
Irene menarik kursi lalu duduk mengangkat telepon dari Cornelius.
"Hallo, ucapnya dengan nada suara terkesan tidak bersemangat berbicara dengan Cornelius. Padahal dia sendiri yang meminta Cornelius untuk menghubunginya setelah kembali sampai di rumah.
"Kenapa suaramu seperti terdengar lesu, Apa kau sakit?" tanya Cornelius sambil keluar dari mobil yang ia kendarai sebelumnya.
"Tidak, kenapa kau menghubungiku?
"Kau kenapa?
"Apa? ucap irene bingung.
"Kau tadi menyuruhku menghubungimu, saat aku sudah sampai
Tapi kau sepertinya tidak ingat dengan perkataanmu.
"Oh iya, aku lupa. Maaf kau sudah tiba di rumah?
"Iya, aku baru saja sampai di rumah." sahutnya
"Baguslah, kalau sudah sampai dengan selamat.
"Kalau begitu selamat beristirahat, aku juga mau tidur sekarang."
"Good night." sambungnya mematikan telepon selulernya.
Irene meletakkan ponselnya kembali ke meja.
lalu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Aku tidak tahu apa aku sudah siap menikah dengannya." ucapnya sambil langsung berlalu memberikan tubuhnya di atas tempat tidur.
Keesokkan harinya, matahari pagi muncul di langit memancarkan cahaya terang menyinari bumi dan seisinya. Pagi-pagi Irene masih terbaring di atas kasur, dengan nyenyak. sedang di luar kamarnya di dapur. Tuan Bernando sudah sibuk Membuat sarapan pagi untuknya dan putrinya.
Tuan Bernando tampak terlihat sudah terbiasa berada di dalam dapur, sejak kepergian istrinya untuk menghindari kejaran Tuan Thomson, sehingga istrinya memilih untuk berkelana ke mana-mana. menyelamatkan diri sesuai dengan apa yang diamanahkan oleh Tuan Bernardo.
"Ia sering turun tangan langsung ke dapur sendiri membuat makanan untuknya. Dan sampai sekarang, rutinitas itu masih berjalan. Tuan Bernando mengangkat teflon dan mematikan kompor gas selalu memuat teflon itu kemeja makan, menurunkan telur dadar yang masih panas ke atas roti tawar.
Tiba-tiba Irene muncul dengan wajah dan rambut yang acak-acakan, seperti rambut tak terurus.
"Ayah pagi-pagi sudah bangun." ucapnya sambil menutup mulutnya.
"Pergi mandi, setelah itu kita sarapan." ucap Tuan Bernardo yang tak suka melihat Irene baru bangun langsung pergi ke dapur.
"Iya... iya," Ucap irene berbalik pergi masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Tuan Bernando kembali menyiapkan sarapan. Kali ini dia mengambil gelas dan menuangkan susu putih di dalamnya.
****
Di tempat lain, di kediaman Tuan Jason. Di meja makan, Jason tampak sudah memakai pakaian rapi dari atas sampai ke bawah. Di atas meja makan sudah ada banyak makanan hangat yang dipersiapkan para pelayan rumah untuk Tuan dan Nona mereka.
Tuan Jason tampak duduk dengan piring yang masih kosong, dia belum menyentuh satupun makanan di sana. Karena adiknya belum ada di sana. Jadi dia masih menunggu adiknya datang.
Seorang pelayan akan menghampiri Tuan Bernando
"Tuan sebentar lagi nona Camelia akan turun."
"Iya, kau bisa kembali bekerja.
__ADS_1
"Baik Tuan." ucapnya berbalik pergi dari sana.
tidak lama kemudian, Camelia muncul dengan menggunakan baju piyama pergi duduk di samping kakaknya.
"Tumben sekali kakak sudah rapi jam segini, Kakak mau ke mana? ucapnya sambil membalikan piring yang telungkup.
"Aku akan menjemput seseorang.
"Siapa yang mau Kakak jemput?
"Seorang wanita."
Tangannya yang menyendok makanan langsung berhenti.
"Wanita?
" Kakak sudah punya pacar? tanyanya kaget Tiba-tiba mendengarkan Kakak yang tidak pernah menyebut wanita, tiba-tiba mengeluarkan kalimat yang tidak pernah dia dengar keluar dari mulut kakaknya.
"Bukan!"
"Lalu siapa wanita itu, Kak jangan membuatku penasaran. Katakan siapa namanya.
"Kau tidak perlu tahu."
kalau begitu, ngapain Kakak kasih tahu aku. mendingan nggak." usah ucapnya kesal.
"Tidak usah bawel, kau duduk dan makan dengan tenang. temani Kakak sarapan.
" siapa wanita yang akan dijemput kakak ya? Aku jadi penasaran siapa wanita itu. Batinnya
Dia pergi menemui ayahnya, sudah menunggu dari tadi dimeja makan.
Irene menarik kursi, duduk yang berhadapan dengan ayahnya.
Irene dan Tuan Bernardo duduk di meja makan, sarapan pagi suasana seperti ini Paling dirindukan Irene yang jauh dari ayahnya.
Dia memanfaatkan waktunya sebaik-baiknya. bersama ayahnya, Karena jarang dia bisa duduk makan berdua seperti ini. Apalagi mereka jarang berkunjung satu sama lain.
"Ayah akan tinggal di sini kan bersamaku, tidak kembali lagi ke rumah lama? tanyanya sambil menggigit roti tawar yang dipegangnya.
Sambil mengunyah makanannya, Tuan Bernando menjawab pertanyaan putrinya itu.
"Tidak, Ayah tidak bisa selalu berada di dekatmu. kemungkinan ayah akan kembali ke rumah besok
"Besok? apa Ayah tidak bisa tinggal lebih lama lagi? ayolah Ayah tinggal lebih lama lagi di sini. lusa atau tiga hari lagi, terlalu cepat kalau besok." ucapnya sambil menunjukkan wajah memelas menatap ayahnya. pleasessss Ayah, tinggal beberapa hari lagi di sini. Aku kesepian tinggal sendirian.
"Aku mohon ayah."
"Baik-baiklah, jangan menunjukkan wajah sedihmu pada Ayah.
"Ayah setuju kan,
iya ayah akan menunda kepulangan Ayah sampai tiga hari ke depan."
"Terima kasih Ayah." ucapnya tersenyum sumringah.
__ADS_1
Tiba-tiba ada suara ponsel yang berbunyi. "Ponsel Siapa yang berdering?
"Itu ponselku Ayah, irene bangkit dari kursinya buru-buru pergi ke kamar mengambil ponselnya, yang ada di atas meja samping tempat tidur.
Nomor tak dikenal,
Irene Menatap layar ponselnya, melihat panggilan nomor tidak dikenal masuk,
"Angkat nggak ya,
angkat aja deh, siapa tahu orang kantor." ucapnya sambil menekan layar ponselnya
"Hallo selamat pagi, ini dengan siapa?" ucapnya dengan lembut
Tidak perlu terlalu formal.
"Ini siapa ya? telepon langsung terputus membuat Irene pun mengerutkan keningnya.
Di kediaman Dokter Aliando tepatnya di meja makan, para pelayan tampak meletakkan piring-piring di atas meja
"Apa kalian melihat Lisa? tanya Dokter Aliando ke para pelayan yang ada di sekitar meja makan.
"Nona Lisa sedang ada di ruang latihannya Tuan. Ia setiap pagi gelisah akan selalu berolahraga dan akan menyiapkan satu ruangan untuknya.
"Oh jadi dia sedang olahraga?
"Iya."
Dokter Aliando berdiri di kursinya pergi memanggil lisa sarapan bersama.
Dokter Aliando pergi bersama tempat biasa Lisa latihan. Di ruang olahraga pribadi di dalam ruangan besar itu banyak berbagai jenis alat olahraga.
Di tengah ruang besar itu, Lisa tampak berdiri di depan samsak tinju kedua tangan terlihat dibalut dengan hand Wrap berwarna hitam
Lisa tanpa memakai baju olahraga berwarna hitam celana panjang dan baju tanpa lengan. Wajah dan tubuhnya terlihat berkeringat. Kedua tangannya tidak berhenti meninju samsak yang ada di depannya.
"Kurang ajar, dasar pria brengsek! ucapnya dengan mata tajam, melihat Samsat itu seperti wajah mantan kekasihnya yang tega sudah mengkhianatinya. Dia kembali dibuat kalau memikirkan mantan kekasihnya itu
"Dasar pria brengsek! kenapa kau harus membuatku gila seperti ini." ucapnya kesal sambil menunjuk Samsat itu tanpa henti.
Aku membencimu pria brengsek!!!!! teriaknya.
Dokter Aliando berdiri di depan pintu masuk mendengarkan semua perkataan Lisa.
"Siapa pria yang disebut Lisa?" gumamnya dalam hati. Dokter Aliando tampak belum mengetahui semua masalah adiknya termasuk asmaranya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA, LIKE COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓🙏🙏
sambil menunggu karya ini up kembali. mampir ke karya emak yang lain
" Hasrat Tuan Muda Arogant"
__ADS_1