Gadis Kecil Milik Bos Mafia

Gadis Kecil Milik Bos Mafia
BAB 24.AKHIRNYA KEMBALI _ GKMBM


__ADS_3

Pria itu langsung masuk ke dalam cafe di dalam kafe tampak tidak ada pengunjung lagi. Karena kebetulan hari sudah semakin larut malam. Hanya ada pelayan pelayan yang sedang membersihkan meja yang ada disana.


Pria itu menghampiri pelayan itu.Anak buah Jason masuk. Padahal sudah ada tulisan close terpampang di depan pintu.


"Maaf Tuan tapi Cafe kami sudah tutup."


"Dimana bosmu? tanyanya dengan tatapan tajam membuat pelayan itu merasa ketakutan seolah-olah akan ada yang terjadi di sana.


"Tuan cafe kami ini sudah tutup." tegasnya mengusir anak buah Jason.


anak buah Jason sontak mengeluarkan senjatanya mengarahkan ke wajah pelayan pria itu


"Dimana Bos Mu?Katakan." teriak pria itu


para pelayan berhamburan ketakutan berdiri ketakutan sambil mengangkat tangan mereka.


Mereka semua tidak ada yang berani maju menyelamatkan temannya. Kalian semua cepat panggil bos kalian, sebelum aku menembak kalian satu persatu." teriaknya


"Baik Tuan! ucap salah satu pelayan yang bertugas disana.


Dengan nada suara yang gemetar lari masuk ke dalam memanggil bosnya. Pelayan pria itu keluar bersama seorang wanita muda pemilik Cafe


"Ada apa Tuan?" ucapnya ketakutan menghampiri anak buah Jason yang masih menodongkan senjata dengan tubuh gemetaran.


Anak buah Jason menurunkan senjata sedikit membuat semua orang tenang


"Apa ada dompet pelanggan yang tinggal di sini?


"Tidak ada Tuan, hari ini kami tidak menemukan dompet apapun. Andaikan ada dompet yang tinggal di sini, kami pasti akan langsung mencari pemiliknya."


"Kalau kalian berbohong tempat ini akan kami hancurkan."


"Iya Tuan kami tidak berbohong Kalau kami menemukan dompet disini, kami akan langsung menghubungi Tuan.


"Kalau boleh tahu nama Tuan dan ciri-ciri dompetnya seperti apa?


"Bukan saya, tapi nona kami namanya Camelia.


"Oh Camelia!"


Pemilik cafe itu mengenali Camelia karena dia pelanggan setia di tempat itu mereka juga bahkan berteman apalagi cafe miliknya tongkrong Camelia.


"Yang sopan kau bicara, jangan menyebut seperti itu. Panggil Nona Camelia."ucapnya marah menodongkan senjata

__ADS_1


"Maaf! ucapnya gemetar salah satu anak buah Jason datang


"Apa dompetnya di sana?


"Tidak!


kalau begitu Tuan Jason Cleo menyuruhmu kembali."


Anak buah Jason menurunkan senjata pergi meninggalkan tempat itu. Pemilik Cafe dan pelayan disana menarik nafas panjang karena mereka sudah merasa nyaman.


"Hampir copot jantungku melihat kedatangan pria itu yang membawa senjata. Aku tidak menyangka kalau Camelia memiliki pengawal yang begitu menakutkan." ucap pemilik Cafe sambil menggelengkan kepala menatap kepergian Tuan Jason dengan para anak buahnya.


Setelah berjam-jam mencari dompet Camelia yang hilang, Jason dan anak buahnya kembali dengan tangan kosong. Mereka sudah pergi ke tempat karena dia disinggahi kecuali rumah sakit.


Jason pergi ke kamar Camelia menemui adiknya untuk memberitahunya Camelia tampak duduk di sofa mengenakan baju tidur yang tipis melihat kedatangan kakaknya dia berdiri menghampirinya. " Bagaimana Apakah Kakak menemukannya?


"Tidak, Mereka bilang tidak ada dompet yang tertinggal di sana. Camelia kembali menangis histeris dipelukan kakaknya.


" Jangan menangis, besok pagi aku akan menyuruh orang mencari dompetmu.


pagi hari yang indah matahari sudah memperlihatkan wajahnya di permukaan Bumi. Jam menunjukkan pukul 08.00 pagi. Di ruangan Irene, tampak dokter Aliando Irene dan Cornelis berkumpul di sana. Irene sudah bersiap akan pulang, setelah dirawat selama 2 hari di rumah sakit.


Sebelum pulang, sebagai wanita yang baik Irene mengucapkan terima kasih kepada dokter Aliando karena sudah merawatnya dengan baik ."Dokter Aliando Terima kasih banyak sudah merawat Irene selama berada di rumah sakit ini. Mungkin kalau tidak ada dokter entah apa yang sudah terjadi kepada Irene." ucap Irene sambil menarik senyuman yang manis di bibirnya ingin memeluk dokter Aliando sebagai ucapan terima kasih dan sekaligus ucapan berpisah.


"Ihh lepaskan! sakit tahu!" teriak Irene sambil melepaskan tangan Cornelius dari pelanggan tangannya.


Dokter Aliando tersenyum mengerti apa yang membuat Cornelius sampai melakukan itu. Dia cemburu wanitanya akan memeluk pria lain di hadapannya, walaupun itu cuman ucapan terima kasih. Cornelius tidak akan membiarkan Irene memeluk siapa pun kecuali Dirinya.


Cornelius mengucapkannya.


kau tidak boleh memeluk pria lain, selain diriku." tegasnya dengan Tatapan yang marah


"Hei kau gila memang kau siapa melarang ku memeluk orang?


"Kau wanitaku. Yang berhak kau peluk hanya aku." ucapnya dengan sorotan mata yang tajam


"Ayo kita pulang." ucap Cornelius merangkul bahu Irene menariknya ke pelukannya


"Aku harus pergi sekarang masih ada pasien lain yang harus aku urus. Dokter Aliando tersenyum berjalan meninggalkan kamar itu. Irene menurunkan tangan Cornelius dari bahunya, sembari menoleh menatap Cornelius dengan sinis.


"Aku bukan wanitamu, ucapnya dengan Ketus pergi meninggalkan Cornelius.


Cornelius menarik nafas berat sambil menggeleng-gelengkan kepalanya menerima sikap acuh Irene.

__ADS_1


"Ternyata wanita itu sangat sulit ditaklukan


"Tapi aku menyukainya." ucapnya tersenyum berbalik pergi mengikuti Irene sebelum Irene pergi jauh.


diluar rumah sakit sudah ada mobil yang menunggu mereka. Bahkan Timothy berdiri dengan mobil dengan gaya ciri khas yang selalu memakai kacamata hitam.


Saat Cornelius dan Irene dari kejauhan terlihat Timoty membuka pintu mobilnya. Cornelius dan Irene keluar dari pintu rumah sakit.


Timoty menyambut kedatangan Irene dengan senyuman.


" Nona Irene semoga hari Anda menyenangkan


"Kau tahu namaku?" tanyanya kaget


"Tentu saja Nona, ucapnya tersenyum mempersilakan Irene masuk ke dalam mobil.


"Bagaimana bisa kau tahu namaku Aku? bahkan tidak pernah mengatakan pada kalian namaku." ucapnya merasa bingung karena tiba-tiba saja Timothy mengetahui nama yang belum pernah berkenalan dengannya.


Cornelius yang tidak suka berlama-lama berdiri disana, menarik tangan Irene masuk ke dalam mobil secara paksa. Timoty menutup pintu dan masuk ke dalam mobil


"Kau bisa tidak kasar nggak sih? ucap Irene kesal dengan Cornelius yang selalu suka menariknya tiba-tiba


"Diam lah kau ingin pulang kan? ucapnya dingin


Irene sontak terdiam memalingkan wajahnya yang marah berusaha menahan emosinya ingin keluar.


"Sabar..... sabar.....,ini semua demi aku bisa bebas darinya." batin Irene sambil menatap sinis Cornelius.


Di kamar kos yang selama ini ditempati oleh Irene, tidak butuh waktu yang lama mereka tiba di sana. Irene dan Cornelius berdiri di depan pintu kamar kos Irene senyum bahagia akhirnya dia bisa pulang kembali ke kamar kosnya. Dia perlahan membuka pintu kamar kos, melangkah masuk ke dalam dengan senyum tidak lepas dari wajahnya.


"Akhirnya aku bisa pulang juga." ucapnya sambil berputar-putar di satu titik dengan senyum yang lebar.


Cornelius memandang Irene dari ujung kaki sampai ujung rambut dengan senyuman. putaran kaki Irene berhenti tepat saat Cornelius merangkul pinggang kecil Irene membawa Irene dalam pelukan Cornelius.


Detak jantungnya berdebar kencang, seperti bom yang ingin meledak saat kedua mata mereka saling bertemu. Irene bisa merasakan telapak tangan Cornelius yang besar memegang pinggangnya


"kau baru saja keluar dari rumah sakit. jangan membuat ulah lagi." ucapnya dengan sorot mata yang tajam menatap Irene.


Irene melepaskan tangan Cornelius melangkah mundur dengan raut wajah yang malu, lalu memalingkan wajahnya


"Kenapa jantungku seperti mau copot?" gumam Irene dalam hati.


Tiba-tiba

__ADS_1


"Ada apa? Kenapa wajahmu memerah busuknya dengan suara lembut menggoda Irene dari belakang.


__ADS_2