
18+
*****
Tar!
"Aaaaa! teriak Tania , tidak tau apa kalau ia sangat ketakutan bila ada petir yang menggelegar seperti itu. Membuat nya tidak bisa tidur dengan nyaman.
Suara hujan perlahan turun dari atas langit membasahi bumi Pertiwi ini. Membuat hawa dingin menyengat tubuh. Bersamaan dengan angin mesum yang menusuk tubuh, menggelitik dan membuat bulu halus berdiri tegang. Hei, jangan mikir yang lain ya kalian!
Tania mengeratkan selimut tebal menutupi tubuhnya yang mungil nan montok. Jangan tanya gimana bentuk tubuhnya yang sebenarnya, author cuma ngarang juga :v
Tania melirik Gino yang juga kedinginan diujung sana, tiba rasa iba sekaligus rasa takut karena petir yang kian berlomba.
Tar!
"Aaaa!" kembali Taniaberteriak sembari menutupi kupingnya.
Kedua kalinya teriakan itu berhasil menganggu alam mimpi Gino. Ia terbagun dan melihat Tania
"Ada apa?" tanya Gino
Tar!
Tar!
"Aaa, itu petirnya ... nakutin, aku kaget dan takut," jelas Tania dengan kuping ia tutup memakai tangannya.
"Makanya, kamu si tadi ngusir suami dari ranjang jadinya murka'kan Tuhan sama kamu," celoteh nya asal.
"Aku serius ya, aku takut sama petir tau ... percuma juga bilang, hih" Tania sedikit cemberut.
Brak!
Tidak tau dari kapan, Gino sudah mendaratkan tubuhnya disamping Tania.
"Siapa suruh tidur sini?" tanya Tania
"Katanya takut, sebagai suami yang baik saya temenin sini, apa mau dipeluk juga?" tawarnya sambil merentangkan tangan.
"Ogah, jangan modus ya ...!" tolak Tania smbil membelakangi Gino tidak lupa guling di jadikan sebagai pembatas.
"Ingat jarak kita, ikuti protokol ranjang pernikahan kita," kata Tania
"yaudah, nanti kalau petir lagi jangan coba peluk saya ya ?!" kata Gino sambil berbaring dan kembali memejamkan matanya.
"Gak akan," saut Tania dan sedikit mendumel dengan pelan.
Tar!
Bruk!
Tania langsung berbalik dan memeluk Gino snagat erat, ia menyembunyikan wajahnya di dada suaminya itu, untung saja suaminya memakai baju jika tidak maka ia akan berinteraksi dengan roti sobek.
Biasanya bocil gak ngerti ini, ah sudahlah. Nikmati saja ini cerita :- )
Gino yang belum tidur sepenuhnya dengan cepat membuka matanya, dan melihat Tania yang ketakutan.
"Tidak apa apa tenang lah...?" suruh Gino sembari menepuk lengannya
Tania tidak menjawab, ia sibuk dengan pelukannya yang terlihat erat dan juga gemetaran. Mungkin karena dingin bercampur ketakutan.
Gino membuat posisi mereka menjadi senyaman mungkin, tangannya juga memeluk Tania. Ini untuk pertma kalinya pasangan suami istri itu berpelukan, dibalik selimut yang tebal, dengan hawa dingin manja, serta suara gemuruh, petir dan segenap keluarga nya yang datang menghiasi hujan pada malam hari ini.
***
"Jijik, kamu modus'kan semalam?" tanya Tania
"Kamu yang peluk saya duluan, kamu lupa kamu ketakutan semalam, coba kalau saya tolak pasti kamu nangis dari semalam, bukannya terimakasih malah seperti itu, " omel Gino
Tania menjadi malu sendiri akrena benar juga yang di bilang Gino
"Aku khilaf, tapi kamu juga tidak perlu memeluk aku juga, tubuh aku ternoda kalau Deket sama kamu,"
"Ternoda, heh ... bahkan kita sudah halal, apanya yang ternoda ? Padahal cuma berpelukan bukan nganu,"
"Nganu apa?"
__ADS_1
"Anak SD aja udah tau, jangan pura pura polos deh, atau mau saya polosin?"
Pak!
Puk!
"Hentikan, apaan si kamu ini," Gino menghindari dari pukulan Tania. Namun Tania terus memukulinya.
Membuat Gino bertindak dengan segera menahan tangan tania lalu mendorong tubuhnya berada dibawahnya.
"Kalau kamu pukul saya lagi, saya akan ...!" seru Gino sambil menatap wajah Tania sedekat mungkin.
"Apa? lepasin gak?" kata Tania sembari menggerakkan tangannya supaya bisa terlepas dari cengkraman seorang Gino.
"Oh, gitu ya ... kayanya pagi ini enak nih buat olahraga ranjang, iyakan ?" Gino menaikturunkan alis.
"Hah?" Tania menganga lebar.
Mungkin kalau kecoa terbang bisa mendarat sempurna kedalam mulutnya.
"Ih, lepas ... aku minta maaf deh, jangan ya ... aku ga mau diperkosa," pinta Tania
"diperkosa? saya kan suami kamu," bantah Gino
"Ya walaupun begitu, aku'kan gak mau kalau kamu paksa itu artinya kamu pemerkosa !"
Perlahan Gino melepaskan Tania, dan dengan kesempatan yang ada Tania mendorong Gino hingga
Brak!
Tersungkur dilantai.
"Tania aaa"
"Wle... haha, rasain tuh!" Tania dengan secepat kilat ke kamar mandi.
****
Hi all ...!
The pasutri bobrok comunity
****
"Suamiku, lama banget si ?!" gerutu Tania karena sudah lama menunggu Gino namun belum juga datang menghampiri, sesekali Tania mengintip arlogi cantik melingkar di pergelangan tangannya.
06:45
" Apa aku susul aja dia ke kamar?" lirih Tania sambil menggigit ujung kukuhnya. "Yaudah deh aku susul," sambungnya lagi setelah mendapat kan keyakinan.
_
"Suami terpaksaku ... kamu ngapain si, lama banget ? Lho, orang nya mana?" heran Tania setelah puas mulutnya mengoceh ternyata objek yang dituju tidak ada didalam kamar.
"Kemana dia?" Tania celingak-celinguk mencari keberadaannya, Acha menemukan sepucuk surat diatas nakas,ia perlahan mengambil dan membuka lipatannya lalu membaca.
"Saat kamu baca ini, saya sudah ada dalam perjalanan, selamat menikmati hari buruk mu Istriku," Tania meremas surat tersebut. Oh, rupanya suaminya mengerjai dirinya. Ia tadi disuruh untuk menunggu namun yang ditunggu nya malah diam-diam sudah pergi ke sekolah.
"Ginooo ! Sialan!"
Mata Tania memerah, karena marah, kesal dan sebagainya. Ia meraih tas punggungnya dan segera berlari keluar rumah.
Semoga saja Taxi lewat dan dapat mengantarnya ke sekolah, mengingat sebentar lagi akan masuk.
***
"Kamu tau'kan ? hukuman yang akan saya berikan kepada mahasiswa/i yang telat seperti kamu, " ujar seorang dosen bertubuh gemuk
Tania hanya menunduk, dia sudah telat 10 menit lamanya. Tentu saja, membuat ibu guru itu murka ditambah pagi ini dikelasnya ia sedang mengadakan test dadakan
"Maafkan saya Bu, tadi --"
"Cukup! saya tidak perlu alasan apapun, sekarang kamu keluar dan test harian kamu nol. Sekarang, kamu keluar jangan masuk kedalam pelajaran saya lagi !"
"Tapi Bu, sa--"
"Keluar !"
__ADS_1
Tania berlalu dari kelas, betapa ia sangat sedih bercampur marah sekarang. Ingin sekali ia berteriak dan menggumpal satu nama orang yang telah membuat ia seperti sekarang. Gino Andriano ? ya, benar sekali.
"Aldo, Aldo ...!" panggil Tania karena melihat Aldo yang keluar dari kelas, mungkin hendak ketoilet.
Bruk
"Temenin aku ya?" pinta Tania sambil memeluk Aldo. Membuat baju Aldo basah karena Tania yang menangis dibajunya.
"Cha, kamu tau'kan kita ulangan harian pagi ini, kenapa kamu telat?" tanya Aldo
"ada sesuatu yang bikin aku telat, aku sedih Do, ini gak adil buat aku, tolong temenin aku dulu," pinta Tania.
"Tapi, tan ... aku masih harus kerjain soal-soal dikelas," kata Aldo
"bentar doang, aku juga kangen sama kamu karena akhir ini kita jarang berkomunikasi dengan baik,"
"Oh, yaudah ... baiklah, ayo duduk " Ajaknya
_
Tania dapat merasakan ada perbedaan pada Aldo- kekasihnya itu, Aldo terlihat gelisah saat bersama dengannya.
Bahkan Tania hanya bicara dan terabaikan begitu saja.
"Do, kamu kenapa si? " tanya Acha
"Gak apa, "
Ponsel Aldo berbunyi pertanda ada yang menghubunginya. Setelah mengetahui si pemanggil Aldo buru-buru mematikannya.
"Ko gak diangkat, siapa Do?"
"Bukan siapa siapa, kamu tenangin diri kamu ya ... dan semoga ibu dosen membatalkan ucapannya tadi, aku mau ke toilet dulu dan langsung ke kelas nanti," Aldo mengusap rambut Tania lalu pergi meninggalkannya.
Mata Tania menangkap sosok yang di carinya sejak tadi, Tania bangkit dari kursi dan berlari menghampiri nya.
"Ikut aku!" Tania menarik tangan Gino
"Eh, kemana? kalau ada sisw yang liat gimana?"
Tania menuliskan ucapan Gino terus menarik sekuat tenaga agar Gino mengikutinya. Sampai lah mereka kebelakang kelas yang Sudah lama tidak terpakai.
"Kenapa kamu narik saya?"
"Kamu sadar gak, kamu keterlaluan !"
"Apa maksudmu Tan ?"
"Ya, kamu keterlaluan ... gara gara kamu, aku dimarahin sama ibu dosen aku dilarang untuk ikut test harian, ini semua gara gara kamu!" maki Tania dengan segenap kekesalannya.
Depak!
Depuk!
Tania juga memukul bertubi-tubi tubuh Gino yang diam saja, karena mendengar semua ucapan Tania dan ditambah Tania juga menangis karena terluka dengan kejadian pagi ini.
Pukulan Tania melemah karena ia terlalu bertenaga tadi. Gino menahan tangannya lalu menariknya mendekat hingga mereka berpelukan sepihak karena Tania berontak untuk dilepaskan.
"Jangan peluk! "
"Maaf ya, saya tidak tau kalau kamu ulangan harian pagi ini, saya akan bilang sama ibu dosen mu agar kamu dimaafkan, saya berjanji ... jangan menangis lagi, " jelas Gino
"Kamu pasti berbohong, iyakan?"
Gino Melepas pelukannya lalu menangkup pipi chubby Tania. Mereka saling menatap.
"Saya tidak bohong, saya merasa bersalah sudah mengerjai kamu pagi ini, kamu jangan menangis lagi ?" Peringatnya tangan Gino mengahpus jejak air mata Tania dengan pelan.
Tania cukup terhipnotis dengan suaminya itu, jika di liat dengan seksama siapa si yang tidak akan jatuh cinta pada pesona nya.
"Sekarang, kamu ikut saya " ajak Gino
"Kemana?"
Gini menyelipkan jari tangannya mengapit kesela-sela jari Tania lalu mereka berjalan berdampingan.
Bersambung
__ADS_1