
Di sebuah lapangan basket, terlihat Zaki dan Thiar baru saja selesai bermain. Mereka berdua duduk sambil minum, dengan nafas yang masih tak menentu.
"Zak, dari tadi gue merhatiin lo enggak semangat kayak biasanya. Lo kenapa?" tanya Thiar, sambil menyeka keringatnya.
"Sedikit kepikiran—."
"Kepikiran bagaimana caranya buat nembak, Risa? Akhirnya, gerak buru Zak. Entar keduluan yang lain," ucap Thiar semangat, dengan memotong perkataan Zaki.
"Tapi sayang, emang udah kedeluan," ucap Zaki sambil meneguk kasar air minumnya.
"Maksudnya? Risa udah punya pacar?"
"Hmm, semalam gue ketemu dia dengan pacarnya di pasar malam," kata Zaki.
"Sabar bro, lo telat. Udah dari dulu gue nyuruh buat, lo nyatain sama Risa. Tapi lo ... enggak respon, ya gini jadinya," ucap Thiar.
"Biarpun dari dulu gue nyatain, tetap gue enggak bisa dapatin. Dia enggak suka sama gue."
"Yah, kalau gitu ... sabar aja. Masih banyak perempuan yang mau jadi pasangan lo."
"Lo sendiri?" tanya Zaki menatap Thiar.
"Gue kenapa?"
"Enggak usah sok enggak tau, kapan geraknya deketin Tania? Jangan sampai nantinya jadi kayak gue," ujar Zaki.
"Emang Tania suka sama gue?"
"Enggak penting suka atau enggak suka, yang jelas Tania belum punya pacar. Masih ada waktu buat Tania jatuh cinta sama lo."
"Lo sendiri kenapa enggak mau berjuang, lagi? Dina belum nikah dengan orang itu."
"Maksudnya merebut Dina dari, pacarnya?" tanya Zaki, di angguki Thiar.
Zaki tertawa lalu berucap, "gue cinta sama Risa, bukan ambisi. Cinta itu membahagiakan. Kalau Dina bahagia dengan pilihannya, buat apa gue rebut dia? Belum tentu dia bakal bahagia dengan gue, kan? Itu kata gue."
Thiar menepuk pundak Zaki, dengan senyumannya. "Gue harap, gue bisa sebijak dan se iklas lo nanti. Walau di lihat, lo bucin banget dengan Risa, tapi ... lo bisa ikhlasin dia dengan yang lain. Salut gue," ucap Thiar, Zaki menyung-gingkan senyumnya.
"Gue balik dulu, bunda udah sms suruh pulang."
"Hati-hati," ucap Zaki.
"Lo juga," balas Thiar.
Thiar melajukan motor sportnya, meninggalkan lapangan basket juga Zaki. Kata-kata Zaki terua ter-ngiang di telinga dan pikirannya. Apa saatnya dia bergerak, mendapatkan hati Tania? Cukup mendengar keadaan Zaki saja, sudah membuatnya prihati. Apa lagi kalau sampai dia yang mengalaminya.
Thiar turun dari motornya, dan berjalan masuk ke dalam rumah. "Tumben nyuruh Thiar pulang cepat, Bund?" tanta Thiar saat berpapasangan dengan bundanya.
"Bunda mau nyuruh kamu anterin kue ini, ke rumah pelanggan Bunda. Tadi Bunda mau nyuruh karyawan, tapi semua sibuk," ucap bunda Thiar.
"Ya udah, Thiar ganti baju dulu."
__ADS_1
Selesai mengganti baju, Thiar kembali menemui bundanya. Kue yang akan di antarnya sudah terbungkus rapi, dengan secarik kertas, yang tertuliskan alamat rumah orang yang memesannya.
Sedikit info, bunda Thiar mempunyai toko kue. Yang berisi semacam kue pesta ulang tahun, kue biasa, juga kue cake.
"Thiar berangkat Bunda," pamit Thiar.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, hati-hati Nak."
"Iya Bund."
Thiar kembali melajukan motornya, dengan tas kue yang tergantung di setir motornya. Sesampainya di alamt yang dia tuju, Thiar perlahan mengetuk pintu, sambil memastikan kembali alamatnya.
"Cari siapa, Mas?" Thiar berbalik saat mendengar suara pintu dan orang yang berucap.
"Ini benar rumah —, Tania?"
"Lho, Thiar? Lo ngapain ke sini?"
"Ini rumah, lo?" tanya balik Thiar, cuma di angguki Tania.
"Oh ini, benar rumah tante Tiara?"
"Iya, nganter kue?"
"Hemm, iya. Ini." Thiar menyerahkan kue yang di bawanya.
"Haha, enggak. Cuma bantuin bunda ngater pesenan," ucap Thiar.
"Oh, tunggu bentar ya. Gue ambil uang dulu," ucap Tania, sambil masuk ke dalam rumah. Tidak cukup satu menit, Tania sudah kembali dengan uang dan tas kue.
"Oke, thanks. Emm ngomong-ngomong, lo ada acara sekarang?"
"Iya, gue ada janjian sama ...." Tania menggantung ucapannya, saat suara klakson mobil terdengar di telinganya.
"Dia?" tanya Thiar.
"Emm, iya." Tania mendadak gugup, saat mobil itu datang. Apa lagi sang pemilik mobil sudah keluar, menampak 'kan wujudnya di depan Thiar.
"Lah, pak Gino? Lo janjian sama pak Gino?" tanya Thiar, Tania lagi-lagi cuma mengangguk.
"Jadi pergi, kan? Tadi kamu bilang janjian pergi dengan saya, lha sekarang? Kamu mau pergi dengan dia?" tunjuk pak Gino ke arah Thiar.
"Maaf Pak, Thiar ke sini lagi nganter—," ucapan Tania terpotong, dengan Thiar.
"Saya emang udah janjian dengan Tania, juga Pak. Jadi sekarang, siapa yang bakal pergi dengan Tania?"
"Oh, kamu buat janji sama saya terus, buat janji dengan orang lain juga? Maksudnya apa?"
"Enggak gitu, pak. Thiar lo ngomong apaan sih, kita enggak pernah janjian ketemu atau apa! Jangan asal ngomong, sih!" ucap Tania kesal, memandang tajam Thiar.
__ADS_1
"Kalian pergi aja, saya pergi," ucap pak Gino, melangkah menuju mobilnya.
"Tunggu Pak. Thiar lo silahkan pergi, karena gue juga mau pergi!" ucap Tania, dan pergi menyusul pak Gino.
"Gue mau bicara Tan," ucap Thiar menahan tangan Tania.
"Sorry, nanti aja. Soalnya gue mau pergi!" Tania melepas tangan Thiar, dan benar-benar masuk ke dalam mobil pak Gino. Kemudian mobil pak Gino melaju, meninggalkan Thiar yang berdiri termenung.
'Apa gue juga terlambat? Tapi lo jangan nyerah gini aja, cukup Zaki yang jadi sad boy,' batin Thiar menyeru.
***
Di tempat lain, Ara dan Reno sedang bersantai. Tepatnya Reno sedang dalam mode manja, sedari tadi menempel dengan Ara. Membaringkan kepalanya di bahu Ara. memeluk Ara, memaringkan kepalanya di paha Ara, meminta di suapi, dan lagi saat memeluk Ara dari belakang, sering kali dia mencuri kesempatan memberi tanda ki*smark di leher Ara. Emang enggak berperasaan sih, tanda ki*smark yang di buatnya yang kemarin-kemarin saja, belum terlalu hilang. Malah di tambah sekarang.
Jika di tegur, paling cuma bergumam tak jelas. Contohnya sekarang.
"Mas udah dong, jangan di tandai! Makin parah nanti!"
"Hmm."
Nahkan, karena ke enakan. Dia cuma 'hmm' atau 'emm' huft, sangat menyebalkan.
"Mas, nanti mbok Mina lihat!" Reno mengelesaikan kegiatannya, dan melap selivianya di leher Ara.
Ara mengambil ponselnya, membuka camera, dan mengarahkan ke lehernya. Dan benar saja, sudah ada beberapa bekas merah di sana. Ara mendengus, plasternya sudah mau habis gara-gara menutupi bekas itu. Saat sudah tidak kentara lagi, pasti akan ada ulah yang berakhir membuat tanda merah di lehernya.
"Mas kenapa ikutan keras kepala coba, capek tau nutupin ini mulu!"
"Ya kalau capek, enggak usah nutupin," jawab enteng Reno, Ara melempar suaminya dengan kulit apel yang baru dia kupas.
"Itu bukannya jadi solusi, nambah masalah jadinya!"
"Ya enggak apa-apa kali, sudah harusnya juga mereka tau," ucap Reno sambil memakan apel yang sudah dikupas Ara
"Mas mah enteng, selalu enteng kalau ngomong. Kalau mereka tau, ujung-ujungnya Ara juga yang nanggung masalahnya," kata Ara kesal.
"Jangan marah-marah, dong," ucap Reno mencolek-colek pipi Ara
"Mas juga yang buat, Ara marah!"
"Ya udah, ke kamar yuk. Mas buat kamu enggak marah."
"Enggak usah mod—." Udah pasrah, baru Ara ingin menegur. Badannya sudah terangkat, siapa lagi pelakunya kalau bukan suaminya. Dan juga, selalu ada cara bagi pak Revano membuat Ara terbaring tak berkutik.
***
Di sisi lain, tepatnya di sebuah bioskop. Pak Gino dan Tania sedang menunggu jam film yang akan mereka tonton. Setelah mengutarakan semua yang ingin Tania bicarakan, Tania mengajak menonton, anatar berat hati atau senang hati, pak Gino menerima.
Setelah menunggu beberapa saat, film yang akan mereka nonton akan di putar. Dengan membawa minuman dan popcran, mereka menuju bangku nomor 10 dan 11 tempat mereka duduk.
Baru mereka duduk, kursi di samping mereka sudah ada yang duduki. Tania melirik orang di samping mereka, dia terbelalak. Ternyata itu Marve ldan Risa, apa lagi Marvel yang dengan santainya melambaikan tangan ke arahnya. Sedangkan Risa memasang senyum, senyum mengejek tepatnya.
__ADS_1
Sorry for typo. 🙏