Gadis Imut Kesayangan Playboy

Gadis Imut Kesayangan Playboy
Eps. 81.Dijahili Aldi


__ADS_3

Hari ini, seperti yang kemarin Reno bilang. Dia akan pergi seminar ke luar kota, tepatnya di Bandung.


"Baik-baik di rumah, jangan terlalu banyak main keluar. Kalau kesepian, kamu bisa ngajak Risa sama Tania main kesini," ucap Reno , Ara hanya bisa mengangguk saja.


"Kalau ada apa-apa, minta bantuan sama mbok Mina atau pak Doni," tambahnya lagi. Ara lagi-lagi hanya mengangguk.


"Mengerti kan?"tanya Reno.


"Iya suami. Cuma mau pergi empat hari doang, banyak banget pesannya," ucap Ara.


"Juga, jangan keganjengan!" Ara mendengus kasar, siapa juga yang akan keganjengan. "Nggak akan, udah ih. Kapan berangkatnya, kalau dari tadi cuma ngoceh mulu," ucap Ara jengah.


"Buat jaga-jaga, sayang." Omg seblak, Reno ngomong apa tadi? S_a_y_a_n_g, Reno ngomong sayang. Sayang woy. Seketika Ara menjadi patung pancoran, berdiri dengan mata membulat.


"Saya pergi dulu, baik-baik di rumah." Dan ....


Cup .... Itu bukan 'celup' tapi 'cium.'


Belum sadar sempurna dari kata 'sayang, sekarang di tambah dengan sebuah kecupan di kening Ara Ini untuk keberapa kalinya pak Reno. mencium pucuk kepala Ara , yang pertama saat menikah yang kedua 'sekarang.


"Assalamualaikum," salam Reno.


"Wa -waalaikumsalam. Pak eh, Mas tunggu bentar," cegah Ara dan mengambil tangan Reno lalu menyaliminya.


"Hati-hati," ucap Ara tersenyum gugup.


๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป


Tak lama datang lah Risa dan Tania yang sudah di hubungi Ara sebelum, untuk datang kerumah nya.


"Ulu-ulu, kasihan. Ada yang di tinggal pergi sama laki," ledek Risa tanpa rasa kasihan.


"Hiks ... hiks, gue ditinggal pergi sama laki gue. Huhu," tambah Tania meledek dengan gaya orang menangis.


"Sinting lo berdua!" kesal Ara dengan mendelik.


"Keluar yuk, cari angin gitu," usul Tania.


"Angin dicari, masuk angin dong nanti," ucap Risa dan langsung di getok oleh Tania.


"Gimana Ra ? Sekalian jalan-jalan sore," tanya Tania.


"Nih." Ara menyodorkan hpnya, dilayar nya terpampang nama Reno.


"Mau ngapain?"


"Laporan, kalau kalian ngajak keluar," ucap Ara.


"Ish. Sini." Tania memencet tombol berwarna hijau, sekitar lima detik, telepon sudah tersambung.


"Halo, Assalamualaikum 'Pak," salam Tania menyenggol lengan Ara , menyuruh Ara yang berbicara.


"Waalaikumsalam."


"Khem, udah sampai 'Mas?" tanya Ara dengan mengecilkan suaranya saat di kata 'Mas.' Agar kedua temannya tidak mendengar. Tapi sia-sia, karena kedua temannya sudah memasang telinganya tajam-tajam.


"Sudah, sekitar sejam yang lalu. Maaf, karna tidak ngabarin. Soalnya Mas langsung ke tempat acaranya, ini lagi masih disini," ucap Reno dengan menggunakan kata Mas. Tania dan Risa sudah menutup rapat mulutnya, agar tidak tertawa atau meledek temannya.


"Emm, gini. Tania sama Risa ngajak'kin keluar," ucap Ara sambil menjulurkan lidah ke arah Tania dan Risa.


"Cuma bertiga 'kan?"


"Iya."


"Cepat pulangnya."


"Iya."


"Yaudah, jangan keganjengan!"


"Siapa yang kaganjengan, Mas kali yang tebar pesona sama ondel-ondel disana!" sungut Ara , Tania dan Risa sudah tertawa cekikikan.


"Dih, siapa yang berani dekat-dekat sama suamimu ini. Baru mas lirik saja, sudah ngibrit," ucap Reno terkekeh.


"Awas aja lirik-lirik perempuan lain, Ara juga bakal kaganjenan sama ganjen sama laki-laki disini!" ketus Ara.


"Kenapa memang kalau Mas lirik-lirik perempuan lain, cemburu?"

__ADS_1


"Nggak, siapa yang cemburu. Cuma takut aja, perempuannya jadi grogi, keringat dingin, dan terakhir pingsan!" ucap Ara asal, membuat Risa dan Tania menyemburkan ketawa ngakak mereka.


"Ada-ada aja kamu, yaudah Mas matiin dulu. Acaranya mau mulai lagi," ucap Reno memang terdengar suara 'panitia mungkin,' di telepon.


"Jangan kaganjengan!"


"Jangan lirik-lirik perempuan disitu, jangan sampai beneran pingsan mereka."


"Siaplah. Mas matiin, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Mas, eui," ledek Tania di ikuti Risa yang tak henti-entinya tertawa.


"Jadi keluar 'gak?" tanya Ara yang jengah campur malu di ejek terus.


"Meluncur kuy," ucap Tania semangat 'empat lima.


Mereka pamitan ke mbok Mina, dan pergi. Mereka cuma jalan kaki, berjalan di dalam kompleks sesekali menyapa ibu-ibu yang sedang jalan-jalan sore atau yang dari berbelanja.


"Haus gue," ucap Tania sambil memegang tenggorokannya.


"Kedepan situ yuk, tadi gue lihat ada penjual ice cream sama bakso. Sekalian ngisi perut," usul Risa.


"Ya udah, ikut ajalah gue," ucap Ara. dan mereka mulai lari-lari kecil untuk mempersingkat waktu sampainya.


Tempat yang mereka datangi, hanya berjarak sepuluh langka dari gerbang kompleks. Pertama-tama mereka memakan ice cream terlebih dulu, untuk menghilangkan haus, padahalkan bisa beli air. Lalu setelah ice cream mereka habis, mereka memesan tiga mangkuk bakso, dan memakannya dengan lahap seperti orang yang lain.


"Kalian ngerasa nggak, kalau ada orang lagi merhatiin kita," bisik Ara kepada Tania dan Risa.


"Keknya, tapi bodolah. Banyak orang gini juga, nggak mungkin kalau dia mau berbuat jahat," ucap Risa.


"Tan, lo juga ngerasain kan?"


"Hmm, bodo amatlah Ra. Mau ngikutin, mau merhatiin, terserah mereka. Yang penting gue laper, kenapa lo nggak bilang kalau bakso disini enak. Kan bisa jadi langganan gue," cerocos Tania terus melehap baksonya.


"Ish. Yang gue bahas apa, yang lo bahas apa!" ketus Ara dan kembali memakan baksonya dengan rakus.


"Astaga Ra pelan-pelan. Heran gue, lo kek nggak di kasih makan ama laki lo," oceh Risa.


"Sembarangan, malahan setiap menit pun nggak ada larangan buat gue makan."


"Alhamdulillah kenyang," ujar Tania.


"Berapa 'Bang?" tanya Ara ke penjual baksonya.


"Lima belas ribu Neng, semuanya jadi 'empat puluh ribu," ucap abang penjual baksonya.


"Nih Bang." Ars menyerahkan uang 'Rp. 50.000.


"Lha, geu baru baru mau bayar," ucap Risa menggantung uang dua puluh ribunya.


"Gue traktir hari ini, hanya untuk hari ini. Mumpung gue lagi berbaik hati," ucap Reya.


"Kembaliannya Neng."


"Ambil aja 'Bang," ucap Ara tersenyum.


"Makasih Neng."


"Santai aja Bang, orang kaya dia," ledek Tania langsung mendapat toyoran mentah dari Ara.


"Ya udah yok, balik. Entar kita di marahi laki, lo nanti. Karna bawa keluar istrinya, lama-lama," kata Risa.


"Se senengnya lo aja deh, ledekin gue," ucap Ara dengan manyun.


"Ulu-ulu, jangan cemberut dong. Nanti kita diomelin karna udah buat istrinya ngambek," ledek Tania juga.


"B-a-c-o-t! Kali โ€”."


"Arabell ," panggil seseorang memotong perkataan Ara.


Mereka berbalik, seketika berdecih malas dengan orang di depan mereka.


"Masih ada nyali muncul di depan kita?" tanya Tania namun terkesan datar.


"Kenapa nomor gue lo blok Risa ? Apa segitu bencinya kalian sama gue?" tanya orang itu, yang ternyata Aldi.

__ADS_1


"Bukan lagi benci, tapi dendam! Asal lo tau!" tekan Risa.


" Ara , gue datang buat minta maaf. Dan kalau bisa, kita mulai dari awal lagi," ucap Aldi dengan tanpa merasa bersalah dengan kalimatnya barusan.


"Mulai dari awal apa?" tanya Ara dengan senyum miringnya.


"Walaupun kita udah pisah selama bertahun-tahun, tapi gue masih cinta sama lo Ara ! Gue nggak bisa lupain lo," ucap Aldi hendak meraih tangan Ara tapi langsung ditepis kasar oleh mereka bertiga.


"Jangan pernah sentuh Ara , dengan tangan kotor lo itu!" sembur Tania.


"Kenapasih ha! Apa gue nggak pantes buat dapat maaf kalian, maaf dari kamu Ara ? Apa gue nggak bisa lagi, dapat cinta lo lagi Ra?!" tanya Aldi dengan nada tinggi, sampai-sampai perhatian orang-orang beralih ke arah mereka.


"Jangan teriak, lo bikin malu tau gak!" ucap judes Risa.


"Heh! Gue nggak peduli, mau buat malu. Yang gue mau, cuma dapat kembali cinta Ara !"


"Aldi, lo sadar gak kalau apa yang udah lo lakuin dulu, udah buat seluruh kepercayaan gue hilang? Kepercayaan keluarga gue juga hilang? Lo sadar gak?!" bentak Ara dengan emosi.


"Gue sadar, makanya gue datang lagi buat dapat kepercayaan lo, kepercayaan keluarga lo!"


"Cih! Manusia be*at macam lo, udah nggak pantes dapat kepercayaan!" Tania berdecih, sambil menunjuk muka Aldi.


Aldi sendiri tampak menahan amarahnya. "Lebih baik, lo pergi jauh-jauh lagi deh 'Di. Udah cukup lo buat sahabat gue menderita, sekarang Ara udah mulai lupain lo. Udah mulai membuka hatinya dengan laki-laki lain, kenapa lagi lo muncul? Buat nyakitin hati Ara lagi? Belum puas lo nyakitin dia dulu?!" bentak Risa dengan amarah yang meluap.


"Gue datang buat minta maaf, dan mulai lagi dari awal! Gue cuma mau, Arsenal nerima gue kemali!" gertak Aldi tanpa berasalahnya.


"Ck,ck. Bajingan kayak lo! Nggak pantes, dapat maaf!" hardik Risa lagi.


Aldi semakin tersulut emosi, dan melayangkan tamparan ke arah Risa Tapi sebelum itu terjadi, sebuah tangan langsung menangkisnya, bukan hanya itu, tangan Aldi juga di pelintirkannya.


"Lepasin bang*at!" jerit Aldi karna kesakitan.


"Bang Ke!" ucap Ara spontan.


"Ck. Nggak ada nama yang bagus buat gue apa? Bangs*t lah, bang*e lah," dengus Marvel abangnya Ara.


"Lepasin gue!"


"Cih. Laki-laki macam lo, mau jadi pacarnya adek gue?" Marvelgeleng-geleng kepala. "Jangan harap!" lanjutnya.


"Lepasin gue Bang!"


"Abang-abang, gue bukan abang lo!" Marvel melepas pelintiran tangan Aldi, dan mendorongnya. Hampir saja dia nyunsep ke tanah, kalau tidak di tahan cepat oleh Marvel


"Ck. Menyusahkan! Untung gue masih punya kebaikan hati," ucap Marvel lantas menarik Aldi hingga berdiri.


"Pergi lo sana, jangan sampai gue bogem muka lo itu. Beraninya cuma dengan perempuan."


"Gue masih cinta sama Ara , Bang! Kasih gue kesempatan, buat perbaiki kesalahan gue dulu," ucap Aldi tetap keukuh.


"Iss, bajing*n ini. Lo pergi sekarang, atau gue yang seret lo pulang!" Marvel sudah mau meninju Aldi, tapi langsung di tahan oleh Ara..


"Udah ih Bang, banyak orang yang liatin! Lo datang bukannya selesai 'in, malah mau nambah!" gerutu Ara.


"Sampai kapan pun, gue nggak bakal nyerah. Inga itu!" ucap Aldi.


"Breng*ek!"


"Bang! Gue bilang udah-udah!"


"Dasar gila tu, anak!" gertak Tania dan Risa.


"Kalian nggak di apa-apain kan? Gue datang tepat waktu kan?" tanya Marvel berturut-turut.


"Baik Bang, nggak usah lebay gitu," ucap Ara .


"Lebay kata lo Dek? Astaga, kalau kalian kenapa-napa, gue juga yang nanggung akibatnya. Dimarahin sama abang Hendra,ayah apa lagi sama Reno 'Dek. Bisa babak belur gue kalau lo kenapa-napa," ucap Marvel tak berbohong.


"Iya, thanks Abang ter love-love ku."


"Sekarang lo yang jadi, alay!" hardik Marvel . Ara cuma menyengir kuda.


Hai ๐Ÿ‘‹๐Ÿ™‹kak readers,


Semoga suka dengan ceritanya.


Tinggalkan jejak like dan komwelnya.

__ADS_1


๐Ÿ™๐Ÿ’•Terimakasih


__ADS_2