
Flash back.
Tepat di kota Santa Barbara, di sebuah malam yang dingin tepatnya pukul 20.00 malam. Di ruang makan keluarga, terlihat Tuan Fernandez dan istrinya bersama Tuan Thomson sedang menikmati sajian makan malam
"Bagaimana perkembangan bisnismu apa berjalan dengan lancar? tanya Tuan Fernandez kepada tuan Thomson adik kandungnya sendiri.
"Tenang saja kak, semuanya berjalan dengan lancar. lebih baik Kakak nikmati saja makanan Kakak itu." ucap Tuan Thomson sambil menyendok makanan memasukkannya ke dalam mulutnya.
Istri Tuan Fernandez lebih dulu menghabiskan makanannya. Dia mengambil segelas air yang sudah disediakan di setiap samping piring mereka masing-masing. Setelah istri Tuan Fernandez. Dan Tuan Thompson menyusul meminum air itu.
Tiba-tiba belum air itu sampai ke mulutnya, Tuan Fernandez, mendengar suara tangis Cornelius. Karena mainannya yang terjatuh ke dalam kolam. Jadi tidak bisa menggapainya. suara tangis Cornelius yang begitu kencang dari arah kolam renang terdengar begitu nyaring.
Tuan Fernandez yang mendengar suara anaknya menangis langsung berdiri dari kursinya.
istrinya juga langsung berdiri.
"Kau di sini saja. Aku akan melihat Putra kita Cornelius. Kenapa Putra kita itu tiba-tiba menangis.
Karena suaminya sudah memintanya, sebagai istri yang patuh dia mengikuti perkataan suaminya. Dia duduk di sana menemani Tuhan Thomson. Sedangkan Tuan Fernandez lari ke arah kolam renang buru-buru pergi.
Di samping kolam renang terlihat Cornelius sudah menangisi mainannya yang terjatuh ke dalam kolam. Ia menjerit menangis sambil menunjuk ke arah kolam membuat Tuan Fernandez pun menatap mainan yang ada di sana langsung meminta asisten rumah tangga mengambilnya dari sana.
Tuan Fernandez langsung membawa Cornelius bergabung di ruang tamu. Dia pergi membawa putranya yang masih berusia belum genap 12 tahun. Untuk bertemu dengan Ibunya dan pamannya. Sepanjang jalan Tuan Fernandes terus mengelus kepala Cornelius. Berusaha menenangkan Cornelius
Tuan Fernandez pergi ke ruang makan keluarga, alangkah terkejutnya Tuan Fernandez saat melihat istrinya dari jauh tergeletak di lantai bersimbah darah. Dan Tuan Thomson tampak jongkok memegang senjata api yang di ujungnya terpasang suppressor.
__ADS_1
Mata Tuan Fernandez terlihat melotot marah tak percaya adiknya akan melakukan hal itu. Tuan Fernandez yang terbakar api amarah masih berpikir untuk menyelamatkan putranya memasukkannya terlebih dahulu ke kamar. Tetapi sepertinya Cornelius tidak ingin berada di kamar, dan kembali mengikuti Tuan Fernandez.
Tuan Fernandez menelepon ke pos penjaga untuk memberitahu anak buahnya masuk ke dalam rumah. Tapi panggilan telepon di pos tidak diangkat. Bagaimana penjaga pos akan mengangkat teleponnya, kalau dia sudah tergeletak tak bernyawa di lantai. Karena meminum kopi hitam yang sudah diracuni oleh Tuan Thomson.
Karena tidak diangkat, dia berbalik melihat Cornelius. Entah kenapa perasaannya ini akan menjadi malam terakhir melihat putranya yang masih mengikuti dirinya yang ia kira Cornelius berada di kamar.
Kemudian Tuan Fernandez menghubungi orang yang dapat dipercaya yang merupakan anak buah Tuan Thomson yang menjadi kepercayaannya Tuan Fernandez. Dia adalah Tuan Bernando atau Hendarson, orang paling dipercaya daripada adiknya sendiri saat itu.
Dia meminta Tuan Bernando atau Tuan Hendarson untuk segera datang ke rumahnya. Tuan Bernardo sedang berada di rumah bersama istrinya langsung meninggalkan istrinya secepat mungkin untuk datang.
Setelah menghubungi Tuan Bernando, Tuan Fernandez mengeluarkan rekaman CCTV yang sudah ia ambil sebelumnya sebelum Tuan Thomson mengambilnya kembali dan menyerahkan rekaman CCTV itu kepada Tuan Bernando. Kembali Tuan Fernandez memasangkan CCTV seperti semula. lalu ia memberikan pelukan kepada putranya. Dan memberikan cincin permata yang harganya cukup fantastis. Bahkan jika Dijual, seharga rumah mewah yang mereka tempati.
"Tunggu ayah di sini, Ayah akan kembali." ucapnya tersenyum melihat putranya yang masih Setia berdiri membisu karena melihat mayat ibunya mati tergelatak dilantai, Karena tidak tahu apa-apa. Ia hanya diam membisu.
Tuan Fernandez lari menuruni anak tangga pergi ke ruang makan, dengan senjata api yang diarahkan ke depan siap membunuh adiknya. Sementara Cornelius yang tidak ingin tetap berada di kamar kembali membuka kamar itu, dengan kunci yang tergantung di dalamnya.
Saat dia sampai di sana, Tuan Thomson sudah menghilang. Tinggal mayat istrinya yang tergeletak di lantai. Ia tidak mengetahui kalau Tuan Thomson terlebih dahulu melakukan pelecehan terhadap istrinya.
Bahkan dari rekan Tuan Thomson juga ikut melakukannya. Sehingga istri Tuan Fernandez merasa tidak kerasan saat Tuan Fernandez meninggalkan dirinya sendiri, di ruang makan. Sementara Tuan Fernandez pergi melihat putranya yang menangis.
Dia pergi ke dapur mencari para pelayan rumahnya. Saat dia masuk ke sana, matanya kembali dikejutkan melihat para pelayan rumah ternyata senasib sama seperti istrinya. Tuhan Thomson dan rekannya sudah menghabisi semua anak buah Tuan Fernandez dan juga asisten rumah tangga yang bekerja di sana.
Tuan Fernandez kembali ke ruang makan, keluar dia kembali melihat Mayat istrinya membuat hatinya sangat sakit.
"Brengsek!!!!! kemana anak itu pergi." ucapnya dengan wajah yang marah.
__ADS_1
Tuan Fernandez berubah sedih melihat istrinya meninggal dalam kondisi seperti itu. Dia merasa sangat menyesal meninggalkan istrinya bersama adiknya. Seandainya istrinya yang pergi melihat anaknya, hal ini tidak akan terjadi. Tapi tidak ada waktu untuk menyesali semuanya. Kini dirinya hanya ingin adiknya itu mati di tangannya.
Tuan Fernandez berbalik pergi dari ruangan itu berjalan perlahan-lahan mencari Tuan Thomson, dengan senjata api yang terus diarahkan ke depan. Tiba-tiba saat dia sedang berada di ruang depan, ingin berjalan keluar dari rumahnya mencari Tuan Thomson sebuah peluru tiba-tiba menembus punggungnya.
"Ahhhhk
Tuhan Fernandez menurunkan pandangannya melihat ke dadanya yang mengeluarkan darah. Tuan Fernandez berbalik kebelakang melihat Tuan Thomson yang berdiri jauh dari Tuan Fernandez, Ia tersenyum lebar menaikkan satu alisnya menatap kakaknya.
"Selamat jalan kakakku tersayang. Kau sudah lebih jauh ikut campur dengan urusanku. Jangan pernah mengusik bisnisku yang aku jalankan.
"Brengsek kau Thomson!!!!!! teriaknya marah mengangkat senjata apinya menembak Tuan Thomson
Dor......
peluru melaju dengan cepat. Tapi sayangnya tembakan itu meleset. Karena penglihatan Tuan Fernandez sudah berbayang. Dia tidak bisa melihat wajah Tuan Thompson, dengan jelas. Bahkan dia melihat Tuan Thomson jadi dua.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA, LIKE COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓🙏🙏
sambil menunggu karya ini up kembali. mampir ke karya emak yang lain
" Hasrat Tuan Muda Arogant"
__ADS_1