
Cornelius dan juga Timoty, berpamitan kepada Irene untuk melakukan tugasnya, seperti biasa yang mereka lakukan. Ingin mengirimkan barang-barang yang diinginkan oleh konsumen mereka.
"Kau mau kemana lagi? pesta pernikahan kita sudah tidak lama lagi. Lebih baik kau berada di sini, biarkan Timoty dan anak buah kamu lainnya yang mengerjakannya. Apa permintaanku, kali ini tidak bisa kamu penuhi,sebelum pesta pernikahan kita berlangsung? tanya irene yang begitu mengkhawatirkan Cornelius. Ia khawatir terjadi sesuatu kepada Cornelius sebelum pesta pernikahan mereka berlangsung.
Cornelius terdiam langsung menghentikan langkahnya. Menatap irene dengan Tatapan yang sulit diartikan."Kau jangan kemana-mana, sebelum pesta pernikahan kita berlangsung. Kata orang-orang zaman dulu, pamali. Takut terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan. Lebih baik Timoty dan anak buahmu yang mengirimkan barang yang diinginkan oleh konsumen." mohon Irene dengan keseriusannya. Membuat Cornelius tidak dapat menolak permintaan gadis kecil pujaan hatinya.
Cornelius melirik ke arah Timoty. Timoty menganggukkan kepalanya. Tuan, Biarkan saya yang melakukannya. Karena apa yang dikatakan oleh Nyonya Irene, menurut kedua orang tua saya juga sama seperti apa yang dikatakan oleh nona Irene.
Mereka mengatakan kalau calon mempelai pengantin itu, tidak boleh bepergian ke mana-mana. Selain berdiam diri di rumah." ucap Timoty kepada Cornelius yang mampu membuat Cornelius menggelengkan kepalanya.
" Kamu manusia zaman sekarang, masih saja percaya akan hal-hal seperti itu." ucap Cornelius kepada Timoty.
"Bukan Tuan, tapi apa yang saya katakan benar adanya. Tidak mungkin kedua orang tua kita zaman dulu, mengatakan yang salah." ucap Timoty sambil langsung menatap Cornelius dengan tatapan penuh tanya.
Kalau begitu, aku mendengarkan apa yang menjadi keputusan Nyonya Cornelius. "Segeralah kerjakan apa yang harus kamu kerjakan saat ini." perintah Cornelius kepada Timoty dibalas anggukan dari Timothy.
Irene mengembangkan senyumnya, lalu memeluk Cornelius dan memberikan kecupan hangat di bibir manis Cornelius.
Membuat Cornelius terhenyak mendapat kecupan yang begitu nikmat menurutnya dihadapan Timoty
Timoty yang tidak ingin baper, akan hal yang ia lihat dari penampakan sang Tuan. Ia pun memilih untuk langsung meninggalkan Cornelius dan Irene di sana. Berlalu untuk melakukan tugasnya sama seperti hal yang diperintahkan oleh Cornelius.
"Terima kasih sayang, Kau mendengarkan apa yang aku katakan. Apa kau tahu, mengapa aku bersifat overprotektif seperti itu kepadamu? itu karena aku tidak ingin terjadi sesuatu kepadamu. Aku tidak ingin kehilangan kamu Sayang." ucap irene sambil kembali mengalungkan tangannya di jenjang leher Cornelius.
Membuat Cornelius pun mengembangkan senyumnya, melihat tingkah manja Irene. Yang tiba-tiba membuatnya semakin gemas. Tanpa mereka sadari, Tuan Bernando sudah terbangun menyaksikan keromantisan sang putri dan calon menantunya.
"Ehemmm....
Ada ayah di sini. Jika kalian ingin romantis, jangan di depan ayah. Karena Ayah sudah sangat lama, tidak bertemu dengan ibunya Irene." ucap Tuan Bernando membuat Irene dan Cornelius terkekeh.
Sampai saat ini, tugas Cornelius yang mencari tahu di mana keberadaan ibu kandung Irene belum berhasil. Mereka menginginkan hal yang sama. Mereka menginginkan ibu kandung irene dapat ditemukan, sebelum acara pesta pernikahan mereka berlangsung.
Irene ingin pesta pernikahannya dihadiri oleh kedua orang tuanya. "Apa kalian sudah berhasil menemukan ibunya Irene? Apa kalian tidak bisa diandalkan mencari keberadaannya? atau harus Ayah dulu yang bekerja mencarinya? tanya Tuan Bernando membuat Cornelius merasa tidak berdaya.
__ADS_1
"Tuan tenang saja, aku akan secepatnya menemukan calon ibu mertuaku." ucap Cornelius sambil mengembangkan senyumnya menatap Tuan Bernando dengan tatapan serius.
Di sisi lain, terlihat Camelia sudah mulai bergeliat. Setelah kurang lebih satu jam tertidur pulas. Di ruang kerja dokter Aliando. Camelia berusaha membuka kedua kelopak matanya, yang masih terasa ngantuk ia mengucap kedua netranya lalu menelisik seisi ruangan.
Netranya menakut dokter Aliando, yang masih setia dengan ponselnya. Kau sudah berada di sini. Maaf aku ketiduran. ucap Camelia kepada dokter Aliando, yang duduk di kursi kerjanya.
"Ada urusan apa, kau tiba-tiba datang ke sini? Tanya Dokter Aliando kepada Camelia. Camelia yang belum 100% sadarkan diri, ia berusaha bangkit dari pembaringannya menatap dokter Aliando. Dengan raut wajah datar, kok dia nggak peka banget sih aku datang ke sini, hanya ingin melihat dirinya? karena aku sangat merindukannya."gerutu Camelia sambil membenahi duduknya. Agar lebih leluasa memandang wajah tampak dokter Aliando.
Katakan ada apa, sehingga kamu datang ke sini? Apa ada yang bisa aku bantu? Tanya Dokter Aliando begitu penasaran melihat kedatangan Camelia yang tiba-tiba saja menghampirinya. Air bening mengalir begitu deras di wajah cantik Camelia. Membuat dokter Aliando langsung bangkit dari tempat duduknya menghampiri Camelia.
"Katakan ada apa, Mengapa kau menangis seperti ini?
Camelia masih tetap terdiam, tidak menjawab pertanyaan dokter Aliando. Ia teringat dengan kakaknya yang sudah tiada di muka bumi ini. Aku sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi.
Kakakku yang selalu setia menjaga dan menuntunku, kini sudah tiada. Dia telah pergi untuk selamanya menghadap Tuhannya. Aku hidup seorang diri, tanpa siapa-siapa. Tidak ada seorangpun yang menyayangi diriku." Ucap Camelia sambil terus menangis sesenggukan.
Dokter Aliando meraih tubuh Camelia kepelukannya, untuk pertama kalinya dokter Aliando memeluknya dengan penuh kedamaian dan kasih sayang. Sebelumnya dokter Aliando justru sulit untuk menggenggam tangan Camelia.
"Sudah, jangan menangis. Semua makhluk hidup yang ada di muka bumi ini,pasti akan menemukan ajalnya. Begitu juga dengan kakak kamu yang sangat kamu sayangi. Mungkin perjalanan hidupnya hanya sebatas usia yang diberikan Tuhan kepadanya. Tapi aku yakin dan percaya kamu akan mampu menghadapi semuanya.
Yang lalu biarlah berlalu, Jangan pernah disesali. Karena itu tidak ada artinya. Lebih baik kedepannya kita berbenah diri, agar menjadi orang yang lebih baik di hadapan orang lain. Kau tidak mau sendiri, Ada Aku disini. Yang selalu ingin mendengarkan apa keluh kesahmu." ucap dokter Aliando sambil memberikan kecupan hangat di kening Camelia, membuat hati Camelia damai dipelukan dokter Aliando
"Sudah jangan menangis." kembali dokter Aliando mengingatkan Camelia agar tidak meneteskan air matanya. Ia pun menghapus air mata Camelia. Dengan kedua tangannya menghapusnya dengan begitu lembut penuh dengan kasih sayang.
"Terima kasih, sudah membiarkan bahumu menjadi sandaranku, disaat aku rapuh seperti ini. Maaf kalau aku sudah terlihat cengeng."
"Tidak apa-apa, kamu tenang saja. Lebih baik kamu tenangkan pikiran kamu. Jangan berpikir yang macam-macam. Masih ada yang menyayangimu selain kakakmu sendiri.
" Aku menyayangimu Camelia, walaupun kamu terkadang membuat aku kesal, Dengan tingkahmu yang asalan itu." ucap dokter Aliando sambil Langsung kembali memeluk Camelia.
"Apa kau benar-benar menyayangiku dokter tampan? tanya Camelia sambil menatap dokter Aliando dengan tatapan penuh tanya.
"Rasa sayang seseorang itu, tidak perlu harus diungkapkan dengan kata-kata. Tetapi dengan perbuatan yang dilakukan seseorang itu, terhadap kita, kita pasti mengetahui kalau dirinya benar-benar sayang kepada kita." sahut dokter Aliando menatap Camelia dengan tatapan penuh arti.
__ADS_1
"Apakah kau benar-benar sayang kepadaku?" Kalau kau benar-benar sayang kepadaku Jawab dengan jujur. "Apa kau sudah memiliki wanita yang akan kau jadikan menjadi calon istrimu?" pertanyaan sensitif itu yang tiba-tiba dilontarkan oleh Camelia kepada dokter Aliando.
Dokter Aliando tidak langsung menjawab. Ia memilih untuk diam dan menelaah pertanyaan Camelia kepadanya. "Maksud kamu apa? aku tidak paham dengan pertanyaanmu itu?" Tanya Dokter Aliando yang pura-pura tidak mengetahui apa yang dikatakan Camelia.
"Kenapa dokter Aliando diam, Apa memang benar sudah ada calon pendamping hidup dokter Aliando?" tanya Camelia untuk yang kedua kalinya. Dokter Aliando menatap Camelia sambil tersenyum.
"Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu kepadaku? Aku tidak pernah mendengarkan pertanyaan konyol seperti itu keluar dari kamu." ucap dokter Aliando yang begitu penasaran.
"Sekarang, tinggal kamu jawab. Benar atau tidak, kamu sudah memiliki calon pendamping hidup?" lagi-lagi Camelia mempertanyakan hal yang sama.
"Ada."
Camelia terhenyak. lalu ia menghela nafas panjang. Menatap dokter Aliando dengan tatapan mendalam. Ia tidak menyangka pengakuan dokter Aliando hari ini begitu menyakiti hatinya. Camelia mencoba mempertanyakan sesuatu lagi kepada dokter Aliando
"Siapa sosok wanita yang beruntung mendapatkan hatimu?" tanya Camelia yang masih begitu penasaran.
lagi-lagi dokter Aliando hanya tersenyum menatap Camelia.
"Kok Tuan dokter hanya tersenyum menatapku seperti itu?
Dokter Aliando beranjak dari tempat duduknya, lalu Dokter Aliando kembali mendekati Camelia.
"Ada, calon pendamping hidupku. Dan dia berada di sini." ucap dokter Aliando membuat Camelia mengerutkan keningnya.
Antara bingung dan tidak percaya, apa yang ia dengar dari dokter Aliando. Karena wanita di ruangan dokter Aliando, hanya Camelia satu-satunya. Itu berarti wanita yang akan menjadi pendamping hidup dokter Aliando adalah Camelia.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
sambil menunggu karya ini up kembali, yuk mampir ke karya emak
__ADS_1