
Pria bertubuh kekar dilengkapi dengan senjata api berada di tubuhnya membuka pintu lebar, semua mata yang ada di dalam menatap cahaya pintu dengan bayangan Cornelius yang terpantul sinar mentari.
Mereka benar-benar ketakutan Aura kekejaman Cornelius dapat mereka rasakan. sorot mata Cornelius yang begitu tajam membuat mereka merasa ketakutan yang sangat luar biasa.
Bunyi hentakan sepatu Cornelius yang melangkah masuk membuat jantung mereka berdebar kencang, seolah-olah mereka sedang berhadapan dengan kematiannya masing-masing.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang? tamatlah riwayat kita, jika sudah berurusan dengan Tuan Cornelius. Sudah aku katakan dari sebelumnya lebih baik kita langsung melarikan diri ke negara lain, sebelum Tuan Cornelius menemukan kita. Kalian semua tidak pernah mendengarku." karena salah satu dari mereka berkomentar karena sebelumnya ia sudah mengingatkan ketiga temannya untuk melarikan diri ke Filipina.
Tetapi tak seorangpun yang mendengarnya membuat Cornelius pun dapat dengan mudah meringkus mereka. Suara ocehan pria itu mengusik telinga Cornelius. Hembusan nafas Cornelius bagaikan singa yang akan melahap mangsanya.
Cornelius dengan kasar menarik penutup mulut salah satu dari beberapa pria yang disekap di sana.
"Ampuni saya."suara gemetar keluar dari mulut pria itu, karena dirinya sudah sangat ketakutan hanya mendengar suara hentakan kaki Cornelius.
Cornelius berjongkok dengan wajah dingin" "Ampun? apa aku tidak salah dengar? kau meminta pengampunan dariku?
"Iya Tuan ampuni saya, saya akan berbakti kepada Tuan
Cornelius tertawa ngakak seperti orang gila, membuat pria itu ketakutan sampai keringat dingin."Aku tidak membutuhkan orang sepertimu."
"Kalian pantas mati!"seorang penghianat tidak perlu hidup di muka bumi ini.
Aku tidak membutuhkan manusia seperti kalian.
"Ampun Tuan, jangan bunuh saya." ucap pria itu dengan suara yang gemetar memohon pengampunan dari Cornelius.
"Cornelius tidak mengenal kata ampun seharusnya kau pikirkan itu sebelum berurusan denganku."ucap Cornelius dengan sorot mata yang tajam berdiri membelakangi para penghianat itu.
"Go to the hell!"
satu buah kotak kecil berada di tangan Cornelius sebelum dia pergi dari sana ia letakkan begitu saja. Mata para tawanan itu melotot melihat benda yang diletakkan Cornelius begitu saja, di dekat mereka tanpa bisa mereka raih.
Yang ternyata kotak berisikan bom yang diletakkan Cornelius di sana. Membuat para tawanan itu merasa ketakutan dan pasrah akan hidup mereka.
"Ampuni kami Tuan" teriaknya memberontak mau melepaskan diri melihat waktu tinggal 60 detik lagi. Itu artinya bom itu akan meledak sekitar 1 menit setelah Cornelius meletakkannya di dekat para tawanan itu.
Cornelius keluar dengan Raut waja dingin memperingatkan anak buahnya menjauh dari sana. Anak buah Cornelius sontak langsung menjauh dari gudang itu saat Cornelis melangkah 10 meter dari pintu gudang ledakan besar terjadi.
Semua orang menunduk kaget kecuali Cornelis. Suara yang begitu keras tidak menggetarkan tubuhnya berdiri tegak berjalan jauh dari sana.
__ADS_1
Kobaran api di udara melahap semua gudang tua. Timothy yang melihat Cornelis berjalan di tengah-tengah ledakan dan api panas, yang berkobar tidak jauh dari Cornelius. Membuat dia semakin kagum. Aura Sang pemimpin terpancar jelas di wajah Cornelius yang dingin dan menakutkan. Tuan Cornelius memang pantas menjadi pemimpin." gumam Timothy di dalam hati.
Waktu sudah menunjukkan pukul 19.20 malam, Irene dan teman-temannya tampak baru saja keluar dari perusahaan. Sesuai dengan rencana mereka tadi pagi, malam ini mereka akan mengadakan pesta.
"Aku pasti kan malam ini kita akan berpesta ria tidak ada yang boleh tidur."
Rina tampak semangat dari Irene ataupun Ricardo dan juga Rehan.
"Aku sih tidak kuat,kalau harus begadang."ucap Ricardo.
"Mana seru kalau kita berempat tidak begadang.
Irene merangkul ketiga temannya itu mendekatkan padanya.
"Tidak perlu dipikirkan, yang penting kita happy.
"iya, Ucap ketiga sahabatnya kompak dengan senyuman manis di wajah mereka.
"Kalau begitu ayo kita pergi."
"Ayo!" teriak mereka berempat kompak.
mereka berempat dengan semangat berjalan kaki pergi ke sebuah supermarket terdekat dari kantor Di mana mereka bekerja.
mereka berempat mendorong troli belanja masuk ke lorong-lorong supermarket, Rina tampak mengambil beberapa snack beraneka ragam. Sedangkan Raihan dan Ricardo mengambil beberapa minuman kaleng.
Irene kembali mendorong troli pergi ke tempat dimana semua bahan baku masakan diletakkan. Irene mengambil satu bungkus nugget, beberapa mie instan. Sosis, dan rempah-rempah yang akan digunakan untuk memasak nanti.
"Apa ada kalian ingin beli lagi? tanya irene kepada kedua temannya yang
"Sepertinya sudah cukup deh, ini sudah banyak banget." ucap Reihan kepada Irene.
"Ya sudah kita langsung bayar ke kasir aja irene mendorong trolinya dan teman-temannya berdiri mengikutinya dari belakang.
Tiba-tiba suara Deringan ponsel milik Irene terdengar jelas di telinga ketiga sahabatnya.
Irene meraih ponselnya melihat nomor kontak yang memanggil dirinya tidak ada di list kontaknya.
"Siapa? tanya Rina penasaran
__ADS_1
"Tidak tahu, nomor tidak dikenal."
"Lebih baik kamu angkat saja siapa tahu penting."kata Ricardo kepada Irene.
"Hallo! Selamat malam dengan Irene
"Kapan kau pulang? tanya seorang pria dari ujung telepon.
"Sorry ini siapa ya?" ucap keren bingung.
Tiba-tiba ada pria menelponnya menanyakan dirinya kapan pulang.
"Kau bahkan tidak bisa mengenali suara kekasihmu sendiri."ucap pria itu dari ujung telepon Yang ternyata yang menghubungi irene adalah Cornelius.
Irene seketika menjauh dari ketiga temannya yang kepo dengan siapa irene berbicara. Karena bagi persahabatan mereka tidak ada rahasia-rahasiaan.
"Kenapa kau meneleponku?"
Irene sesekali menoleh memastikan ketiga temannya tidak mendengar percakapannya dengan Cornelius.
"Kapan kau pulang? aku akan datang menjemputmu."
"Emmmmm, Kau tidak perlu menjemputku Aku masih sibuk
"Sibuk apa? ini Seharusnya sudah waktunya orang pulang kantor bukan?"
Cornelius tampak sedang duduk di dalam mobil. Dia baru saja pulang dari perjalanan jauh, yang mana setelah memberikan hukuman kepada para pengkhianat itu Cornelius dengan segera langsung bertemu dengan Irene.
"Aku lembur, kau pulang saja duluan. aku bisa pulang sendiri."ucap irene langsung mematikan sambungan telepon selulernya.
"Sial, pria itu bahkan tahu nomor ponselku sekarang. Apalagi yang dia tahu tentangku ucapnya kesal meremas ponselnya.
"Ada apa? Kenapa wajahmu tampak kesal? memangnya siapa yang menghubungimu?" tanya Ricardo penuh selidik.
"Jangan-jangan si pria brengsek itu yang menelepon. wajah Rina tampak marah meraih ponsel Irene.
"Sini biar aku maki-maki pria brengsek itu. ucap Rina marah-marah mencari yang panggilan masuk tadi, Dia berniat untuk meneleponnya kembali. Rina menghubungi nomor Cornelius saat telepon itu tersambung Irene langsung mengambil ponsel itu.
Bersambung.....
__ADS_1
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓