
Di kediaman Tuan Jason. Tuan Jason pergi ke kamar adiknya dengan membawa kado perhiasan yang dibelinya untuk Camelia, sebagai tanda permintaan maafnya. Karena selama ini Tuan Jason selalu mengekang Camelia ke mana saja.
Tuan Jason kini berdiri di depan pintu kamar adiknya. mengetuk pintu itu
Tok...
Tok....
Tok....
Tapi karena tidak ada jawaban dari dalam, Tuan Jason, tampa mengetuknya lagi langsung membuka pintu kamar adiknya.
Saat dia membukanya Camelia ternyata tidak ada di dalam."Kemana anak itu pergi."ucapkan berbalik menutup pintu kamar itu.
Saat dia menuruni anak tangga Turun ke bawah, tiba-tiba Camelia muncul bersama anak buahnya dari luar.
"Camelia Kau dari mana?
"Dari luar kak, tapi aku sama anak buah Kakak kok."ucap Camellia dengan perasaan yang was was Takut dimarahi kakaknya. Karena dia keluar tanpa izin.
"Oh, aku bawa hadiah untukmu."ucapnya melangkahkan kakinya turun dari anak tangga terakhir menghampiri Camelia.
Camelia tampak heran kenapa kakaknya seperti biasa saja mendengar dirinya habis keluar. Padahal dia tidak bilang. Dan tidak dia tahu kalau kakaknya akan pulang lebih cepat dari dugaannya.
"aku tidak ulang tahun saat ini kenapa Kakak tumben memberikanku hadiah?"ucap Camelia bingung menatap kakaknya dengan tatapan penuh tanya.
"Ini sebagai permintaan maaf, karena kemarin kakak sudah marah-marah padamu."Tuan jason memberikan paper beg yang dipegang ke tangan adiknya itu.
"Ini apa? tanya Camelia sambil memperhatikan paper bag itu.
"Lihatlah, Kau pasti akan suka dengan hadiahnya.
"Ayo duduk dulu, ucapnyq menarik tangan adiknya pergi duduk di sofa.
Mereka berdua duduk di sana, dan anak buah Tuan jason berbalik pergi keluar dari rumah, bergabung dengan anak buah yang lainnya.
Camelia duduk, sambil membuka paper bag tangannya mengeluarkan sebuah kotak persegi warna Hitam
"Apa ini Kak? ucapnya menoleh melihat ke arah kakaknya yang hanya tersenyum.
"Buka dan lihat sendiri."
Camelia membuka kotak Hitam itu sampai terbuka ke atas, memperlihatkan sebuah kalung permata yang begitu indah. yang harganya juga sangat fantastis.
"Bagus sekali kalungnya."
Camelia tampaknya bahagia sekali, mendapatkan hadiah itu dari kakaknya. Jarang-jarang dia mendapatkan hadiah dari kakaknya kecuali di hari ulang tahunnya.
Camelia melepaskan kalung itu dari kotaknya, mengangkat di depan wajahnya. Ia memperhatikan bentuknya.
"Bagus sekali, sesuai dengan warna kesukaan ku." ucapnya sambil tersenyum memandang kalung itu.
Camelia sangat menyukai warna mata permata ini,
__ADS_1
"Kak tolong pasang kalung ini untukku." ucapnya menoleh ke samping memberikan kalung itu kepada tuan Jason.
Tuan Jason mengambil kalung itu, ia menyampingkan rambut Camelia lalu memasangkan kalung itu, ke leher adiknya. Camelia menurunkan pandangan matanya dengan tangannya yang meraba kalung itu,
Setelah memasangkan kalung itu, Tuan Jason kembali merapikan rambut Camelia.
"Aku suka sekali kalungnya kak,
"Terima kasih Kak." ucapnya memeluk kakaknya dengan senyuman bahagia. Tuan Jason juga ikut senang melihat adiknya juga bahagia.
Tuan Jason memeluk adiknya erat. "Kakak minta maaf sudah membuatmu sedih. Kakak tidak pernah bermaksud membuatmu sedih ucapnya tulus minta maaf kepada Camelia.
"Iya, Tidak apa-apa Kak. Aku juga tidak marah kok sama kakak. Hanya kakak kadang menjengkelkan.
Kakak suka sekali melarangku pergi keluar. itu sebabnya Aku suka jengkel kepada kakak sambungnya.
Tuan Jason melepaskan pelukannya. Ya aku minta maaf, kakak tidak akan melarangmu lagi kau boleh kemanapun kau mau asal.....!
"Asal apa Kak? tanya Camelia melihat dengan wajah bersemangat ingin mendengar kalimat selanjutnya.
"Asal kau bisa menjaga dirimu, dan janji kalau ada apa-apa, kau langsung telepon aku. Aku tidak mau sampai kau kenapa kenapa.
"Jadi aku boleh keluar kapanpun, tanpa bersama anak buah Kakak?" tanyanya mencoba memperjelas perkataan kakaknya yang masih dia belum percaya.
Ia ucapnya menganggukkan kepalanya.
Camelia berteriak memeluk kakaknya kesenangan.
"Terima kasih Kak." ucap Camelia karena dirinya sangat bahagia, akhirnya kakaknya Tuan Jason mengizinkannya keluar dari rumah tanpa diikuti oleh beberapa anak buahnya.
Di tempat lain, tepatnya di kantor Mahesa group. Irene Yang lelah melihat dokumen perusahaan mengistirahatkan dirinya dengan menyandarkan tubuhnya ke kursi.
Dia tiba-tiba teringat dengan Cornelius sepanjang hari dia terus memikirkannya. Jadi Ia mau menghubungi Cornelius melepaskan kerinduannya. Irene dengan wajah berseri mengambil ponsel dari meja.
Dia langsung menekan nomor Cornelius menghubunginya
Kring ....
kring ....
kring.....
Suara deringan ponsel milik Cornelius terdengar jelas di telinganya. Cornelius meraih ponsel yang ada di saku celananya, melihat nomor ponsel gadis kecil pujaan hatinya yang menghubungi dirinya.
Cornelius tersenyum bahagia melihat nomor Irene Yang tertera di layar ponselnya.
"Hello ucapnya dengan lembut dan senyuman
"iya,
"Kau lagi di mana sekarang?
"Ada apa? kau sudah mau pulang, bukannya ini belum jam waktunya kau pulang seperti biasanya."
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa, memang belum pulang . aku hanya tanya saja kau dimana sekarang? apa Ayah benar-benar pergi ke kamar kosku?
"Iya Timothy sudah menghantarkannya ke sana. karena Ayah tidak mau tinggal di rumahku.
"lalu kau dimana sekarang?
"Aku lagi di pelabuhan.
"Di pelabuhan, Kau mau kemana?
"Tidak kemana-mana, aku sedang melakukan pekerjaanku." ucapnya sambil berbalik ke belakang melihat anak-anak buahnya dan Timothy sedang menyelundupkan barang-barang elektronik ternama dan juga berbagai jenis senjata api ke dalam kapal, yang akan dikirim ke negara tetangga dengan jalur laut.
Cornelius kini sedang berdiri di jembatan Di depan banyak anak buah mengangkat. Box box besar tempat barang-barang elektronik dan juga senjata api. Angin laut terasa kencang dengan suasana langit yang mulai gelap menemani Cornelius dan anak buahnya.
"Jarang kau meneleponku. Ada hal penting? tanya Cornelius yang merasa aneh karena irene sebelumnya belum pernah meneleponnya.
"Tidak ada, aku hanya ingin mendengar suaramu saja."
"Kau pasti rindu kepadaku." ucapnya menarik senyum kecil di bibirnya berbalik membelakangi anak buahnya
"Tidak
"Terus kalau bukan rindu, untuk apa kau ingin mendengar suaraku? itu berarti kau rindu padaku, tidak perlu berpura-pura. Akui saja." ucap Cornelius sambil tersenyum.
"Aku tidak bohong." ucap Irene yang masih mencoba mengelak. Padahal nyatanya seperti itu.Dia hanya tidak mau terdengar bucin
"Ya sudah, aku matikan saja teleponnya."
"Kenapa?" ucapnya kaget dengan nada suara yang tinggi
"Tapi kau bilang tidak rindu kan, jadi aku matikan saja. lagi pula tidak ada hal penting yang kau bicarakan padaku."
"Issss jangan dulu
"Kenapa?" ucap Cornelius sambil menahan suaranya yang ingin tertawa.
"Ya jangan dulu aja , aku masih ngomong."
"Aku sibuk." ucap Cornelius senyum-senyum menahan tawanya.
"Oh gitu? jadi belagak sibuk. Ya sudah matikan saja.
"Okey nggak apa-apa, Lain kali Jangan harap aku meneleponmu lagi." sambungnya ngegas marah-marah.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA, LIKE COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓🙏🙏
sambil menunggu karya ini up kembali. mampir ke karya emak yang lain
" Hasrat Tuan Muda Arogant"
__ADS_1