Gadis Imut Kesayangan Playboy

Gadis Imut Kesayangan Playboy
Eps. 58. Cemburu pada Rissa


__ADS_3

Setelah kejadian itu, kupikir semua akan baik-baik saja. Tapi nyatanya, entah itu memang benar atau hanya perasaanku saja. Aku merasa dilupakan, semua orang lebih memperhatikan Rissa. Entah itu bunda, ayah, Zain, Bang Refan , bahkan Reno.


Ada setitik iri yang hadir dalam diriku, melihat bagaimana mereka menyayangi Rissa. Aku tak tahu pasti, yang jelas rasa itu mulai datang saat melihat bunda yang makin menjadi-jadi memuji Rissa, ayah yang lebih sering memanjakan Rissa dariku, dan Reno yang semakin hari rasanya semakin berubah. Entah perasaanku saja, atau bagaimana?


Pernah kemarin, saat akan berangkat sekolah. Aku yang biasanya dibonceng Reno ke sekolah, sekarang digantikan oleh Rissa. Gadis itu sekarang memang sudah bersekolah ditempat kami. Meskipun sebentar lagi akan diadakan ujian semester kedua, pihak sekolah tetap menerima, tentunya dengan kepintaran Rissa dan berkat tangan ayah.


Aku hanya menatap pada motor Reno yang berjalan meninggalkanku di halaman rumahnya. Rasanya sesak melihat Rissa memegang pinggang Reno. Dulu, aku yang setiap pagi memeluk pinggang itu, berboncengan dengannya ke sekolah.


Semenjak Reno tahu kejadian tentang Rissa, ia lebih banyak perhatian pada gadis itu. Entah hanya simpati atau karena hal lain. Aku tak tahu.


Beruntung kemarin Bang Rey datang jadi aku tak perlu mencari taksi di pagi hari.


Ngomong-ngomong tentang pernikahanku dan Reno, ayah tak mengizinkan. Beliau menentang keras untuk itu, dengan dalih ia tak mau putrinya ini mengalami hal pahit dalam kehidupan berumah tangga. Tapi menurutku, itu bukan masalah yang berarti, selama aku dan Reno masih saling mencintai. Sedikit tercenung mengingat itu, apakah rasa Reno akan berubah padaku? Bukankah sebuah rasa dapat berubah kapan saja?


Hari Minggu ini, rencananya aku akan mengajak Reno pergi jalan-jalan. Entah itu ke rumah Rendi atau ke mana saja, asalkan pergi dengannya.


Sedikit bersenandung menatap diri di cermin yang terlihat sudah sempurna. Lantas berlari ke bawah dan segera ke rumah Reno.


Baru ingin membuka suara, tante Dewi sudah berdiri di depan pintu rumahnya.


“Ara ?”


Aku tersenyum kemudian menyalami tangan tante Dewi


“Renren mana, Ma?”


Tante Dewi terlihat bingung.


“Lho, Reno nggak bilang sama Ara ?”


“Bilang apa, Ma?”


“Pagi-pagi tadi, Reno pergi sama Rissa, katanya mau ke rumah Rendi.”


Aku tercenung. Lagi dan lagi Rissa. Mencoba berfikir positif, mungkin cuma hari ini. Aku tersenyum meski hati rasanya sesak.


Berpamitan pada tante Dewi untuk pulang ke rumah.


Meski sudah ditahan sekuat tenaga, air mata tetap jatuh jua. Segera ku percepat langkah menuju rumah.


Membanting diri pada kasur, dan mengeluarkan semua beban yang kurasa. Kenapa jadi seperti ini, ya, Tuhan?


Dering ponsel mengalihkan perhatianku. Pasti Reno. Cepat-cepat aku bangkit dan segera menyambar ponsel.


Senyuman luntur. Bukan Reno. Hanya notifikasi dari Telkomsel. Apa-apaan?


Pergerakan tangan terhenti saat ponsel kembali berdering. Bang Rey.


“Ya, Bang?”


“Lagi di mana?”

__ADS_1


“Ara cuma di rumah aja, Bang.”


“Tumben, biasanya pergi bareng Reno.”


Aku tersenyum kecut, sedikit memilin ujung selimut.


“Ga kenapa-kenapa kok, Bang.”


“Oh, ya. Ada apa abang nelpon Ara ?” lanjutku.


“Bukan apa, emang nggak boleh?”


“Boleh kok.”


Terdengar kekehan di ujung sana.


“Sebenarnya ada yang abang pengen omongin.”


“Apa?”


“Ara bentar lagi tamat, kan?”


Aku mengangguk, meski aku tahu ia tak dapat melihatnya.


“Gimana ikut abang kuliah di Australia?”


Australia? Bukankah itu artinya harus jauh dari keluarga dan juga Reno?


Ingin menolak tapi tak enak hati pada bang Rey. Lagi pula kuliah di Australia mahal, kecuali jika dapat beasiswa.


“Ya udah, nanti abang tunggu kabarnya.”


Tuutt!


Panggilan mati.


Kembali merebah pada ranjang. Menatap pada layar ponsel, menscroll pada kontak yang terdaftar. Reno.


[Lagi di mana?] Bunyi pesan yang kukirim.


Meskipun tahu ia di mana. Aku hanya ingin berkirim pesan padanya.


[Kak Reno sedang main basket.]


[Ini siapa?]


[Ini Rissa, kak.]


Lagi-lagi dia. Kulempar ponsel pada ranjang. Kenapa Reno dengan mudahnya menyerahkan ponselnya pada Rissa.


***

__ADS_1


“Masakannya enak banget, Sayang.” Begitu nenek berujar memuji masakan Rissa.


“Iya, enak banget, nggak kayak Ara nggak bisa masak.” Bang Refan tersenyum mengejek.


Aku tahu ia hanya bermaksud untuk bercanda. Tapi tetap saja aku merasa tak lebih baik dari Rissa.


“Masak mie rebus aja gosong.”


Sudah cukup! Aku tak suka dibanding-bandingkan.


Brak!


Aku berdiri. Semua orang menatapku. Hening. Hanya nafasku yang terdengar setelah aku menggebrak meja. Ku tatap mereka satu-persatu, mulai dari bunda, ayah, Bang Refan , Zain dan juga gadis itu.


“Kenapa kalian selalu beda-bedain Ara sama Rissa?!”


“Nggak bisa masaklah! Apalah! Semua kalian bedain!”


Bunda berdiri menatapku tajam. Kenapa? Aku memang benar, mereka selalu membedakanku dengan gadis itu.


“Cukup Ara ! Refan cuma bercanda!”


Aku tertawa hambar, membalas tatapan Bunda. Ku tahan air mata yang akan keluar, aku tidak akan cengeng lagi!


“Apa kalian nggak ngerasa?! Kalian nggak perhatian lagi sama Ara ! Nenek ! Ayah! Bang Refan ! Zain! Reno! Kalian semua berubah!” teriakku.


“Kamu itu yang berlebihan, Ara !” Terdengar nada geram di ucapan bunda.


“Berlebihan? Haha, iya Ara berlebihan! Kalian nggak suka? Oh, iya Ara lupa, nenek nggak suka Ara manja, kan? Oke! Mulai sekarang nggak usah anggap Ara anaknya bunda! Ayah juga! Urusin anak gadis kalian itu! Karena Ara tahu, ayah nggak pernah sayang sama Ara ! Ayah cuma sayang sama Rissa! Fine.”


Setelah mengeluarkan unek-unek yang kutahan. Aku segera berlari meninggalkan ruang makan. Biarlah malam ini aku kelaparan, asal tak lagi menahan sesak dimata. Aku benci! Benci kalian!


Brak!


Kututup pintu kamar dengan kasar. Segera menubruk pada ranjang, memasukkan kepala pada celah-celah bantal, menangis selama yang aku mau.


Apa mereka tak berfikir, kalau mereka tak perhatian lagi padaku. Bang Refan ! Aku masih ingat saat aku ingin minta antar padanya ke mini market Minggu lalu. Apa alasannya?


“Ara naik taksi aja, abang mau nganterin Rissa beli baju dulu.”


Begitu terus jawabannya. Entah Rissa beli baju, beli celana, beli seragam, semua Rissa dan Rissa. Aku tak benci padanya, hanya saja aku ... iri. Iri melihatnya yang selalu dekat dengan nenek , dengan ayah. Bahkan, ayah tak pernah mengajakku jalan-jalan ataupun kemana, tapi Rissa? Gadis itu sudah sering kali pergi dengan ayah.


Apakah aku memang terlalu berlebihan? Kurasa tidak. Bunda yang berubah, dulu setiap pagi ia akan menyempatkan untuk mengusap kepalaku. Sekarang tidak, bahkan tak pernah lagi. Tak ada lagi ucapan selamat malam untukku darinya, tak ada lagi kata selamat pagi darinya. Apa dengan sikapku seperti ini dinamakan berlebihan?


Kalau aku berubah, apakah kasihnya kembali lagi? Jika memang ia, aku akan berubah.


Segera bangkit dari ranjang menuju balkon kamar. Terlihat di seberang sana, lampu kamar Reno belum padam. Apa dia tak merindukanku? Seharian ini dia tak bertegur sapa denganku.


Ku dudukkan bokong pada sofa di balkon kamar, menatap pada langit yang diterangi bulan, namun sayang bintang seakan meredup kemudian hilang, pergi menjauh tak lagi menemani bulan. Persis denganku, mereka semua perlahan menjauh, meninggalkanku.


Kembali menatap pada kamar Reno dari kejauhan. Lampunya padam. Mungkin ia sudah tidur. Sudahlah, apa yang aku harapkan? Ia datang dan menyapaku? Haha, rasanya mustahil, kalau memang benar, kenapa tak sedari tadi? Apa ia tak memiliki waktu lagi untukku? Entahlah.

__ADS_1


Makasih yang udah baca:)


__ADS_2