Gadis Imut Kesayangan Playboy

Gadis Imut Kesayangan Playboy
Eps. 123.Di Kampus


__ADS_3

Kalian tau bagaimana keadaan pak Reno setelah kejadian hamster-hamster, itu? Pastinya dia selalu memasang wajah dongkol, untungnya tidak ada kejadian yang seperti di pikirannya.


"Hamster sebanyak itu, mau kamu apakan Ara ? Dari tadi itu terus yang kamu urusin, Mas yang kamu cuekin!" rajuknya, pasalnya sedari tadi setelah sampai di rumah mereka. Ara cuma sibuk dengan sang hamster, tanpa mempedulikan wajah dongkol sang suami.


Ara mendengus, sudah jengah dengan celotehan dari suaminya, yang cuma terdiri dari hamster-hamster, dan hamster terus.


"Cuma tiga, masa dibilang banyak."


"Itu semua, siapa yang mau ngursin? Mas, enggak ngisinin kamu dekat-dekat terus sama tikus itu, bulu-bulunya nanti enggak baik buat kamu," ucap pak Reno lagi.


"Tikus mulu, ini hamster Mas. Dari mananya coba, Mas nyebutnya tikus!"


"Ya itu, sama aja. Siapa coba yang bakal ngurusin?" tanya pak Reno lagi.


"Mas, 'kan ada," jawab Ara , sekena-kenanya. Membuat pak Reno melotot dan menganga seketika, bukankah dari awal sudah terucap pernjanjian kalau, dirinya tidak akan ikut campur atau turun tangan dengan masalah tikus eh, hamsternya Ara ?


"Dih, mukanya santaiin aja kalee," sindir Ara, pak Reno cuma bisa berdecak.


"Mas serius, Ara ! Siapa yang bakal ngursin?"


"Ya Ara aja, sih. Gitu aja ribet," ucap Ara masih sibuk memperhatikan hamster yang baru dibelinya itu.


Nah, kenapa Ara beli hamster lagi? Jawabannya, karena ... si ceil dah 'dead' alias 'koid.' Hmm, turut berduka cita.


"Hey-hey, Mas udah bilang kalau, enggak ngizinin kamu ngurusin tikus itu terus!" ucap pak Reno, sambil mencebikkan bibirnya.


"Hey-hey, berapa kali Ara bilang kalau ini, hamster bukan tikus, Bapak Revonusa!" balas Ara, ikutan mencebik.


"Kamu manggil Mas, apa barusan?!"


"R-e-v-o-n-u-s-a!" jawab Ara, dengan mengejanya.


"Kamu ganti nama, Mas?! Cuma gara-gara, tikus itu?!"


"Ya Tuhan, Revonusa! Ini hamster, bukan tikus! Bedain bisa, 'kan?"


"Enggak bisa Oreyo! Lagian itu enggak ada bedanya," balas pak Reno tak mau kalah atau mengalah, bahkan telah mengganti nama istrinya. Dari Ara menjadi O-reyo.


"Nama saya kenapa diganti juga, Revonusa?!"


"Kamu juga ganti nama saya, Oreyo!"


Dahlah.


Tinggalin aja mereka, entar juga berenti sendiri kalau dah capek.


***


"Hey, Adek terkucelnya Abang. Kabar ponakan gue gimana?" tanya Marvel di sana. Sekarang, Ara dan sang abang sedang Vc-an.


"Gue sumpel mulut lo, Bang. Dah punya istri, masih aja berlagak. Kabarnya baik, ibunya juga baik," balas Ara .


"Hehe ... tapi sorry, gue cuma nanya kabarnya calon ponakan Abang, bukan kabar lo sih, Dek."


"Kamp*et!"


"Eh-eh, istrinya pak dosen, enggak boleh bicara kasar loh. Entar anaknya ikutan lagi," ucap Marvel , semakin membuat Ara mengumpatinya di dalam hati.


"Andaikan lo di sini, udah gue gigit lo, Bang! Dina, mana? Gue ngangkatnya karena cuma mau lihat Risa, tapi malah muka lo yang muncul," ucap Ara , agak membalas.


"Untung adek gue, sama istrinya teman gue. Kalau kagak, udah Abang kurungin di dalam kandang kuda. Dina lagi mandi tuh, nanti‐‐"


"Busyet, mandi jam segini? Abis ngapain kalian, hayo?" celetuk Barra, yang tak ada adabnya.


Sampai lupa, memang sekarang posisinya Ara, sedang ada di ruang kelasnya. Jangan lupa, kepala para penghuni kelas dah pada nyembul di layar.

__ADS_1


"Deh, bocah kagak usah tau!" balas Marvel.


"Dih-dih, gue seumuran istri lo, bahkan lebih tua setahun. Jadi bisa ditafsirkan, kalau ‐‐"


"Beda, itu beda lagi urusannya. Dahlah, kalain ngobrol sama Risa ajanih. Malas gue ladenin bocah kek lo," ucap Marvel, memotong ucapan Bara.


"Elleh, gue dah gede. Bahkan dah bisa beristri tiga sekaligus," kata Bara.


"Gaya!" cibir seisi kelas.


"Risa mana, Bang?"


"Tuh, dah gue tinggal dulu. Mau ngerjain pekerjaan kantor, kalian ngobrol-ngobrol aja dulu," pamit Marvel.


"Masih sempat-sempatnya lo kerja, Kak. Ini lagi liburan, honeymoon," ucap Tania.


"Untuk masa depan, lo belum nikah jadi enggak tau," ejek Marvel, dan betuk-betul menghilang, menyisakan Risa di sana.


"Woy, Dinong! Sombong banget lo, setelah nikah, lo kagak ada kabar!" sentak Galih, cukup keras dan melengking. Membuat orang di sekitarnya, menutup telinga.


"Gila, suara lo ngelengking banget, woy!" kata Bara, dengan wajah meringis.


"Sampai-sampai gendang telinga gue mau, pecah!" tambah Thiar, sambil memukul Galih dengan bukunya.


"Lebay banget lo Ga, suara teriakan lo itu melebihi perempuan," ucap Zaki, juga.


"Ini mau ngobrol sama gue, atau apasih? Kenapa pada sibuk sendiri kalian?" tanya Risa di sebrang sana.


"Tauk nih, mau ngobrol atau kagak? Kalau enggak, kalian meinggat aja deh. Pengap nih dikelilingin kalian," ucap Tania.


"Ya mau. Ris-Ris keadaan di sana gimana?" tanya Galih.


"Baik, adem. Apalagi --"


"Ada suami yang nemenin, yak?" potong Bara, dengan muka meledeknya.


Mau tau kabar, Zaki? Yah, dia cuma terdiam dan sesekali memasang senyuman, dengan bahu yang dirangkul Thiar. Karena di sini, cuma Thiar yang paling mengerti keadaan temannya itu. Di mana yang lain cuma mengira, kalau selama ini Zaki cuma main-main dengan Risa atau perasaannya cuma main-main.


***


Jam kelas untuk hari ini selesai, seperti biasa, ketiga sahabat tapi sekarang tinggal dua, ditemani ke empat bodyguard mereka. Yang terdiri dari Bara, Zaki, Galih, dan Thiar. Mereka berjalan, entah ke arah mana.


"Gue mau ke toilet bentar, kalian jangan kemana-mana," ucap Tania, dan langsung berlari menuju toilet.


Beberapa detik kemudian ....


"Temenin gue beli minum di kantin, Bar. Tenggorokan gue kering," pinta Zaki.


Tersisah Thiar dan Galih di sana. Satu menit kemudian, setelah kepergian Zaki dan Bara ....


"Lo duduk noh, Ra .Entar pak Reno lihat kalau lo cuma berdiri doang, kagak duduk, malah kita kena geprek lagi," ucap Galih, diangguki Thiar.


"Lo pikir, kalian daging hewan, pake digeprek segala," kata Ara.


Saat ingin berjalan, tangan Galih reflek memegang tangan Ara menuntunnya berjalan. Kali-kali Ara kesandung, dan tiba-tiba ... bruk? Gawat jadinya.


Tapi sepertinya niat baik Galih, agak salah tempat. Di mana saat baru berjalan empat langkah ke arah tempat duduk, suara yang nyaring nan tajam, menghentikan langkahnya.


"Kamu, ngapain pegang-pegang istri saya?!" tanya pak Reno, sambil menunjuk tangan Galih.


"C-cuma mau dibantuin, Pak. Enggak lebih," jawab Galih, dengan melepas tangannya dari Ara, dan pergi ke arah Thiar dengan wajah meringisnya.


"Lo kenapa enggak bilang kalau pak Reno datang, Bambang!" bisiknya.


"Yah-yah, jangan salahin gua. Gue aja kaget saat pak Reno tiba-tiba aja gitu, datangnya," bela Thiar, karena memang benar, dia sama sekali tidak melihat pak Reno berjalan ke arah mereka. Dia cuma melihatnya, saat pak Reno bersuara.

__ADS_1


"Kenapa cuma kalian berdua? Tania mana?" tanya pak Reno.


"Tania, lagi ke toilet Pak," jawab Thiar.


Tanpa mengatakan apa-apa, pak Reno langsung menarik Ara, membawanya entah kemana. Sekitar sepuluh detik atau sembilan, Tania datang bersamaan dengan datangnya Zaki dan Bara, dari kantin.


"Lho, Ara kemana?" tanya Tania.


"Di bawa sama pawangnya tuh," jawab Galih, sambil menunjuk ke arah pak Reno dan Ara, yang masih terlihat dari pandangan mereka.


Di sisi lain, tepatnya tempat pak Reno dan Ara .... Pak Reno membawa Ara, ke sutu lorong yang sangat jarang dilalui orang.


"Mas ngapain narik-narik, sih?" tanya Ara, agak kesal. Karena tanpa permisi, suaminya itu langsung menggeretnya pergi di depan banyak orang. Iya banyak, banyak yang melihatnya.


"Ngapain? Ngapain kamu bilang? Masih untung Mas narik kamu ke sini, dari pada marah-marah di sana?"


"Itu Mas sendiri yang bakal, malu. Orang Ara enggak buat apa-apa, malah mau dimarahin," balas Ara, dengan menatap nyalang sang suami.


Pak Reno memajukan wajahnya dekat dengan Ara. "Enggak buat apa-apa?" tanyanya.


"Iya, cuma mau bantuin," jawab Ara, dengan memundurkan wajahnya.


"Pegangan tangan?" tanyanya lagi, semakin memajukan wajahnya, diikuti Ara yang juga memundurkan wajahnya.


"Gimana caranya bantuin kalau enggak di pegang atau apa," bela Ara


"Tapi itu buat Mas marah, gimana?"


Kepalanya semakin mendekat, Ara juga semakin memundurkan badan dan kepalanya. Tapi bagaimana 'pun, tangan pak Reno sudah melingkar di pinggangnya, untuk berjaga-jaga jangan sampai Ara terjatuh, karena terus mundur.


"M-Mas yang cemburuan."


"Sudau tau begitu, tapi masih mau dekat sama laki-laki lain?"


"Mas terlalu ‐‐."


Dahlah, taukan apa yang terjadi?


Yah gitu ....


Gitu ....


Ciu*an, itu yang terjadi.


Beberapa detik berlalu, dan hampir semenit itu terjadi. Sampai ....


Bruk.


Lagi-lagi ada yang merusak suasana.


"Lo ngapain pake dorong, gue?!"


"Lo kagak seru, Bar! Ngapain pake jatuh segala!"


Kayaknya mereka emang nyari perkara, atau mungkin udah bosan hidup.


Sedetik, dua detik, dan tiga detik mereka saling pandang. Dan ....


"Ampun Pak, nilai kita jangan dipotong!"


"Jangan hukum kita, Pak!"


Dalam waktu yang bersamaan, mereka semua berucap. Dan tau apa yang terjadi? Ya, setelah mengatakan itu, semua pengintip itu berlari bergitu saja, seperti di kejar hantu dan anjing.


Sekarang, tersisa Tania dan Bara. Bara yang posisinya masih mengelus pantatnya yang sakit, sehabis jatuh karena ulah orang-orang itu. Sedangkan Tania, cuma memasang tampang menyengir saja.

__ADS_1


Tidak bisa dihitung, seberapa persen malunya pak Reno. Kepergok berciuman dengan Ara oleh mahasiswa dan mahasiswinya, yang jumlahnya tak sedikit. Rupa-rupanya, orang-orang itu mengikuti dirinya saat menarik Ara ke sini.


Sorry for typo. 🙏


__ADS_2