
Pelayan itu tampak heran, tak biasanya Tuan Jason hanya memberikan respon seperti itu, setelah tahu adiknya pergi.Karna biasanya selalu dijaga ketat tidak diperbolehkan pergi tanpa pengawasan.
Ternyata para pelayan di rumah itu masih belum mengetahui, kalau Tuan Jason sudah memberikan sedikit kebebasan pada adik perempuannya itu, untuk menjalani kehidupannya di luar pengawasannya.
Di tempat lain mobil Cornelius sudah sampai di depan rumah kos-kosan tempat Irene tinggal.
Mereka semua tampak keluar dari mobil secara bersamaan Cornelius tampaknya mau mengantarkan Irene sampai ke kamarnya.
Tapi saat dia akan berpamitan dia melihat luka goresan yang berdarah di leher gadis kecil pujaan hatinya. Jari Cornelius langsung bergerak menyentuh luka di leher Irene memastikan luka itu nyata atau tidak.
Tuan Bernando yang berdiri di samping Irene seketika melirik ke samping melihat ekspresi putrinya.
Sebelum Cornelius mengeluarkan kata-katanya, Irene langsung menarik tangan Cornelis sambil berkata.
"Hanya luka kecil, aku akan mengobatinya" ucapnya sambil senyum-senyum menjepitkan matanya melihat ekspresi wajah Cornelius yang tak biasa.
"Siapa yang melakukan ini pada mu, apa Tuan Jason yang melakukannya?."tanyanya dengan tatapan mata yang tajam sambil mengertakkkan giginya.
Tuan Bernando tampak dia memperhatikan Bagaimana reaksi anak muda yang ingin menikahi putrinya, tapi belum dapat persetujuan darinya. Karena ketakutan Irene akan selalu dalam bahaya, dan apakah Cornelius bisa menjamin kehidupan Irene akan baik-baik saja, jika bersanding dengan putrinya. Sedangkan seorang mafia mempunyai kehidupan yang kelam dan masalah.
Kematian selalu akan menjadi akhir dari permasalahan, dan otomatis kematian akan selalu berjalan berdampingan di antara mereka.
"Bukan, luka ini tidak ada hubungannya dengan Tuan Jason. orang yang melukaiku sudah mati di tempat tadi
"Kita harus ke rumah sakit pucat Cornelis menarik tangan Ireng.
"Tidak perlu, Ini hanya luka kecil aku bisa mengobatinya nanti di kamar kos. Irene menolak untuk ikut dengan Cornelius.
"Aku tidak yakin selama aku belum melihat luku kamu itu diobati Aku tidak akan tenang."ucap Cornelius menarik tangan Irene kembali ke mobil.
"Tunggu dulu, Ayah bagaimana ucap Irene menghentikan langkahnya, menoleh pada Tuan Bernando.
Dan saat itu juga Tuan Bernando berbalik berjalan pergi sambil berkata pergilah tapi pulangkan putri ku tanpa kurang apapun."
__ADS_1
"Tuan tidak perlu khawatir, aku jamin akan mengembalikan Putri Tuan seutuhnya. Jika ada yang kurang, aku yang akan menyerahkan nyawaku di tanganmu saat itu juga."balasnya penuh dengan keyakinan.
"Aku pegang kata-katamu anak muda."sahut Tuan Bernando terus berjalan tanpa menoleh sama sekali sampai dia masuk ke dalam rumah kost meninggalkan putrinya bersama Cornelius.
"Ayahmu menyerahkanmu padaku, jadi kau harus nurut."ucap Cornelius menarik tangan Irene masuk ke dalam mobilnya.
Irene tampak berkata apa-apa lagi, mengikuti langkah Cornelius sampai masuk ke dalam mobil disusul Timothy.
Timothy mengemudikan mobilnya meninggalkan tempat itu menuju ke rumah sakit. di dalam mobil, Cornelius tampaknya masih marah pada Irene dia tidak bicara apapun. Tapi masih bisa bersikap perhatian.
Tanpa mengatakan apapun Cornelius mengusap darah yang Kembali keluar dari goresan luka di leher Irene. Melihat wajah Cornelius yang marah Irene bertanya dengan ekspresi wajah serius. "Kau marah padaku?"
"Aku sudah melarangmu bertemu ataupun berhubungan dengan orang itu, tapi kenapa kau tidak mendengarkannya. Apa kau tidak menganggapku ada?
"Bukan seperti itu, dia tiba-tiba datang ke perusahaan dan bertemu langsung dengan Tuan Mahesa meminta agar kami menemaninya pergi melihat lokasi proyek. aku tidak bisa menolaknya.
"Kau bisa menolakku saat pertama kita bertemu, Kenapa kau tidak bisa menolaknya. sepenting itukah dia bagimu? ucap Cornelius dengan nada suara yang tinggi dan kedua matanya menunjukkan betapa marah dan cemburunya dirinya mendengar perkataan irene tadi.
Irene terdiam, tak bisa berkata apa-apa. Dia jadi teringat Bagaimana pertemuan mereka yang tak masuk akal, seorang pria asing tiba-tiba membawanya pergi dan menjadikannya sebagai kekasihnya tanpa persetujuan darinya.
Cornelius pun juga memalingkan wajahnya tak ingin bicara pada Irene mereka berdua saling marahan. Satu marah karena cemburu dan satunya marah karena dicemburui. Timothy yang menyetir senyum-senyum melihat Cornelius dan Irene Yang berdebat dari kaca spion.
Semakin hari Tuan Cornelius mulai mengeluarkan sifat-sifat yang tak pernah muncul di permukaan."gumam Timothy sambil senyum-senyum melihat Cornelius dan Irene dari kaca spion.
Setelah tiba di rumah sakit. Irene dan Cornelius bersama keluar dari mobil, mereka berdua jalan saling berdampingan tapi saling menjaga jarak. Sedangkan Timoty jalan di belakang mereka.
Saat mereka dihadapkan dengan dua lorong Rumah Sakit irene berjalan ke arah kanan sedangkan Cornelius mengambil jalan yang berbeda. Sedangkan Timothy berdiri di tengah-tengah bingung harus mengikuti siapa dia berbalik memanggil Cornelius.
"Tuan...."
Cornelius menghentikan langkahnya berbalik menatap Timoty. Tatapan sinis amarahnya pada Irene masih terlihat di matanya yang terlihat tajam bagaikan mata elang.
"Nona irene Pergi ke arah lain sambungnya sambil menunjukkan Irene yang terus berjalan tak sadar telah mengambil jalan yang berbeda.
__ADS_1
Cornelius berjalan dengan wajahnya yang datar, melewati Timothy menarik tangan Irene.
"Ruangan dokter Aliando bukan di sana."ucap Cornelius menarik membawa Irene ikut pergi dengannya.
Irene dengan wajah cemberut masih kesal mengikuti langkah Cornelius. Mereka berdua melewati Timoty yang berdiri di tengah-tengah melihat mereka berdua.
Timothy hanya bisa geleng-geleng kepala melihat mereka berdua lalu ikut menyusul mereka berdua. Selama jalan di belakang Cornelius bibir Irene tidak berhenti mengoceh dalam hati marah-marah tidak jelas.
"Dasar cowok ngambekan."batinnya
Irene menjulurkan lidahnya mengejek-ejek Cornelius dari belakang. Saat itu juga Cornelius menolehkan kepalanya. Seketika irene menarik lidah dan membungkam bibirnya. Raut wajah Irene seketika berubah panik, melihat tatapan mata Cornelius. Cornelius tiba-tiba menyentil ujung hidung Irene.
"Kenapa kau menyentuh hidungku?" ucapnya kesal sambil mengusap hidungnya.
"Kau ini perempuan atau ular? ngapain menjulurkan lidah seperti itu."ucap Cornelius tampaknya tidak senang
"Suka-suka aku lagi pula kau ngambek. Aku akan pergi bersamanya juga, Karena terpaksa bukan karena kemauanku." ucapnya dengan nada suara jutek.
"Aku tidak mau mendengar penjelasanmu itu, sebab itu kau diam jangan membuatku semakin marah padamu.
"Iya iya maaf."ucap irene seperti tidak ikhlas
Tiba-tiba pintu ruang kerja dokter Aliando terbuka.
Dokter Aliando tampak berjalan keluar dari ruangannya menoleh melihat Cornelius dan Irene
"Kalian berdua."
"Ada apa ke sini?"sambungnya
"Aku mau kau mengobati lukanya."ucap Cornelius mengangkat dagu Irene memperlihatkan luka di leher Irene.
Bersambung......
__ADS_1
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏🙏🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓💓