
Pagi hari, sekitar jam 06,30 Ara terbangun. Saat mendengar suara muntah dari seseorang, dan yah ... itu Reno. Yang sudah menjadi rutinitasnya tiga hari belakangan ini.
Sebenarnya Ara sangat kasihan dengan ke adaan suaminya, apa lagi hidungnya sangat sensitif. Tidak bisa dekat-dekat dengan orang lain, mencium bau orang lain, kecuali dirinya.
Ara membangunkan dirinya, pergi ke kamar mandi menyusul pak Revano.
"Mas enggak usah pergi ngajar ya, tinggal di rumah aja," ucap Ara , sambil memijit tengkuk Reno.
"Enggak bisa Sayang, jadwal ngajar Mas cuma hari ini di minggu ini. Apa lagi tadi Mas di beritahu, kalau ada mahasiswi baru yang akan masuk hari ini," ucap Reno, membersihkan wastafel bekas muntahnya dan juga mulutnya.
"Tapi Mas lagi enggak sehat, apa lagi Mas enggak bisa cium bau-bau yang aneh, kan? Bisa-bisa Mas langsung muntah nanti," kata Ara , pergi mencuci mukanya.
"Udah enggak apa-apa, Mas akan tahan," kata Reno, mengajak Ara keluar kamar mandi.
"Mas enggak mau mandi?"
"Masih pagi, dingin. Lanjut tidur yuk," ajak Reno, dengan cengirannya.
"Lanjut tidur bisa-bisa telat, ya udah. Biar Ara yang mandi deluan."
"Mandi bareng, gimana?"
"No! Entar Mas khilaf lagi, telat benar-benar telat nanti," ucap Ara lalu melangkah masuk ke kamar mandi, meninggalkan Reno yang tertawa, menertawakan kata-kata 'khilaf'.
Menunggu Ara keluar kamar mandi, Reno memilih melanjutkan pekerjaannya yang semalam tertunda karena aksinya sendiri.
"Badan Ara kelihatan gendut ya, Mas?"
Reno berbalik menatap yang berbicara, di sana berdiri Ara di depan cermin sambil memutar-mutar badannya. Eitz, Ara sudah pake baju loh. Tapi cuma memakai celana jeans dan atasan yang baru memakai tanktop.
"Kenapa nanya gitu?" Reno berdiri dari duduknya, berjalan ke arah Ara.
"Emang gendut nih, berat badan Ara bertambah," ucap Ara dengan cemberut, Reno tersenyum dan melingkarkan tangannya di perut Ara.
"Enggak gendut, Sayang. Tapi sekarang kamu sedang mengandung, berbadan dua. Jadi wajar kalau berat badan kamu naik," ujar Reno sambil mengelus-elus perut Ara.
"Kalau nanti Ara gendutan, jadi jelek dong? Mas enggak bakal ninggalin Reya, kan?" tanya Ara dengan mata berkaca-kaca.
Reno tertawa renyah, membalik 'kan badan Ara menghadap ke arahnya. Menghapus air mata yang bergenang di pelupuk mata Ara. .
"Mas akan selalu ada, selalu bersama kamu. Mas enggak bakal ninggalin kamu," ucap Reno.
"Tapi Ara beneran gendut nih." Ara memegang pipi dan perutnya, sambil memajukan bibir bawahnya.
"Bibirnya jangan di gituin, buat Mas mau khilaf aja. Lagian kamu kalau kamu gendut, tambah cantik."
"Mana ada orang gendut cantik, yang ada makin jelek."
"Tapi kamu beneran cantik."
"Lebih baik Mas pergi mandi, Ara mau turun. Bajunya udah Ara siapin tuh," ucap Ara dan melenggang pergi dari kamar, meninggalkan Reno.
Terdiam memikir 'kan kata-kata Ara yang tadi, soal masalah di kampus nanti. Bagaimana kalau benar-benar dia tidak bisa menahan mualnya? Aiss, akan sangat memalukan jika dia muntah di depan para mahasiwanya.
Reno melirik jam, yang sudah hampir menunjuk 'kan pukul tujuh. Cepat-cepat dia mengenyahkan pikirannya, dan masuk ke dalam kamar mandi.
Di kampusnya Ara
Ara turun di parkiran dosen, dengan kembali mengendap-endap. Andaikan Reno mengizin 'kannya membawa mobil sendiri, mungkin dia tidak akan melakukan hal ini.
"Enggak ada yang lihat," ucap Reno. Ara memandang suaminya kesal, dia masih ingin kuliah dengan tenang. Sebelum dia mengambil kuliah online, karena kehamilannya.
"Ara masih mau kuliah dengan tenang, menghabiskan detik-detik terakhir Ara di kampus, dengan nyaman," ucap Ara.
"Memang kalau mereka tau, kamu enggak nyaman?"
"Enggak. Siapa yang tenang coba, setiap hari harus dapat tatapan nyinyir dan julid."
"Ya udah, bumil jangan marah-marah dong. Entar baby--"
"Jangan berisik Mas, ih! Nanti ada yang dengar," ucap Ara dengan satu telunjuk di dekat bibir Reno, sedangkan matanya sibuk melirik sana-sini.
"Enggak ada. Ayo ah, nanti telat lagi," kata Reno.
"Tunggu-tunggu, Mas enggak mual?"
"Pake masker," ucap Reno, mengambil masker dari dalam saku kemejanya.
"Kenapa liatin Mas kayak, gitu?"
"Entar di bilang aneh lagi," kata Ara, sambil cengengesan.
"Dasar."
Mereka berjalan keluar dari parkiran, dan mulai melangkah masuk ke dalam gedung fakultas. Kalau ada orang yang mau curiga, mungkin sudah terbongkar. Karena hampir setiap saat, Ara selalu datang atau'pun pergi dengan pak Reno. Tapi ... entah yang di pikir 'kan mereka apa, tidak ada yang curiga sama sekali.
Mereka berpisah di lift, Ara menaiki lift khusus mahasiwa/i. Sedangkan Reno menaiki lift, dosen. Pintu lift terbuka, dua sahabat ter'bege Ara sudah menunggu di situ.
"Ehehe, maaf nih. Kita enggak pergi jemput di bawah. Bumilnya enggak apa-apa, kan? Baby juga baik--"
"Kalau ngomong bisa di rem, gak?!" potong Ara, memanatap tajam Tania.
Tania seakan tersadar dari mulutnya yang sangat ceplos, langsung mengatupnya rapat. "So--sorry, mulut gue kelepasan," ucap Tania sambil menyengir.
"Sumpah bukan temen, gue," kata Risa sarkas.
"Gue juga bukan," tambah Ara.
"Temen gue siapa, dong?"
"Noh!" tunjuk Ara dan Risa ke arah laki-laki yang sedang duduk dengan anting di telinganya. Yaps, dia preman kampus, premannya fakultas Ekonomi.
"Idih, najis!" ucap Tania, sambil melenggang pergi deluan.
__ADS_1
"Jangan gitu, entar jodoh," ucap Ara.
"Bener," tambah Risa.
"Amit-amit ya Allah, bagusan gue dapat yang kutu buku deh," ucap Tania.
"Selera lo kebangetan. Emm, Thiar gimana? Maksud gue hubungan, kalian?"
"Masih belum gue kasih jawaban."
"Lo gantungin anak orang jadinya, Tan," kata Risa.
"Abisnya gue bingung. Gue tolak ... entar gue kena karma atau nyesel 'lah istilahnya. Tapi kalau terima, takutnyq gue lebih nyesel. Akh, enggak tau lah. Kenapa persoalan cinta gue ribet bat," ucap Tania, terdengar seperti rengekan. Sedangkan Risa dan Ara sudah tertawa jahat.
"Eh, udah pada tau belum. Denger-denger ada mahasiswi baru di kelas kita, tau gak?"
"Tau, pada bahas itu kan di grup," ucap Risa.
"Kalau gue enggak tau dari grup sih, tapi dari Reno," ujar Ara.
"Cie, ada yang lagi hamil anaknya pak dosen dingin nih ye," goda Tania, dibalas lirikan greget dari Reya.
"Anak gue juga kali!"
"Tapi'kan, kalau bukan pak Reno, mana bisa jadi," ucap Tania.
"Astaghfirullah, ni anak. Otak lo kenapa vulgar banget!" ucap Risa sambil menoyor kepala Tania, gemes.
"Udah ah cepat dikit jalannya, pak Reno udah dekat tuh."
"Astaga, bisa kena hukum kita kalau pak Reno sampai deluan," ucap Tania, bersiap lari.
"Mau apa?" cegah Risa.
"Ya lari bege!"
"Kita lari oke-oke aja, lha Ara?"
"Astaga-astaga, gue lupa Ara. Jadi gimana?"
"Jalan santai aja, enggak bakal di hukum," ucap Ara santai.
"Gimana?"
"Enggak bakal di hukum, mana tega dia hukum istrinya yang lagi ngandung anaknya gini," ucap Ara. .
"Iya juga. Tapi ...." Tania menggantung ucapannya, dan saling melirik dengan Risa.
"Lo enggak, tapi kita yang bakal di hukum Ara!" pekik Tania dan Risa, tanpa tau tempat.
Sedangkan Ara cuma cengengesan, mendapat tatapan menguliti dari keduanya.
Berjalan sekitar semenit, mereka sudah sampai di kelas tanpa di dahului pak Reno. Mungkin pak Reno sengaja memperlambat langkahnya, agar mereka sampai di kelas deluan. Emang benar kata Ara, mana tega dia menghukum istrinya saat hamil seperti ini.
"Pagi Pak!" seru semuanya.
"Bapak kenapa pake masker?" tanya Bara. Sepertinya di antara semuanya, cuma dia yang berani bertanya.
"Lagi flu, Pak?" tambah Galih.
"Ya," jawab singkat pak Reno.
"Harusnya istirahat di rumah aja, Pak. Enggak usah ngajar," celetuk seorang mahasiswi. Suaranya sangat-sangat asing di telingan semuanya.
"Kamu mahasiswi baru itu, kan?"
"Iya Pak," jawabnya dengan gaya malu-malunya. Ahh, itu membuat pak Reno semakin mual.
"Perkenalkan diri, kamu."
"Ah maaf, di situ saja. Tidak usah ke depan sini," cegah cepat pak Reno, saat mahasiswi itu ingin melangkah. Semua menahan tawanya, terutama Ara . Bahkan ingin sekalinya Ara tertawa, terpaksa yang dia keluarkan dengan suara batuk.
"Perkenalkan saya Putri Amira Abrisam, biasa di panggil Mira atau Putri. Saya pindahan dari Kampus***, dengan fakultas yang sama. Alasan--"
"Sampai di situ saja, saya tidak seperti dosen yang lain. Yang harus secara detail kamu jelaskan," potong pak Reno, sambil mengambil buku.
"Baik Pak," ucap mahasiswi itu, atau kita panggil Mira.
"Dan harus kamu tau ... tidak boleh berbicara dipelajaran saya kecuali saya bertanya, tidak boleh memakai pakaian seperti yang kamu kenakan sekarang. Juga, ponselnya di matikan atau aktifkan mode senyap. Karena saya tidak suka ada yang ribut-ribut saat saya mengajar, paham?!"
"P-paham Pak," ucap Mira gugup. Kaget mungkin, dengan peraturan sang dosen.
Setelah itu, pak Reno benar-benar melanjutkan mengajarnya. Dengan sekali-kali berhenti sebentar, untuk meredam mualnya. Walau seperti itu, pelajaran tetap berjalan lancar.
Di kantin
"Boleh duduk di sini, gak?" tanya Mira. Yaps, setelah keluar kelas, kemana lagi mereka perginya kalau bukan di kantin, taman, atau di perpus. Tapi saat ini, Ara , Risa , dan Tania sedang berada di kantin.
"Boleh," ucap Ara. Mira langsung duduk, tanpa mengucapkan terima kasih atau apa.
"Pak Reno ganteng yah, tapi kenapa harus pake masker coba. Kan enggak puas lihat wajah tampannya," ucap Mira.
"Pak Reno jomblo, gak?" Seketika Ara tersedak air minumnya.
"Pak Reno jomblo, kan?" tanya Mira lagi, tanpa mempedulikan batuk Ara. .
"Kenapa nanya gitu?" tanya Tania balik.
"Enggak apa-apa sih. Mau buat taruhan sama gue, gak?"
"Taruhan?"
"Iya. Kalau gue bisa dapatin hati pak Reno, kalian harus ngasih gue sesuatu yang berharga," ucap Mira songong.
__ADS_1
"Kalau enggak?" tanya Tania.
"Sebaliknya, gue yang bakal ngasih kalian barang berharga gue."
Mereka bertiga memandang Mira, dari wajahnya, badannya, hingga kakinya yang di bawah meja. Memang cantik, tapi sayang ... sangat murahan.
Seketika ingatan Ara melayang ke pembincangannya dengan pak Reno tadi pagi, tentang badannya yang gendut.
"Emang lo bisa?" tanya Tania lagi. Karena cuma Tania yang sangat-sangat penasaran dan greget, dengan sang lawan bicara.
"He, jangan remehim gue gitu! Kenapa gue pindah ke sini, karena emang gue dalam misi menakhluk 'kan hati cowok semacam pak Reno," kata Mira.
"Fakgirls dong, lo?"
"Semacamnya," ucap Mira tersenyum bangga. Malah itu membuat ketiganya, jijiy.
"Songong banget, dia pikir pak Revano itu siapa?" gumam Risa , dengan menatap Mira jijik.
"Lo, kenapa diam dari tadi?" tanya Mira, menunjuk Ara. .
"Malas ngomong," balas Ara cuek.
"Lo tertarik sama tantangan gue tadi?"
"Haha, sorry. Enggak sama sekali," ucap Ara tersenyum miring.
"Sombong banget lo!"
"Sorry ya, kalau mau bertantang atau apa. Jangan ke kita, ke sana aja. Soalnya kita enggak suka main gituan," ucap Risa angkat bicara.
"Sama, ke sana aja tuh. Mereka suka sama tantangan, kalau kita enggak," tambah Tania.
"Sombong banget kalian!" Mira mengangkat makanannya, dan sedikit menendang kaki meja, lalu melangkah pergi ke meja yang tadi di tunjuk Tania. Yah, meja Nirma dan antek-anteknya.
"Cih dasar," gerutu Tania.
"Hama pengganggu baru tuh, Ra. Harus hati-hati," ucap Risa.
Dirumah Ara dan Reno
Sekarang Reya dan Reno telah pulang, telatnya mereka telah berada di dalam mobil. Sedari tadi Ara cuma diam, tanpa berbicara.
Reno sudah berapa kali berbicara atau bertanya, tapi tidak di respon oleh Ara.
"Mau mampir beli sesuatu, Ra?"
"Araa."
"Sayang."
"Araaa."
"Sayang!" Reno mendengus, lalu menepikan mobilnya.
"Sayang, lamunin apa sih?" Reno memegang tangan Ara, menatap wajahnya.
"Mas suka sama, Mira?"
Reno tercengang oh apa lagi ini? "Mira siapa?"
"Mahasiswi baru tadi. Mas suka, kan?"
Reno menggeleng. Menarik nafasnya dalam, mungkin Ara sangat sensitif karena penyebab horomon kehamilannya.
"Mas enggak suka Ra, apa lagi baru tadi Mas ketemu dengan dia."
"Mira bilang tadi, dia akan membuat Mas suka sama dia. Emang Mas bakal suka sama dia?"
"Itu kata dia, bukan kata Mas. Mas enggak bakal suka, Mas cuma cinta sama kamu Sayang. Apa lagi sekarang kamu lagi mengandung anak Mas, enggak mungkin Mas bakal suka sama perempuan lain. Mas cuma cinta sama—"
"Kalau Ara enggak hamil, Mas bakal suka gitu sama Mira?!"
What-what! Sepertinya Reno harus ekstra sabar, dengan ARa. Lihat saja, salah bicara sedikit saja, Ara akan membicarakan yang lebih.
"Engga-gak, biarpun kamu enggak hamil, Mas enggak bakal suk--" Reno mengusap wajahnya kasar, saat Ara membuka pintu mobil dan turun.
"Oke-oke, Mas salah bicara tadi. Jangan marah hey." Reno turun dari mobil, lalu mengejar Ara yang entah ingin berjalan ke mana.
"Balik ke mobil Ra, Mas salah tadi. Jangan marah dong," ucap Reno, memegang tangan Reya.
"Lepasin Mas."
"Kita balik ke mobil ya, maaf tadi Mas salah bicara. Jangan marah dong."
"Apaan sih, siapa juga yang marah. Orang Ara mau beli somay tuh," ucap Ara, menunjuk penjual somay yang tak jauh dari tempat mereka.
Reno tercengang, kemudian menelan ludahnya susah. Ya Tuhan, dia pikir Ara benar-benar marah. Ternyata cuma ... ah sudahlah.
"S--somay?"
"Iya, kesana temanin Ara" ucap Ara menarik-narik tangan Reno. Reno sendiri mengangguk-angguk dengan tampang bodohnya, sunggu di luar prediksi akan terjadi seperti ini.
Ini baru permulaan, pak.
"Somay-nya tiga puluh lima ribu, Bang," ucap Ara. Reno menatap Ara tak percaya, somay sebanyak tiga puluh lima ribu apa bisa Ara habisi?
"Di tunggu," ucap si Abang.
"Bisa habisin tiga puluh lima biji, Ra?" tanya Reno, di balas anggukan oleh Ara
"Kalau enggak habis?"
"Kan ada Mas, atau bawa pulang," ucap Ara santai. Reno mengangguk saja, dari pada Ara marah lagi? Lebih berabe.
__ADS_1
Sorry for typo. 🙏