengan menaik-turunkan satu alisnya menggoda pak Gino.
"Au ah, gue minta bantuan, bukan ledekan! Jadi gimana? Mau bantuin?"
"Hmm, selagi membantu dalam kebaikan," ucap pak Reno.
"Ck. Arogan sekali, Anda!" cetus pak Gino.
"Oke-oke, Marvel udah kamu kasi tau?"
"Belum, lagi nyiapin sumpelan telinga yang tebal-tebal sih sekarang. Sama lo aja diledekin, apalagi sama dia," ujarnya, menutup telinga sekilas.
"Rencananya?"
"Rencananya, nanti suruh Ara nelepon Tania, suruh ke rumah kalian ...."
"Rumah ...?" tanya pak Reno, sambil menunjuk dirinya, dan diangguki pak Gino.
"Ck, tidak modal sekali. Nyewa hotel kek, di pinggir pantai kek. Ini malah di rumah saya. Ckck," decak pak Reno.
"Emang Ar bakal lo isinin ngikut? Enggak, 'kan? Dan pasti Ara enggak bisa kita larang, pasti bakal merengek mau ikut," ucap pak Gino, diangguk-angguki pak Reno. Baginya tidak masalah juga kalau di rumahnya, tadi cuma sekedar kejahilannya.
"Jadi?"
"Orang tua Tania juga udah gue kabarin, dan mereka setuju. Pulang —"
"Nanti aja lanjutin, udah keluar sepuluh menit saya. Nanti kabarin lagi," ucap pak Reno, memotong perkataan pak Gino dan, langsung berjalan kembali ke kelas yang diajarnya tadi.
"Ck, dasar!" gerutu pak Gino, sebab dia belum selesai curhat tapi sudah ditinggal.
Menyebalkan!
Di rumah Ara
Sesuai rencana pak Gino, semua orang telah berkumpul di rumah pak Reno. Baik itu orang tua Tania, dan orang tua pak Gino juga. Tapi minus, Tania. Karena memang rencananya, mereka berkumpul dulu tanpa Tania, karena ingin menyiapkan segala sesuatu. Lokasinya di samping rumah pak Reno, yang ada taman kecil, dengan sedikit dekorasi yang dibuat Marvel, pak Gino, dan pak Reno.
"Menurut lo Ren , Tania bakal nerima atau enggak? Soalnya 'kan Tania pernah bilang kalau, mau nikah setelah S2nya selesai. Menurut lo gimana?" tanya Marvel dengan melirik ke pak Gino sambil menyengir.
"Mungkin nerim —"
"Ya, kenapa mungkin sih, Re ? Gue pikir lo bakal dukung gue!"
"Heh, Ginosaurus! Saya belum selesai bicara, jangan langsung motong bisa, 'kan?!" cetus pak Reno, menatap tajam pak Gino yang sedang cemberut.
"Ya udah, lanjut Van," desak Marvel.
"Mungkin nerima, karena cuma lamaran, 'kan? Bukan langsung nikah, gitu 'kan Gin?" Pak Gino yang ditanya, cuma mengangguk.
"Berarti banyak kemungkinan Tania bakal nerima?" tanya Marvel, dengan senyum jahilnya ke arah pak Gino.
__ADS_1
"Lo mah Vel , enggak bisa dukung gue tanpa adegan ledekin, 'gak?!" ucap ketus pak Gino.
"Ish, kalian bisa gak jangan bertengkar?! Dari tadi bertengkar terus. Keral —"
"Gue kenapa?"
"Kamu sudah mau punya anak!"
"Dan Gino —"
"Gue juga?"
"Kamu sudah mau menikah. Dan kalian masih sering bertengkar kayak perempuan, ck!" ceramah pak Reno, yang memang sudah jengah dengan pertengkaran adu mulut mereka. Sedangkan yang diceramahi cuma, menyengir kuda.
"Marvel yang mulai duluan, gue mah cuma ngikutin alurnya," bela pak Gino.
"Ginosaurus, kata Reno. Lo juga kenapa ngikutin alurnya aja? Kenapa enggak pergi dan ngalah aja?" balas Marvel, tak mau kalah.
"Bisa 'kan jangan manggil gue, Ginosaurus?!. Nama gue udah bagus, enggak usah lo ganti-ganti!"
"Loh, gue cuma ikutan Reno. Dia duluan yang manggil lo, Ginosaurus. Salahin Reno ajalah," bbela Marvel juga.
"Lo juga ngikutan dia. Ren—, orangnya ke mana dan di mana?" tanya pak Gino, sambil melihat sekeliling.
"Lho iya, ngilang ke mana itu, anak?" tanya Marvel juga, ikut melihat sekeliling.
Sedangkan di dalam rumah, pak Reno pergi menghampiri orang-orang yang sedang berkumpul di ruang tamu. Tepatnya ingin pergi menghampiri Ara, telinganya sudah benar-benar panas mendengar perdebatan unfaudah Gino dan Marvel. Sampai di sana, saat orang melirik ke arahnya, dia cuma memasang senyum kecil sekilat, sebagai sapaan. Dan menduduk 'kan dirinya di samping Ara.
"Marvel sama Gino di mana, Ren ?" tanya ayah pak Gino.
"Masih di samping, Om."
"Mereka ngapain?" tanya Risa juga.
"Yaa ... biasa. Ribut lagi, adu mulut yang enggak ada manfaatnya sama sekali," jawab pak Reno, diikuti helaan nafas Risa.
"Ya seperti itu Pak, Bu. Mereka berdua itu suka sekali adu mulut, meributkan sesuatu yang enggak penting," ucap ayah pak Gino, yang sepertinya sudah hafal dengan kelakuan anaknya.
"Namanya anak muda, Pak," ujar Tante tiara.
"Muda apanya Bu, mereka sudah mau masuk kepala tiga," ucap Ibu pak Gino.
"Bang Marvel juga udah mau punya anak," tambah Ara, sepertinya sangat senang jika menggibahi abangnya itu.
"Semua sudah beres, langkah selanjutnya apa?" tanya Marvel yang sudah muncul dengan pak Gino.
"Awalnya waktu saya tau nak Gino ini adalah dosennya Tania, saya sempat kaget loh," ujar ayah Tania.
"Saya juga, waktu Gino bilang dia sudah punya pacar, dan pacarnya itu mahasiswinya sendiri. Saya hampir jatuh dari tangga," celetuk Ibu pak Gino, langsung disambut gelak tawa orang-orang.
"Dan masa gue diledekin, kalau misalnya gue ngikutin lo, Ren" bisik pak Gino ke pak Reno.
"Memang kamu ngikutin saya, 'kan?"
"Asssssem!" ketusnya.
"Tania udah chat, kalau sudah dekat," ucap Ar
"Seperti tadi, kalian semua sembunyi dulu. Kalau nanti Marvel yang ngasih intruksi untuk kalian keluar nanti," ucap pak Gino, di manut-manuti semuanya.
"Kita ke ruang tengah saja duduknya, biar Marvel yang ngawasi nanti," kata pak Reno.
"Hobi banget nyusahin gue dah, Ren."
"Hmm."
Kiring ijir!
****
Tania memencet bel rumah dua kali, saat pintu terbuka, menampak 'kan wajah pak Gino yang tersenyum ke arahnya. Senyum yang tak biasa, menurut Tania.
"Ada tamu lain, Pak? Saya lihat ada banyak mobil?" tanya Tania.
Pak Gino gelagapan, dia lupa menyebunyikan mobil orang tuanya sama mobil orang tua Tania.
"Terus yang satu itu kayak, saya kenal," lanjut Tania.
"Mungkin cuma perasaan kamu, tadi orang yang punya mobil, nitipin di sini. Katanya lagi renovasi garasinya sama halaman," ujar pak Gino, lancar. Dalam hatinya memuji mulutnya, yang begitu lancar memberi alasan.
"Oh, mobil tetangga?"
"Iya. Ya udah yuk, masuk." Tania mengangguk.
"Tun-tunggu dulu, kamu tutup mata."
__ADS_1
"Buat?"
"Tutup aja dulu. Atau ini, saya tutup pakei kain ini." Pak Gino mengeluarkan kain yang memang khusus dia ambil tadi untuk menutup mata Tania. Setelah mendapat persetujuan, pak Gino mulai menutupi mata Tania dengan kain itu.
"Mau kemana, sih? Bapak enggak macam-macam, 'kan?!"
"Santai, amanlah itu."
"Nah sampai."
"Boleh buka?"
"Nanti dulu."
Pak Gino pergi mengambil bunga yang sudah disiapkannya tadi, dan kembali ke Tania. Dia berdiri persis di belakang Tania, tapi bunganya disodorkan di hadapan Tania.
Ya kalian bayangin ajalah, ya.
"Kamu bisa buka," ucap pak Gino, setelah melonggarkan ikatan kain tadi.
Setelah menyingkirkan kain dari matanya, Tania mengucek matanya utuk menyesuaikanya dengan cahaya. Setelah penglihatannya stabil kembali, Tania mengedarkan pandangannya keseluruh tempat, jangan lupakan mulutnya yang menganga.
"Bagaimana, suka?"
"Suka, cantik, tapi ... sayakan enggak ulang tahun, Pak. Kenapa dikasih surprise gini?" tanya Tania bingung, sambil menggaruk kepalanya.
Pak Gino tersenyum, membalik 'kan badan Tania menghadap ke arahnya. Menyerahkan bunga itu ke Tania, lalu berjongkok. Itu menambah kebingungan juga rasa was-was, Tania.
"Ba-Bapak mau ngapain?"
"Mungkin ini tergolong tergesa-gesa, tapi percaya atau tidak, saya cuma menginginkan hubungan dengan kejelasan, bukan cuma sekedar menyandang status pacaran. Tapi saya mau yang lebih serius, Tan. Umur saya sudah hampir masuk kepala tiga, tidak bisa bermain-main lagi soal hubungan, saya mencintai kamu. Dan sangat serius dengan kamu." Pak Gino menjeda kalimatnya, mengeluarkan kotak yang berbentuk persegi empat kecil, dari kantung celananya.
"Tapi saya belum siap menikah, Pak," lirih Tania, menahan air matanya agar tidak keluar.
Pak Gino berdiri, menangkup wajah Tania, ditatapnya netra itu dalam.
"Bukan menikah, Tan. Saya cuma melamar kamu, kalau kamu terima, otomatis status kamu adalah tungangan saya, dan begitu juga status saya. Saya bilang sekali lagi, saya cuma mau hubungan yang lebih serius. Bukan hanya sekedar menyandang status pacaran," jelas pak Gino, tangannya bergerak menghapus air mata Tania yang sudah jatuh.
"Dan ... tidak ada paksaan kalau kamu harus menerima, tapi saya tidak akan menyerah. Saya akan tunggu sampai kamu siap. Sudah jangan menangis, anggap saja ini cuma sepentas, drama?" ujar pak Gino, terkekeh kecil. Tapi saat ingin memasuk 'kan kembali kotak yang berisi cincin itu ke sakunya, tangannya langsung dicekal Tania.
"Bapak benar tidak apa-apa kalau saya tolak?" tanya Tania, memandang wajah dan kotak itu bergantian.
Pak Gino mengangguk kecil, walau hatinya ingin menjerit kecewa. Hatinya ingin berkata, 'tidak baik-baik saja.'
"Maaf, maaf Pak," ujar Tania, menangis, tepatnya pura-pura menangis.
"Udah jangan menangis, saya enggak maksa, 'kan?"
"Maaf, Pak. Hmptf, haha." Tani tertawa sesuka hati, bahkan membuat pak Gino kebingungan, apalagi orang-orang yang sedari tadi nguping.
"K-kamu kenapa?" tanya pak Gino. Namun, Tania masih tertawa. Setelah mengontrol dirinya, agar tidak ketawa lagi. Tania menarik nafasnya dalam, kembali membuat wajahnya sesendu mungkin.
"Saya jahat ya, Pak?"
"Buk- maksud kamu?"
"Huft, maaf karena sudah membuat Bapak kecewa, maaf karena sudah nge-prank Bapak. Dan yang lainnya," ucap Tania, kembali mengeluarkan tawanya.
"Bentar-bentar, dan 'yang lainnya?'. Prankngin saya?"
"Emang Bapak pikir, saya enggak tau mobil siapa yang di depan? Itu mobil orang tua saya kali, Pak. Mereka pasti ada di sini, 'kan? Dan prankngin ya, saya ngeprank Bapak," ucap Tania, dengan senyuman cengengesannya.
"S-so?"
"Saya terima."
"Really?"
"Of course." Senyum pak Gino merekah, tanpa aba-aba langsung memeluk Tania erat. Sunggu bahagia dirinya sekarang.
"Cie-cie, senang banget kayaknya!" teriak Marvel.
"Iya, saking senangnya, main nyosor aja," tambah pak Reno.
Sedangkan kedua manusia yang sedang diejak, cuma tersenyum canggung, campur malu, campur senang, campur es campur.
Semua orang sudah keluar dari tempat persembunyiannya, dan Tania langsung pergi memeluk 'kedua orang tuanya.' Begitu pula pak Gino, dia juga pergi menghampiri orang tuanya, oh jangan lupakan senyum yang sedari tadi tak pernah lepas menghiasi wajahnya.
Sorry for typo. 🙏
NAH LO🤣
Udah puas, 'kan? Hubungan mereka udah ketahap yang lebih serius. Udah sah jadi tunangan loh🤣🤣
TAPI SOAL NIKAHNYA, SABAR AJA YAH🤣 TUNGGU SAMPAI TANIA LULUS S2, WKWK.
__ADS_1
BUAT PAK RENO ... SABAR AJA YA PAK, KALAU PUNYA TEMAN YANG DEMEN BANGET ADU BACOT. BAPAK DULUNYA JUGA SUKA AAA, ADU MULUT SAMA BUNDA ARA👉👈😂