Gadis Kecil Milik Bos Mafia

Gadis Kecil Milik Bos Mafia
BAB 141. TIDAK AKAN SELAMAT _GKMBM


__ADS_3

Tuan Thomson dengan senyumannya berkata. "Santai saja, itu masih aman dan baik-baik saja. Tapi kalau kau bersikap seperti ini, aku bisa menyuruh anak buahku untuk membunuhnya sekarang."


"Hey!!!!! teriak Cornelius melotot melihat ke arah Tuan Thomson.


"Berani kau menyakitinya, aku tidak akan segan-segan membunuhmu sekarang juga!"


"Turunkan nada bicaramu Cornelius, irene ada di tangan kami. Kalau kau mau wanita itu selamat jaga sikapmu."ucap Tuan Thomson dengan nada suara meninggi.


"Lepaskan tanganmu." Ucap Tuan Thomson kepada Tuan Bernardo yang masih menarik keras kemejanya. Tuan Bernando dengan terpaksa melepaskan kedua tangannya, menahan emosinya mengingat Irene masih berada di tangan mereka.


"Berikan cincin itu, baru akan menyerahkan Irene pada mu.


"Tidak, sampai aku melihatnya ada di depan mataku."balas Tuan Bernando.


"Tunjukkan di mana Irene, setelah itu baru aku akan memberikannya padamu sambungnya.


Sedangkan tangan kanan Tuan Thomson dan Cornelius saling adu tatapan. Tampak wajah Cornelius sangat marah. Sedangkan wajah anak buah Tuan Jason tampak seakan menantang Cornelius. Tapi yang menjadi pertanyaan bagi Cornelius, di mana Tuan Jason saat ini dan anak buahnya? Mengapa tidak terlihat menemui mereka. Pertanyaan itu yang timbul di hati Cornelius. "Atau jangan-jangan Tuan jason sudah dieksekusi oleh mereka? hanya Tuan Thomson yang mengetahui itu semua.


Cornelius menahan amarahnya. Terlihat dari kedua tangannya yang di kepal.


"Baiklah, aku akan membawa kalian pada wanita itu. ucap Tuan Thompson


"Kalian berdua jalan duluan." perintah Tuan Thomson.


"Tidak, kita akan berjalan saling berdampingan. Tidak ada yang boleh di depan atau di belakang." ucap Cornelius dengan lantang.


"Baiklah, aku tidak masalah ucap Tuan Thomson tersenyum.


"Kita tidak akan melakukan apa-apa." ucap Tuan Thomson kembali.


"Ha... ha...ha." penuh dengan dusta. Balas Cornelius dengan kalimat menohok tak percaya dengan perkataan Tuan Thomson.


"Tidak perlu berpura-pura di depanku. Kita tahu seperti apa yang akan terjadi, jika kita sudah berhadapan dengan musuh. Hanya ada satu orang yang akan menang dalam setiap pertempuran. Dan akan meninggalkan tangisan dan pertumpahan darah." sambung Cornelius dengan tatapan penuh keyakinan.


Tuan Thomson tak bicara apapun, dia diam tak menghiraukan perkataan Cornelius. Ia berbalik berjalan. Cornelius, jangan terlalu banyak bicara. Takutnya anak buahku sudah menembak isi kepalanya." ucap Tuan Thomson membelakangi Cornelius. Tuan Thomson tampaknya ingin membuat Cornelius lebih marah.


"Brengsek!!!! ucapnya mengepal kedua tangannya. Rasanya dia ingin sekali menghajar wajah Songong Tuan Thomson.


"Tenanglah, kita tidak boleh terpancing emosi ingat kita datang untuk membawa pulang Irene setelah Irene ada ditangan kita kau bebas mau berbuat apa kepada kedua orang itu. Aku tidak akan menahan mu."


Tuan Bernando mencoba menasehati Cornelius, agar bisa mengendalikan emosi dalam keadaan seperti ini. Cornelius pun mengikuti saran Tuan Bernando. Mereka berdua berjalan mengikuti Tuan Thomson Dan anak buahnya masuk ke dalam bangunan tua itu.


Saat pertama kali melangkahkan kakinya, masuk ke dalam sana. Suasana yang mencekam dengan debu, Debu bangunan yang sudah menempel begitu lama di setiap dinding, yang tampak sudah retak dan bangunan sudah terlihat tidak kokoh lagi.


Ditambah dengan cahaya yang tembus masuk ke dalam, lewat lubang-lubang kecil dari bangunan tua itu. Di dalam bangunan tampak banyak tiang-tiang yang menopang bangunan tua itu. Ada balok kayu yang berserakan di lantai, bercampur dengan debu-debu hitam dan tumpukan drum besi yang hampir memenuhi tempat itu.

__ADS_1


Mereka berjalan dengan perlahan melewati beberapa tiang dan susunan drum, bisa sampai mengantarkan mereka ke sudut ruangan. Yang memperlihatkan Irene yang tergantung dengan posisi kedua tangan yang ke atas terlilit tali.


Lakban hitam, menutup bibirnya mata Irene tampak berair. Karena sejak tadi menangis saat melihat Cornelius dan ayahnya datang di hadapannya. Ia menggelengkan kepala, seperti tak ingin Cornelius dan ayahnya datang menolongnya.


Di samping Irene ada anak buah Tuan Thomson yang memegang senjata api, yang diarahkan kepada Irene. Sementara di sebelahnya ada Tuan Jason dan anak buahnya kembali menjadi tahanan Tuan Thomson.


Di sini Cornelius memahami, kalau di antara mereka terlibat perseteruan saat Cornelius menahan Camelia di ruang bawah tanah miliknya.


Tetapi ia tidak mempedulikan keadaan Tuan Jason dan juga tangan kanannya. Yang ia pedulikan, hanya Irene bisa bebas dari tangan manusia iblis seperti Tuan Thomson.


Melihat Irene yang menangis membuat hati Cornelius begitu sakit. Sampai ia mengertakkkan giginya, menahan dirinya untuk tidak membuat sesuatu yang akan menyakiti Irene dan Tuan Bernando.


Aku sudah membawa kalian di hadapannya. Berikan benda itu padaku sekarang."ucap Tuan Thomson.


Tuan Bernando menatap putrinya meneteskan air mata, menggelengkan kepala seperti melarang ayahnya memberikan cincin itu.


"Tunggu apalagi, kau ingin anak buahku menembak isi kepala putrimu itu." ucap Tuan Thomson dengan nada meninggi dan sorot mata yang tajam. Tuan Thomson berbalik ingin memerintahkan anak buahnya menembak Irene. Tuan Bernando berteriak. "Jangan!!!!! ucapnya sambil mengeluarkan cincin itu dari dalam saku celananya, menyodorkan tangannya memperlihatkan barang yang dicari oleh Tuan Thomson bertahun-tahun lamanya.


Tuan Thomson berbalik dengan wajah datarnya. Mengambil cincin itu. Tapi saat ia akan mengambilnya, Tuan Bernando kembali menarik tangannya. Membuat Tuan Thomson merasa seperti dipermainkan.


"Kau ingin mempermainkan aku!


"Aku akan memberikannya kalau kau sudah melepaskan Irene. Setelah itu barang ini menjadi milikmu." ucap Tuan Bernando penuh percaya diri. Tuan terdiam berbalik melihat ke belakang.


"Lepaskan talinya."


"Baik Tuan!


Anak buah Tuan Thomson mengangkat pistolnya mengarahkannya ke atas. Irene memejamkan kedua kelopak matanya yang basah.


Dor....


Dengan satu tembakan, membuat tali yang menggantung tangan Irene putus. Saat Irene akan jatuh ke tanah Cornelius, tidak bisa melihat wanitanya diperlakukan seperti itu. Melangkah maju ingin menangkap Irene. Tapi sayangnya anak buah Tuan Thomson menghalanginya.


"Bruk ...


Irene terjatuh ke lantai.


"Wanita itu tidak akan mati. Hanya karena jatuh."ucapnya sambil melebarkan tangannya menghalangi Cornelius untuk menemui Irene.


"Aku akan membunuhmu!" ucapnya dengan tatapan mata yang tajam, menatap anak buah Tuan Thomson dengan penuh rasa amarah.


"Diam lah, aku bisa membunuhnya lebih dulu sebelum kau membunuhku." balas Tuan Thomson tanpa rasa takut.


Rambut panjang Irene menutupi wajahnya menempel ke lantai. "Kalian seharusnya tidak datang ke sini." batinnya air mata menetes jatuh ke lantai berdebu.

__ADS_1


Anak buah Tuan Thomson membangunkan Irene dengan paksa menarik tangannya. Dengan masih terlihat dengan tali membawa di belakang Tuan Thomson.


"Aku sudah melepaskannya sekarang. Waktunya Kau memberikan cincin itu padaku ucap Tuan Thomson. Tuan Bernando dengan berat hati, harus memberikan cincin itu yang seharusnya tidak akan pernah jatuh ke tangan Tuan Thomson.


"Berikan Irene secara bersamaan, dan aku juga akan memberikan ini, padamu perintah Tuan Bernando.


Tuan Thomson menarik Irene maju di depannya.


"Lempar cincin itu, dan aku akan menyerahkan Irene." balas Tuan Thomson.


Tuan Bernando tampa bicara lagi, ia langsung melempar Cincin itu ke arah Tuan Thomson secara bersamaan Tuan Thomson mendorong Irene maju ke depan sampai hampir membuat Irene terjatuh tapi untuknya Cornelius dengan sigap menangkap tubuh Irene.


Cornelius langsung membantu Irene bangun dan bersamaan Tuan Thomson akan menangkap kalung itu.


Tuan Bernando mengeluarkan senjata api melepaskan satu tembakan ke atas mengarah ke cincin itu.


Dor.....


Semua orang kaget


"Tidak.....!!!! teriak Tuan Thomson kaget dengan pupil mata yang melotot. Peluru itu menghancurkan cincin itu menjadi kepingan yang berjatuhan ke lantai.


Tuan Thomson dan anak buahnya seketika juga mengeluarkan senjata mereka.


Tuan Thomson menembak ke arah Cornelius dan Irene.


"Dor....


Cornelius langsung memeluk Irene melindungi dalam dekapannya membawanya berlindung di balik tiang besi.


"Sial!! kalian berani bermain-main denganku! ucap Tuan Thomson marah mengangkat senjata menembak Tuan Bernando.


"Dor ....


Tuan Bernando menghindar lari masuk ke dalam sela-sela tumpukan Drum...


"Kalian tidak akan selamat!"teriak Tuan Thomson sambil melepaskan tembakan.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


sambil menunggu karya ini up kembali, yuk mampir ke karya baru emak "Antara kutub Utara dan Selatan.(YOU & ME)

__ADS_1



__ADS_2